
Semua menahan tawa kelakuan bapak-bapak yang seperti anak-anak saking senangnya.
Sang suami dan istrinya keluar dengan pakaian yang bersih ala kadarnya di jaman itu.
Tapi sayang sang penolong telah pergi yang ada kepala Pedukuhan pak Kasjan dan Sarkim menunggu mereka untuk menyampaikan bahwa kesembuhan dari penyakit ini di rahasiakan dan di usahakan jangan keluar dulu dari rumah.
Setelah selesai menerangkan maksudnya pak Kasjan dan Sarkim pergi ke rumah yang terkena musibah wabah lainnya.
Pak Kasjan dan Sarkim kembali ke rumah karena air penyembuh telah habis sudah enam orang telah sembuh tinggal lima belas lagi.
Waktu itu telah mulai gelap, pak Kasjan dan Sarkim langsung menemui pangeran Shun land yang duduk di ruang tengah bersama Yanti yang selalu menempel bagai perangko, ada ma Sonah ibunya Yanti dan Caim di sana sedang bercanda ria.
Pak Kasjan dan Sarkim menceritakan bahwa air penyembuh telah habis, pangeran Shun land dan Yanti telah mempersiapkan tiga kendi agak besar dari yang tadi di gunakan.
Pangeran Shun land memberikan keterangan bahwa memberikan air tersebut jangan segelas tapi dua gelas agar proses penyembuhan lebih cepat.
Pak Kasjan dan Sarkim sekarang membagi tugas di bantu dua orang yang menjabat keamanan pedukuhan tersebut.
Menjelang tengah malam ke empatnya pulang telah menyelesaikan tugas mereka tidak ada yang tersisa.
Air penyembuh masih setengah kendi lagi, pangeran Shun land memerintahkan semua yang ada di situ untuk meminumnya hingga habis, pangeran Shun land mendapat firasat kurang enak malam itu.
Malam semakin larut, Yanti tidur di tengah ruangan rumah setelah mendengar dari pengeran Shun Land bahwa sesuatu yang tidak baik akan terjadi di malam itu dia merasa takut untuk tidur di dalam kamarnya.
Entah alasan mengada-ada hanya, sekedar ingin tidak jauh dengan pangeran Shun land atau memang alasan itu benar adanya.
Pangeran Shun land bermeditasi tetapi kesadarannya masih tetap terjaga, untuk melihat apakah firasatnya benar atau tidak, walau hatinya berharap firasat itu tidak terjadi.
Sang Rajawali api bertengger di pohon paling besar di pinggir pedukuhan sengaja dia di panggil pangeran Shun land, untuk mengawasi pedukuhan Tanjung dari atas.
Malam berlalu seakan lambat berjalan. Menjelang tiga perempat malam dua kelebat orang mendekati rumah kepala Pedukuhan pak Kasjan.
__ADS_1
Dari celah papan rumah dua buah bambu kecil mengeluarkan asap putih kekuningan.
Malam berlalu meninggalkan beribu mimpi indah dan berbagai warna mimpi lainnya, waktu begitu egois tidak memberikan kesempatan pada mereka yang bermimpi penuh harapan.
Pangeran Shun Land dan pak Kasjan kepala dukuh serta anggota pamong praja lainya telah bersiap mendatangi kediaman dukun Cidra,
Pengeran Shun land berpura-pura menjadi utusan dari kerajaan menjadi sakit, ketika sedang menginap di rumahnya pak Kasjan kepala pedukuhan Tanjung tersebut.
Pangeran Shun land di gotong oleh Suroto dan warji keamanan pedukuhan Tanjung.
Yanti anak kepala pedukuhan ingin ikut serta, tetapi di larang oleh pangeran Shun land.
Sebenarnya pangeran Shun land bisa saja langsung mendatangi kediaman dukun Cidra dan dengan mudah meringkus Cidra untuk di adili di kerajaan.
Tetapi itu tidak di lakukan karena pangeran Shun Land ingin memberi pelajaran kepada rakyatnya tidak boleh main hakim sendiri dan menggunakan cara-cara sesuai prosedur hukum yang telah dia buat untuk rakyatnya.
Dalam perjalanan banyak penduduk pedukuhan dan para pemuda mengantar hingga rombongan itu seperti iring-iringan pawai atau demo.
Sesampainya di depan kediaman dukun Cidra Sarkim masuk duluan di sambut oleh pembantu laki-laki dukun Cidra, pak Sarja dan seorang pemuda Moni yang di pekerjaan oleh dukun Cidra untuk membantu pekerjaannya sebagai dukun pengobatan.
"Tenang tuan saya akan mengobati tuan, dan tuan akan Segera sembuh". Ujar Moni asisten dukun Cidra.
Moni adalah salah satu pendekar muda yang di sewa dukun Cidra untuk keamanan dirinya, ilmu Kanuragan Moni cukup tinggi dia telah mencapai lima ribuan lingkaran tenaga dalam.
Tapi untuk melawan pangeran Shun land bukan tandingannya bagai langit dan bumi jaraknya.
Pangeran Shun land berbisik pelan pada Moni asisten dukun Moni. "Aku telah tau apa yang terjadi di sini, dua teman kalian sedang mengalami hidup dan mati, nyawanya tergantung pada mu bila kau mau menuruti perintah ku dia selamat tetapi bila kau membangkang jangan salahkan aku mereka akan menemui malaikat maut".
"Kau boleh menggertak tapi aku tidak takut kau akan mati terkena racun Gangsa ini". Moni tersenyum licik dia menerka pangeran Shun land terkena racun Gangsa yang di sebar dua rekannya.
Gejala terkena racun Gangsa ada di tubuh pangeran Shun land, suhu badan tinggi tubuh kedinginan Moni merasa yakin ini terkena racun Gangsa. Padahal dia salah besar suhu badan naik karena pangeran menggunakan kekuatan api abadinya, sedangkan tubuh menggigil itu akal-akalan pangeran Shun land.
__ADS_1
Ketika Moni akan memasukan racun Gangsa lebih banyak ke tubuh pangeran Shun land, dengan cepat pangeran Shun land memegang lengan Moni pendekar sewaan dukun Cidra.
Pangeran Shun land mengalirkan hawa panas ke tubuh Moni, Moni tersentak kaget langsung mengalihkan tenaga dalamnya untuk menghambat kekuatan panas itu, tapi itu sia-sia, perbedaan tingkatan tenaga dalam yang terlalu jauh membuat Moni seperti di panggang di bara api.
Wajah Moni merah padam menahan panas.
"Bila kau tidak tunduk aku hancurkan seluruh titik vital di tubuhmu dan kau tidak bisa mengunakan ilmu Kanuragan lagi".
Pendekar Moni ketakutan, "saya menyerah dan takluk pada tuan pendekar, aku berjanji aka menjalankan perintah tuan dengan sepenuh jiwa dan raga ku". Moni mengakui dan takluk, pada pangeran Shun land.
Pangeran Shun land melepas cengkeramannya, "Panggil dukun Cidra keluar suruh mengobati ku segera".
Pendekar bayaran Moni segera masuk kedalam penuh ketakutan.
Pendekar Moni masuk ke ruang pribadi Dukun Cidra yang sedang bersenang-senang dengan para pelayan wanita.
"Ada apa Moni kau kemari bukan mengobati para warga bodoh itu sesuai dengan petunjuk yang aku berikan". Dukun Cidra segera bertanya wajahnya penuh kemarahan kesenangannya di ganggu.
"Tuan di luar kepala pedukuhan Tanjung pak Kasjan dan para warga yang lain mengantar perwakilan kerajaan yang terkena racun Gangsa kita, mereka menuntut tuan segera keluar dan mengobati utusan kerajaan tersebut". Pendekar Moni menjelaskan keadaan di luar.
"Bangsat Kasjan memang selalu menentang ku, baiklah aku segera keluar menemuinya". Dukun Cidra segera berdiri dan berpakaian.
mereka berdua keluar menuju pendopo utama.
...****************...
Like dan supportnya serta komentar sungguh sangat membatu tulisan ini untuk berkembang.
semoga LRA, Legenda Rajawali api semakin banyak pembacanya aamiiin.
terima kasih untuk semua 🙏🙏🙏
__ADS_1
SALAM NUSANTARA
SALAM GARUDA PERKASA.