LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
120. Wabah penyakit di pedukuhan Tanjung 4.


__ADS_3

"Bangsat Kasjan memang selalu menentang ku, baiklah aku segera keluar menemuinya". Dukun Cidra segera berdiri dan berpakaian.


mereka berdua keluar menuju pendopo utama.


Sesampainya di pendopo Dukun Cidra langsung bertolak pinggang, dan berkata dengan keras. "Sudah kukatakan kau tidak boleh melapor ke kerajaan kenapa kau ini ngeyel, aku bisa mengobati wabah ini, Kasjan kau tak pantas memimpin pedukuhan ini, kau tak bisa mengatasi wabah penyakit ini, lihatlah aku mengobati penyakit ini".


"Pantas atau tidak, itu tidak di ukur oleh ukuran mu yang rusak". Pangeran Shun land bangkit dari kepura-puraan sakitnya.


"Siapa kau anak muda lancang sekali mulut mu, kau tidak tahu berhadapan dengan siapa". Dukun Cidra mengeluarkan aura intimidasi ke pangeran Shun land.


Pangeran Shun land tidak menekan balik entah apa tujuannya.


"Aku Satria Nusa kencana utusan raja kerajaan Kutai khal, Raja Shun Land mengutus ku untuk memusnahkan orang yang penuh nafsu serakah". Pangeran Shun land mengatas namakan namanya sendiri.


"Kau berurusan dengan orang yang salah, Moni, Darja maju cincang pemuda arogan ini". Dukun Cidra bicara sambil menunjuk ke pangeran Shun land.


Tentu saja pendekar Moni diam tak bergerak malah mundur dua langkah.


Sedangkan Darja maju sambil mencabut golok panjangnya mirip dengan sebuah pedang tapi sedikit pendek.


Darja menyabetkan golok panjangnya menyilang dari atas ke bawah, kecepatannya tidak bisa di anggap remeh dia adalah bekas komplotan Niraya Sura, setelah kelompok Niraya Sura bubar, dia memilih jadi pengawal di pedukuhan dia tak berani operasi lagi, karena bila tertangkap hukumannya berat.


Sebelum golok itu menyentuh sasaran, tubuh pangeran Shun land seakan menghilang, tahu-tahu berada di belakang tubuh Darja.


Tubuh Darja kaku bagai patung dengan tangan sedang memegang golok yang terhunus.


Pangeran Shun land berjalan mengelilingi pendekar Darja sambil bicara. "Aku tau kau ini dulunya bawahan tiga Dewi kematian bibi Dewi lerna, kau pun menekan tenaga dalam mu biar terlihat pendekar kelas biasa saja....


Padahal kemampuan mu Kelas menengah ke atas, tenaga dalam mu bisa membunuh Dukun Cidra dengan mudah, tapi kau malah jadi bawahannya hanya untuk bersembunyi dari kejaran pasukan kerajaan....


Setelah ini selesai kita akan bicara, jangan berusaha lari atau kau tidak akan ada kesempatan kedua, jaga lah di pintu itu jangan sampai Dukun kampret itu lari".


Pendekar Darja mendengar ini hatinya ciut keberaniannya hilang, bagai mana pun yang mengetahui kelopak Niraya Sura bukan orang sembarangan hanya golongan elit kerajaan saja yang mengetahuinya.


Setelah di bebaskan totokan nya pendekar Darja menuruti apa yang di perintahkan pangeran Shun land bagai kerbau yang di cucuk hidungnya.

__ADS_1


Dukun Cidra mulai panik karena kedua anak buahnya telah berpindah haluan memihak pada musuhnya dia pun berubah strategi dengan cepat.


"Pendekar muda kau ini sungguh sangat luar biasa sangat di sayangkan bila kau terbunuh di usia muda, bakat mu akan terbuang sia-sia, bagai mana kalau kau bergabung dengan ku, aku akan membagi dua kekayaan ku dan kau bisa bersenang-senang dengan para gadis-gadis cantik nan molek bagai mana". Dukun Cidra bertepuk tangan dua kali dan bersiul.


Lima orang wanita muda tinggi semampai dengan pakaian yang seperti kurang bahan bolong di sana sini dan sobek besar bagian tertentu.


Belahan bawahan hampir sampai ke pinggang, bila berjalan melangkah kaki, kulit putih mulus dari ujung kaki sampai paha atas terlihat jelas, membuat mata kaum Adam tak bisa bergutik membangkitkan hasrat kelelakia.


Gadis gadis itu mengelilingi pangeran Shun land dengan senyum centil dan kalimat manja keluar dari mulutnya.


"Tuan dari pada berkelahi lebih baik kita bersenang-senang dengan kita semua tuan pasti akan merasakan surga dunia yang kami ciptakan".


Dengan gaya bahasa dan sentuhan tangan yang lembut ke pinggang, tubuh bagian depan atasnya di lekatkan pada badan belakang pangeran Shun Land gadis itu menghembuskan napas manja ke telinga pangeran Shun land.


Sebagai lelaki yang normal pangeran Shun land sedikit kaku badannya tapi dia tidak mungkin membunuh para wanita. Dia hanya diam sejenak.


Dukun Cidra melihat pangeran seperti terhipnotis gadis-gadis penghiburnya bibirnya tersenyum tipis kemenangan.


Pangeran Shun land melepaskan jerat iblis birahi yang di keluarkan setiap wanita yang mempertontonkan lekuk tubuhnya, seraya bicara.


Kelima wanita ini bagai terkena hipnotis menurut saja apa yang di ucapkan pangeran Shun land.


Kepala pedukuhan Pak Kasjan, Sarkim Suroto, warji dan para penduduk pedukuhan yang ada di sanah berdecak kagum seorang anak muda mampu mengatasi semua anak buah Dukun Cidra, dengan mudah.


Dukun Cidra yang di ketahui mereka begitu kaya dan sakti, tapi masyarakat pedukuhan tidak suka sifat sombong dan arogan Dukun Cidra, hingga dia kalah dalam pemilihan kepala pedukuhan.


Penduduk pedukuhan Tanjung lebih memilih pak Kasjan karena rendah hati dan sangat dermawan sekarang ini saja kekayaan pak Sarjan hampir habis semua membantu yang terkena wabah penyakit, walau pak Sarjan tidak sekaya Dukun Cidra.


Dukun Cidra setelah menyaksikan semua orang di sisinya telah berpihak pada pemuda yang menentangnya, dan semua strategi di gunakan dia mengunakan strategi pamungkasnya.


Dukun Cidra segera berlutut di depan Pangeran Shun Land sambil bersujud tiga kali, sambil berkata


"Tuan maaf kan saya, saya telah melangkah pada jalan salah saya berjanji akan berubah dan akan berbuat baik ke semua orang, saya berbuat demikian karena Kasjan yang mengunakan cara licik di pemilihan kepala pedukuhan Tanjung ini".


Dukun Cidra walau pun dalam keadaan sebagai pesakitan dan bersalah tapi dia masih berusaha mengalihkan kesalahannya pada orang lain, ini suatu sifat licik yang sudah berakar pada jiwanya, ini suatu contoh jiwa-jiwa licik yang abadi.

__ADS_1


Pangeran Shun land sudah mengerti dan paham dengan sifat-sifat orang seperti ini karena di lingkungan istana sering menjumpai orang-orang seperti ini.


Berjalan mendekati sambil menarik aura mengintimidasinya, lalu berkata.


"Aku secara pribadi sudah memaafkan mu, tapi bagai mana dengan seluruh warga pedukuhan ini yang telah kau celakai dengan racun Gangsa yang tebarkan, aku tidak memastikan mereka mengampuni mu".


Pangeran Shun land lalu berbalik badan membelakangi dukun Cidra menghadap ke arah para penduduk pedukuhan Tanjung.


"Bagai mana saudara-saudara semua apa kalian akan memaa....


Ketika pangeran Shun land bicara, di potong para penduduk menunjuk kearah pangeran Shun land, tapi sebenarnya para penduduk menunjuk pada dukun Cidra yang mengeluarkan senjata pisau Mandau dan menusukan dari belakang ke arah pinggang pangeran Shun land.


Perhitungan dukun Cidra tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ketika pangeran Shun land lengah, dengan menusuk dari belakang dia mengira dapat melumpuhkan pangeran Shun land.


Tapi sayang yang di hadapi dukun Cidra bukan pendekar yang tanpa perhitungan, pangeran Shun land sebenarnya telah memasang jebakan agar dukun Cidra menyerang untuk membunuhnya agar ada alasan kuat untuk menghukumnya langsung tidak harus di bawa ke istana.


Ketika pisau Mandau berjarak sejari lagi, semua penduduk menjerit tidak terkecuali Yanti yang memaksa menyusul.


"Awas kakak Satria berusaha lari ke arah pangeran Shun land tapi di pegang tangannya oleh ayahnya pak Kasjan.


Dukun Cidra memastikan yang membuat rencananya gagal untuk menguasai pedukuhan Tanjung ini, akan tewas di senjata Mandau yang telah di lumuri racun cobra yang mematikan.


Di saat hatinya berkeyakinan bisa membunuh detik kemudian matanya terbelalak sasarannya menghilang dari hadapannya, saking cepatnya gerakan pangeran Shun land, pendekar menengah tingkat pertengahan tidak akan bisa mengikuti kecepatan pergerakan pangeran Shun land.


Seluruh penduduk yang sudah pasrah bahwa pendekar penolongnya harus di tikam dari belakang, melongo karena sesat kemudian melihat bukannya pendekar penolongnya yang terjatuh tapi tubuh Dukun Cidra yang mematung tak bisa bergerak.


...****************...


segala dukungan author LRA ucapkan terima.


Like dan supportnya serta komentar-komentar kalian membantu pertumbuhan tulisan ini yang jauh dari kata bagus


jaga kesehatan dengan pola hidup sehat. 🙏🙏🙏


SALAM NUSANTARA

__ADS_1


SALAM GARUDA PERKASA


__ADS_2