LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
384. Jaya S 117. Ratu Arimbi dan Arimba datang ke istana Galuh Purba


__ADS_3

Jelas saja membuat Naga Bumi Sabui melotot kesal dan berkata. "Dasar emprit bau belerang gunung suka pamer".


Raja manusia purba raksasa Taksaka berdiri dan menghampiri sang Naga Bumi Sabui lalu mengusap-usap kepalanya lalu berkata. "Terima kasih telah menjaga istana ini sampai sang Prabu Jaya Sempurna datang".


Naga Bumi Sabui mengangguk dirinya tidak berkata karena tidak mau banyak yang tahu bahwa dirinya bisa bicara, di bawah kaki sang raja manusia purba raksasa Taksaka Lodaya menggesek-gesekkan kepalanya pada paha sang raja manusia purba raksasa Taksaka.


Sang Naga Bumi Sabui pergi lagi ke dalam hutan raja manusia purba raksasa Taksaka berjongkok membelai-belai kepala Lodaya.


Sambil berjalan kembali ke tempatnya semula raja manusia purba raksasa Taksaka bicara. "Sang Prabu Jaya Sempurna Lodaya ini adalah harimau peliharaan Pangeran Cakrawala, makanya dia juga yang mengantarkan saya ke tempat ini".


Shun Land baru mengerti pantas saja Raja manusia purba raksasa Taksaka mengetahui akan di bangunnya istana di sini, ternyata mereka sudah mengetahui pembangunan ini dari leluhur pangeran Cakrawala.


Dewi Sukma, Lamsijam, Delay, Jatniko, Santaka dan murid-murid perguruan Kanoman sumur Pitu semakin kagum dan hormat pada Shun Land karena Shun Land tidak sesederhana yang terlihat banyak rahasia yang tersembunyi tentang diri Shun Land sangat luar biasa yang jauh dari jangkauan akal pikiran mereka, ini membuat mereka semakin yakin bahwa pilihannya menjadi pengikut Shun Land tidak salah dan menumbuhkan semangat juang yang tinggi.


"Paduka raja Taksaka sebaiknya paduka jangan kembali dulu sebelum makan bersama dengan kami disini sebagi ucapan terima kasih saya dan seluruh rakyat Sunda Galuh Sindula telah di bangunkan istana Galuh Purba ini, besok kita berburu bersama hasilnya kita makan bersama". Shun Land meminta pada raja manusia purba raksasa Taksaka.


"Setujuuuuuuuuuuu.....!!!".


Rakyat manusia purba raksasa Taksaka menjawab serempak. Mereka sangat merindukan hari-hari di mana mereka berinteraksi dengan manusia biasa seperti nenek moyang mereka dahulu.

__ADS_1


"Kalau itu suatu permintaan dari sang prabu saya tidak bisa menolak dan para pengikut saya pun merasa sangat senang, memang kami sangat merindukan kami bisa berhubungan dengan manusia seperti sang Prabu Jaya Sempurna". Sang raja manusia purba raksasa Taksaka menjawab.


Malam semakin larut hingga tidak terasa Pajar mulai menyapa di ufuk timur bersaman dengan sang Pajar dari arah timur bergemuruh suara jejak kaki dan dahan-dahan yang patah.


Tidak lama kemudian suara bergemuruh itu sampai di istana Galuh Purba, ternyata mereka adalah rakyat dari raja manusia purba raksasa Taksaka yang di pimpin oleh sang isteri Raja Taksaka sendiri Nyai Arimbi.


Seorang wanita besar keluar dari gerbang luar istana Galuh Purba berjalan ke arah depan istana, sebelum Nyai Arimbi berkata putri Sapta istri pangeran Jaya Singa triloka adik pangeran Sanjaya triloka berkata.


"Maafkan Sapta ayah, tidak memberi tahu bahwa ibu akan menyusul bersama seluruh penduduk rakyat Alas Purwa, Sapta di larang ibu untuk tidak memberitahu bahwa ibu akan menyusul".


Nyai Arimbi berlutut di hadapan Shun Land dan berkata. "Sang Prabu Jaya Sempurna Salam dari seluruh penduduk rakyat kami perkenalkan saya ibunya Putri Sapta Arimbi kakak dari yang duduk di sebelah Raja Taksaka Arimba".


Ratu Arimbi berjalan membungkuk dan duduk di sebelah raja manusia purba raksasa Taksaka, raja manusia purba raksasa Taksaka merasa bingung harus di tempatkan di mana seluruh rakyatnya sedangkan acara makan bersama besok tidak bisa di urungkan takut menyinggung raja Shun Land. Tapi kemudian berkata pada Shun Land.


"Sang prabu Jaya Sempurna seluruh rakyat saya datang mereka ada sekitar tiga ribuan, saya meminta izin untuk membabat hutan di kiri dan kanan juga di depan gerbang istana untuk mereka agar bisa untuk duduk bagi mereka dan jangan khawatir untuk acara makan makan bersama mereka sangat pandai berburu di daerah sini banyak kerbau dan banteng hutan cukup untuk makan seluruh penduduk saya dan pengikut sang prabu".


Shun Land mendengar ini melongo kaget sesaat tiga ribu bukan jumlah yang sedikit dan tubuh mereka sangat besar, tetapi Shun Land langsung menjawab. "Silahkan paduka Raja, memang kebetulan sekali di wilayah ini juga akan di buat suatu ibukota kerajaan yang baru didirikan".


Raja manusia purba raksasa Taksaka langsung berdiri dan berjalan keluar di ikuti mereka yang duduk di halaman, mereka semua keluar dari halaman depan istana Galuh Purba.

__ADS_1


Shun Land meminta Ratu Arimbi dan Arimba serta pangeran Jaya Singa triloka beserta istrinya Putri Sapta untuk masuk ke dalam istana. Dari sini Shun Land menjadi paham mengapa istana ini di buat sangat besar dan tinggi ternyata yang membuatnya manusia purba raksasa, andaikan di bangun seperti istana manusia biasa pastinya akan menyusahkan mereka untuk membangun bagian dalam istana.


Shun Land meminta izin pada Ratu Arimbi Arimba untuk istirahat sejenak, sedangkan Ratu Arimbi dan Arimba di temani Nyai Gora Sindula dan Dewi Sukma. Sebelum itu Dewi Sukma dan Jatniko mengutus sepuluh muridnya kembali ke perguruan untuk membawa berbagai barang bawaan Ratu Galuh Sindula dan ketiga permaisuri Shun Land, mereka pun mengamanatkan pada panglima Bajul pakel dan Dewi Darmawati untuk segera datang besok pagi.


----------------------


Sehari setelah Shun Land pergi pangeran Dehen dan Nyai Sri Tanjung pendekar bulan merah sampai di istana Sundapura dengan cepat putri Dian Prameswari Dwibuana menjelaskan tugas pada pangeran Dehen yang di tugaskan untuk memimpin armada laut Naga Biru bersama panglima Sarpa dan laksamanawati Komalahayati yang sedang berkunjung ke kerajaan Rijang Renah Selawi di daratan luas Swarna Bumi.


Putri Dian Prameswari Dwibuana segera mengumumkan perpindahan kekuasaan dan pusat pemerintahan kerajaan ke istana Galuh Purba di pegunungan Gora.


Puluhan Surat di kirimkan pada Raja-raja bawahan si seluruh negri, setelah itu Putri Dian Prameswari Dwibuana mempersiapkan pasukan darat untuk segera bersiap-siap untuk berangkat ke istana Galuh Purba yang di pimpin oleh pangeran Makkamaru dari bangsawan Bugis daratan luas Sula.


Pasukan darat yang berjumlah 4000 prajurit di bagi dua seribu di tinggalkan di istana Sundapura untuk menjaga keamanan di sama yang tiga 3000 berangkat bersama Putri Dian Prameswari Dwibuana dan pangeran Makkamaru.


Seribu pasukan berkuda berjalan di depan dengan 300 pasukan pembawa segala perlengkapan, derap kaki kuda bergemuruh menjadi perhatian para penduduk yang di laluinya.


Boma dan Mawinei bersama putri Dian Prameswari Dwibuana satu kereta sedangkan pangeran Makkamaru memilih berkuda memimpin pasukan.


Berita perpindahan pusat pemerintahan kerajaan dan nama kerajaan yang berganti nama menjadi Galuh Sindula menjadi berita di setiap pelosok negeri, kepulangan Raja Shun Land membawa Ratu Galuh Sindula yang berganti Nama menjadi Prabu Jaya Sempurna menjadi bahan pembicaraan di setiap obrolan seluruh negeri, berbagai asumsi muncul muncul dengan berbagai cerita tersebar ke seluruh wilayah kerajaan yang bernaung di bawah kekuasaan Raja Jaya Sempurna.

__ADS_1


********************


__ADS_2