
Niraya Sura segera berlutut di ikuti dengan yang lainya.
Para murid semuanya mengikuti guru mereka yang berlutut.
Mara Deva meloncat dari punggung naga api hitam dan mendarat di hadapan Niraya Sura dan pengikutnya, dia bagaikan seorang dewa yang turun dari langit jubahnya mengembang menambah kesan keperkasaan semakin nampak.
"Kami menghaturkan sembah sujud pada junjungan agung semoga junjungan selalu abdi dan jaya". Semua serentak mengikuti ucapan Niraya Sura dan menempelkan kening mereka ke tanah tiga kali, seperti orang sujud tapi tangannya menjuntai ke depan.
Di salah satu barisan ada murid yang berbisik ke temannya, "kok kita di suruh sujud kaya kita menyembah ke pada yang maha kuasa, emang dia tuhan".
Mara Deva melirik ke pemuda tersebut walau pun suara itu pelan itu tidak luput dari pendengarnya yang sangat tajam jangankan suara bisik-bisik, detak jantung mereka yang ada di sana terdengar olehnya.
Mara Deva telah sangat tinggi menguasai ilmu saipi angin hingga pendengarannya bisa menelusuri angin yang lembut.
Tiba-tiba tubuh yang berbisik itu meledak darah menyembur ke mana-mana, semua yang ada di sana gemetar ketakutan tidak ada yang berani berkata sepatah kata pun.
Tidak terkecuali Niraya Sura dia pun menarik nafas pelan-pelan sekali saking takutnya dia mengetahui bagai mana kejamnya dan sadisnya junjungannya bila ada sesuatu yang tidak berkenan di hatinya.
"Niraya Sura disiplinkan bicara anak buah mu, aku sengaja datang kesini bukan untuk mendengarkan sesuatu yang mengatasnamakan Tuhan, dengarkan baik-baik aku akan mempertegas tugas mu disini". Mara Deva berhenti bicara melihat sekeliling.
Niraya Sura berkata dalam posisi masih seperti orang sujud, "hamba mendengar dan akan mematuhi dengan segenap jiwa dan raga saya junjungan agung".
"Aku mengutus mu ke daratan luas Kalimantan untuk mengawasi pemilik tubuh empat lintang kelima pancer tapi sekarang ini kau berada di Jawa Dwiva sibuk mengurusi kekuasan wilayah, Niraya Sura Tugas pokok mu adalah mengawasi bocah itu jangan sampai dia mengambil pedang naga bergola dan mempelajari kitab Tarian pedang Rajawali Api, bila itu terjadi maka sia-sia sudah kita berjuang untuk menguasai dunia ini kau mengerti".
Setelah bicara Mara Deva berbalik dan meloncat ke punggung Naga api hitam terbang ke arah selatan tanpa menanti jawaban dari Niraya Sura.
Semuanya tidak ada yang berani mengangkat kepala setelah dirasa tidak nampak aura Mara Deva junjungan mereka, Niraya Sura segera bangkit di ikuti oleh Ki Saron juragan Upiak arai dan Maasiak serta para murid.
Niraya Sura segera bicara dengan tegas, "itu adalah orang yang meragukan kekuatan junjungan agung kalian bisa membayangkan betapa tingginya ilmu dan kekuatannya, apa kalian mengerti dari pelajaran yang baru saja terjadi".
Mereka serentak menjawab walau kepatuhan karena ketakutan.
"Mengetiiii kami akan patuh dan setia".
"Bagus bersihkan kotoran dari manusia sampah itu, setelah itu bubar dan teruskan aktivitas kalian masing-masing". Niraya Sura memerintah.
__ADS_1
Mereka semuanya membubarkan diri, Niraya Sura dan bawahannya masuk lagi ke pendopo untuk melanjutkan pembicaraan mereka.
Di wilayah ujung kulon tepatnya di guha Sanghyang sirah sang Rajawali api terperanjat kaget merasakan aura yang sangat dikenalnya, aura dari musuh bebuyutannya melintas dari barat ke timur.
Sang Rajawali api segera menghampiri pangeran Shun land yang sedang berlatih ilmu saipi air.
"Mengapa kau ketakutan ada apa ?". Pangeran Shun land keheranan tidak biasanya sang Rajawali Api bersikap demikian.
"Aku merasakan aura kekuatan naga api hitam melintas dari barat ke timur, aku tidak akan melupakan aura itu yang membuat sahabat ku naga bumi Sabui hampir menemui ajal andai aku tidak tepat waktu menggagalkan serangannya waktu itu". Sang Rajawali Api sedikit bercerita masa lalu waktu bertarung dengan naga api hitam tunggangan Mata Deva.
Seakan mendapatkan jalan pangeran Shun land bertanya tentang pedang naga bergola pada sang Rajawali Api.
"Sekarang ceritakan tentang di mana keberadaan pedang naga bergola berada".
"Sekarang ini aku belum mengingat sepenuhnya tapi dalam penggalan ingatan ku guru besar mempunyai dua murid, dia membuat dua senjata tombak trisula untuk Raja agung jati raga dan pedang naga bergola untuk murid yang lainya,....
Tetapi niat untuk menyerahkan padanya di urungkan karena memiliki sifat yang tidak terpuji, lalu aku dan naga bumi Sabui di ajak menyimpan di sebuah gua di bawah gunung yang menjadi tempat pemujaan, setelah itu aku dan naga bumi Sabui di ajak daerah timur di suatu tebing yang ada air terjun, di sana guru besar membuat peta kerajaan Sunda besar dan membuat tiga titik yang sejajar, hanya itu yang aku ingat". Sang Rajawali Api menceritakan apa yang di ingatnya dia pun belum mengingat nama guru besar dari Leluhur agung raja kerajaan Sunda besar.
"Apa menurut mu naga bumi Sabui mengingat kejadian itu dan mengingat letak gunung itu". Pangeran Shun land Bertanya lebih lanjut.
Tidak lama kemudian Aura naga api hitam datang dari timur Sang Rajawali Api dan pangeran Shun land menyembunyikan auranya, mereka berdua merasa belum siap untuk bertarung dengan Naga api hitam dan Mara Deva.
"Junjungan aku sekilas merasakan aura burung jahanam itu yang membuat ku tidur ratusan tahun tak berdaya, apa kita tidak memeriksa kebawah dulu". Naga api hitam bertanya kepada junjungannya.
"Tidak perlu walau pun benar Burung legenda palsu ada berarti bocah itu ada, kita tidak memerlukannya bentrok langsung karena dia sedang aku gunakan untuk menelusuri keberadaan senjata tingkat Bintang kelas tinggi pedang naga bergola siapapun yang memegang pedang tersebut akan menguasai dunia ini, simpan dendam mu dulu suatu waktu kita hancurkan mereka, kita buktikan bahwa kita pun bisa memimpin dunia ini dengan cara kita". Mara Deva menjawab Naga api hitam tunggangannya.
Naga api hitam dan Mara Deva melintas di atas guha Sanghyang sirah menuju daratan luas Swarna Dwipa.
Di padepokan Gelap ngampar Ki Saron mengusulkan agar di adakan pertandingan antara pendekar persilatan muda untuk menarik para pendekar muda untuk bergabung, dan mengukur kekuatan-kekuatan yang yang tidak mau bergabung dengan mereka.
Bagai mana menurut ketua Ki Niraya Sura". Ki Saron bertanya mengakhiri bicaranya.
"Itu ide yang bagus kita pun tidak perlu mendatangi mereka untuk menyelidiki bahwa mereka telah bergabung atau belum dengan kekuatan kerajaan Kutai khal di daratan luas Kalimantan, Upiak arai siapkan hadiah besar, beri iming-iming siapa yang mengikuti turnamen persilatan ini akan mendapatkan uang perjalan selain uang hadiah yang masuk lima besar, dengan satu syarat ketua perguruan mereka harus hadir".
Niraya Sura menyetujui langkah selanjutnya.
__ADS_1
"Kapan kita mengadakan turnamen persilatan ini ketua" Maasiak bertanya.
"Kita akan adakan turnamen ini tiga bulan mendatang, kau atur dengan benar bersama Ki Saron Maasiak jangan berbuat kesalahan lagi". Niraya Sura memberi jawaban dan memperingati Maasiak.
Di luar padepokan Bandi dan dua murid padepokan gelap ngampar serta Casmin pendekar dari perguruan golok setan datang.
Salah seorang murid datang ke hadapan Niraya Sura dan Ki Saron lalu berkata. "Ketua kang Bandi dan ketiga temannya ingin menghadap".
"Suruh mereka masuk langsung kesini". Ki Saron cepat menjawab.
Bandi dan kedua saudara seperguruan serta Casmin masuk menghadap ke Niraya Sura dan Ki Saron.
Setelah memberikan salam hormat Bandi menceritakan semua informasi yang mereka dapat, pendekar Casmin dari perguruan golok setan membenarkan dan menambah keterangan tentang adanya kekuatan yang tidak di kenal menguasai perdagangan Tarumanagara dan mendirikan kerajaan.
"siapa yang memimpin kerajaan baru itu apa mereka dari daratan luas Kalimantan". Niraya Sura bertanya penasaran.
"Bukan ketua dia seorang putri bangsawan Wajak dari daratan timur Dwiva, bernama putri Dian Prameswari dwibuana". Pendekar Casmin menjawab.
"Casmin apa kau melihat penunggang Rajawali besar itu". Niraya Sura semakin penasaran.
"Maaf ketua menurut penduduk yang melihat burung itu terbang rendah memutari pelabuhan, dan penunggangnya seorang wanita kemungkinan besar dia yang menjadi Ratu kerajaan baru itu". Casmin berkata dengan jujur.
"Kalian berempat istirahatlah besok kalian akan menerima tugas baru, Maasiak beri mereka pelayan wanita untuk menghiburnya menghilangkan rasa lelah dari perjalanan jauh mereka". Niraya Sura memberikan perintah pada Maasiak.
"Pelayan antar mereka ke dalam hibur mereka berempat dengan teman kalian layani apa yang mereka inginkan". Maasiak memberi perintah pada pelayanan perempuan muda yang ada di sana.
Mereka berempat pun pergi bersama dua pelayan muda dan cantik sambil tertawa penuh kesenangan.
...****************...
Terima kasih sahabat NOVELTOON sumbangsih kalian sangat berarti untuk pertumbuhan tulisan ini.
SALAM NUSANTARA
SALAM GARUDA PERKASA
__ADS_1