LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
230. Pertemuan Shun Land dengan adik kandung putri Shi Maharati.


__ADS_3

Shun Land sambil menghindar, mengamati langkah ringan gadis yang menyerangnya dalam waktu singkat Shun Land mengenali Langkah ringan gadis yang menyerangnya itu adalah langkah dasar ilmu saipi angin.


Shun Land sesekali menghalau langkah kaki yang di panggil Dewi yang sebenarnya Shun land menyempurnakan letak kaki atau pun posisi badan Dewi penyerang.


Gerakan Dewi menyerang Shun Land lambat laun meningkat lebih cepat dengan di betulkan langkah-langkah jurus Saipi angin.


Jurus pedang tarian rembulan di padukan dengan jurus Tarian rembulan yang berpikir pada kecepatan dan aliran tenaga dalam Ke pedang sangat berbahaya salah melangkah bisa mengakibatkan kehilangan nyawa atau salah satu anggota badan.


Tapi yang di hadapi Dewi penyerang ini Shun Land bukan pendekar yang biasa hingga jurus yang terkenal dengan kecepatannya bagai mainan.


Yang melihat pertarungan itu bagaikan guru yang sedang melatih muridnya.


Yang di panggil Dewi setelah menyadari musuhnya hanya main-main membuat dia berhenti menyerang lalu berkata dengan nada tinggi penuh amarah.


"Cabut pedang mu aku tidak terima orang bertarung dengan ku hanya dengan tangan kosong walau aku kalah aku tidak menyesal".


"Bila ku cabut pedang ku kau tidak akan bisa menahannya walau pun satu ayunan tanpa jurus, tapi baiklah aku akan melawan mu dengan pedang pula". Dengan berakhirnya kalimat Shun Land sudah memegang pedang milik putri Angiat.


"Aku akan mengunakan ilmu yang sama dengan mu biar adil majulah keluarkan jurus terbaik mu". Shun Land berkata dengan suara pasti.


Dewi mengambil langkah mundur satu langkah jurus terakhir tarian rembulan.


Dewi dengan jurus tarian rembulan menjemput maut tahap awal dan segenap kekuatan tenaga dalam di pusatkan pada pedang.


Pangeran Agam yang melihat ini menjadi sangat khawatir terhadap adiknya Dewi langit atau putri Shi Maharati adik kandung Shun land.


Kekhawatiran pangeran Agam karena kekuatan lawan tidak bisa di ukur dengan kekuatannya tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Terimalah pedangku ini". Dewi langit menyerang dengan kecepatan yang dua kali lipat pedangnya mengarah pada titik vital tubuh Shun land.


Shun Land hanya menggeser tubuhnya atau pun menangkis menghadapi jurus tarian rembulan menjemput maut dengan santai.


Di suatu kesempatan shun land bergerak sangat cepat bahkan tidak bisa di ikuti oleh pandangan mata Dewi langit.


Entah bagai mana caranya pedang Dewi langit sudah berada di tangan Shun Land yang tahu-tahu duduk di samping pangeran Agam yang menyaksikan Pertarungan itu.


Sebelum pangeran Agam dan Dewi langit menguasai keadaan Shun Land membuka tutup wajahnya sambil berkata pada Boma dan putri Serindang bulan.

__ADS_1


"Kak Boma, putri Serindang bulan keluar sudah cukup bermain-mainnya".


Pangeran Agam melongo melihat wajah Shun Land begitu pula dengan Dewi Langit yang sudah mengenal Shun Land waktu kompetisi olah Kanuragan di kerajaan Kutai.


"Maaf pangeran Shun Land saya adik-adik jadi tidak sopan pada pangeran". Pangeran Agam segera meminta maaf.


Putri Angiat dan putri Tritiasa serta Dewi langit mendekat dan memberikan hormat.


"Salam pada pangeran Kutai, maaf kami berlaku tidak sopan pada pangeran". Ketiganya menghampiri pangeran Agam dan Shun Land.


Boma dan putri Serindang bulan masuk kedalam taman mereka duduk di pinggir pohon yang rindang.


"Jangan duduk di sana panas kumpul disini adem". Boma berteriak.


"Bagai mana pangeran kalau kita mengikuti saran kak Boma". Shun Land berkata pada pangeran Agam.


Pangeran Agam mengangguk dia berusaha bangun tetapi cukup susah karena ada luka akibat benturan keras waktu bertarung.


Shun Land tersenyum lalu meletakkan tangan kanannya ke punggung pangeran Agam sambil berkata.


"Diam lah dulu biarkan hawa hangat masuk ke seluruh tubuh mu, ada beberapa simpul di beberapa aliran darah mu hingga kau susah untuk mengalirkan atau menghimpun tenaga dalam, biarkan hawa panas itu membakar setiap simpul aliran darah mu tahan tidak akan lama".


Pangeran Agam membiarkan hawa hangat menelusuri setiap sendi-sendi tubuh dan setiap aliran darahnya hingga sampai di titik simpul aliran darah pangeran Agam merasa di sana seperti ada bara dan letupan.


Setelah beberapa lama pangeran Agam merasa tubuhnya ringan tenaga dalamnya pulih walau tidak seratus persen.


"Terima kasih pangeran Shun Land". Pangeran mengucapkan terima kasih sambil berlutut di hadapan Shun land.


Pangeran Agam telah mengetahui tentang pertarungan Mara Deva dengan Shun Land dan mengetahui Shun Land adalah seorang raja.


Mereka berjalan menuju Ke arah Boma dan putri Serindang bulan sambil berjalan Shun land memberikan pedang matahari pada Dewi langit sebelumnya dia pun memberikan pedang pada putri Angiat.


Shun bicara pada Dewi langit yang berjalan di sebelah kanannya.


"Dewi apa kau mempunyai tahi lalat di lengan atas sebelah kiri".


Dewi langit tersentak kaget dari mana pangeran Shun land mengetahui dia mempunyai tahi lalat di tubuhnya sedangkan bagian itu selalu tertutup.

__ADS_1


"Paduka bagai mana paduka mengetahui saya punya tahi lalat di lengan atas sebelah kiri". Dewi langit balik bertanya pada Shun Land.


"Adik Dewi belum tahu selain saya seorang pendekar saya juga dukun loooh, bahkan saya tahu Adik Dewi mempunyai tanda merah selebar ibu jari di pinggul kanan sebelah atas dekat pinggang saya kan dukun sakti looooh".


Shun Land berkata dengan nada bercanda, Dewi Langit lebih terkejut lagi kerena ucapan Shun Land tepat sekali wajahnya memerah dalam pikiran Dewi Langit jangan-jangan Shun Land mengetahui seluruh tubuhnya.


Melihat Dewi langit terdiam menunduk malu Shun Land melanjutkan bicaranya.


"Adik Dewi Langit tadi itu cuma tebakan saja saya cuma bercanda, andaikan itu benar hanya kebetulan saja".


Wajah Dewi Langit kembali seperti biasa tapi dalam pikiran masih merasa heran mengapa tebakan pangeran Shun Land begitu tepat kedua tebakannya.


"Pangeran Shun Land apa lebih baik kita bicara di dalam rumah setidaknya saya bisa menyuguhkan minuman dan makanan sekaligus saya juga ingin mengenalkan pada ayah dan ibu kami".


Pangeran Agam yang sudah mengenal Boma dengan akrab sengaja mengeraskan bicara pada bagian minum dan makanan.


"Pangeran Agam ini sungguh sangat ramah dan pengertian hayu putri Serindang bulan kita menuruti saran pangeran Agam".


Boma menjawab mendahului Shun land lalu berdiri dan menarik tangan putri Serindang bulan Melangkah menuju bangunan yang paling besar.


Pangeran Agam tersenyum, Shun Land menggeleng kepala sambil mengikuti pangeran Agam yang menyusul Boma.


"Paduka bagai mana paduka belajar menebak dengan tepat". Dewi langit berkata pada Shun Land yang berjalan berdampingan.


Shun Land tidak menjawab hanya tersenyum misterius.


Boma dan putri Serindang bulan menunggu di tangga masuk rumah.


Rumah pangeran Agam berbentuk panggung dengan atap yang runcing di kedua sisi Rumah ini bernama rumah BOLON Toba.


(Rumah adat Batak Toba bernama BOLON}.


Berjejer 7 rumah dengan bentuk yang sama rumah Bangsawan Samosir tuan Bungaran berada di tengah dengan ukuran yang lebih besar dari yang lainnya.


Bahan rumah terbuat dari kayu besi semua di penuhi dengan ukiran yang sangat indah.


Pangeran Agam naik mendahului sambil mempersilahkan Shun Land, Boma dan putri Serindang bulan tamunya untuk naik ke atas mengikutinya.

__ADS_1


______*****______


__ADS_2