LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
358. Jaya Sempurna 91. Pergi ke perguruan langit di pegunungan Sondoro.


__ADS_3

Shun Land langsung berpamitan pada Dewi Lasmini dan semuanya, Shun Land memilih tidak mengunakan kuda karena kudanya sudah ada bersama dengan Lamsijam.


Shun Land berjalan keluar dari gerbang istana kebangsawanan Wajak setelah sampai di tempat sepi Shun Land melayang ke udara terbang mengunakan tenaga dalamnya dan kekuatan api abadinya, Shun Land memilih jalan udara karena ingin mempersingkat waktu dirinya ingin segera bertemu dengan guru besar perguruan langit Ki Agus Kalamerta.


Tidak membutuhkan waktu banyak Shun Land sudah berada di atas pegunungan Sondoro Shun Land berkeliling sebentar akhirnya melihat tiga bangunan baru yang sangat sederhana atapnya terbuat jerami.


Shun Land perlahan turun dan menginjakan kakinya di depan halaman perguruan Langit, dua orang menyambutnya, Aji Wisesa dan Lamsijam memberikan hormat dan selamat datang.


"Silahkan tuan jaya guru kami sudah menunggu tuan". Aji Wisesa berkata sambil membentangkan sebelah tanga kearah pintu.


Shun Land langsung berjalan ke arah pintu rumah yang di tengah di iring Lamsijam dan Aji Wisesa, Shun Land masuk kedalam di dalam sudah berdiri seorang sepuh yang berjenggot putih panjang dari sorot matanya penuh wibawa dan kebijaksanaan.


"Silahkan duduk nak Jaya, Aji Wisesa banyak cerita tentang nak Jaya yang sangat luar biasa". Ki Agus Kalamerta berkata dengan lemah lembut.


"Terima kasih sepuh,..... kakang Aji Wisesa terlalu banyak melebihkan saya sama dengan yang lain manusia biasa yang kadang merasa lapar merasa ngantuk, sepuh langsung saja kedatangan saya berkunjung ingin menyampaikan kabar bahwa perguruan pedang setan Dewi Andita sudah musnah, dan sekarang perguruan itu saya bangun kembali dan saya beri nama perguruan Kanoman sumur Pitu, yang kedua saya ingin memberikan ini hanya ingin membantu semoga kedepannya perguruan langit bisa lebih berkembang dan bisa mengayomi penduduk setempat". Setelah bicara Shun Land merogoh saku di balik bajunya dan memberikan lima kantong koin emas kepada sepuh Ki Agus Kalamerta.


"Terima kasih nak Jaya telah memperhatikan kami, sebenarnya kemarin waktu penyerangan Dewi Andita si pedang, saya mampu untuk mengalahkannya tetapi saya memilih mengalah meninggalkan perguruan karena saya tidak ingin banyak korban yang berjatuhan dia antara kedua kubu yang berperang". Ki Agus Kalamerta menceritakan kejadian penyerangan Dewi Andita si pedang setan.

__ADS_1


"Hal kedua saya berkunjung adalah ingin memberikan sebuah kitab Bayu sejagat, sengaja saya berikan karena saya melihat bertarungnya kakang Aji Wisesa dan kakang Aji Wijaya yang menurut penglihatan saya sangat terbebani oleh tubuh, tenaga dalam yang seharusnya berfokus untuk menyerang dan bertahan malah di bagi untuk meringankan tubuh, intinya penguasa aji Saipi angin kakang Aji Wisesa dan kakang Aji Wijaya kurang maksimal, dalam kitab tersebut pun ada tehnik tehnik menghimpun tenaga dalam yang Lebih cepat, maaf sepuh ini hanya pengamat saya dan saya hanya mencoba membantu". Shun Land mengakhiri bicaranya lalu mengeluarkan kitab Bayu sejagat, hasil rekapan pangeran Sanjaya.


Shun Land meminta tolong kepada pangeran Sanjaya triloka untuk menyalin sebanyaknya kitab tersebut dengan catatan tidak boleh merubah satu kata pun, tujuan Shun Land dengan dengan cara ini dalam waktu 3 tahun mendatang akan banyak perguruan yang maju pesat dalam ilmu olah Kanuragan.


Ki Agus Kalamerta membuka kitab tersebut lembar demi lembar dengan serius hingga lembar terakhir. Wajahnya pucat menatap Shun Land lalu berkata gemetar.


"Nak Jaya ini adalah kitab asli Aji Saipi angin atau Bayu yang lengkap dan ada tambahan di dua bab terakhir tentang cara menghimpun tenaga dalam yang ringkas dan benar, kalau boleh tahu apa hubungan nak Jaya dengan leluhur Ki Bagus Atma karena yang saya ketahui selain Ki Srengga hanya Leluhur Ki Bagus Atma yang mengetahui dan memiliki catatan lengkap ilmu Saipi angin".


Ki Agus Kalamerta berkata dengan penasaran.


Shun Land berpikir sebentar mencari bahasa yang pas sesaat kemudian menjawab. "Guru saya adalah sahabat dekat Leluhur Ki Bagus Atma dan dengan leluhur Ki Srengga adalah satu guru sama-sama murid dari leluhur Ki Jati Purwa, kitab itu salinan asli kitab ilmu Saipi angin tetapi saya pelengkap agar mudah di mengerti dan di praktekkan".


"Aji Wisesa dan Aji Wijaya dengarnya Nak Jaya Sempurna ini adalah raja besar di kemudian hari, banyak banyaklah berlayar padanya, Nak Jaya Sempurna terima kasih sekali atas kebaikan dan keikhlasan nak Jaya membantu perguruan saya, saya dan segenap murid-murid siap membantu kapanpun di manapun nak Jaya perlukan". Leluhur Ki Agus Kalamerta berterima kasih secara mendalam.


Akhirnya Shun Land dan Lamsijam berpamitan Aji Wisesa dan Aji Wijaya ingin ikut bersama juga di tolak dengan alasan harus mempelajari dulu kitab Bayu sejagat setelah itu baru boleh mencari juragan dagang utusan keadilan Dewi Lasmini untuk bergabung.


Shun Land menyuruh Lamsijam untuk meninggalkan kedua kuda mereka, intinya Shun Land mengetahui perguruan langit sangat membutuhkan kendaraan.

__ADS_1


Setelah keluar dari kawasan gunung Sindoro Shun Land berkata pada Lamsijam. "Paman sekarang kita akan menuju pedukuhan Asemarang saya ingin bertemu dengan Nyai Gora Sindula paman ikuti saya, saya telah menemukan jalan yang lebih cepat".


Tetapi saat Shun Land ingin menjelaskan kaki Shun Land teringat bahwa di Rombongannya ilmu yang paling tinggi selain dirinya hanya Lamsijam akhirnya Shun Land mengurungkan niatnya untuk berangkat lalu berkata.


"Sebentar paman Lamsijam, besok rombongan akan meneruskan perjalanan menuju gunung Dieng saya rasa lebih baik paman segera ke kembali ke lembah begawan Solo Sangiran di antara yang ada dalam rombongan paman yang paling tinggi tenaga dalamnya, saya takut urusan saya tidak selesai dua atau tiga hari".


Lamsijam berpikir ada benarnya juga perkataan tuannya ini lalu menyetujuinya lalu pamit tanpa pikir panjang Lamsijam segera melesat kearah timur, Shun Land pun berjalan kaki ingin bersantai sejenak.


Shun Land berjalan di bawah batang pohon yang besar menjulang tinggi, dan setelah dua kali lama memasak nasi Shun Land berhenti dan duduk bersandar di bawah pohon besar yang rindang.


Shun Land masih terngiang ucapan pangeran Cakrawala bahwa dirinya harus membangun istana di wilayah gunung Gora dan memberikan nama kerajaannya Galuh Sindula, Shun Land pun menyambungkan ucapan Nyai Gora Sindula.


Nyai Gora Sindula menyebutkan kursi singgasana Galuh Purba adalah menunggunya ribuan tahun dan dirinya di tunggu oleh seorang di puncak gunung Gora Shun Land bertanya-tanya siapakah yang menunggunya selama ratusan tahun.


Shun Land akhirnya matang untuk mengurangi nyai Gora Sindula untuk menanyakan siapa yang menunggunya sampai ratusan tahun dan bertanya kursi singgasana itu yang membuatnya di jaman siapa, andaikan nyai Gora Sindula tetap bersikukuh harus menunggu sampai dua tahun lagi maka terpaksa Shun Land akan pergi sendiri ke puncak gunung Gora.


Setelah mantap dengan keputusannya Shun Land menoleh kanan kiri ternyata tidak terasa hari mulai gelap, "sudah waktunya aku berangkat kalau menggunakan jalan udara di waktu siang sangat beresiko banyak yang mengetahui". Shun Land bicara sendiri.

__ADS_1


********************


__ADS_2