LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
70. Perjalanan baru pangeran Shun Land 8


__ADS_3

Sebelum sampai tinju itu pada dada wanita paruh baya, tiba-tiba.....


Tinju itu berhenti, tubuh pemuda itu bagai patung yang bernyawa, muncul sosok tubuh dengan pakaian lusuh bercaping menutupi separuh wajahnya.


Dengan santai pemuda pengemis itu menghampiri jagoan pasar, sambil menengok wajahnya dengan dari dekat dan berkata.


"Ooh ini jagoan pasar yang beraninya pada perempuan tua, sedang apa kamu berdiri sambil memamerkan tinju" pangeran Shun land memegang tinju itu dan berpura-pura terkena serangan tenaga dalam.


"Aduuh aduuuuh tangan ku terasa patah, tapiiii boong hiiiihiiihiiii" pangeran Shun Land yang menyamar jadi pengemis, mengolok-olok pemuda jagoan pasar dengan puas sekali,


Ibu penjual alat-alat dapur itu, menarik tangan pengemis muda itu dan berkata.


"Anak muda jangan ikut campur, nanti Anak muda kenapa-kenapa, biar ibu saja yang menanggung semua ini, mereka sangat kejam dan tak berperasaan"


Ibu penjual itu sangat ketakutan, takut pengemis muda itu di aniaya oleh kelompok jagoan pasar ini.


"Tenang saja Bu, aku tidak akan apa-apa, aku ingin memberi pelajaran pada orang yang suka menindas yang lemah dan berbuat semena-mena"


"Hati-hati anak muda, dia hanya pesuruh bos mereka ada di posnya" ibu penjual memperingati.


"Tenang Bu, orang-orang seperti ini harus di beri hukuman potong kaki biar yang nendang dagangan orang"


Tanpa aba-aba lagi, tongkat kayu pengemis itu menghantam bagai kilat, seakan tongkat kayu itu tidak pernah pergi dari tempatnya.


Raungan tertahan oleh totokan, bersaman ambruknya jagoan pasar itu, membuat merinding bulu kuduk.


Pemuda jagoan pasar satunya lagi, berteriak


"Bangs** apa yang lakukan dengan teman ku, kau belum tau dengan siapa kau berhadapan, kelompok mayit akan mencincang tubuhmu, matiiii kau Bangs** "


Jagoan pasar itu mengayunkan pedangnya sekuat tenaga, yang di sekitar itu, menyangka tamat sudah riwayat pengemis muda itu.


Tapi lagi-lagi seperti temannya tadi, tiba-tiba tubuh jagoan pasar berhenti bergerak dengan pedang yang mengacung ke atas.


Begitu cepatnya pengemis muda itu bergerak, seolah-olah dia tidak bergerak.


Melihat dua temannya menjadi patung, dia berlari bagai kesetanan.


"Jagoan pasar lari, bagai kucing kudisan hahaha, laporkan ke bom mu, suruh datang kemari, ku tunggu di sini"


Pengemis itu mendekati dua patung bernyawa, yang satu berdiri dan yang satunya bersimpuh,


"Kau ingin nyawamu selamat, kau harus menuruti perintahku kau mengerti, kedipkan matamu bila kau setuju.....

__ADS_1


Kau harus membunuh temanmu yang sudah tidak bisa berjalan, kalau kau sanggup aku akan membebaskanmu dan melepaskanmu"


Jagoan pasar yang memegang pedang mengedipkan matanya, tanpa Ragu-ragu.


"Bagus kau sangat pintar, baik aku bebaskan totokan mu, bunuh dengan cepat"


Jagoan pasar yang bersimpuh hanya bisa mengeluarkan air mata, dia tau temannya sangat sadis tak mengenal siapapun, bila niat membunuh walau anak anak dia lakukan tanpa Ragu-ragu.


Pengemis itu dengan cepat melepaskan totokan itu.


Jagoan pasar tanpa mempunyai rasa belas kasihan mengayunkan pedangnya ke leher rekannya, dengan sekali tebas, kepala itu terpisah dari tubuhnya.


Semua yang menyaksikan bergidik ngeri.


"Ibu tenang saja, ibu akan aman setelah ini tidak akan ada jagoan jagoan kroyo (anak kepiting) yang akan menganggu"


Pangeran pengemis, memberikan beberapa keping emas.


"Pulanglah dulu, uang itu cukup untuk memenuhi kebutuhan ibu lebih dari seminggu, setelah jagoan Pasar, di amankan pihak kerajaan, maka berdagang lah seperti biasa"


Setelah itu pangeran pengemis, melempar jasad yang tak bernyawa itu,


Jagoan pasar diam saja jasad temannya di lempar bagai bangkai ayam.


"Sekarang giliran mu, pulang lah, pada bos mu katakan, bahwa aku menunggu di ujung pasar dekat tepian hutan"


Sesampainya di tepi hutan Pangeran Shun lann, duduk di atas pohon sambil menikmati Angin sepoi-sepoi.


"Hay pengecut tampakan batang hidung, jangan seperti pengecut bersembunyi di balik ketek ibu mu"


Pendekar mayit, teman dari Antang dan Badrowi anak buah Maasiak datang dengan dua anak buahnya tadi yang di pecundangi pangeran Shun Land.


"Hahahaha, ternyata kau orangnya, yang mengaku bos di pasar besar ini....


Jangan khawatir, nyawamu masih ada gunanya aku akan mengulur waktu kematian mu.


Sesosok tubuh melesat bagaikan kilat, menghantam tapak yang membara, pada kedua anak buah mayit.


Pangeran Shun Land setelah tenaga dalamnya naik beberapa ribu lingkaran, gerakannya sangat sulit untuk di ikuti mata pendekar kelas kelas pendekar yang mempunyai tenaga dalam dalam tiga ribuan lingkaran.


Dua tapak tergambar di dada, kedua anak buah pendekar mayit, dan robot seketika meregang nyawa.


Bekas tapak itu persis seperti luka yang ada di jasad ibu angkat pangeran Shun Land.

__ADS_1


Melihat kedua anak buahnya roboh, yang tak jelas siapa yang menyerang, hanya sekelebatan bayangan lewat di depannya.


Pendekar mayit segera berlutut ketakutan.


"Pendekar ampuni nyawaku orang tua ini, matanya sedikit kurang jelas sedang berhadapan dengan siapa"


"Aku akan melepaskan mu, beri aku sebuah nama dan tempat tinggalnya, kau mengerti maksudku" kata pangeran Shun lan.


Pendekar mayit bawahan pendekar Antang, celingukan sebelum berkata.


"Katakan pelan saja, aku bisa mendengarโ€


Pangeran Shun Land menyakinkan.


"Rumah juragan pasar"


Itu yang keluar dari bibir pendekar mayit.


"Pergilah bawa kedua jasad bawahan mu, katakan pada bos mu, tapak Geni yang membunuhnya, agar nyawamu lebih panjang" pangeran Shun Land tertawa mengerikan.


Setelah pendekar mayit pergi jauh sambil membawa kedua mayat bawahannya.


"Datang lah"


Dua bayangan dari rimbunan pepohonan, datang menghampiri.


"Katakan pada paman Antaka, malam ini, gerakan pasukan inti senyap, bunuh semua preman pasar, dan bunuh pendekar yang berhubungan, dengan juragan pasar, tuan Upiak arai, ingat jangan meninggalkan jejak"


"Baik pangeran tugas saya laksanakan" kedua kepala divisi telik Santi Setyo Adi dan kepala divisi pengiriman informasi Gustaman.


Mereka segera pergi bagaikan kelelawar.


Hari mulai gelap pasar besar mulai sepi sedikit awal, setelah tadi ada insiden terbunuhnya dua jagoan pasar, anak buah kelompok mayit.


Pendekar mayit menghadap pendekar Antang dan Badrowi. Sambil menunjukkan dua jasad anaknya.


"Kakang lihat luka bekas tapak Geni ini, apa kita akan diam saja, di perlakukan seperti ini"


Pendekar mayit mengunakan sandiwaranya agar tak ketahuan telah membocorkan rahasia penting pada orang luar yang tak di kenalnya, demi menyelamatkan nyawanya.


"Itu bukan urusanku, itu salah mu sendiri terlalu serakah sudah mendapatkan gajih dari menjaga toko tuan Maasiak, tapi kau malah mencari uang samping demi selingkuhan mu" Antang seolah-olah tidak mau perduli, tapi sebenarnya meneliti dengan seksama luka gosong yang berada di dada kedua, anak buah pendekar mayit.


Hatinya mengiyakan itu adalah bekas luka kena jurus tapak Geni milik pendekat tapak Geni.

__ADS_1


...****************...


๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2