
Dalam hati pangeran Shun land bertanya-tanya mengapa kepala pedukuhan tersebut tidak melaporkan kejadian ini ke kota kerajaan yang jaraknya tidak terlalu jauh.
Iringi-iringan tersebut makin lama makin sedikit mereka kembali ke masing-masing rumah mereka.
"Pak silahkan mampir dulu". Kepala Pedukuhan mereka yang rumahnya masih jauh menawarkan untuk mampir.
"Terima kasih pak kepala dukuh". Mereka menjawab lalu melanjutkan perjalanan.
"Silahkan masuk nak pendekar". Pak Kasjan mempersilahkan.
Keduanya masuk ke pendopo, pak Kasjan hendak masuk kedalam memerintahkan pelayannya untuk menyediakan minum dan makanan ala kadarnya.
Tidak lama pak Kasjan sudah berganti pakaian yang bersih, pelayan perempuan setengah baya membawa makanan dan minuman ala kadarnya.
"Maaf saya tidak bisa menjamu tamu dengan layak, hewan peliharaan dan harta benda saya habis untuk membantu warga yang terkena musibah". Pak Kasjan mempersilahkan pangeran Shun land untuk minum menghilangkan rasa dahaganya.
"Kalau boleh tau Ki sanak ini siapa dan hendak kemana". Pak Kasjan bertanya, pangeran Shun land segera menjawab.
"Nama saya Satria paman tujuan saya ingin masuk ke hutan ini hanya sekedar ingin berburu hewan hutan". Pangeran Shun land tidak menjelaskan kemana tujuan sebenarnya.
"Kenalkan nama saya Kasjan saya kepala pedukuhan ini". Pak Kasjan memperkenalkan diri.
"Pak Kasjan apa kejadian ini sudah melapor dan minta pihak kerajaan membantu, dari sini ke pusat kota kerajaan cukup dekat hanya sehari bisa pulang dan kembali". Pangeran Shun land mengeluarkan pernyataan yang mengganggu hatinya.
"Sebenarnya saya sudah berniat untuk melaporkan kejadian ini ke pihak kerajaan tetapi di sini ada seorang yang kami percayai, bahwa menurut dia tidak perlu melapor bahwa dia bisa menyembuhkan orang-orang yang terkena wabah ini, dengan sarat yang dia pinta di penuhi,....
"Segala permintaan dia telah kami penuhi, tapi belum ada kemajuan malah beberapa korban mulai berjatuhan, tadi kami menguburkan dua warga yang terkena wabah penyakit tersebut, menurut laporan penjaga keamanan yang terjangkit penyakit ganas ini semakin banyak". Kepala Pedukuhan pak Kasjan menjelaskan panjang lebar.
Di tengah-tengah obrolan anak laki-laki pak Kasjan berlari menuju mereka berdua yang duduk di ruang pendopo.
Melihat anaknya berlari pak Kasjan segera menyongsong dan bertanya.
"Ada apa aim". Pak Kasjan berta pada Aim nama panggilan anak tersebut nama asli anak tersebut Caim.
__ADS_1
Anak itu mukanya pucat ketakutan tersirat di matanya lidahnya kelu akan bicara tapi tidak keluar suara.
"Tenangkan dulu dirimu tarik nafas lalu hembuskan perlahan". Pangeran Shun land memberikan saran.
Setelah sedikit tenang Caim berkata nadanya bergetar, "pak kakak Yanti kejang-kejang".
"Pendekar Satria mari ikuti aku semoga saja nak Satria bisa menolong putri sulung saya Yanti," pak Kasjan langsung mengajak pangeran Shun land untuk melihat anaknya.
Keduanya masuk ke dalam lalu menuju kamar Yanti.
Kulit Yanti pucat bagai tidak ada darahnya, tergeletak kejang-kejang bola matanya ke atas napasnya memburu.
Pangeran Shun land langsung memburu lalu memegang dahinya suhunya panas sekali. Pangeran Shun land diam sesaat sambil berpikir.
Pangeran Shun land mengalirkan hawa murni ke tubuh Yanti, sedikit demi sedikit tubuh Yanti mulai ada perubahan seluruh urat yang keram mulai melemas bola matanya kembali normal, tidak lama Yanti sadar, menatap seorang pemuda gagah dan tampan lengan kanannya menyentuh dahinya.
Pangeran Shun land melepaskan tangannya. Dengan keringat keluar dari pori-pori kulitnya, tidak sedikit hawa murni yang dia keluarkan.
Pangeran Shun land berpikir bagai mana kalau anak pak Kasjan di beri minum air kendi manik astagina mungkin akan memulihkan staminanya walau pun itu tidak menyembuhkan tetapi bisa memperlambat penyakit yang bisa menyebabkan kematian.
Setelah meyakinkan hatinya sendiri, lebih baik mencoba tidak ada salahnya dan tidak akan memperparah penyakitnya karena hanya air putih.
"Adik Yanti bisa duduk". Pangeran Shun land Bertanya lemah lembut, Yanti menganggukkan kepala, lalu dia berusaha duduk, di bantu ibunya yang sudah berlinang air mata.
Yanti duduk bersandar di ujung ranjang. Pangeran Shun land mendekatkan kendi manik astagina ke mulut Yanti, "minumlah tiga teguk saja".
Yanti memegang kendi manik astagina lalu meminum tiga tegukan, saat air melewati tenggorokan Yanti seluruh tubuh Yanti bergetar rasa sejuk merayap keseluruh tubuhnya hingga sampai ke sumsum.
Setelah beberapa saat tubuh Yanti bergidik lagi sedikit keras dari tadi, keluar keringat dingin berwarna kekuningan berbau busuk.
Setelah itu Yanti menengok ibunya dan berkata, "Bu tubuhku bau sekali, bu tubuh ku tidak sakit lagi dan terasa segar aku ingin mandi dulu". Setelah berkata Yanti beranjak turun tidak menghiraukan yang telah menolongnya dan ibu, bapaknya dia merasa malu badannya bau busuk.
Pangeran Shun land keluar dari kamar Yanti di ikuti dengan pak Kasjan dan ibunya Yanti, mereka berdua duduk di depan kamar Yanti yang di sana ada kursi dan meja biasa untuk sarapan pagi.
__ADS_1
Pemikiran pangeran Shun land melayang memikirkan kendi manik astagina ternyata memiliki kemampuan untuk menyembuhkan penyakit, dia tidak mendengar pak Kasjan dan ibu Sonah ibunya Yanti bicara berterima kasih.
Pangeran Shun land tersadar sari lamunannya ketika ada tangan lembut memegangi tangannya. "Tuan telah menyembuhkan penyakit saya, saya telah berjanji pada diri saya pribadi siapa yang menyembuhkan, saya akan menjadi pelayannya seumur hidup saya, apa pun perintahnya akan saya lakukan dengan sepenuh hati".
Pangeran Shun land melongo di depannya ada yang berlutut dan memegang tangannya berkata sambil tertunduk hormat.
"Adik Yanti sudah kewajiban sebagai seorang ra." Pangeran Shun land hampir kelepasan bicara tapi segera mengulangi ucapannya.
"Sebagai seseorang yang mempunyai rasa kemanusiaan wajib saling menolong bangunlah, sekarang kita pikirkan bagai mana caranya menolong yang lainnya".
Yanti gadis berusia tujuh belas tahun, gadis sedang mekar-mekarnya duduk menghimpit di sebelah pemuda tampan penolongnya tanpa malu-malu.
Jelas di mata Yanti menunjukan rasa ketertarikan yang dalam, hingga rasa ingin dekatnya mengalahkan rasa malu kepada ibu dan bapaknya.
Mungkin ini yang di namakan cinta pandangan pertama, pangeran sedikit kikuk tapi tidak bisa berbuat apa-apa bila dia menghindar itu bisa melukai perasaan Yanti.
"Pak Kasjan kira-kira ada berapa yang terkena wabah ini selain adik Yanti". Pangeran Shun land Bertanya.
Ibu Sonah ibunya Yanti senyum-senyum melihat anak perempuannya duduk dekat dengan pemuda penolongnya, anak perempuannya telah meningkat dewasa.
"Kemarin pagi menurut pak Sarkim ada 17 orang, tapi sekarang pak Sarkim belum laporan lagi, Aim tolong panggil pak Sarkim suruh datang kemari", pak Kasjan menjawab dan di akhiri memerintah Caim anak laki-lakinya.
...****************...
Like dan supportnya serta komentar sangat membantu penulis untuk mengembangkan tulisan ini
Author LRA. Legenda Rajawali api berterima kasih kepada sahabat NOVELTOON semua yang telah memberikan sumbangsihnya.
berkah dan sehat selalu buat kalian
SALAM NUSANTARA
SALAM GARUDA PERKASA.
__ADS_1