
Iring-iringan armada yang di pimpin Asvaghosa melaju dengan kecepatan penuh.
Dua hari kemudian iringi-iringan armada Naga hitam sampai di depan selat Makassar,
"Damagog siapkan lima puluh kapal berisi pasukan penyerang khusus di daratan, dan lima puluh di belakangnya, aku yang memimpin langsung penyerangan".
Asvaghosa memberikan perintah dengan tegas menunjukkan dia tidak main-main dalam hal penyerangan ini.
Lima puluh kapal di pimpin kapal Asvaghosa yang paling depan, di iringi dua puluh kapal bermuatan senjata dan 30 kapal cadangan di belakangnya, masuk ke perairan selat Makassar.
Sesampainya di pelabuhan kerajaan Kutai khal Asvaghosa sedikit berkerut keningnya, karena di sana tidak ada kapal armada kerajaan hanya ada beberapa kapal pedagang sedang bongkar muat barang dagangan.
Sepuluh kapal merapat ke dermaga dua orang meloncat ke dermaga di masing-masing kapal untuk mengikat kapal.
Asvaghosa turun di iringi dua ratus pasukan elite armada laut Naga hitam.
200 pasukan dari tiap-tiap kapal kapal yang merapat turun lengkap dengan pakaian, tameng dan senjata perang.
"Sisir seluruh kawasan ini yang melawan dan mencurigakan bunuh di tempat". Asvaghosa memberi perintah.
Dua ribu pasukan elite Asvaghosa menyisir seluruh kawasan pelabuhan tapi tidak ada pasukan kerajaan Kutai khal yang di temukan , yang ada hanya para pedagang dan nelayan.
Komandan pasukan melaor ke Asvaghosa.
"Tuan tidak di temukan pasukan kerajaan Kutai khal".
"Damagog Suruh sepuluh kapal merapat ke pelabuhan dan turunkan semua pasukan".
Perintah Asvaghosa.
Dua ribu pasukan Asvaghosa mendarat dengan rapi di pelabuhan itu, total pasukan yang turun berjumlah empat ribu pasukan.
Asvaghosa dan empat tangan kanannya berjalan di depan dengan kuda hitam yang gagah memimpin pasukan menuju kota Martapura ibu kota kerajaan Kutai khal.
Para penduduk menyingkir dari jalur yang di lalui pasukan Asvaghosa mereka takut jadi sasaran amukan pasukan tersebut.
Di pintu gerbang kota Martapura hanya ada 8 prajurit yang berjaga, dua prajurit yang berjaga di menara kiri dan kanan turun.
__ADS_1
"Kita harus menyingkir dari sini untuk memberi tahukan pasukan yang tersisa di dalam kota dan istana kerajaan".
Delapan prajurit kerajaan Kutai khal memacu kudanya menuju istana kerajaan.
Sementara itu pasukan Asvaghosa sampai di gerbang yang tidak di jaga.
Mereka langsung masuk kedalam kota, Asvaghosa merasa ada yang tidak benar kota yang seharusnya ramai kini dia merasa kota kerajaan bagai kota mati.
Kilas balik sepuluh hari yang lalu.
Pendekar syair kematian Memberikan gulungan dari Shun land kepada permaisuri Sari Tungga Dewi.
Setelah membaca surat dari sang suami tercinta mengumpulkan seluruh pejabat tinggi dan seluruh kepala pasukan khusus senyap.
Permaisuri Sari Tungga Dewi mengumumkan untuk bersiap pindah ke ibu kota baru Martapura di selatan daratan luas Kalimantan.
Hari itu juga seluruh pejabat tinggi berkemas tidak ada yang tersisa, esoknya puluhan kereta mengangkut peralatan kerajaan dan harta benda dalam istana ke pelabuhan dua puluh kapal telah di siapkan sore harinya 6 rombongan berjalan beriringan.
Sedangkan keluarga besar Ratu SHI khal dan maha Patih Jhasun membuat rombongan sendiri.
Dalam jangka lima hari istana kerajaan Kutai khal telah kosong, seluruh pasukan pun ikut pindahkan di pimpin panglima Tian agan dan Yu asri haring sekaligus mengawal para petinggi kerajaan.
Ini semua sudah di rencanakan oleh Shun land untuk berjaga bila ada serangan dari pihak Mara Deva keluarga besarnya tidak akan menjadi korban.
Rencana pemindahan pusat pemerintahan kerajaan Kutai khal berpindah ke kerajaan Tarumanagara di pesisir Utara daratan luas Dwipa.
Sedangkan kerajaan Kutai khal di pimpin oleh pangeran Khal Shugal, di bantu pangeran Labas Paban, pangeran Sanjaya triloka.
Tiga Dewi kematian di beri tugas untuk memimpin pasukan khusus senyap yang tersisa di kerajaan Kutai khal sedangkan semuanya di pindahkan ke kerajaan Tarumanagara di dataran luas Dwipa.
Sedangkan kerajaan Kutai khal di pimpin oleh pangeran Khal Shugal, di bantu pangeran Labas Paban, pangeran Sanjaya triloka.
Tiga Dewi kematian di beri tugas untuk memimpin pasukan khusus senyap yang tersisa di kerajaan Kutai khal sedangkan semuanya di pindahkan ke kerajaan Tarumanagara di dataran luas Dwipa.
Pasukan Asvaghosa mengepung istana kerajaan Kutai khal tapi sayang istana itu kosong.
"Lapor tuan Asvaghosa istana kerajaan Kutai khal tidak berpenghuni setiap ruangan kosong" komandan pasukan memberi laporan.
__ADS_1
Asvaghosa masuk ke istana benar juga jangankan orang kursi satu pun tidak ada.
"kita telah di tipu gerakan kita telah di ketahui anak pemilik tubuh empat lintang kelima pancer, Damagog siapkan seluruh pasukan untuk kembali ke pelabuhan".
Asvaghosa sangat marah baru kali ini dia gagal dalam menyerang dia merasa di permainkan.
-------------------*****---------------
Shun land turun dari punggung sang Rajawali Api di hutan pinggir ibu kota Sundapura di kerajaan Tarumanagara, setelah itu Shun land berjalan menuju tengah kota Sundapura.
Gerbang kota telah di bangun dengan pilar pilar batu yang megah, sekeliling kota di kelilingi dingin tebal setinggi satu Depa setengah.
Shun land menatap gerbang kota seraya bergumam. "Sungguh sangat berbakat putri Dian Prameswari dwibuana untuk memimpin suatu wilayah hanya beberapa Minggu aku meninggalkan kota pelabuhan ini kini telah berubah menjadi kota kerajaan yang mengah".
Shun land mendatangi gerbang kota Sundapura di yang di sana ada antrian panjang para pedagang yang mencoba peruntungan di ibu kota kerajaan yang baru, selain para pedagang banyak para pelancong yang antri untuk melihat kota kerajaan.
Shun land ikut mengantri di antara para pedagang, di saat itu serombongan pasukan berkuda datang kepala pasukan langsung turun melihat Shun land sedang mengantri di gerbang kotanya sendiri.
"Semua turun dan berlutut memberi hormat pada paduka raja". Komandan pasukan itu memerintahkan kepada anak buahnya.
Dia adalah panglima Tarpan pulang dari menumpas para perusuh dan perampok di sekitar jalur pedangan.
"Salam pada paduka raja maafkan anak buah saya yang tidak mengenali paduka".
Panglima Tarpan memberi hormat bersama anak buahnya sambil berlutut.
Semua yang berada di sana mengikuti tindakan panglima Sarpan tidak terkecuali para penjaga gerbang.
"Bangunlah kalian semua aku hanya ingin tahu kerja para penjaga gerbang kota ternyata kalian semua sangat baik menjalankan tugas". Shun land berkata dengan berwibawa.
Panglima Sarpa mempersilahkan Shun land untuk menunggang Kuta miliknya, sedangkan dia sendiri menunggangi kuda anak buahnya.
Shun land berjalan menunggang kuda di iring panglima Tarpa dan pasukannya.
Gerbang istana kerajaan Tarumanagara di buka para penjaga membungkukkan tubuhnya tanda hormat.
---------------*****----------------
__ADS_1