
Sambil berjalan nyai Gora Sindula penasaran seberapa besar kapal yang di miliki Shun Land, tidak mungkin seorang pengembara biasa mempunyai kekayaan yang begitu melimpah, ini membuatnya semakin yakin bahwa Aden Jaya Sempurna adalah sosok yang selama ini di tunggunya.
"Aku harus membawanya ke Kanjeng Ratu yang sudah lama sekali menunggunya, kursi singgasana kaprabon juga tidak menolaknya biasanya yang mencoba mendudukinya akan terlempar jauh bila bukan yang hak". Hati Nyai Gora Sindula bergumam.
Lamsijam dan ketiga rekannya Delay dan kedua kakak beradik Aji Wisesa dan Aji Wijaya langsung bangkit dari duduknya begitu melihat nyai Gora Sindula dan Shun Land keluar dari pintu depan penginapan.
Lamsijam dan Delay mengeluarkan kereta sedang kan para pelayan membawa beberapa gerobak mereka pun berjalan di paling depan nyai Gora Sindula turu langsung memimpin perjalanan selain ingin menghormati Shun Land nyai Gora Sindula juga ingin melihat kapal Shun Land.
Selain memiliki usaha kedai dan penginapan nyai Gora Sindula juga mempunyai berbagai usaha lainnya seperti memiliki kapal-kapal ikan sampai puluhan. Di Daerah Asemarang nyai Gora Sindula adalah salah satu tokoh yang sangat berpengaruh selain kepala pedukuhan Yang bernama Pandan arang (kiyai Pandan arang adalah pendiri pedukuhan Asamarang/Semarang dan kepala pedukuhan pertama)
Jarak dermaga tidak terlalu jauh hanya beberapa ratus meter dari penginapan hingga tidak membutuhkan waktu yang lama.
Begitu sampai mereka di suguhkan pemandangan yang mungkin baru pertama kali melihatnya, terpampang di depan mata mereka sebuah kapal sangat besar ukuran pada jaman itu. Nyai Gora Sindula menggelengkan kepalanya kapal-kapalnya tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan kapal di depannya.
Shun Land naik ke kapal di sana ada kapten kapal Barja dan wakilnya Laksamanawati Mirah anak buah laksamawati Komalahayati.
"Salam hormat tuan Jaya maaf sedikit terlambat saya dan kawan-kawan sangat kesulitan mencari barang barang yang di pesan tuan, tapi untungnya saya bertemu kapal panglima Tarpa mereka memberikan beberapa ratus senjata yang tidak terpakai dan berkualitas tinggi jadi saya bisa langsung ke sini".
"Tidak apa-apa paman Barja, tapi kelihatannya paman sudah begitu dekat dengan wakil kapten paman". Shun Land berkata menggoda Barja yang kelihatan dekat dengan wakilnya.
__ADS_1
Wajah mereka berdua memerah. "Tuan jaya tidak keberatan kan kami berdua sudah melakukan pernikahan 6 hari yang lalu di pelabuhan Cilamaya".
"Itu bagus paman, kebetulan sekali paman berbulan madu di sini saja di penginapan Kalingga kapal biar di tungguin yang lainnya". Shun Land menyarankan.
Barang-barang di turunkan dan di muat ke atas kereta dan gerobak, Shun Land masuk keruangan kamar pribadinya di atas kapal ruangan itu tidak ada yang berani memasukinya. Shun Land memanggil Lamsijam dan Delay mereka pun segera datang, tugas memuat barang di serahkan ke pelayanan laki-laki nyai Gora Sindula.
"Muat lah kotak koin emas ini ke kuda dan suruh kakang Aji Wisesa dan Aji Wijaya untuk langsung membawanya ke penginapan bungkus dengan kain agar tidak menarik perhatian orang". Shun Land pun memanggil kru kapal agar membatu Lamsijam dan Delay.
Shun Land turun dari kapal ternyata di sana nyai Gora Sindula masih ada ikut mengatur para pelayan yang memuat barang-barang dagang Shun Land yang banyak hingga 2 kereta dan 4 gerobak tidak cukup, nyai Gora Sindula mengambil kereta pengangkut yang berada di dermaga miliknya.
Sepuluh kotak koin emas ukuran sedang di muat ke 5 kuda Aji Wisesa dan adiknya menuntun kuda tersebut di iring Shun Land, nyai Gora Sindula dan kapten kapal Barja dan laksamanawati Mira istrinya.
"Aden Jaya kekayaan sebanyak ini di dapat dari mana Aden". Shun Land mendengar pertanyaan yang meneliti tersenyum dan menjawabnya ringan.
"Ini semua dari rampasan para perampok, begal dan para penyamun selama pengembaraan saya, tanang saja ibu semuanya di dapat dari jalan yang benar saya ingin mengembalikan harga ini pada hak-nya yaitu para masyarakat kecil dan para orang-orang yang sudah lanjut usia serta anak-anak yang tidak mempunyai orang tua".
Shun Land menjelaskan lalu melanjutkan bicaranya.
"Menurut ibu berapa keping koin emas yang harus di berikan untuk satu orang penerima Darma bakti sesama ini". Shun Land meminta pendapat nyai Gora Sindula.
__ADS_1
"Menurut ibu satu orang mendapatkan 5 keping koin emas itu sudah cukup besar karena uang sebesar itu pendapatan dua bulan pekerjaan kasar, dan untuk anak yang tidak mempunyai ibu bapak dan orang yang sudah jompo Aden bisa menambahkan berapapun". Nyai Gora Sindula memberikan saran.
"Baik lah ibu untuk anak-anak yatim piatu dan para orang tua di beri 10 koin emas, ibu bantu saya besok pelayan ibu yang jujur agar membantu membagikannya. Nanti saya akan memberikan imbalan dan hadiah kepada semua pelayanan dan pekerja di kedai dan penginapan ibu, tapi apakah ibu mempunyai pekerjaan yang lainya". Shun Land lanjut bertanya.
"Aden Jaya pekerja lain memang ada, ibu juga memiliki beberapa toko kebutuhan pokok di pasar dan beberapa puluh nelayan yang mengurus kapal ikan ibu". Nyai Gora Sindula tidak menyenangkan apapun pada Shun Land.
"Nanti besok ibu undang semuanya karena menurut saya Darma bakti kepada sesama yang lebih penting adalah kepada orang yang terdekat dari kita". Shun Land menambahkan.
Tidak terasa mereka sudah sampai ke penginapan barang barang di simpan rapi di gudang penginapan dan barang-barang yang berharga mahal-mahal di simpan langsung di kediaman nyai Gora Sindula yang bersebelahan dengan penginapan.
Posisi penginapan di apit rumah kediaman Nyai Gora Sindula dan kedai makannya.
Semua pelayan laki-laki dan perempuan sibuk berkerja, di bagian masing-masing agar pagi-pagi sudah siap semuanya.
Tidak terkecuali bagian yang bekerja di kedai makan ini yang paling sibuk karena besok harus mempersiapkan makanan yang sangat banyak untuk menjamu siapapun yang datang tidak memandang kalangan dan status sosial.
Aji Wisesa dan Aji Wijaya serta Lamsijam juga Delay hati mereka di penuhi segudang pertanyaannya siapakah sebenarnya pemimpin mereka ini, bisa mempunyai harta begitu banyak dan tidak sedikitpun merasa sayang membuangnya atau membaginya, bukannya sedih akan kehilangan harta begitu banyak tetapi di lihat wajahnya malah merasa sangat senang.
Mereka pun merasa beruntung mengikuti pemimpin yang begitu baik dan welas asih tanpa di pinta di hati mereka rela dan ridho membela pimpinan mereka walaupun nyawa harus di korbankan.
__ADS_1
***************"