LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
219. Pertarungan menggegerkan dunia persilatan 4.


__ADS_3

Sang Legenda Rajawali Api tercengang melihat yang menolong Naga Api Hitam betapa tidak.... Dia adalah musuh sekaligus adik seperguruan tuanya di kehidupan yang lalu.


"Kita berjumpa lagi Rajawali Api apa kabarmu ??? Kelihatannya kamu semakin meningkat kekuatan mu dulu kau tidak bisa menandingi Naga api hitam walaupun hanya satu jurus".


Pancasiksa berkata tenang sambil melayang di udara tapi walau begitu aura keluar menekan panas yang di keluarkan Sang legenda Rajawali Api yang seluruh tubuhnya di selimuti kilatan kilatan putih.


Mendapatkan pertanyaan ini sang Legenda Rajawali Api menjawab dengan tenang walau hatinya sedikit gelisah karena auranya dapat di redam dengan mudah oleh Pancasiksa tanpa kelihatan kekuatannya.


"Kabar ku baik, kekuatan ini hanya titipan dari sang maha Pencipta".


Hanya itu yang keluar dari sang Rajawali Api.


Sang Legenda Rajawali Api selalu siaga karena sangat hapal dengan tabiat Pancasiksa yang licik tanpa tanding sandiwara iblis yang menjelma menjadi manusia.


Naga api hitam berhadapan dengan Naga Bumi Sabui, kini pertarungan menjadi seimbang satu lawan satu.


Di bekas reruntuhan istana sebelah selatan pertarungan semakin sengit dua bayangan api hitam dan api merah kebiruan saling serang dan bertahan sesekali terdengar dentuman dari kedua senjata kelas bintang bentrok yang di lambari kekuatan tenaga dalam yang tinggi.


Sementara itu di sisi barat istana putri Serindang bulan melihat pertarungan itu terasa mimpi dua manusia 3 mahluk legenda melayang di udara saling serang.


Pada pagi itu di bagian barat daratan Dwiva tepatnya sebelah timur gunung karang pasukan dengan panji-panji kerajaan Tarumanagara sedang bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan menuju labuhan.


Pasukan itu di pimpin ahli strategi perang kerajaan Kutai Martadipura yang mengikuti sang permaisuri Sari Tungga Dewi selain sebagai Ahli strategi perang dia juga kerabat keluarga besar istana istana.


Pangeran Nanjan adik pangeran Dehen dari Bangsawan Dayak Ot Danum, pangeran Dehen sama seperti sang kakak yang menyukai seni tapi berbeda dari sang Kakak yang menyukai seni Puisi dan tata negara sedang kan sang adik menyukai seni perang.


Pangeran Dehen di dampingi para sesepuh dunia persilatan di antaranya ketua Koalisi dunia persilatan Ki Nata negara, Ki Wirantaka, ki Mahisa taka.

__ADS_1


Ketua perguruan Singa perbangsa Ki Aria Wirasaba, juga Dewi bulan merah dari Bangsawan Osing ikut dalam rombongan.


Empat ribu pasukan yang di pimpin Pangeran Dehen yang terdiri dari 3000 pasukan kerajaan dan 1000 dari para murid perguruan persilatan dan 500 dari pasukan khusus senyap.


Mereka akan di tempatkan di Labuan pintu masuk menuju daratan luas Dwipa sang panglima pasukan khusus senyap Antaka atau pendekar syair kematian telah menunggu di sana.


Ketika pasukan akan berangkat terasa bumi bergetar halus, Ki Aria Natanagara yang mempunyai ilmu olah Kanuragan tinggi memberi isyarat kepada seluruh pasukan untuk diam jangan bergerak.


Terasa getaran halus menyusul sedikit besar,


"Leluhur ada apa....??? ini hanya gempa kecil". Pangeran Dehen bertanya.


"Ini getaran dua kekuatan pendekar kelas tinggi sekelas berbenturan entah pendekar siapa yang bertarung, dari getarannya ilmu kedua pendekar lebih tinggi dari leluhur Ki Bagus Atma ketua perguruan gajah Mungkur".


Ki Aria Natanagara berkata sambil mengingat-ingat pendekar yang sekelas itu.


Ki Aria Wirasaba mengetahui lebih banyak tentang Shun land dari Sang Ratu SHI khal pada waktu acara lamaran Shan land ke Putri nya Ayu Sondari.


"Benar arah getarnya juga dari arah ibukota Sundapura, aku Ki Aria Wirasaba dan Wirantaka akan melihat siapa yang bertarung dengan mengunakan ilmu meringankan tubuh". Ki Aria Natanagara memerintah.


"Aku juga ikut ...!!! Ki Mahisa Taka mendekat.


"Biarkan Dewi bulan merah yang menemani Pangeran Dehen, keduanya kayanya cocok". Ki Mahisa Taka melanjutkan ucapannya sambil tersenyum.


Pangeran Dehen menunduk malu, dari gerak geriknya keduanya mempunyai ketertarikan walau berbeda usia Pangeran Dehen berusia 27 tahun lebih sedangkan Dewi bulan merah 40a tahun terpaut 13 tahun.


Ke empat jawara persilatan melesat menuju arah ibu kota Sundapura Ki Aria Wirasaba yang lebih hapal jalan singkat memimpin di depan.

__ADS_1


Ki Aria Wirasaba memilih untuk ikut berperang walau mengorbankan tidak menghadiri pernikahan anaknya Ayu Sondari yang seharusnya di gelar hari ini.


Di pertarungan Shun land dan Mara Deva posisi Shun land berada di atas setelah Mara Deva menggunakan ajian Rawarontek hingga kekuatan tenaga dalamnya menurun seperempatnya.


Tapi untuk mengalahkan Mara Deva yang hampir abadi tidak semudah itu, walau pun Shun land telah mengunakan jurus ke tiga dari kitab Tarian Rajawali Api, Mara Deva masih memberikan perlawanan bisa di sebut masih seimbang karena Mara Deva memiliki pengalaman bertarung yang sudah terasah.


"Naga Bergola dalam Pertarungan ada kalah ada menang terima kasih telah menemani ku walau belum lama, tidak ada jalan lain aku harus menggunakan jurus yang ke empat di tinggal ke dua walau pun aku belum pernah melatihnya kita akan berusaha semaksimal mungkin sisanya kita pasrahkan pada Sang maha Pencipta, kalau tidak mencoba kita bisa binasa, Roh Api bantu aku, Roh air bantu stabilkan organ dalam ku, Roh Sumpit Raja Neraka bila kau ingin membantu keluarlah".


Sumpit raja neraka keluar berputar di atas tangan kiri Shun land.


Shun Land berkata pada Roh Naga Bergola, Roh mustika api merah delima, Roh mustika air panca warna dan Roh Sumpit Raja Neraka.


Aura Api meledak keluar dari tubuh Shun land Roh mustika api merah delima mengalirkan Api Abadi yang bersumber dari matahari, Roh mustika air panca warna mengalirkan kekuatan air dingin yang bersumber Dewi bulan.


Sedangkan Roh Sumpit Raja Neraka yang berasal dari bangsa Naga berkekuatan api, mengeluarkan kekuatan apinya membaur dengan pedang Naga Bergola.


Junjungan Pancasiksa sambil menghindari serangan Sang Rajawali Api hatinya berkata.


"Bila di teruskan pertarungan ini aku melawan pemuda pilihan guru Sanghyang Triloka mungkin aku hanya imbang, tapi membuat anak itu semakin matang dan berkembang, karena perlawanan ku menjadi batu Asahan untuk dia".


Pancasiksa yang telah lama hidup dan lebih pengalaman dalam bertarung dapat mengukur kekuatan Shun Land, Pancasiksa juga dalam hati kecilnya merasa pesimis dapat mengalahkan Shun Land bila berhadapan langsung.


Sebuah rencana terpersit di pikiran Pancasiksa. "Api hitam bila ikuti perintah ku bila aku memberikan aba-aba".


Pancasiksa mengirim pesan dengan telepati pada Naga Api Hitam.


"Siap Junjungan". Naga Api Hitam menjawab dengan antusias.

__ADS_1


____________*****____________


__ADS_2