Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
100. Aku sudah tak di anggap


__ADS_3

"Iya, dia memang salah. Tapi katanya dia sudah meminta maaf pada Rendi dan pada istrinya, apa kau tidak mau memberikan kesempatan pada Irene Ren?" tanya Munah.


"Apa yang dia lakukan sampai harus meminta maaf pada menantuku?" Santi jadi penasaran, kalau sudah menyangkut menantu kesayangannya dia langsung turun tangan.


"Kemaren itu salah paham San. Irene bertemu menantu mu di dapur kantor bersama OB lalu dia........" Tutur Mirna menceritakan.


Mata Santi langsung terbelalak.


"Tapi dia sudah minta maaf dan menantu mu memaafkannya,"


Rendi memiringkan bibirnya, "Istriku memang memaafkannya, tapi tidak denganku." Timpal Rendi.


"Aku tak menyangka Irene punya mulut lancang seperti itu. Kamu bilang anakmu wanita yang sempurna, tapi kenapa menghina orang lain dan itu menantuku. Aku memang salah karena dulu ingin menjodohkannya pada Rendi." Ujar Santi marah-marah kepada temannya.


Rendi malah ikut senang, jadi dia tidak perlu meluapkan emosinya, ibunya juga sudah cukup.


Munah memegang tangan Santi secara perlahan dan mengusap lembut. "Santi... Aku sudah bilang ini hanya salah paham, dan sekarang anakku tidak betah bekerja di sana. Karena CEO nya......"


"Kalau tidak betah tinggal keluar, beres kan!" Pekiknya, "Aku menyesal membawamu ke kantor Rendi, aku kira Rendi yang salah karena dia seenaknya memindahkan anakmu di kantor Andra. Tapi ternyata tidak." Ucapnya geleng-geleng kepala.


"Sekarang kau keluar sana." Santi mengusirnya.


"San... Kok kamu begitu sama aku, masa cuma gara-gara hal sepele kau....."


"Sepele katamu? Dia sudah menyakiti menantuku!" Mata Santi menatapnya dengan nyalang sambil berdiri.


"Boro-boro Irene yang menjadi orang lain. Anakku saja, kalau dia menyakiti menantuku." Tunjuk Santi kearah Rendi.


Membuatnya menelan saliva dengan kasar, dia ikut merasa takut dengan telunjuk ibunya yang mengarah tepat pada wajahnya.


"Aku juga tidak terima dan tidak akan menganggapnya anak."


Jleb.........


Santi menarik tangan Munah untuk dia bangun dari duduknya, "Sekarang kau keluar, dan cepat lunasi hutang berlian mu. Mulai sekarang kita tidak lagi berteman." Ancamnya memutus tali pertemanan.


Munah berjalan melangkah dan terhenti gara-gara Santi memberikan Tupperware yang dia bawa tadi. "Ini bawa pulang makananmu lagi, perut anakku tidak akan cocok memakan makanan darimu." Pekiknya.


Mata Rendi langsung berbinar melihat Munah keluar dengan rasa malu, dia seperti sudah membongkar aib anaknya sendiri. Bukannya dapat pembelaan, justru menjadi Boomerang untuknya.


Dreeettt.... Dreetttt, bunyi suara ponsel Santi berbunyi, dia langsung mengambilnya di dalam tas dan mengangkatnya.


"..........."


"APA??" Teriaknya dari telepon.

__ADS_1


Melihat ibunya mengangkat telepon sambil teriak Rendi jadi ikutan panik. "Mah... Kenapa?" tanyanya.


Santi menaruh ponselnya kembali di dalam tas. "Kita kerumah sakit Ren, Papah pingsan!"


Mata Rendi langsung membulat dengan cepat ibu dan dirinya pergi menaiki mobil ke arah rumah sakit.


S


K


I


P


Sampainya di sana Santi bertemu Jojo asisten suaminya di ruang ICU. "Jo, bagaimana Pak Mawan. Kenapa bisa pingsan?" tanya Santi cemas.


Rendi merangkul ibunya supaya dia merasa tenang.


Sebelum di jawab oleh Jojo, Dokter keluar untuk menemui mereka. "Keluarga Pak Hermawan?" tanyanya kepada mereka.


Santi langsung menunjuk diri sendiri, "Saya istrinya Dok, kenapa suami saya?"


"Tensi darahnya naik Bu, jadi dia pingsan. Tapi dia sempat mengigau nama Indah. Apa dia putrinya?"


"Iya Dok benar." Sahut Santi


"Rendi akan telepon Indah Mah." Ucap Rendi yang langsung mengambil ponselnya dari saku celana, untuk menelepon bodyguard Indah supaya mengantarkan Indah ke rumah sakit.


Akhir-akhir ini memang Pak Mawan sering sekali memikirkan Indah, walau bagaimanapun dia kan ayah kandungnya. Ada rasa rindu dan ingin bertemu, tapi Indah sendiri melarang keras karena ibunya tidak menyukai pertemuan mereka berdua. Jadi berefek pada kesehatannya.


Indah datang sambil berlari kecil di ikuti oleh Irwan di belakang, lengan Rendi sudah melebar. Sudah bersiap akan menyambut kedatangan Indah dalam pelukannya.


"Say......" Ucapan Rendi terjeda.


"Sayang....." Rendi kalah cepat oleh sang ibu yang sudah lari menghampiri istrinya.


Santi sudah memeluk dan mengelus lembut rambutnya, "Bagaimana kabarmu sayang?"


"Aku baik Mah, gimana Papah? Kata Mas Rendi, Papah sakit." Tanya Indah. Ibunya langsung mengandeng tangan Indah untuk masuk bareng di ruang rawat.


Bibir Rendi sudah mengerucut saja, sudah macam terompet.


Aku sudah tak di anggap lagi ya Tuhan...


Batin Rendi, dia langsung duduk di kursi panjang yang dingin khas rumah sakit sambil melirik kearah bodyguardnya.

__ADS_1


"Selamat sore Pak." Sapa nya.


Rendi menjawab dengan mengangkat kedua alisnya, dia merasa sangat keki. Indah bahkan tadi tidak meliriknya sama sekali.


Ceklek.....


Mawan menoleh kearah suara dari gagang pintu, senyumnya terpancar jelas di wajah yang sudah berkerut itu. "Sayang Indah..." Ucapnya, tangannya sudah terpasang jarum infusan.


Indah berjalan dan duduk di kursi kecil, dia memegang tangan ayahnya, "Papah nggak apa-apa kan?" tanyanya.


Santi masih berdiri di sana.


Mawan mencoba bangun dan langsung memeluk anaknya dengan erat sambil berbisik. "Papah kangen sama kamu Ndah..." Lirihnya, tak terasa air matanya menetes.


"Ini kita udah ketemu Pah." Sahut Indah, bahkan Indah sendiri tidak menjawab kalau dirinya juga kangen padanya.


Mungkin karena dia sudah mulai terbiasa jauh dari sosok seorang ayah.


Tak lama Suster datang sambil membawa makanan dan minuman di dalam meja troli. Mereka melepaskan pelukannya.


"Pak Hermawan, silahkan makan. Kalau gitu saya permisi." Ucap sang suster yang langsung pamit keluar.


"Papah makan dulu," ucap Indah.


Santi menggeser meja troli di atas kasur. "Mau Mamah suapi Pah?"


Suaminya mengangguk, dan menyenderkan punggungnya di tepi ranjang. Karena kepalanya masih sangat terasa sakit.


Sepertinya Papah begini karena kangen banget sama Indah.


Batin Santi seraya menyendok makanan di piring lalu menyuapi suaminya.


"Indah sayang..." Ujar Santi kearah Indah. "Kamu bisa kan malam ini nginep di sini temenin Papah, kan kamu jarang ketemu dengan Papah."


Indah mengangguk. "Bisa Mah. Tapi aku boleh izin telepon mamah Sarah dulu nggak?"


Santi mengangguk sambil tersenyum, Indah menelepon ibunya untuk meminta izin menginap di rumah sakit dan Alhamdulillah ibunya mengizinkan.


Ceklek......


Rendi membuka pintu dan memeluk Indah dari belakang. Dagunya tepat di bahu Indah. "Papah gimana keadaannya sekarang? Gimana kok bisa tensinya naik sih Pah?" tanyanya kearah ayahnya.


"Papah tidak apa-apa Ren, cuma lagi banyak pikiran aja, Papah juga pengen ketemu Indah." Sahut ayahnya.


"Bilang aja Papah kangen sama istriku susah amat. Iya kan sayang?" tanyanya ke telinga Indah, hembusan nafasnya membuat Indah menggeliat.

__ADS_1


🌾Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen dan favorit kan ya.......🌾


__ADS_2