Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 42. Mengarang cerita


__ADS_3

Mawan kembali melihat isi dompet itu. Matanya terbelalak, dia menemukan foto Indah dan Bayu, Bayu saat itu masih bayi.


Mawan memperhatikan selembar foto, dia ingat betul itu di mana, itu foto di rumahnya. Bahkan saat itu Santi yang memfoto Indah dan Bayu, pas mereka sedang kumpul keluarga.


Ini kan foto Indah dan Bayu? Kenapa Reymond bisa punya? Ini saat Bayu berusia 4 bulan, kan? Mencurigakan sekali.


Batin Mawan.


Dia kembali menatap wajah Reymond. "Kau dapat foto ini dari mana?!" tanya Mawan setengah membentak.


"Dari Dion."


"Kau kenal Dion?" tanya Mawan.


"Pak Mawan, aku kenal dengan Rendi. Masa tidak kenal dengan asistennya, aku bahkan sering minum kopi bersamanya," sahut Reymond.


"Lalu kenapa kau menyimpannya? Apa tujuanmu? Apa kau dari dulu sudah berniat mengincar anak dan cucuku?"


Rentetan pertanyaan itu berhasil keluar dari mulut Mawan, memang itu inti dari semua pertanyaan yang tersimpan dalam benaknya.


Indah mengelus-elus dada sang Ayah, mencoba menenangkan supaya dia tidak kembali emosi dan mengeluarkan kata-kata kasar, apa lagi kembali menampar dan menonjok. Dia sangat kasihan sama Reymond, wajah barunya yang tampan itu seperti membawa sial, tidak henti-hentinya mendapatkan rasa sakit pada pipi kanan dan kiri.


"Maaf sebelumnya Pak Mawan, aku ingin cerita sedikit tentang kisah ku dengan Indah," ucap Reymond.


Apa maksud Mas Reymond? Kisah apa? Dia mau mengarang apa lagi?


Batin Indah.


"Bicaralah," sahut Mawan.


"Aku sudah kenal Indah sejak dulu, Pak. Bahkan pada saat dia belum menikah dengan Rendi."


Mata semua orang di sana membulat sempurna, Indah juga ikut membulatkan matanya. Apa lagi yang akan Reymond ceritakan?


Mawan menoleh pada Indah dan memegang kedua pipinya, meminta penjelasan. "Benar itu sayang?"


"Iya, Pah," tak bisa lagi yang ia katakan, selain ikutan berbohong.

__ADS_1


"Kamu kenal Reymond di mana dan kapan?" tanya Mawan menatap dalam pada mata Indah.


Bola matanya saja tidak bisa diam, Indah tidak bisa berbohong sebenarnya. Tapi sudah kepalang tanggung.


"Pada saat aku masih kuliah, Pah."


"Kuliah? Berarti sudah lama. Kau tidak berbohong pada Papah kan, Indah?" mata Mawan seperti sinar laser, begitu terpancar menyoroti mata Indah.


"Iya, Pah. Sejak kapan aku berbohong," Indah menelan saliva nya begitu kasar.


Papah. Maafkan aku Pah, aku melakukan ini terpaksa, sungguh terpaksa.


Batin Indah.


"Biar aku saja yang ceritakan Pak, Indah sudah agak lupa. Karena kenangannya bersama Rendi terlalu banyak."


Reymond mengalihkan pembicaraan, biar dia saja yang berbicara mengarang cerita. Indah terlalu gugup, takut semuanya menjadi kacau.


Mawan melepaskan tangannya pada pipi Indah dan kembali melihat ke depan.


"Coba ceritakan."


Reymond menatap pada Indah sambil mengangkat-angat alisnya ke atas, mencoba menggoda sedikit.


"Kau kerja di minimarket? Bukannya kau sekarang menjadi CEO perusahaan Rizky. Apa kau hanya berpura-pura? Apa jangan-jangan kau tidak punya ijazah kuliah?"


"Tidak, Pak. Aku juga mampu memegang perusahaan. Cuma sayangnya ijazahku terbakar pada saat rumahku kebakaran. Alhasil aku tidak bisa bekerja di kantor. Jadi, daripada menganggur. Lebih baik aku menjadi kasir minimarket."


Mawan tetap mengiyakan saja ucapan Reymond, tapi entah dia percaya atau tidak.


"Coba teruskan lagi," ucap Mawan.


"Iya, pada saat itu kita berkenalan dan saling menukar nomor telepon. Aku sudah suka sama Indah sejak dulu, Indah juga sama. Kami saling mencintai."


"Apa kalian berpacaran sebelum Indah menikah dengan Rendi?" tanya Mawan.


"Tidak, Pak. Kami hanya berkomitmen untuk saling menjaga satu sama lain dan cinta kita, sampai kita menikah nanti. Namun saat itu Indah terkena masalah sampai dia bisa menikah dengan Rendi."

__ADS_1


Mata Mawan terbelalak. "Masalah? Apa maksudmu? Kau pikir Indah menikah dengan Rendi jadi masalah untukmu?!" Mawan seperti tersinggung dengan ucapan Reymond barusan.


"Sayang ... Kamu boleh ceritakan tentang penyebab kamu menikah dengan Rendi, mungkin Papah mu ingin tahu," ucap Reymond berbicara dengan Indah.


"Memangnya tidak apa, kalau aku ceritakan?" tanya Indah.


"Tidak apa-apa, lagian Rendi tidak ada di sini. Kamu ceritakan saja semua. Seluruhnya, tanpa kamu lewatkan."


Indah mengangguk paham. "Aku dulu menikah dengan Mas Rendi karena terpaksa Pah. Karena aku butuh uang demi biaya operasi Mamah."


Mata Mawan terbelalak, tapi ada sedikit rasa sakit hatinya. Dia sadar akan kesalahannya di masa lalu.


"Papah tahu bagaimana binggung nya aku saat itu? Aku tidak punya siapapun untuk di mintai tolong selain bos ku sendiri. Mas Rendi," ucap Indah dengan sendu.


"Kenapa kau tidak meminta tolong padaku Indah?" tanya Rio tiba-tiba.


Indah menoleh pada Rio. "Tidak, aku banyak merepotkan mu Rio. Aku tidak mau," sambungnya lagi.


Mawan mengenggam tangan Indah yang berada di atas meja, terasa hangat.


"Aku meminjam uang padanya, tapi justru Mas Rendi memintaku untuk menikah dengannya, Papah Antoni bisa jadi saksinya," Indah menatap wajah Antoni yang terdiam sejak tadi.


"Iya benar, Pak. Saat itu Indah ingin kasbon di kantor. Tapi memang peraturan kantor harus izin pada atasan, Indah saya ajak untuk menemui Rendi. Saya juga tidak tahu tiba-tiba Indah cerita, kalau dia menikah dengan Rendi secara dadakan," jelas Antoni.


"Intinya itu sudah berlalu Pak, saat itu Indah meninggalkan ku dan menikah dengan pria lain. Aku sangat sakit hati, rasanya tidak ingin hidup jika jauh dengan orang yang kita cintai," lanjut lagi Reymond.


"Lalu maksud mu menculiknya saat itu apa? Kenapa Indah bisa berubah pada saat habis di culik olehmu. Bukannya pertama kalian bertemu lagi, kalian seperti orang asing yang tidak saling mengenal?" tanya Mawan kembali ke pokok yang dia bahas.


"Yang tidak mengenal itu Indah, dia sudah melupakanku karena terlalu dalam mencintai Rendi. Aku berusaha meyakinkan dia di cafe saat itu, kalau aku adalah masa depannya dan Indah milikku. Tapi dia malah menamparku dan mengatakan 'Aku punya suami! Aku miliknya, tidak ada yang boleh mengatakan hal itu selain Mas Rendi!' sakit sekali rasanya, Pak."


Reymond berekspresi dengan wajah sendu dan sedih, berakting seolah dia dan Rendi adalah orang yang berbeda.


"Kau beri Indah apa saat menculiknya? Indah semenjak habis di culik, sikapnya jadi aneh dan sepertinya tergila-gila padamu," tanya Mawan.


"Aku hanya memberikan apa yang aku punya Pak, cintaku," sedikit mengombal, membuat pipi Indah merona.


Ish... Mual sekali aku dengar kata cinta itu.

__ADS_1


Batin Mawan.


"Apa kau memberikan Indah obat pencuci otak? Atau obat semacam untuk dia menuruti semua kemauan mu?"


__ADS_2