
Reymond langsung mengambil pakaian miliknya yang berserakan di bawah lantai. Ia berlari kocar-kacir masuk kedalam kamar mandi.
Indah juga ikut panik, Ia segera bangun dan buru-buru ke kamar mandi untuk memakai handuk kimono dan melilit handuk kecil pada rambut kepalanya yang basah.
"Sayang, nyawaku di tanganmu. Tolong berikan alasan apapun supaya Papah tidak curiga," pinta Reymond dengan wajah memelas.
Ia tengah menyirami juniornya yang sudah lemas itu mengunakan selang shower.
"Iya, Mas."
Walau terasa begitu lemas, Indah tetap berusaha berjalan secara perlahan dan membuka pintu.
Ceklek.....
Terlihat Mawan sudah berdiri didepan sambil mengendong Bayu.
"Oh kamu sedang mandi. Pantes lama," ucap Mawan.
"Iya, Pah." Indah langsung mengendong Bayu dari tangan Mawan.
Nggak biasanya siang-siang Indah mandi. Apa mungkin efek hamil?
Batin Mawan.
Mata Mawan langsung terbelalak kala melihat tempat tidur Indah seperti kapal pecah.
"Kasur kamu berantakan sekali, kenapa?" tanya Mawan menatap penuh curiga.
Apa jangan-jangan Indah dan Reymond habis bercinta?
Batin Mawan.
Ia juga mengingat mobil Reymond sudah terparkir rapih didepan halaman rumahnya.
"Oh, itu. Biasa Bayu, Pah. Suka main diatas kasur," jawab Indah berbohong dan berusaha bersikap tenang, walau jantungnya kini sudah berdegup sangat kencang.
"Bayu idak ....,"
"Bayu mau bobo siang bareng Bunda, ya?" tanya Indah dengan cepat menyela ucapan Bayu. Dia tahu betul, anaknya pasti akan berkata jujur.
"Iya, Bunda."
"Papah tadi lihat ada mobil Reymond. Dia pulang? Kemana orangnya?"
Mawan sudah berusaha ingin masuk ke kamar Indah, seperti punya feeling kalau ada Reymond didalam. Namun Indah memegang tangannya.
"Papah mau apa? Ini kamar aku, ngapain cari Mas Reymond disini."
Mawan mengangguk. "Lalu dimana dia? Kamu pasti tahu, kan?"
Glek....
Indah menelan saliva nya begitu kasar. "Dia ada di kamarnya, Pah. Dia bilang sedang sakit kepala."
Papah maafin aku, lagi-lagi aku berbohong. Aku terpaksa, Pah. Sungguh.
Batin Indah.
Mawan langsung berjalan menuju kamar tamu, kamarnya Reymond. Indah kini berlari mengejarnya.
Kalau Papah tau di kamarnya tidak ada orang bisa gawat.
__ADS_1
Batin Indah.
Tok ... Tok ... Tok.
"Reymond, buka pintunya," ucap Mawan seraya mengetuk pintu.
Indah sudah berhasil menghampiri Mawan. "Papah jangan di ganggu, kasihan dia sedang tidur."
"Kok kamu tau dia sedang tidur?!" tangan Mawan perlahan menurunkan gagang pintu, Indah sudah harap-harap cemas.
"Ish ... Di kunci!" dengkus Mawan kesal.
Alhamdulilah.
Batin Indah.
"Papah ... Tadi aku memberikan dia obat, dia bilang ingin tidur. Mungkin pintunya dia kunci dari dalam."
"Kalau dia mati didalam bagaimana?"
Indah tersenyum dan memegang lengan Mawan. "Papah ini khawatir atau apa? Mas Reymond baik-baik saja di dalam. Oya, Papah tumben pulang siang, memang nggak sibuk?"
Indah sudah mengalihkan pembicaraan dan mengajak Mawan berjalan meninggalkan kamar Reymond.
"Papah sebenarnya mau ngomong sama dia. Tadi Rio telepon, bilang kalau Reymond menonjoknya di depan kantor. Kenapa orang itu selalu saja cari masalah." Mawan mendengkus kesal.
Cih! Si Rio lama-lama menjadi tukang ngadu.
Batin Indah.
"Papah, Mas Reymond tidak salah. Rio yang bersalah, dia memaksaku untuk pulang bareng. Padahal aku sudah bilang tidak mau," bela Indah.
Mawan memegang salah satu tangan Indah. "Papah heran sama kamu, kenapa kamu sampai tidak suka pada Rio dan membencinya. Padahal dia yang cocok dengan ....,"
"Maksud Papah, kamu cocok dengan Reymond. Yasudah ... Papah mau balik lagi ke kantor. Kamu jaga diri baik-baik, jangan macem-macem! Kamu sedang hamil dan belum sah dengan Reymond!" seru Mawan.
"Iya, Pah. Papah tenang saja, Papah hati-hati di jalan."
Mawan mencium kening Indah sekilas dan menuruni anak tangga.
"Dadah Opa," ucap Bayu melambaikan tangan.
"Dadah sayang." Mawan juga melambai padanya.
Alhamdulilah, semuanya sukses.
Batin Indah seraya masuk lagi ke kamar. Ia Ingin menenggok suaminya yang sedang bersembunyi.
***
Santi ikut ke rumah sakit mengantar Wulan. Dia memang tidak mengenal perempuan itu, tapi ada hal yang ingin di bicarakan tentang kejadian antara dia dan Rio. Mungkin saja Wulan bisa berkata jujur karena tidak ada bosnya disini.
Wulan berlari kecil dengan Santi dari lobby menuju tempat resepsionis. Ia mengambil satu lembar kertas dan kartu ATM pada kantong celana dan menyodorkan diatas meja itu.
"Bu, saya ingin membayar biaya cuci darah Adik saya," ucap Wulan pada seorang wanita dengan rambut yang di sanggul.
"Baik, Mbak."
Biaya cuci darah?! Adiknya sakit keras memangnya?
Batin Santi bertanya pada diri sendiri.
__ADS_1
Setelah selesai membayar, mereka berjalan menuju ruangan ICU. Namun hanya Wulan saja yang masuk Santi menunggunya di luar.
Lima menit kemudian. Wulan keluar dari ruangan itu dan duduk menghampiri Santi pada kursi panjang.
"Wulan, Adik kamu sakit apa?" tanya Santi penasaran.
"Gagal ginjal, Bu."
Deg....
Mata Santi terbelalak. "Kasihan sekali, dia. Sejak kapan sakitnya?"
"Dari lahir, Bu."
"Memang berapa usianya sekarang?"
"5 tahun."
"Kalau cuci darah berapa kali dalam seminggu?" tanya Santi.
"2 kali, Bu."
"Kenapa kau tidak coba transplantasi ginjal saja? Biar adikmu cepat sembuh," usul Santi.
"Selain karena biayanya yang tidak ada, Dokter belum berhasil mendapatkan yang cocok, Bu," jelas Wulan.
"Oya, aku masih penasaran antara kamu dan Rio, menurutku dilihat dari kondisimu sekarang. Kamu dan Rio ada apa-apa," ucap Santi menatap mata Wulan penuh curiga.
"Pak Rio hanya atasan saya saja, Bu."
"Kau tidak perlu berbohong." Santi mengenggam tangannya, "Aku ibunya Rio, kalau anakku punya kesalahan. Aku wajib tahu."
Wulan terdiam.
"Aku tau kau pasti diancam oleh Rio. Apa kau butuh uang? Apa kau meminjam uang padanya untuk biaya rumah sakit Adikmu?" pertanyaan yang berurutan terlontar dari mulut Santi, dia memang cukup hebat menganalisa wajah seseorang.
Deg.....
"Bukan, Bu. Bukan seperti itu," bantah Wulan sambil menggelengkan kepala.
Perempuan ini kenapa tidak jujur saja, sih.
Batin Santi kesal.
"Yasudah begini saja, kalau kau butuh biaya apapun itu untuk pengobatan Adikmu. Kau minta saja padaku. Tapi syaratnya, kau harus ceritakan semuanya," ucap Santi menawarkan.
Ibunya Pak Rio sepertinya orang yang baik, apa aku harus jujur saja padanya? Dan apa dia bisa membantuku?
Batin Wulan.
"Baik, Bu. Saya ceritakan semuanya, tapi saya mohon jangan marah pada Pak Rio. Dia bukan sepenuhnya salah disini, saya juga takut di pecat."
Ucapan Wulan makin membuatnya binggung dan makin penasaran.
"Oh. Jadi kau diancam begitu. Kau tenang saja. Aku tidak akan marah kalau memang Rio tidak bersalah," sahut Santi dengan santai.
...{Flashback On}...
...~POV Wulan~...
Cerita ini berawal dari aku yang tengah mengajak Clara Adikku pergi untuk jalan-jalan pada hari Minggu pagi. Rencana ingin mengajaknya ke taman yang lumayan tidak terlalu jauh dari tempatku tinggal.
__ADS_1
^^^Kata: 1040^^^