Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 68. Mengejutkan


__ADS_3

Dari pagi menjelang sore, Reymond menunggu kedatangan Susan. Namun wanita berjilbab itu tak kunjung datang. Ia mencoba meneleponnya, tapi nomornya tidak aktif.


Karena rasa penasaran yang berlebihan, Reymond memutuskan untuk pergi ke panti asuhan langsung, menemuinya disana.


Pria tampan itu melangkahkan kakinya berjalan menuju parkiran, namun tiba-tiba ada yang memanggil namanya.


"Reymond!" ia langsung menoleh kearah sumber suara, ternyata yang memanggilnya adalah Antoni.


"Papah, ada apa?"


Antoni berjalan menghampirinya.


"Bagaimana Bu Susan? Apa dia sudah menemuimu?" sepertinya Antoni ikut penasaran dengan siapa adiknya Indah.


"Belum, ini aku mau ke panti. Dia bilang mau menemuiku, tapi ternyata bohong, Pah," sahut Reymond dengan wajah cemberut.


"Apa Papah boleh ikut?"


"Boleh, tapi memangnya Papah tidak capek? Sebenarnya aku juga ingin mengajak Papah, cuma aku tidak enak." Reymond nyengir kuda.


"Ah lebay kamu, mentang-mentang Papah sekarang jadi mertuamu. Dulu saja sering bentak-bentak Papah," ledeknya.


Reymond memegang lembut tangan Antoni. "Maafkan aku, Pah. Papah 'kan tau sendiri aku orangnya kayak gimana. Yasudah ayok masuk, ikut denganku," ajaknya.


Antoni mengangguk dan masuk kedalam mobil, Reymond langsung melajukan mobilnya.


"Indah sudah pulang ke rumah?"


"Sudah, Pah. Dia sudah boleh pulang."


"Syukurlah, semoga Indah dan cucu Papah selalu sehat ya, Rey."


"Amin, Pah."


Tak lama suara deringan ponselnya berbunyi, wanita yang baru saja dibicarakan menelepon.


Reymond mengangkat telepon. "Halo, Sayang."


"Mas kamu sudah pulang kerja?"


"Belum, Sayang. Memang kenapa? Kamu kangen sama aku?"


"Kalau kamu pulang malam, aku mau dibelikan martabak. Apa boleh?"


"Tentu boleh, Sayang. Mau berapa porsi?"


"Satu saja, Mas. Tapi coklat keju, ya?"


"Iya, Sayang."


"Yasudah, kamu semangat kerjanya, Mas."


"Iya, aku mencintaimu, Sayang."


"Aku juga, Mas."

__ADS_1


Reymond sengaja berbohong, karena menurutnya akan lebih baik kalau Indah tidak perlu tau dulu, sebelum semuanya terungkap.


Setelah menutup sambungan telepon, tak lama mobil Reymond sampai tepat didepan rumah panti asuhan Kasih Bunda.


Antoni dan Reymond membelalakkan kedua matanya, tatkala melihat rumah panti itu hangus terbakar, seperti habis dilalap si jago merah. Tapi suasana sangat sepi, tidak ada siapapun disana.


Reymond terkesiap. "Pah ... kok rumahnya seperti habis kebakaran?"


"Kita turun dulu Rey, kita tanya ke orang-orang sekitar," titah Antoni seraya membuka pintu mobil.


Reymond mengangguk dan ikut turun dari mobil. Mereka melangkahkan kakinya di sebuah rumah sederhana, yang berada disamping rumah panti itu. Ada pria paruh baya tengah duduk di teras depan rumahnya sambil menghisap puntung merokok.


"Maaf permisi, Pak. Itu rumah panti habis kebakaran?" tanya Antoni seraya menoleh sekilas pada rumah panti dan melihat kearah pria itu kembali.


"Betul, Pak. Kebakarannya semalam."


"Lalu semua penghuninya kemana? Apa ada korban jiwa?" tanya Reymond.


"Alhamdulilah tidak ada, Pak. Pengurus panti dan anak-anak berhasil selamat."


"Apa Bapak tau mereka dimana sekarang?"


"Mereka semua mengungsi di masjid depan sana, Pak. Dekat dari sini." Pria tua itu bangun dari duduk dan menunjuk kearah timur dari jalan raya.


"Apa nama masjidnya?" tanya Antoni.


"Masjid Al Ikhlas, Pak."


"Oh, yasudah. Terima kasih, Pak."


"Sama-sama."


Beberapa menit kemudian, mobil Lamborghini sudah terparkir disebuah halaman masjid yang pria tua tadi sebutkan.


Masjid itu sangat besar nan luas, halamannya pun tak kalah luasnya.


Ternyata benar, mereka semua ada disana. Tapi bukan mengungsi di masjidnya, melainkan dihalaman depan masjid. Ada sebuah posko besar berwarna oranye.


Kebetulan ada Susan tengah duduk di kursi sendirian sambil melamun, raut wajahnya terlihat begitu pilu. Matanya juga sembab, seperti habis menangis.


Reymond dan Antoni keluar dari mobil, kakinya melangkah menghampiri wanita yang masih termenung dalam lamunan itu.


"Selamat sore, Bu," sapa Reymond.


Lamunan Susan langsung buyar, saat mendengar suara dari pria tampan itu.


"Pak Reymond, Pak Antoni. Kalian ada disini?" tanya Susan seraya mengusap sudut matanya yang berair.


"Iya, Bu."


"Silahkan duduk, Pak." Susan menunjuk dua kursi kosong disebelahnya.


Reymond dan Antoni langsung duduk.


"Saya turut berdukacita atas semua yang terjadi Bu," ucap Reymond.

__ADS_1


"Iya, Pak. Eemm ... maafkan saya, padahal saya sudah membuat janji pada Bapak. Tapi malah Bapak yang kesini langsung."


"Tidak masalah, Bu. Oya ... dimana anak-anak dan pengurus panti yang lain?" Reymond menoleh kekanan dan kiri, sekitaran masjid itu.


"Mereka ada didalam masjid, Pak."


"Oya, Ibu jadi atau tidak, memberikan berkas itu padaku?" Reymond menagih ucapan Susan kemarin.


"Jadi, Pak. Tapi sayangnya seluruh berkas itu hangus terbakar. Malah tidak tersisa harta dan benda sedikit pun yang ditinggalkan," ungkapnya dengan wajah sendu.


Reymond dan Antoni melayang pandangan, mereka merasa kasihan melihat Susan dan keadaannya sekarang. Susan terlihat sangat berduka, tapi niat mereka kesini hanya ingin meminta berkas.


"Nanti saya akan berikan donasi lagi untuk pembangunan rumah panti yang baru, Bu," ucap Reymond dengan tulus.


Mata suram Susan langsung berubah menjadi berbinar, ia juga menarik senyum. "Terima kasih, Pak. Terima kasih Bapak telah membantu panti asuhan ini untuk kedua kalinya. Bapak benar-benar pria yang baik."


Reymond membalas senyumannya. "Iya, saya memang pria baik, Bu. Saya akui itu."


"Apa Ibu masih ingat nama orang tua yang mengadopsinya?" tanya Antoni.


"Kalau saya sebutkan, memang Bapak-bapak ini akan mengenalnya?" Susan berbalik tanya, karena merasa tidak yakin mereka akan mengenalnya.


"Mungkin saja, siapa namanya?" lanjut Reymond.


Susan terdiam, ia seperti tengah mengingat nama orang tua dari si bayi itu.


"Kalau tidak salah, namanya Pak Wahyu."


Deg~


Kedua pria itu mendelik kaget. Tanpa mereka sadari, ada seorang pria berjas rapih berwarna hitam dan memakai kacamata hitam juga. Ia tengah berdiri dibelakang posko. Kedua telinganya seperti sedang menguping pembicaraan mereka.


"Pak Wahyu?!" Reymond memiringkan kepalanya sedikit. "Pak Wahyu Hidayat penjual bakso, Bu?" tebaknya.


"Nama lengkapnya saya kurang tau, tapi setau saya dia memang penjual bakso."


Deg~


Reymond dan Antoni saling memandang dan menganggukkan kepalanya, seperti tengah memberi kode.


"Apa anak itu namanya Clara, Bu?" tanya Antoni.


"Benar, Pak."


Deg~


Mengejutkan sekali, Reymond merasa titik terang itu sudah terbuka dengan lebar.


"Pak Reymond dan Pak Antoni kenal dengan Pak Wahyu? Apa Pak Wahyu yang Bapak maksud adalah orang yang sama?" tanya Susan.


Antoni menepuk paha Reymond sekilas. "Kamu punya fotonya, tidak? Tunjukan pada Bu Susan, Rey."


"Aku tidak punya, Pah. Coba aku telepon Rio sebentar." Reymond merogoh ponsel pada saku jas dan mencoba untuk menghubungi Rio, namun tidak mendapatkan respons. Padahal sudah ditelepon tiga kali.


"Sialan! Kemana bocah kurang ajar ini?! Kenapa teleponku tidak diangkat?!" Reymond memaki ponselnya sendiri. Rupanya ia sama sekali tidak tau tentang keadaan Rio yang tengah berduka disana.

__ADS_1


"Yasudah, tidak masalah Rey, lebih baik kita ke rumah sakit saja besok. Kita temui Pak Wahyu dan tanya-tanya padanya langsung," usul Antoni.


^^^Kata: 1048^^^


__ADS_2