Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 89. Dia adalah suamiku


__ADS_3

"Jangan, Mbak. Suamiku orang yang sibuk, lebih baik nomorku saja yang Mbak catat, nanti aku tanyakan padanya kalau sudah jam makan siang."


Enak saja dia meminta nomor Mas Rio. Walau Mas Rio menyebalkan, tapi dia adalah suamiku.


"Memang suamimu itu kerja jadi apa? Paling juga OB. Sok sibuk banget." Adel memutar bola matanya dengan malas. "Yasudah ... sebutkan nomormu sekarang!" titahnya.


Kok dia yang songgong begitu? Masih syukur aku mau membantunya.


"08581xxxxx." Wulan menyebutkan beberapa angka nomor teleponnya.


"Aku save, ya. Nanti kau jangan lupa memberitahuku. Aku kesal sekali pada Kak Dido. Dia 'kan sudah bercerai denganku, tapi beberapa Minggu yang lalu ... dia malah pinjam uang pada Papahku! Sudah begitu, hilang tidak ada kabar! Setidaknya dia memberikan jaminan, dasar tidak tau diri!" umpatnya dengan kesal sambil menyedot jus mangga itu sampai tandas.


"Memang hutangnya berapa, Mbak?"


"300 juta!"


Deg~


Mata Wulan membelalak.


300 juta? Kok sama dengan biaya operasi Clara?


"Sudah tau kere, ngapain mau bantuin teman segala! Tidak mikir pakai otak!" tambah Adel lagi dengan penuh kekesalan.


"Bantuin teman? Maksud Mbak, bagaimana?" tanya Wulan penasaran.


"Iya, dia bilang uang itu untuk biaya operasi adik dari temannya. Aku juga kesal dengan Papah, kenapa dia malah meminjamkan uang pada pria tidak tau malu itu!"


Wulan langsung tercengang dengan apa yang Adel katakan, tanda tanya itu bermunculan pada benaknya.


Apa jangan-jangan Kak Dido meminjam uang karena untuk membantuku? Kalau memang benar, aku jadi tidak enak padanya.


Harusnya kalau memang Kak Dido tidak punya uang, dia tidak perlu sampai melakukan hal ini.


Aku juga belum bayar nyicil padanya. Apa aku transfer uang bulanan dari Mas Rio saja, ya? Iya ... siapa tau dengan begitu, sedikit membantu meringankannya. Tapi aku tidak tau nomor rekening dan nomor ponselnya juga. Lalu, bagaimana ini?


***


"Rio, kau betah tinggal di rumah tukang bakso itu?" tanya Mawan, mereka bertiga tengah makan siang bersama di Cafe depan kantor Rio. Ada Rizky juga disana.


Rio mengelap sisa jus pada ujung bibirnya menggunakan tissu.


"Namanya Ayah Wahyu, Pah. Kenapa Papah selalu menyebut pekerjaannya, sih!" decaknya kesal.


"Memang benar dia penjual bakso, kan? Lalu, apa yang salah dengan ucapan Papah?" tanya Mawan seraya menyunggingkan senyum.


"Tidak salah memang, tapi wajah Papah seperti mengejek mertuaku," balas Rio tak terima.

__ADS_1


"Kau juga ... sudah tau dulu Wulan meninggalkanmu, kenapa masih mau dengannya? Memang tidak ada wanita lain di dunia ini?"


Menyebalkan sekali Papah ini. Kenapa semenjak aku menikah, sikapnya jadi berubah padaku?


"Kau cerai saja dengannya, cari wanita lain. Kalau kau tidak bisa mencari ... Papah yang akan membantumu."


"Tidak, aku tidak mau bercerai dengannya, Pah. Hanya ada tiga wanita didalam hidupku!"


"Itu ada tiga. Berarti kau bisa melepaskan wanita itu dan bersama salah satu dari mereka."


"Iya tiga, Wulan, Mamah dan Indah. Papah mau setelah aku bercerai dengannya, aku menikahi Mamah atau Indah? Papah mau aku merebut istri Papah dan istri kak Reymond?"


"Ish kau ini! Papah serius padamu, Rio!" bentak Mawan dengan emosi.


Rio bangun dari duduknya. "Aku juga serius! Aku tidak mau bercerai dan ingin bersama Wulan selamanya!"


'Kok mereka jadi berantem gini?' batin Rizky.


Keberadaannya bahkan tidak dianggap sama sekali, tapi pria itu lebih baik fokus untuk makan saja.


"Aku mau balik lagi ke kantor, Pah ... Kak Rizky," ucap Rio pamit, ia melangkahkan kakinya keluar dari pintu kaca Cafe.


Saat dihalaman depan kantor, entah datangnya dari mana, tiba-tiba ada seorang wanita cantik menabraknya. Bukan salah siapa sebenarnya, tapi masing-masing dari mereka hanya fokus menatap telepon genggamnya.


Bruk.....


Wajah wanita itu bahkan sampai menempel pada dada bidang Rio, sontak membuat Rio membelalakkan kaget dan menjauhkan dirinya supaya tidak terlalu dekat.


Rio melihat wanita itu sekilas dengan tatapan sinis. "Kalau jalan pakai mata!" makinya, ia melanjutkan langkah kakinya kembali dan masuk kedalam kantor.


Tanpa disadari, wanita itu sedari tadi menatap lekat Rio. Bahkan ia merasa senang bisa bertabrakan, walau hanya sebentar.


'Siapa dia? Tampan sekali. Apa dia kerja disini juga?' batin Adel dengan senyuman mengembang.


Ya, wanita itu datang ke kantor Rio karena sebelumnya diberitahu oleh Wulan tentang alamat kantor tersebut.


Adel benar-benar bergerak cepat untuk bisa bertemu dengan mantan suaminya, niatnya ingin menagih hutang. Tapi justru sekarang ia penasaran dengan pria yang sempat bertabrakan dengannya.


Adel melangkahkan kakinya menuju kedua satpam berseragam putih biru itu. "Siang, Pak. Apa Bapak tau pria yang baru saja masuk kedalam?" tanyanya dengan suara lembut.


"Iya tau. Memang kenapa, Mbak?" salah satu satpam itu berbalik tanya pada wanita cantik itu.


"Siapa namanya dan kerja sebagai apa disini?"


"Namanya Pak Rio Pratama, dia CEO disini."


Adel membuka matanya dengan lebar-lebar, salah satu tangannya juga menutup mulutnya yang ikut terganga.

__ADS_1


CEO? Sudah tampan, masih muda dan yang pasti banyak duit! Sempurna sekali dia.


"Eemm ... apa dia sudah menikah?" tanyanya lagi.


"Sudah."


Adel mengerucutkan bibirnya sebentar, lalu ia menarik senyum kembali.


Tidak masalah punya istri juga, aku bisa jadi istri keduanya. Atau aku--


"Mbak ini mau cari siapa sebenarnya?" pertanyaan sang satpam seketika membuyarkan pikiran kotornya, ia tersentak kaget dan melihat kearah kedua pria itu.


"Saya mencari Dido Sukmana, apa Bapak kenal dengan pria itu?"


Akhirnya Adel menyebutkan maksud dan tujuannya. Ia memang suka sekali hilaf dengan pria tampan.


"Dido Sukmana ...?" Kedua satpam itu melayangkan pandangan sebentar dan melihat kearah wanita itu lagi.


"Oh dia asisten pribadinya Pak Rio, Mbak."


Wah kebetulan sekali.


"Dimana dia sekarang, Pak? Apa aku bisa bertemu dengannya?" tanyanya dengan tatapan penuh harap.


"Dia tidak ada di kantor, baru saja keluar."


"Yasudah, saya mau bertemu dengan Pak Rio saja. Apa bisa?"


"Tidak bisa, Mbak harus punya janji dulu. Dan ... hanya keperluan pekerjaan saja yang dia bisa bertemu dengannya."


Ah sial!


Tunggu dulu Adel, aku 'kan kesini niatnya ingin bertemu pria tidak tau diri itu! Kenapa malah ingin bertemu dengan pria tadi?


Ia menyadarkan dirinya sendiri sekali lagi, mengingat tujuan pertamanya datang kesini.


"Bapak punya nomor ponselnya?"


"Nomor siapa? Pak Rio apa Pak Dido?"


"Dua-duanya, apa aku boleh memintanya?"


"Tidak bisa, nomor ponsel milik pribadi. Saya tidak bisa memberikannya."


***


Setelah menyelesaikan semuanya tugas dan pergantian shift berlangsung, Wulan dan teman-temannya yang lain melangkahkan kakinya keluar dari Restoran.

__ADS_1


Ada sebuah mobil Lamborghini berwarna putih, terparkir tepat didepan halaman Restoran. Mobil tersebut, seperti mobil milik Rio. Namun ada seorang pria matang tengah berdiri didekat mobil dengan seragam mengenakan seragam hitam. Usianya sekitar 35 tahunan. Ia berbadan kekar, tinggi, berkulit sawo matang dan berkepala plontos. Jangan lupakan wajah garangnya juga, bahkan lengan kirinya saja bertato harimau.


^^^Kata: 1065^^^


__ADS_2