Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 45. Mengabaikan


__ADS_3

Kepalanya menoleh pada kanan dan kiri, ia mencari taksi ataupun angkot yang lewat. Tapi tiba-tiba ada sebuah mobil berwarna putih, berhenti tepat didepannya.


Orang itu menurunkan kaca mobil, seorang pria tampan sebaya Rio. Ia seperti mengenal Wulan.


"Kau Wulan, kan?" tanyanya.


"Iya, saya Wulan. Bapak siapa memangnya?"


"Aku Vinno, anaknya Pak Antoni."


Pak Antoni?! Oh berarti dia Kakaknya Indah.


Batin Wulan.


"Oh. Berarti Kakak, Kakaknya Indah?"


"Iya. Kau ingin pergi kemana? Ayok ikut, nanti aku antar," tawar Vinno.


"Apa tidak merepotkan?" tanya Wulan sungkan.


"Tidak, rumah Rio dan aku 'kan searah."


"Maaf Kak, Kakak duluan saja. Aku saat ini sedang main ke rumah Ayahku."


"Yasudah, naik saja. Nanti aku antar."


Kerena merasa tak enak, Wulan dan Clara masuk kedalam mobil. Ia ingin duduk di kursi belakang.


Namun Vinno berkata, "Jangan duduk dibelakang, aku tidak mau menjadi sopir," jelasnya.


Wulan tidak jadi, ia segera masuk dan duduk di kursi depan dengan memangku Clara.


Vinno melirik pada Clara, ia tersenyum padanya.


"Nama kamu siapa, Sayang?" tanya Vinno.


"Clara, Om."


"Jangan panggil Om, Clara. Panggil Kakak saja, dia Kakaknya Kakak Indah," tegur Wulan seraya mengelus rambut Adiknya.


"Tidak masalah, mau panggil apa saja juga boleh," jawab Vinno santai.


"Aku dengar Rio masuk rumah sakit, dia sakit apa?" tanya Vinno dengan pandangan yang fokus kedepan sambil menyetir.


"Hanya kelelahan saja, Kak," balas Wulan.


.


.


.


.


.


.


.


Vinno memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah Wahyu, ia melihat rumah dan kios itu begitu ramai. Banyak sekali orang yang berdatangan membeli bakso.


"Terima kasih atas tumpangannya, Kak," ucap Wulan seraya berjalan membuka pintu mobil.


"Sama-sama. Oya, Bapak kamu jualan bakso?"


"Iya Kak. Kakak ingin mampir dan mencobanya? Boleh silahkan, Kak."


Vinno mengangguk dan memarkirkan mobilnya didepan rumah Wahyu.


Wulan segera masuk kedalam rumah untuk menaruh barang belanjaannya. Sedangkan Clara duduk pada bangku didalam kios. Vinno juga ikut duduk di bangku disebelahnya.


"Bapak mau pesan bakso?" tanya Wahyu seraya menghampiri Vinno.

__ADS_1


"Biar aku saja yang membuatnya, Yah. Kak Vinno ini Kakaknya Indah," ucap Wulan yang baru keluar dari pintu rumah dan menghampiri mereka.


"Oh, jadi Bapak Kakaknya Nona Indah? Terima kasih sudah mampir kesini, Pak."


"Sama-sama, Pak," balas Vinno.


Tak lama Wulan membawakan semangkuk bakso dan es teh manis. Ia menaruhnya didepan meja panjang, tepat didepan Vinno.


"Silahkan dimakan, Kak. Minumnya hanya ada es teh manis."


"Tidak masalah. Terima kasih, Wulan."


"Sama-sama."


Perlahan Vinno menyendokkan bakso itu untuk sampai pada mulutnya. Setelah dikunyah dan berhasil ditelan, ia merasa begitu familiar dengan rasanya.


Seusai para pembeli pulang, Wahyu ikut duduk menemani Vinno makan.


"Pak Wahyu, apa Bapak sudah lama jualan disini?" tanya Vinno.


"Iya, tadinya saya jualan didepan kantor didepan sana. Tapi baru hari ini jualan di rumah," jawab Wahyu.


"Benarkah?! Pantas aku merasa rasanya tak asing di mulutku. Sepertinya pas temanku membeli bakso Bapak. Saya pernah titip padanya," ujar Vinno.


"Oh, Bapak kerja di kantor itu juga?"


"Iya."


Bagaimana kalau aku melamar kerja disana? Tapi jadi apa?! Apa OB lagi?! Rasanya aku trauma. Tapi ... kalau aku sudah bercerai nanti, aku harus mulai kerja lagi. Aku tidak mau merepotkan Ayah.


Batin Wulan.


"Kak Vinno, apa di kantor Kakak ada lowongan pekerjaan?" tanya Wulan.


"Lowongan?! Memang buat siapa?" tanya Vinno.


"Buat saya."


"Buat kamu?! Kenapa kamu kerja? Bukannya setelah menikah dengan Rio, kamu sudah tidak bekerja lagi?" tanya Vinno.


Wahyu mengangkat bokongnya dan memegang lengan Wulan.


"Wulan, Ayah ingin bicara sebentar denganmu." Ia mengajak Wulan untuk masuk kedalam rumah dan duduk dibawah.


"Wulan. Bukannya kamu kemaren-kemaren bilang pada Ayah, Rio memintamu untuk tidak bekerja lagi?! Kok sekarang kamu ingin bekerja. Kamu berantem dengan Rio?!"


Aku lupa, kenapa aku tidak ingat ada Ayah tadi. Bagaimana ini? Apa aku cerita saja pada Ayah?! Tapi kalau aku cerita, Ayah juga akan tau penyebab aku menikah dengan Mas Rio. Rasanya aku malu pada diriku sendiri, Ayah pasti kecewa padaku.


Batin Wulan.


Wulan diam sambil menunduk, Wahyu mengusap bahu putrinya.


"Kenapa kamu diam saja? Cerita pada Ayah, Sayang."


"Iya, Yah. Sebenarnya aku dan Mas Rio sedang berantem. Rencananya, aku juga ingin tinggal lagi bersama Ayah."


"Apa masalahnya berat?"


Masalah berat?! Iya ... sangat berat, Yah. Aku tak sanggup hidup dengannya lagi. Dia menyakiti hatiku.


Batin Wulan.


"Apa Rio selingkuh di belakangmu?" tanya Wahyu.


Wulan menggeleng cepat. "Tidak, Yah. Sejauh ini yang aku tau ... Mas Rio pria yang setia. Hanya saja aku merasa kita berdua tidak cocok."


"Tidak cocok?! Bukannya kata Bu Santi dulu ... kamu dan Rio saling mencintai? Kok sekarang tidak cocok?"


Deg.......


Itu bohong Ayah. Mamah bilang begitu demi Ayah setuju menikahkan aku dengan Mas Rio.


Batin Wulan.

__ADS_1


"Memang iya, Yah. Tapi ... untuk sekarang, aku ingin menenangkan hatiku dulu disini. Bagaimanapun nantinya, aku akan ikhlas menerima."


Kenapa Wulan tidak cerita padaku?! Apa masalahnya cukup berat?! Semoga saja tidak.


Batin Wahyu.


"Oh yasudah, kamu tinggallah dulu disini dengan Ayah. Ayah selalu mendukungmu dalam segala apapun ... Ayah ingin kamu bahagia, Sayang," ucapnya dengan lembut.


"Terima kasih, Ayah."


Selesai mengobrol dengan Wahyu, Wulan berjalan masuk menuju kamarnya.


Ponselnya tiba-tiba berdering, nama 'Mas Rio' yang tertera pada layar. Memang sejak dari pagi, telepon dari Rio ia abaikan. Entah karena sengaja atau apa. Intinya Wulan sangat malas berbicara dengannya.


"Apa kamu mencariku, Mas? Untuk apa? Apa kamu sudah menyiapkan surat perceraian kita?! Tapi kenapa kamu tidak langsung menemuiku saja, dan memberikan secara langsung padaku?" Wulan berbicara sendiri dengan mata yang melihat ponsel diatas meja.


Ting......


Ting......


Ting.......


Bunyi notifikasi pesan masuk, tiga pesan sekaligus dari Rio.


💬


From: Mas Rio


16.30 PM


Kenapa teleponku tidak kau angkat-angkat dari pagi sampai sekarang?


💬


From: Mas Rio


16.30 PM


Wulan. Apa kau tau aku sampai hari ini masih ada di rumah sakit? Aku masih mual dan muntah-muntah!


💬


From: Mas Rio


16.31 PM


Bukannya kemarin kau bilang sedih melihat aku sakit?


.


.


.


.


.


.


.


Di tempat yang berbeda, Rio tengah menatap layar ponsel miliknya sambil berbaring.


Dari sore hingga tengah malam, pesan itu hanya dibaca, tidak dibalas sama sekali.


Menyebalkan sekali kau, Wulan! Telepon dan pesanku kau abaikan begini. Kau benar-benar ingin pergi meninggalkanku, ya?


Awas saja! Besok setelah aku keluar dari rumah sakit. Aku akan ke rumah Ayahmu dan membawamu ke rumahku lagi. Aku akan menyiksamu habis-habisan! Karena kau telah berani mengabaikanku!


Ancam Rio dalam hati.


^^^Kata: 1027^^^

__ADS_1


__ADS_2