Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 182. Dia seperti menggodaku


__ADS_3

Pagi hari.


Di ruang makan sudah ada Wahyu dan Rio, mereka duduk dan menunggu penghuni yang lain untuk sarapan bersama. Di atas meja sudah ada nasi goreng, kopi, susu dan teh manis hangat.


Tak lama Clara yang sudah memakai seragam sekolah turun dari anak tangga, menghampiri Rio dan Wahyu.


"Pagi Ayah, Kak Rio," sapa Clara seraya menarik kursi di samping Wahyu untuk dirinya duduk.


"Pagi, Sayang," jawab Wahyu dan Rio secara bersamaan.


"Di mana Mamah dan Kak Wulan?" tanya Rio.


"Mamah dan Kak Wulan masih di kamar, lagi mandiin Dede Raka dan Dede Rafa, Kak."


"Mereka sudah mandi belum?" tanya Rio lagi.


"Sudah, Kak."


"Kamu mau kemana?" tanya Wahyu saat melihat Rio bangun dari kursinya.


"Aku mau ke kamar si Kembar. Siapa tau saja ... Mamah dan Wulan butuh bantuan." Rio berlari menaiki anak tangga, ingin menjadi pahlawan untuk membantu anak-anaknya mandi.


Ceklek~


"Astaghfirullah! Apa yang sedang kau lakukan, Wulan?" Rio beristighfar saat melihat sang istri hanya memakai handuk putih yang seperti akan melorot, duduk di sisi tempat tidur. Jangan lupakan salah satu dada yang menyembul lantaran tengah menyusui Raka, juga dengan aliran air sehabis mandi mengalir pada tubuhnya. Paha dan betis putih itu sungguh membuat iman Rio terguncang, dan di dalam celana ikut-ikutan terguncang.


"Apa, apanya, sih? Memang Mas tidak lihat aku sedang menyusui Raka?" kening Wulan mengerutkan, ia menatap heran pada Rio yang berada di ambang pintu dengan mulut yang menganga.


"Tutup mulutmu Rio! Nanti jatuh air liurmu!" tegur Santi, ia baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengendong Rafa yang sudah mandi dan memakai handuk.


Rio segera mengatupkan bibirnya sebelum apa yang Santi katakan terjadi, ia langsung mundur ke belakang dan menutup pintu.


Wulan benar-benar keterlaluan, dia seperti sedang menggoda. Aku jadi ingin bercinta' batin Rio.


Rio mengusap wajahnya dengan lembut, lantas dirinya menuruni anak tangga. Setelah itu ia duduk lagi di ruang makan.


"Lho, kok kamu balik lagi?" tanya Wahyu heran, ia juga memperhatikan wajah Rio yang sudah memerah. "Kamu sakit?" segera Wahyu menempelkan punggung tangannya pada dahi menantunya, namun tak terasa panas seperti orang demam.


"Aku sebal sama Wulan, Ayah," kata Rio mengadu, ia memasang wajah memelas dengan kabut gairah yang tertahan.

__ADS_1


Wahyu menarik tangannya kembali. "Sebal? Memangnya apa yang Wulan lakukan padamu? Dia mengusirmu tadi?"


"Bukan mengusir, tapi Wulan tadi menggodaku. Kan Ayah tau sendiri aku sedang puasa," keluh Rio prustasi.


"Kau sedang puasa Senin-Kamis?"


"Bukan, bukan puasa itu." Rio makin prustasi dan kesal melihat Wahyu tak mengerti akan apa yang tengah ia rasakan. "Puasa untuk tidak bercinta selama Wulan kembali pulih."


"Oh ...," jawab Wahyu tanpa ekspresi.


"Kok oh doang, sih!" Rio mengendus kesal.


"Terus Ayah jawab apa? Memang kamu sedang puasa itu, kan?"


"Iya, tapi setidaknya Ayah juga peduli padaku." Rio merajuk.


"Iya, iya maaf. Lalu Ayah harus bagaimana?" kata Wahyu pasrah, sepertinya mulai sekarang ia harus lebih mendalami sifat menantunya.


"Ayah bilang pada Wulan untuk tidak menggodaku lagi, jangan buat aku kepengen dan tersiksa begini," keluh Rio.


"Memangnya tadi Wulan ngapain saja saat menggodamu? Nanti biar Ayah tegur dia, deh."


"Ya sudah, iya. Nanti Ayah menegur Wulan. Sekarang kamu sarapan dulu. Mau berapa centong nasi gorengnya?" Wahyu mengambil mangkuk besar yang berisi nasi goreng.


"Satu saja, aku 'kan kalau makan tidak banyak."


"Oke."


Wahyu menaruh nasi goreng itu untuk piring Rio, piringnya dan piring Clara yang sedari tadi terulur padanya. Rio seakan menggeserkan posisi Clara yang jelas-jelas anak kecil setelah di Kembar. Lantaran sifatnya seperti manja pada Wahyu. Dan Wahyu juga seakan menggantikan posisi Wulan yang ngurusnya dan mendengar keluh kesahnya.


*


Di dalam kamar utama.


"Kamu pakai pakaian dulu saja, Wulan. Nanti masuk angin," tegur Santi.


Wulan baru saja selesai mandi setelah membantu Santi memandikan Raka, namun saat dirinya hendak memakai pakaian___Raka menangis dan ingin menyusu, itu adalah alasannya ia dipergoki suaminya dengan penampilan seperti itu.


"Nanti saja, Mah. Raka sepertinya belum kenyang." Wulan tidak tega untuk mengakhiri sesi Raka meminum susu, terlihat sekali bayi mengemaskan itu sangat lapar.

__ADS_1


Santi menaruh Rafa di dalam ranjang bayi, sebab bayi mungil itu sudah terlelap tidur sehabis mandi.


"Oh ya sudah. Oya ... kamu mau sarapan di sini atau di ruang makan?" Santi berjalan menghampiri Wulan dengan keringat yang membasahi seluruh wajahnya.


"Aku sarapan di sini saja, nanti aku ambil sendiri." Wulan mengusap keringat pada dahi Santi dengan punggung tangannya. "Mamah capek, ya? Ngurusin si Kembar? Maafkan aku ya, Mah ... aku masih kaku menjaga mereka." Melihat sang mertua seperti kelelahan, membuat Wulan tak enak hati.


"Mamah memang capek, tapi kalau mengurus si Kembar ... rasa capek itu hilang seketika." Santi mendekatkan bibirnya pada kening Wulan, mengecupnya singkat. "Kamu tidak perlu minta maaf ... mereka adalah cucu Mamah, jadi wajar kalau Mamah juga ikut mengurusnya." Jari telunjuknya Santi menoel-noel pipi Raka.


"Terima kasih, Mah. Aku beruntung punya mertua seperti Mamah."


"Mamah juga beruntung punya menantu seperti kamu." Sekarang jari telunjuk Santi beralih menoel pipi Wulan, hingga membuat Wulan terkekeh.


Tok ... tok ... tok.


"Bu Santi, ini Bibi bawa sarapan buat Ibu dan Nona Wulan." Suara Bibi terdengar dari balik pintu.


Santi membenarkan handuk Wulan supaya terlihat rapih, segera ia berjalan untuk membuka pintu.


Ceklek~


"Baru saja aku ingin meminta Bibi bawa sarapan," kata Santi sambil tersenyum.


"Iya, maafkan Bibi, Bu. Bibi baru membawa sarapannya sekarang." Bibi berjalan masuk dan menaruh dua piring nasi goreng, segelas susu dan teh manis hangat di atas meja. "Kalau Bu Santi dan Nona Wulan butuh bantuan Bibi untuk menjaga si Kembar, bilang saja ... Bibi bisa membantu." Bibi membungkuk sedikit dengan sopan.


"Tidak usah, Bi. Bibi 'kan banyak pekerjaan." Santi tersenyum menatap pembantu Rio. "Aku sudah sewa baby sitter kok, Bi. Nanti dia yang akan membantu Wulan dan aku menjaga si Kembar."


"Kapan itu, Bu?"


"Mungkin hati ini datang."


"Oh ya sudah. Kalau begitu Bibi pamit keluar, Bu Santi dan Nona Wulan selamat sarapan."


"Terima kasih, Bi," kata Wulan.


"Sama-sama, Nona." Bibi melangkah keluar dari kamar utama.


Jangan lupa like 💕


TBC

__ADS_1


__ADS_2