Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 93. Aku pria yang setia


__ADS_3

"Mas Rio keluar dulu, aku ingin pakai baju."


"Yasudah tinggal pakai, memang kenapa kalau aku ada disini? Aku juga ingin mandi, kok." Rio menarik kasar kemeja berwarna creamnya itu sampai sobek. Lalu, ia menghampiri tempat sampah dan membuangnya kedalam sana. "Aku memang pria yang kasar, Wulan. Tapi aku bukan seorang penghianat, aku pria yang setia."


Wulan sama sekali tidak menghiraukan ucapan dari Rio, ia hanya fokus memakai pakaiannya. Setelah selesai, Wulan cepat-cepat membuka pintu kamar mandi.


"Mau kemana? Aku belum mandi," cegah Rio seraya memegang salah satu lengan wanita itu.


"Untuk hari ini, Mas mandi sendiri," lirihnya pelan.


"Yasudah, tidak apa-apa aku mandi sendiri. Tapi kau jangan keluar dari kamar mandi. Tetaplah disini."


"Aku ingin keluar, Mas."


Rio segera mengangkat tubuh Wulan untuk mendudukkannya pada kloset yang tertutup itu. "Duduklah disini selama aku mandi. Nanti setelah aku mandi, aku akan kasih lihat buktinya, kalau memang apa yang aku katakan adalah jujur."


Wanita itu terdiam dan hanya menunduk.


Rio segera mengunci pintu kamar mandi dan melepaskan seluruh pakaiannya.


Kalau aku tinggal saat mandi, nanti yang ada dia pergi dan meninggalkanku lagi. Tidak, itu tidak boleh terjadi.


Rio langsung berdiri diatas shower, ia menyalakan kran itu hingga membasahi seluruh tubuhnya.


Wulan menggeserkan tubuhnya, menghadap kearah belakang. Supaya ia tidak melihat aktivitas orang yang sedang mandi.


Pria itu sangat mandiri sekali, ia menyelesaikan mandinya sendiri dan memakai pakaian ganti. Rio kini mengenakan celana jeans panjang berwarna hitam, dengan kaos putih dan jaket parka. Ia juga mengambil rok jumpsuit berwarna biru muda didalam koper, hampir senada dengan jaketnya.


"Ganti pakaianmu dengan ini," titah Rio dengan tangan yang terulur. Ia juga melihat Wulan masih memakai seragam kerjanya.


Karena malas bertanya, Wulan pasrah mengambil pakaian dari tangan Rio. Ia langsung memakainya.


Pakaian itu sangat cocok pada tubuh Wulan. Kaos putih sebagai daleman jumpsuit selutut itu menambah kesan anggun. Rio melihat kembali tubuh Wulan dari ujung kaki ke ujung kepala, ia senyum-senyum sendiri.


'Tenyata ukurannya pas dan terlihat makin manis si Wulan ini. Padahal aku memesannya lewat online dan hanya mengira-ngira ukurannya' batin Rio.


'Pasti pakaian ini dari Mamah Santi, pilihan Mamah Santi memang paling tepat. Aku selalu suka dengan pemberian darinya' batin Wulan.


Rio mengajak Wulan keluar dari kamar mandi dan duduk bersama di sofa, ia membuka laptop dan memperlihatkan rekaman CCTV yang pengarah pada halaman depan kantornya.


"Coba lihat ini," kata Rio.


Saat rekaman itu di putar, Wulan langsung membulatkan kedua matanya. Ia tau betul siapa wanita yang menabrak suaminya.


"Itu 'kan, Mbak Adel," ucap Wulan seraya menunjuk layar laptop.


"Adel?" Rio memiringkan kepalanya kearah wanitanya itu. Tiba-tiba perkataan Indra terlintas pada benaknya. "Adel mantan istrinya Dido?" tanyanya lagi.

__ADS_1


Wulan mengedikkan kepalanya dan menatap wajah suami tampannya itu. "Mas Rio kenal Mbak Adel juga?"


Rio menggeleng cepat, ia tak mau terjadi salah paham lagi. "Tidak! Aku sama sekali tidak mengenalnya, aku tau dia dari Indra."


Astaga, aku lupa tadi ada Pak Indra. Kira-kira dia mengerti tentang ucapanku pada Kak Dido tidak, ya? Ah semoga saja tidak.


Rio melipat laptop miliknya dan menaruh diatas meja. Ia merangkul bahu Wulan dan mendekatkan tubuhnya. "Oya ... aku tau dari Indra juga, katanya kau bertanya masalah hutangnya Dido. Memangnya ada urusan apa denganmu?"


Wulan menelan salivanya dengan kasar, tapi ia sama sekali tidak berniat untuk jujur masalah hutangnya pada Dido. "Tidak ada urusan apa-apa, Mas. Cuma aku bertemu dengan Mbak Adel, dia bertanya padaku tentang Pak Dido."


"Kau bertemu dimana?"


"Di Restoran."


"Memang berapa hutangnya si Dido itu?"


"Kata istrinya 300 juta, Mas."


"Banyak juga, ya. Kok dia tidak malu meminjam uang pada mantan istrinya, aneh sekali."


Aku jadi makin tidak enak pada Kak Dido, tapi tadi dia bilang tidak punya hutang. Aku jadi binggung, yang benar siapa.


"Kau tidak usah sih, tanya-tanya atau mengobrol dengan si Duda itu. Bukannya katamu, kau membencinya?"


"Iya, Mas. Aku memang membencinya. Maafkan aku, aku hanya ingin membantu Mbak Adel."


"Hotel? Untuk apa, Mas?"


"Ya ... hitung-hitung bulan madu saja, Hotelnya dekat kok dari sini. Mau, ya?"


"Mas sudah izin sama Ayah?"


"Sudah."


"Apa Ayah mengizinkannya?"


"Iya, tapi dia bilang kau harus meneleponnya. Nanti saat berangkat, kau telepon Ayah saja. Lagian ... kamar mandi di rumah Ayah juga sedang di renovasi, jadi sementara kita mengungsi dulu di Hotel."


"Tapi nanti Mas Rio kira-kira ...."


"Kira-kira apa? Jadi kau tidak mau?"


"Bukan seperti itu, Mas. Tapi ...."


"Tidak ada tapi-tapian! Pokoknya mulai malam ini kita bersenang-senang!" Rio menarik lengan Wulan untuk bangun dari duduk bersama dengannya. Setelah itu, ia mengenggam tangan Wulan untuk keluar dari ruangannya.


Aku akan mengajakmu ke Bandung, Wulan. Maaf ... aku tidak jujur padamu dan juga pada Ayah. Nanti kau malah tidak mau ikut denganku.

__ADS_1


Indra juga mengikuti langkah kaki mereka berdua sambil mendorong koper menuju lift.


"Mas ... tapi aku belum dandan. Bagaimana ini? Wajahku polos begini?" Wulan memegangi kedua pipinya, ia merasa panik karena baru menyadari lupa memakai make up.


"Tidak apa-apa, nanti kita mampir ke salon dulu. Aku juga ingin kukumu di cat." Rio memegangi kedua tangan Wulan yang masih berada di pipi. "Kalau di cat nanti ... tanganmu jadi tambah manis, Wulan."


"Ngapain di cat? Aku 'kan sering mencuci piring, nanti yang ada catnya hilang, Mas."


"Tiga hari kau tidak akan mencuci piring, Wulan."


"Tiga hari? Maksud Mas Rio?"


"Iya, Tiga hari kau libur tidak kerja dulu."


"Kok begitu? Aku baru saja masuk hari ini, masa sudah libur lagi. Nanti aku di pecat sama Bu Nissa, Mas."


"Aku sudah izin padanya, kok."


"Izin? Memang Mas Rio kenal sama Bu Nissa?"


"Sama Tante Nissa-nya aku tidak kenal, tapi sama Manager Restorannya aku kenal."


"Mbak Nella? Dia keponakannya Bu Nissa, Mas."


"Iya, dia juga teman kuliah Indah. Yang berarti juga teman kuliahku."


"Oh begitu."


Mereka bertiga kini menaiki mobil, Indra menyetir mobil milik Rio dengan kecepatan sedang.


Wulan segera mengambil ponsel pada tas selempang untuk segera menelepon Wahyu.


"Halo Ayah, bagaimana kabar Ayah dan Clara?"


"Ayah dan Clara baik-baik saja. Mulai besok juga Clara sudah boleh pulang."


Wajah Wulan langsung menjadi sumringah. "Benarkah? Aku senang sekali, aku sudah tidak sabar menyambut Clara pulang ke rumah. Besok Ayah beritahu aku, ya? Aku ikut mengantar Clara pulang nanti."


"Bukannya Rio bilang ingin mengajakmu bulan madu ke Hotel?"


"Ah iya, aku lupa. Ayah mengizinkanku atau tidak?"


"Ayah izinkan kalian. Oya ... apa selama Ayah tidak ada di rumah, dia menyakitimu? Dia berbuat kasar padamu?"


Menyakiti? Berbuat kasar? Aku rasa tidak. Tapi masalah bekas lipstik itu? Sejujurnya aku belum terlalu percaya, aku takut Mas Rio menghianatiku.


^^^Kata: 1088^^^

__ADS_1


__ADS_2