
"Kau sedang apa?" tanya Rio. Entahlah, Rio ini aneh sekali, sudah tau istrinya tengah duduk di kloset, mau ngapain lagi kalau bukan buang air besar.
"Mas Rio keluar, deh. Aku mules banget," titah Wulan sambil merintih, masih menahan perutnya yang belum mengeluarkan sesuatu, wajahnya amat memerah.
"Mulesnya mules apa dulu?" wajah penasaran Rio amat menyebalkan saat ditatap oleh Wulan.
Terlanjur kesal, Wulan langsung bangun sambil memegangi perutnya menahan mules, ia membuka pintu kamar mandi dan mendorong tubuh Rio untuk keluar. Setelah itu ia kunci rapat-rapat, hingga Rio tak mampu masuk lagi.
Tok ... tok ... tok.
"Wulan! Kenapa kau mengeluarkanku dari kamar mandi? Aku ingin lihat kau mules karena apa?" Rio berteriak sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.
Sedangkan wanita yang di dalam tak menghiraukan ucapannya, ia sangat fokus melakukan ritualnya.
Ceklek~
Bukan pintu kamar mandi yang dibuka, melainkan pintu kamar inap. Dan orang yang membuka pintu adalah Wahyu, ia menghampiri menantunya yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi dengan wajah kesal.
"Rio, kenapa kamu teriak-teriak? Ayah sampai mendengar dari luar."
"Ini Wulan, dia bilang mules Ayah. Tapi malah duduk di kloset," celoteh Rio.
"Mungkin mulesnya mau berak Rio, bukan mau melahirkan." Wahyu geleng-geleng kepala dan mendudukkan bokongnya di sofa.
"Kan aku tidak tau, siapa tau aja dia mau melahirkan." Rio memunguti pakaian dalam miliknya dan milik Wulan, menaruhnya di atas tempat tidur.
Tak lama Santi masuk sambil memegangi cup yang berisi jus. "Di mana Wulan?" Santi menaruh jus itu di atas nakas dan duduk di tempat tidur.
"Dia ada di kamar mandi, katanya mules, Mah." Rio menghampiri ibunya, ikut duduk di sampingnya.
"Kenapa kau tidak pakai baju, Rio? Kau sudah bercinta?" Santi menepuk dada bidang anaknya yang berkeringat.
"Sudah tadi, Mah. Nanti aku sekalian mandi saja."
*
Sampai malam hari pun, belum ada tanda dan gejala Wulan mau melahirkan. Rio makin dibuat gusar tak tenang, ia merasa sangat tak sabar ingin melihat kedua buah hatinya.
__ADS_1
"Kita pulang saja, Mas," rengek Wulan seraya memegangi lengan Rio. Rio sampai tersentak kaget karena sedari tadi seperti tengah melamun.
"Kita menginap saja untuk semalam bagaimana?" tawar Rio. Ia seakan enggan untuk pulang ke rumah sebelum kelahiran kedua anaknya.
"Mungkin Wulan memang belum mau melahirkan Rio, kau tidak perlu memikirkannya. Kalau memang sudah waktunya, mereka lahir sendiri," tegur Santi. Ia sempat melihat wajah Wulan seperti tertekan akibat ulah suaminya. Itu tentu tidak bagus untuk kesehatan bayi dan ibunya.
"Iya aku tau, tapi mungkin saja nanti malam mereka lahir. Kita menginap saja malam ini bagaimana?" Rio masih bersikukuh pada pendiriannya.
"Kalau Mas Rio mau menginap, menginap saja sendiri. Aku dan Mamah mau pulang saja." Wulan mengangkat tubuhnya untuk bangun, ia sedari tadi diminta untuk terus berbaring oleh Rio.
"Apa yang dikatakan Bu Santi benar Rio, kau tidak perlu terlalu memikirkannya. Kita pulang saja," tambah Wahyu. Pria paruh baya itu sampai bolak balik ke rumah sakit untuk menjemput Clara dari sekolah, lalu datang lagi bersamanya ke rumah sakit.
"Ayah dan Clara pulang saja, tidak usah menunggu." Rio menyentuh punggung tangan Santi dengan penuh kehangatan. "Kalau Mamah ... Mamah di sini, temenin aku dan Wulan. Kita menginap satu malam saja, aku mohon ...," pintanya dengan wajah memelas.
"Tapi kasihan Wulan, dia seperti bosan dan tertekan Rio." Santi mengedikkan kepalanya ke arah Wulan yang tengah mengerucutkan bibirnya, ucapan Santi memang benar adanya.
"Apa benar itu?" Rio mendekati Wulan dan mencium keningnya sekilas.
"Iya Mas. Kalau Mas Rio tidak sabar ... aku mau melahirkan jalur operasi saja, deh," ucapnya prustasi.
"Kita pulang saja, Mas. Ayok!" Wulan memeluk tubuh Rio, merengek minta pulang.
Namun sayangnya rengekan itu tidak berefek sama sekali untuk Rio. Pria tampan itu tetap bersikeras ingin menginap dan pada akhirnya Santi dan Wulan menurutinya. Hanya Wahyu dan Clara yang pulang.
Berlanjut sampai tengah malam, Rio berbaring pada sofa di dekat tempat tidur yang sudah ada Santi dan Wulan tengah tertidur pulas.
Berbeda dengan dua wanita yang sudah terlelap, Rio justru tidak bisa tidur dan seperti gelisah, masih memikirkan kedua anaknya. Mempunyai istri yang tengah hamil tua membuat dirinya tak tenang.
Rio menatap langit-langit ruangan itu. "Aku tidak sabar sekali, ingin mereka cepat lahir. Aku ingin menggedongnya," ujarnya bermonolog.
*
Keesokan harinya
Wulan bangun dari tidurnya dan segera berlari menuju kamar mandi, ia ingin buang air kecil. Namun dirinya tak sadar jika di dalam kamar mandi itu ada Rio yang tengah mandi di atas kucuran shower, pintu juga tidak di kunci tadi.
"Mau ngapain, Manis?" tanya Rio sambil tersenyum dan melihat Wulan tengah duduk di kloset.
__ADS_1
"Pipis."
"Sekalian mandi yuk! Bareng denganku," ajaknya seraya menghampiri.
Wulan menatap wajah Rio dengan intens, kantung mata suaminya terlihat hitam, seperti kurang tidur.
"Mas Rio semalam tidak tidur?"
"Tidur kok, tapi sebentar." Iya, sebentar. Dirinya hanya tidur tiga jam saja.
Jari jemari Rio perlahan melucuti semua pakaian yang dikenakan oleh istrinya. Setelah itu, ia mengajaknya untuk berdiri di atas kucuran shower.
"Mas ... habis mandi kita pulang, kan?"
"Iya, kita pulang." Berbeda dari semalam, sekarang hati Rio mulai melunak dan memutuskan untuk pulang. Mungkin memang benar, Wulan belum waktunya melahirkan.
Wulan ikut membantu menyabuni tubuh polos suaminya dengan spons mandi yang berbusa. Ia agak berjongkok untuk mengusap-usap betis putih Rio. Namun saat ia hendak berdiri, tiba-tiba pinggangnya terasa begitu kram dan nyeri.
"Aaww!" pekik Wulan seraya memegangi pinggangnya.
Rio terbelalak dan segera merengkuh pinggang istrinya, menarik lengannya supaya nampu berdiri tegak, namun Wulan justru kembali membungkuk dan memegangi perutnya. "Kenapa kenapa? Apa yang sakit?" tanyanya cemas.
Rasa kram dan nyeri pada pinggangnya menjalar pada perut, Wulan merintih kesakitan.
"Aaww! Sakit, Mas ...."
Apa kali ini Wulan beneran mau melahirkan?' batin Rio.
"Sebentar sebentar, kita bersihkan tubuh kita dulu." Rio cepat-cepat membilas tubuhnya dan tubuh Wulan dari sisa busa sabun, menyiramnya langsung dengan kram, dari atas sampai ke bawah.
Rasa sakit itu kian menjadi-jadi sampai cairan putih kekuningan mengalir dari inti tubuh Wulan, namun Rio tak menyadari hal itu sampai akhirnya cairan merah berupa darah ikut keluar, membanjiri paha hingga betisnya.
Mulas, dan seperti ingin mengejen. Itu hal yang sekarang Wulan rasakan. "Eeuugh ...," lenguh Wulan tak tertahan. "Mas ... sakit!" pekiknya.
Wulan langsung terbelalak saat tangannya menyentuh bagian inti tubuhnya, merasa seperti ada kepala bayi yang hendak keluar, bahkan terasa samar-samar rambutnya. "Mas! Aku mau melahirkan!" jerit Wulan.
Jangan lupa like 💕
__ADS_1