
"Tapi saya....."
"Bapak hentikan! Bapak ikut kami ke kantor polisi!" Tegas polisi. Dengan berat hati Reymond menyerahkan Indah pada Jojo.
Jojo mengangkat tubuh Indah dan membawanya masuk ke dalam mobil bersama dengan Hermawan.
Reymond dan Rizky di borgol polisi, mereka di bawa masuk ke dalam mobil polisi.
Kenapa semuanya jadi begini? Mamah Sarah? Kenapa Mamah bisa tiada? Mamah sakit apa?
Batin Reymond sambil menanggis.
Aku, aku harus jujur sama Mamah dan Papah kalau aku Rendi. Tapi bagaimana mereka bisa percaya dan......
Batin Reymond, pikirannya terasa kacau balau. Dia binggung harus berbuat apa. Dia juga melihat Rizky yang berada di sampingnya ikut-ikutan terseret di bawa ke kantor polisi.
***
Polisi itu langsung memasukkan keduanya di dalam sel tahanan. Rizky juga sudah menelepon asisten dan pengacara Harun untuk datang membantunya.
Rizky dan Reymond duduk di bawah, di dalam sel penjara.
"Riz maafin gue, lu jadi ikut-ikutan kebawa. Gue binggung harus bagaimana? Apa gue jujur saja kalau gue Rendi?" tanya Reymond seraya berbisik.
"Kita pikirkan nanti Rey, tadi pagi gue sudah dapat info dari Hersa kalau si Jalang sudah pulang ke Indonesia. Lu jangan bilang ke siapa-siapa dulu, kita hanya perlu keluar dari sini dan balas dendam." Sahut Rizky dengan yakin.
Tak lama datanglah seorang sepasang suami istri menemui Polisi di depan. "Dimana Rizky anak saya Pak." Ucap seorang ibu-ibu dia adalah ibu dari Rizky.
"Ibu dan Bapak siapa?" tanya Polisi.
"Kami orang tua Rizky Gumelang." Sahut ayahnya.
"Bapak dan Ibu tunggu di sini. Saya akan panggil saudara Rizky." Ucap Polisi seraya berdiri dan meninggalkan mereka yang sudah duduk.
Tak lama dia datang sambil mengandeng tangan Rizky dan menyuruhnya duduk di depan orang tuanya.
Sang ayah bangun dan langsung mengayunkan tangannya kearah pipi Rizky.
Plakkkk.........
"Aaww..."
__ADS_1
Rizky meringis kesakitan, pipi sebelahnya sudah lebam karena tonjokan Mawan sekarang pipi sebelahnya lagi terasa perih habis di tampar.
"Kau membuat Papah dan Mamah malu! Apa yang kau lakukan!" Pekik sang Ayah marah-marah.
"Papah... Ini semua ..."
"Ini semua pasti gara-gara si Reymond bodoh itu kan? Siapa dia Riz? Kau membawa pria asing untuk tinggal di rumahmu. Kau menghabiskan banyak uang untuknya dan sekarang kau menculik anak Pak Hermawan bersama dengannya, Apa kau gila!!"
Ayah Rizky benar-benar sangat geram, dia terus saja menunjuk-nunjuk wajah babak belur Rizky yang sudah tak karuan itu.
Rizky diam saja dan binggung harus mengatakan hal apa. Kedua orangtuanya pun tidak tahu apa-apa, dan tidak tahu Reymond adalah Rendi.
Sial! Kenapa Papah dan Mamah bisa tahu gue di bawa ke kantor polisi. Gue kan hanya menelepon Hersa.
Batin Rizky.
***
Hermawan berjalan seperti berlari mengangkat tubuh Indah masuk ke dalam rumah sakit, baru saja Indah di rebahkan di ranjang ICU, tiba-tiba dia terbangun dari pingsan dan langsung duduk.
"Papah. Dimana Mamah? Aku ingin bertemu Mamah Pah," pintanya sambil menanggis, Mawan langsung mengajaknya ke ruang UGD yang tepat berada di sebelah ruang ICU.
Bayu diam saja dan ikut di belakang, di gendong oleh Jojo. Di luar ruang UGD sudah ada Santi, Antoni dan Vinno. Mereka sedang menanggis dan menghampiri Indah yang di rangkul oleh Mawan.
Santi tidak bisa lagi melanjutkan omongannya, dia hanya bisa memeluk tubuh menantunya itu. Indah juga ikutan menanggis.
"Kamu yang sabar sayang."
Santi mengelus punggung Indah begitu lembut. Dia langsung mengendong Bayu dari tangan Jojo.
Santi, Mawan, Indah dan Bayu masuk ke dalam ruang UGD yang masih ada Sarah berbaring sendiri, Dokter dan suster tidak ada. Mereka juga sudah melepaskan alat medis dan ventilator pada mulut dan hidungnya.
"Mah ... Mamah kenapa jadi begini, Mah," Indah terus memanggil, seluruh tubuhnya bergetar dan lemas tak berdaya. Mawan masih ada di sampingnya, menopang tubuh Indah.
Tubuh Indah membungkuk dan memeluk tubuh Sarah sambil menanggis. "Mah ... Bangun Mah, jangan tinggalkan aku ... Aku tidak bisa hidup tanpa Mamah," ucap Indah sambil menanggis dan menggoyangkan tubuh Sarah yang diam saja.
Kenapa giliran aku sudah bertemu dengan Mas Rendi, Mamah malah meninggalkanku. Tidak! Ini tidak mungkin! Mamah tidak mungkin meninggalkan ku.
Batin Indah sambil geleng-geleng kepala.
Mawan mengelus rambut anaknya, dia juga ikut menanggis. Karena walau bagaimanapun, dia dan Sarah pernah hidup bersama dan saling mencintai.
__ADS_1
"Mah ... Indah mohon bangun," Indah lagi-lagi mengoyang-goyangkan tubuh Sarah, tapi ibunya terdiam menutup mata.
"Oma Calah kenapa, Oma?" tanya Bayu ke arah Santi. Santi hanya memeluk cucunya itu.
"Papah mana Dokter Pah ... Tolong pasang lagi ventilator Mamah, Mamah butuh oksigen," pinta Indah sambil menanggis. "Hiks ... Hiks ... Hiks."
Mawan tak sanggup melihat anaknya yang terus saja menanggis, dia memeluk tubuh Indah begitu erat. "Sayang ikhlaskan Mamah sayang, biarkan dia tenang."
Indah menggelengkan kepalanya, dia mengenggam tangan Sarah dan menciuminya, "Mamah, Mamah bilang ingin menjaga Bayu benar kan?" Indah menciumi kening Sarah.
"Ayok jaga Bayu Mah, jangan tinggalkan Indah ... Aku mohon buka mata Mamah."
Mawan memeluk lagi tubuh Indah dari belakang. "Sayang sudah hentikan. Berhenti, Papah tidak sanggup melihat kamu seperti ini."
"Papah panggil Dokter, Indah mohon ... Pasang lagi oksigen buat Mamah ... Pah. Hiks ... Hiks ... Hiks," pinta Indah sambil menanggis
"Sayang ..." Indah langsung memegang lutut ayahnya, "Papah Indah mohon ... Panggil Dokter, Mamah belum meninggalkan aku Pah."
Mawan membungkuk dan meraih tubuh Indah di bawah, dia mengusap air mata anaknya itu. "Iya sayang. Papah akan panggil Dokter."
Mawan berjalan keluar dan mencari Dokter. "Dokter tolong, Dok!"
Dia menganggil salah satu Dokter yang lewat, Dokter itu berjalan menghampiri Mawan. "Ada apa Pak?"
Tanpa jawaban Mawan langsung menarik tubuh Dokter untuk masuk ke dalam ruang UGD.
"Dokter tolong periksakan mantan istri saya, dan pasang lagi oksigennya," pinta Mawan seraya menghampiri Indah kembali.
"Tapi Pak, ini pasien yang barusan meninggal."
"TIDAK!!" Teriak Indah.
"Mamah tidak meninggal Dokter, dia hanya butuh oksigen!" Teriak Indah.
"Dokter tolong periksakan kembali, saya mohon," pinta Mawan.
"Saya tidak bisa Pak. Pasien ini sudah dinyatakan meninggal," Dokter itu kekeh tidak mau.
Indah mendongak dan melihat kearah ayahnya, "Papah ... Mamah tidak meninggal! Dokter hanya perlu memeriksa Mamah sekali lagi kan?" tanya Indah sambil meringgis, air matanya masih mengalir deras. Wajahnya begitu sendu.
Mawan memegangi kedua pipi anaknya, dan menyeka air mata. "Iya sayang."
__ADS_1
"Dokter, tolong pasang lagi alat bantu untuk Sarah!" seru Mawan.
"Tapi Pak saya tidak ..."