Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 119. Sejak kapan kamu menikah?


__ADS_3

"Aku tidak mau, Kak. Aku sudah menikah!"


Bukannya kaget, Ivan justru terkekeh sambil geleng-geleng kepala. Sepertinya ia tak percaya dengan apa yang Wulan ucapkan.


"Kamu pasti bohong, kan? Sejak kapan kamu menikah?"


"Dua bulan yang lalu, Kak."


Ivan lagi-lagi terkekeh geli melihat wajah Wulan yang begitu serius.


"Benarkah? Tapi jari manismu tidak memakai cincin? Kamu tidak perlu becanda seperti itu padaku, Wulan. Aku tau kamu pasti malu untuk menjawabnya sekarang, kan? Aku tidak akan buru-buru. Kamu bisa mempertimbangkannya dulu," kata Ivan sambil melihat jari jemari Wulan.


Memang saat menikah, Wulan dan Rio tidak saling tukar cincin. Pernikahan yang terbilang dadakan itu tidak sempat untuk Santi memesan cincin pernikahan. Santi hanya memberikan kalung berlian padanya, tapi sampai sekarang tidak pernah Wulan pakai.


"Tapi Kak, aku ini sudah bersuami. Suamiku adalah Mas Rio," ungkap Wulan.


"Rio? Orang yang sering kamu sebut itu suamimu? Benarkah? Apa kamu berbohong?"


"Tidak, aku jujur pada Kakak, dia suamiku."


"Kalau memang dia suamimu, lalu dimana dia? Kok aku tidak pernah melihatnya? Saat aku ke rumahmu ... aku tidak melihatnya, begitu pula saat kamu masuk rumah sakit. Apa kamu berbohong?"


Wulan menghela nafas dengan kasar. "Buat apa aku berbohong, aku serius. Mungkin saat itu Kakak tidak bertemu dengannya, tapi dia adalah suamiku!" tegasnya


"Mana fotonya? Coba beritahu aku."


"Aku tidak punya fotonya, ponselku baru Kak. Tapi sudahlah, intinya aku sudah bersuami. Kakak tidak pantas menyatakan cinta padaku, aku mau pulang sekarang." Rasanya tidak ada manfaatnya berdebat dengan seseorang yang tidak percaya padanya, buang-buang waktu.


"Pulang, pulang kemana?" Ivan menarik lengan Wulan saat ia baru saja melangkah pergi. "Bukannya kamu baru saja masuk kerja lagi? Kamu jangan pulang Wulan."


Wulan menepis lagi tangan Ivan pada lengannya. "Aku sudah risen, Kak. Aku tidak kerja lagi disini."


"Kenapa? Kenapa kamu berhenti? Bukannya kamu nyaman kerja disini? Nyaman kerja denganku?" Ivan mengikuti langkah kaki Wulan yang keluar dari ruangan itu sampai keluar dari Restoran.


"Aku tidak boleh kerja lagi oleh Ayah dan suamiku, Kak."


"Aku tidak percaya kamu sudah menikah, sungguh aku benar-benar tidak percaya. Kamu jangan begi--"


Indra begitu tak terima melihat Ivan terus menerus mengejar Wulan sampai ke parkiran depan mobilnya. Sontak, kerah seragam Restoran Ivan ia ditarik paksa dari belakang, sampai tubuhnya terhentak ke bawah.


Bruk!!


"Aaww!" pekiknya saat bokongnya terasa nyeri akibat hentakkan terlalu keras.


Indra membungkuk dan mencengkeram leher pria itu dengan kuat, sorotan matanya begitu nyalang.

__ADS_1


"Aku peringatkan padamu, jangan ganggu Nona Wulan! Dia istri dari Pak Rio Pratama!" pekiknya.


Wulan hanya membulatkan kedua matanya, melihat apa yang terjadi. Ia ingin menghentikan aksi Indra yang tengah mencekik Ivan, tapi tak berani. Rasanya seperti dejavu, saat melihat Dido dicekik di lift.


"Ma-mana yang namanya, Ri-Rio? A-aku ingin ber-temu dengannya," ucapnya terbata-bata.


Indra melepaskan leher pria itu, kemudian melayangkan satu tonjokkan keras. Mengenai pipi kiri Ivan.


Bugh!!


"Aaww!" Ivan meringis kesakitan, ia menyentuh pipinya yang terasa berdenyut dan kaku.


"Kau ingin bertemu dengannya? Temui dia di kantornya, dasar pria tidak tau diri!" umpatnya.


"Dimana? Dimana kantornya?" teriak Ivan. Namun sayangnya, Indra sudah melajukan mobilnya, meninggalkan Ivan sendirian disana..


Dimana kantornya si Rio itu? Apa di gedung yang saat itu Wulan kesana? Dia bekerja disana? Tapi aku tidak tau orangnya seperti apa? Apa aku ke rumah Om Wahyu saja. Ah benar, kalau benar dia suaminya, dia pasti tinggal bersama Wulan disana.


*


"Maaf, Nona. Tadi saya kebelet, saya tidak melihat Ivan sedang menganggu Anda." Indra berkata sambil melihat sebentar pada spion depan yang mengarah pada Wulan. Wanita itu tengah memalingkan wajahnya pada kaca mobil.


"Tidak apa-apa, Pak."


Apa Kak Ivan baik-baik saja? Kok aku merasa kasihan. Tadi Pak Indra seperti berlebihan tidak sih, menonjok dan mencekiknya barusan.


Wulan segera menepis lamunannya. "Saya ingin pulang saja, Pak."


"Baik."


***


Di Kantor Hermawan.


"Rio, tunggu sebentar ... kamu ikut ke ruang Papah," titah Mawan saat melihat Rio yang hendak keluar dari ruangan rapatnya. Mereka baru saja menyelesaikan meeting.


"Ada apa? Bukannya sudah selesai?" Rio menoleh di ambang pintu.


"Papah masih punya urusan denganmu." Mawan mengangkat bokongnya dan menarik lengan Rio, mengajaknya untuk masuk kedalam ruangannya.


Mereka berdua baru saja duduk di sofa dan langsung ada seseorang yang mengetuk pintu ruangan itu.


Tok ... tok ... tok.


"Masuk!" pekik Mawan.

__ADS_1


Ceklek~


Jojo sang asisten datang bersama seorang wanita berambut pirang sepinggang, berat badan dan tingginya begitu proposional, cantik dan juga putih. Ia mengenakan rok span diatas lutut dan jas berwarna merah maroon, senada dengan roknya.


"Selamat siang Pak Mawan, Pak Rio," sapa Jojo dengan sopan.


"Siang." Yang menyahut hanya Mawan saja, Rio melihat dua orang didepan dengan tatapan heran.


Mawan menepuk paha Rio pelan. "Rio, katanya kau mencari asisten baru. Kau mau ya, menerima asisten dari Papah, Papah ingin ikut membantumu."


"Jojo 'kan asisten Papah, kalau dia jadi asistenku, nanti Papah bagaimana?" Rio berbalik bertanya. Ia tidak mengerti maksud Mawan mengarah kemana, padahal Mawan bukan menawari Jojo.


"Bukan Jojo, tapi wanita cantik itu." Mawan menunjuk wanita berambut pirang yang tengah tersenyum manis, menatap wajah Rio.


Rio membulatkan kedua matanya, ia menoleh ke arah Mawan, menatapnya dengan nanar. "Papah yang benar saja? Dia 'kan wanita, aku tidak butuh asisten wanita!"


"Memang kenapa? Dia bisa kok kerja di kantormu. Malahan dia itu pernah kuliah di universitas yang sama denganmu. Mungkin bisa di bilang, dia adalah juniormu," jelasnya.


"Tapi aku tidak mau, aku hanya mencari asisten pria. Bukan wanita, Pah." Rio menolaknya mentah-mentah.


"Memang apa salahnya dengan jenis kelamin mereka? Yang terpenting 'kan kualitas kerjanya. Papah tau kamu kerepotan karena belum mendapatkan asisten dari Dion, jadi biar Mitha saja yang menjadi asistenmu," titahnya.


Deg!


Rio membulatkan kedua matanya saat mendengar nama Mitha, rasanya tidak asing. Apa jangan-jangan Mitha ini wanita yang menelepon Rio saat dirinya ada di Bandung?


"Mitha? Apa dia Mitha Agatha?" Rio memastikan sekali lagi.


"Iya, benar. Itu kau tau namanya. Kau sudah berkenalan dengannya, kan?"


"Ini semua kerjaan Papah! Papah yang memberikan nomorku padanya, kan? Buat apa, sih?" Rio mendengus kesal.


"Ya itung-itung kau berkenalan, jadi temanmu," sahutnya santai.


Sepertinya mulai tidak beres, apalagi dengan tawaran Mawan yang memintanya untuk menerima Mitha jadi asisten. Pasti Mawan punya maksud lain, benar-benar mencurigakan.


"Papah ini sudah gi--" Rio mengantung ucapannya saat ponselnya bergetar hebat dari saku jasnya. Ia segera mengambilnya dan ternyata Indra yang menelepon, segera Rio angkat.


"Halo, siang Pak Rio. Maaf saya mengganggu meeting Bapak."


"Aku sudah selesai, ada apa?"


"Nona Wulan--"


"Wulan? Wulan kenapa? Ada apa dengannya?" sela Rio seraya berdiri. Baru mendengar namanya saja Rio begitu khawatir, takut terjadi sesuatu pada istrinya.

__ADS_1


^^^Kata: 1078^^^


__ADS_2