
Indah, Reymond dan Bayu sudah masuk ke dalam rumah. Mereka melihat Santi tengah mengobrol dengan Wulan.
"Mah," panggil Indah.
Santi menoleh dan langsung bangun. "Kamu sudah pulang sayang." Tangannya memeluk sembari mencium kening Indah sekilas.
"Iya, Mah."
Indah dan Wulan melayangkan pandangan.
Dia seperti Indah, Indah temanku bukan, sih?
Batin Wulan.
Siapa wanita itu? Kenapa aku seperti pernah bertemu dengannya.
Batin Indah.
"Mah dia siapa?" tanya Indah.
"Oh, ini Wulan. Dia calon istrinya Rio," jawab Santi memperkenalkan.
Wulan mengulurkan tangannya mengajak Indah berkenalan. "Wulan."
"Indah."
Deg......
"Maaf, kamu Indah Permatasari, bukan?" tanya Wulan seraya melepaskan telapak tangannya.
"Iya, kamu mengenalku?"
"Aku Wulan Priyanka, dulu kita bekerja di Restoran Tante Nissa. Apa kau ingat?"
Mata Indah terbelalak, dia tersenyum dan memeluk wanita didepannya itu. Ternyata memang benar, dia Wulan temannya dulu.
"Wulan, aku kemarin-kemarin ke Restoran Tante Nissa. Aku mencarimu, aku kira kau masih bekerja disana."
"Aku sudah lama tidak bekerja disana Indah."
Mereka melepaskan pelukan. "Kita ngobrol di taman, yuk!" ajak Indah seraya memegang tangan Wulan.
"Boleh."
"Jadi kalian saling mengenal? Syukurlah, itu bagus," ucap Santi menghela nafas dengan lega.
"Iya, Mah."
Indah mengajak Bayu dan Wulan duduk di taman samping rumahnya, mereka mengobrol dan melepas rindu.
Sementara itu Reymond melihat kearah tangga, masih ada Mawan tengah memeluk Rio. Pria itu masih terisak tangis.
"Mamah, Rio dan Papah sedang ngapain disana?" tanya Reymond seraya ikut duduk dengan Santi di sofa.
"Mungkin Papah sedang membujuk Rio untuk menikah, dia awalnya memang tidak mau," sahut Santi.
"Kok Mamah bisa cepat mencarikan Rio jodoh, apa Wulan temannya anak Mamah?"
"Tidak, dia seorang OB. OB di kantormu."
__ADS_1
"OB?!"
"Iya, Mamah beruntung sekali memergoki mereka. Ternyata si Rio memperkosa Wulan di dalam ruangan," tutur Santi.
Mata Reymond terbelalak. "Apa?! Bejat sekali kelakuannya, dulu dia selalu bilang aku pria tukang selingkuh. Dia sendiri sekarang memperkosa seorang wanita!"
Santi mengusap pelipis matanya seraya menyender, air matanya tiba-tiba lolos membasahi pipi. Tangan kekar Reymond dengan cepat mengusap dan memeluk tubuh Santi.
"Mamah, kenapa Mamah menangis?! Harusnya Mamah senang Rio menikah, dia tidak akan menganggu rumah tanggaku lagi," ucap Reymond seraya mengusap-usap punggung ibunya.
"Mamah hanya sedih, kedua anak Mamah bisa menyakiti wanita seperti itu. Mamah merasa gagal."
"Mamah, sudah. Ini bukan salah Mamah, manusia tempatnya salah. Rio, aku dan Papah punya masa lalu. Yang penting kita sekarang bisa berubah saja," jelas Reymond.
Tapi aku belum yakin Rio akan berubah.
Batin Reymond.
"Iya, kau benar." Santi melepaskan pelukannya.
Mata Reymond masih melihat pada dua pria itu, mereka sudah melepaskan pelukan dan berjalan masuk kedalam kamar Mawan.
Kira-kira apa saja yang mereka obrolkan? Kenapa aku sangat penasaran.
Batin Reymond.
***
Di meja makan.
Mawan, Santi, Reymond, Rio, Indah, Bayu dan Wulan. Mereka tengah makan malam bersama, rasanya terasa hangat. Sepertinya sebuah keluarga yang lengkap.
"Jadi ... Mah, rencananya kapan Rio dan Wulan menikah?" tanya Indah dengan senyuman manis, ia ikut bahagia mendengar kabar baik ini.
Dia duduk ditengah, antara Reymond dan Bayu. Sedangkan Santi tepat berada didepannya, antara Mawan, Wulan dan Rio yang duduk di ujung meja makan.
"Mamah sih maunya besok. Tapi kata Wulan, dia hari ini mau bicara dulu kerumah orang tuanya, mungkin lusa sayang," sahut Santi.
"Aku dan Bayu ikut, ya Mah," pinta Indah.
"Boleh."
Oh iya, aku lupa. Besok aku harus lakukan tes DNA ulang dengan Bayu di rumah Rizky.
Batin Reymond.
Tangan Reymond mengusap lembut bibir Indah, sisa makanan. Namun membuat Rio yang melihatnya makin kepanasan, ia segera menenggak habis air minum didepannya.
"Besok aku antar kalian, ya sayang," ucap Reymond.
"Kenapa kau yang mengantar? Biar aku saja," sergah Rio menatap tajam.
Reymond melihat kearah Santi dengan wajah memelas. "Biar Reymond saja yang mengantar, kamu siapkan diri saja buat pernikahanmu," ucap Santi.
"Tapi aku juga perlu tau rumah mertuaku, kan? Kenapa Mamah melarangku begitu." Nada bicara Rio terdengar begitu ketus.
"Yasudah kalau kamu mau ikut, kita bertiga saja, Indah dan Bayu tidak perlu ikut." Santi seperti mengerti niat Reymond, walau hanya saling memandang saja.
"Lho kenapa aku tidak boleh ikut dengan Bayu?" tanya Indah.
__ADS_1
Reymond dengan cepat mengenggam tangan Indah. "Sayang, biarkan saja mereka berdua dan Mamah. Mereka akan menikah, lebih baik kamu di rumah saja denganku, aku besok tidak masuk ke kantor."
Indah menoleh pada Reymond. "Benarkah? Kamu tidak ke kantor?" tanya Indah dengan mata yang berbinar-binar.
Reymond mengangguk.
"Yasudah, aku di rumah saja dengan kamu dan Bayu, Mas." Akhirnya Indah menurut.
Rio mengangkat bokongnya. "Mah, Pah. Aku pulang."
"Hati-hati Rio," ucap Mawan.
"Iya, Pah."
Rio berjalan keluar rumah, sebenarnya ia belum menyelesaikan makannya. Tapi tidak ada selera, karena melihat Reymond dan Indah seperti sepasang yang tengah kasmaran. Tak ingin terlarut dalam sakit hati di dada, ia memutuskan untuk pulang.
Mawan ikut bangun seraya berdiri, dia menatap nanar wajah Reymond. "Setelah kau selesai makan. Kau ke ruangan kerjaku, ada hal yang ingin aku bicarakan padamu, berdua."
Deg.....
Reymond menelan salivanya begitu kasar.
Kenapa Papah ingin sekali bicara berdua denganku, aku takut jadinya.
Batin Reymond dengan bulu kuduk yang merinding.
"Iya Pah."
Mawan langsung menaiki anak tangga dan masuk kedalam ruang kerjanya, seolah sudah menunggu Reymond disana.
Santi melirik kearah Wulan yang sedari tadi diam. "Wulan, malam ini kau menginap saja disini," pinta Santi.
"Tidak, usah Bu. Saya pulang saja." Ia hendak bangun dari duduk, namun Santi memegangi lengannya.
"Tidak, kau menginap disini. Biar besok enak langsung ke rumah kamu."
"Iya, Wulan. Kamu bisa tidur denganku dan Bayu," sahut Indah.
"Baiklah." Wanita itu akhirnya menurut.
Setelah mereka selesai makan, mereka masuk kedalam kamar masing-masing. Reymond juga hendak masuk ke ruang kerja Mawan yang sudah ada dia didalam sanaa, namun belum apa-apa keringatnya sudah bercucuran.
Sekarang dia hanya jalan mondar-mandir didepan pintu ruangan itu, seperti setrikaan.
"Mas, apa yang kau lakukan? Kenapa jalan mondar-mandir kayak orang kebingungan?" tanya Indah yang baru keluar kamar, menghampiri Reymond dengan wajah basah karena keringat.
Tangan Indah mengusap lembut dahi suaminya, "Kamu kenapa? Ada masalah?"
Reymond langsung memeluk tubuh Indah dan menciumi rambutnya. "Papah mengajakku bicara berdua. Aku takut sayang, takut Papah membunuhku."
Deg.....
"Membunuh?! Itu tidak mungkin, Mas."
"Tapi aku tetap saja takut, sayang. Apa kau mau menemaniku didalam?" pinta Reymond.
Ceklek......
^^^Kata: 1050^^^
__ADS_1