Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 123. Apa jangan-jangan


__ADS_3

Rio memagut dan melu mmat bibir Wulan, tangan yang membelai pipi kini turun pada gunung kembar, ia merabanya dengan memutar dan perlahan melepaskan tiga kancing didepan dada.


Kepala Rio mulai turun pada leher Wulan, menjilati dan mengigitnya dengan nasf*. Sensasi itu membuat tubuh Wulan meremang tak karuan, ia mengigit bibir bawahnya sambil memegangi dada bidang suaminya.


Rio melepaskan kecupannya pada leher Wulan, lantas ia menurunkan pakaian Wulan sampai kebawah, hingga menyisakan pakaian dalam.


"Mas ... Mas Rio mau apa? Ini di kantor."


"Memang kenapa kalau di kantor? Bukannya kita pernah bercinta di kantor? Bahkan pertama kali." Rio bangun dari sofa menuju pintu untuk menguncinya dengan rapat. Lantas ia balik lagi menghampiri Wulan yang tampak begitu seksi dengan pakaian dalam renda-renda berwarna hitam, membuat ga*rah Rio makin membara dan miliknya langsung berdenyut hebat didalam sana.


"Tapi, Mas ... nanti kalau aku mual bagaimana? Ini juga masih sore."


"Kau cukup memejamkan mata saja manis, sebentar ...." Rio melepaskan dasi biru pada kerah kemeja, kemudian mengikatkan pada kepala Wulan, menutup matanya. "Nah ... begini akan aman, kau tidak akan mual nanti."


"Memangnya harus banget begini, Mas? Mataku harus di tutup?" Wulan memegangi dasi yang sudah terpasang rapih, melingkar pada kepalanya.


Rio membaringkan tubuh Wulan di sofa dan mulai melucuti seluruh pakaiannya, melemparkannya di lantai.


"Mas ...."


"Apa manis? Kau diam saja, terima enaknya." Rio perlahan mengecupi kaki, betis, paha, perut dan juga dada istrinya. Sesekali ia memberikan sentuhan-sentuhan kecil yang mampu membuat bulu kuduk Wulan merinding, namun ada nikmat yang menjalar pada seluruh tubuhnya.


Tangannya yang begitu lincah, sangat cepat melepas sisa pakaian pada tubuh istrinya. Ia melakukan pemanasan beberapa menit dan sampai akhirnya berancang-ancang untuk mengajak Wulan terbang ke udara.


"Hhmm ...," desis Wulan seraya menutupi mulutnya. Walau ia sering sekali bercinta, tapi nyatanya Wulan malu jika mengeluarkan suara-suara seksi dari mulutnya.


"Oh ... Wulan ...," racau Rio.


***


Ditolak cinta dengan alasan sudah menikah, sama sekali tidak membuat Ivan patah semangat. Ia justru makin semangat dan ingin tau, apa benar yang dikatakan Wulan, atau tidak? Atau mungkin itu hanya alasannya saja demi menolak Ivan secara halus?


Niat sepulang kerja, ia ingin ke rumah Wahyu untuk menemuinya sekaligus bertemu dengan pria yang bernama Rio Pratama. Tapi mengingat, waktu itu Ivan sempat mengikuti Wulan sampai di sebuah gedung pencakar langit. Mungkin saja memang Rio kerja disana, hanya itu yang ada didalam pikirannya dan membuat langkahnya untuk pergi.


Ivan memarkirkan motornya pada area khusus motor, ia melangkahkan kakinya menghampiri satpam yang sedang berdiri tegap seorang diri di pintu utama gedung itu.


"Selamat sore, Pak. Apa saya bisa bertanya sesuatu?" tanya Ivan dengan sopan.


"Sore, silahkan mau bertanya apa?" satpam itu membalasnya dengan kalimat yang tak kalah sopan.

__ADS_1


"Apa Bapak kenal dengan orang yang bernama Rio Pratama?"


"Kenal."


"Apa saya bisa bertemu dengannya? Dia kerja di kantor ini sebagai apa ya, Pak?"


"Pak Rio CEO disini, Anda ada keperluan apa mencarinya?"


Ivan membulatkan kedua matanya saat mendengar kata CEO, sudah pasti Rio adalah orang kaya.


Masa Wulan menikah dengan seorang CEO? Apa jangan-jangan yang namanya Rio itu pria tua dan hidung belang? Dan apa jangan-jangan dia menikahi Wulan dengan unsur paksaan? Kalau benar ... kasihan Wulan, tidak sepantasnya dia menikah dengan pria yang tidak dia cintai. Iya ... harusnya dia membuka hatinya untukku dan menikah denganku.


Baru menebak dan membayangkan saja, Ivan sudah bergidik ngeri sambil geleng-geleng kepala. Apalagi jika melihatnya secara langsung? Ah memang itu tujuannya sekarang.


"Maaf Mas ... Mas ini ada keperluan apa mencari Pak Rio?" tanya satpam itu lagi yang membuat lamunan Ivan buyar seketika.


"Saya hanya ingin bertemu saja, ada hal yang ingin saya bicarakan padanya, Pak."


"Apa Anda sudah membuat janji?"


"Janji?" Ivan menggeleng cepat. "Tidak, saya belum membuat janji dengannya, memangnya harus ya, Pak?"


"Tentu harus, dia orang yang sibuk dan tidak sembarang orang bertemu dengannya," jelasnya.


Si Algojo lagi, malas sekali aku bertemu dengannya.


"Mau apa kau datang kesini?" tanya Inda. Ia berkacak pinggang sambil mengedikkan kepalanya.


"Saya ingin bertemu Pak Rio, Pak."


"Kau datang kesini ingin bertemu Pak Rio?Besar juga nyalimu!" pujinya.


"Memang kenapa? Saya 'kan sudah bilang tadi pagi kalau saya ingin bertemu dengannya, tapi ternyata ... bertemu dengannya susah sekali, harus pakai janji," keluh Ivan seraya menghela nafasnya dengan gusar.


"Aku akan mengantarmu untuk bertemu dengannya, ikutlah denganku," ajaknya. Indra membuka pintu utama dan mengajak Ivan untuk bersama-sama duduk di lobby.


Tadinya ia ingin langsung membawa Ivan menuju ruangan Rio, tapi rasanya tidak enak.


Takut menganggu bosnya, ia tau betapa sibuknya kerjaan Rio tanpa seorang asisten. Ada baiknya Indra menelepon Rio dulu, untuk bertanya padanya.

__ADS_1


Ia mengambil ponsel pada kantong celana, lantas meneleponnya. Satu panggilan, dua panggilan dan tiga panggilan baru diangkat.


"Ada apa, sih?" suara Rio terdengar begitu tersendat-sendat, seperti tengah mengatur nafas. Tapi nada bicaranya begitu ketus.


"Maaf saya menganggu Bapak, ada orang yang ingin bertemu Bapak."


"Siapa?"


"Ivan, Pak."


"Ivan? Ivan siapa?" sepertinya ingatan Rio memudar saat dirinya sedang berada di puncak kenikmatan.


"Ivan, teman kerja Nona Wulan di Restoran."


"Oh ... benarkah? Lalu, kau bertemu dimana dengannya, ah!"


Indra membulatkan kedua matanya, ia merasa ngeri mendengar Rio yang tengah men desah dari sana.


Pak Rio pasti sedang bercinta dengan Nona Wulan.


"Saya bertemu dengannya di kantor, dia ada di kantor Bapak dan sekarang sedang menunggu dengan saya."


"Oh, mau apa dia menemuiku? Ada urusan apa?"


"Saya tidak tau."


"Oh ... Hhmm ... yasudah, satu jam lagi kau ajak dia ke ruanganku. Sekarang aku lagi tanggung!" Rio langsung mematikan sambungan teleponnya.


"Kau mau menunggu Pak Rio satu jam lagi?" tanya Indra pada pria yang duduk disebelahnya.


"Kalau memang dia sedang sibuk, tidak masalah. Saya akan menunggunya."


Indra mengangguk-angguk dan menyandarkan punggungnya. "Kenapa kau mendekati wanita beristri? Memangnya kau tidak mampu mencari wanita yang single?" celetuknya.


"Saya kesini ingin tau, kalau dia benar-benar suaminya atau bukan. Saya tidak percaya Wulan sudah menikah," jawabannya dengan wajah gusar.


"Kalau memang benar dia sudah bersuami, kau akan melupakannya, kan? Kau tidak akan menganggu rumah tangganya?" Indra bertanya dengan penuh penekanan.


Ivan termangu dan mengusap-usap wajahnya, mulutnya terasa alot, sampai tidak bisa menjawab pertanyaan dari Indra.

__ADS_1


Lihat dulu orangnya kayak gimana. Aku tidak bisa semudah itu melepaskan wanita yang aku cintai.


^^^Kata: 1040^^^


__ADS_2