Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 65. Tersangkanya


__ADS_3

"Akhirnya selesai juga hari ini, sudah lama aku aku tidak kerja seperti ini." Wulan menatap piring bersih yang tertata rapih didepan pantry, senyumannya langsung mengembang. "Tapi aku senang, mungkin memang aku cocoknya jadi pelayan Restoran, bukan jadi OB."


Dan pada akhirnya, Wulan kembali bekerja di tempatnya dulu. Menjadi pelayan disebuah Restoran milik Nissa, tantenya Nella.


Tak lama bel pergantian shift berbunyi, Wulan melangkahkan kakinya menuju loker penyimpanan barang-barang.


Sudah ada teman-temannya yang lain, tengah mengambil tas miliknya masing-masing.


Banyak temannya yang dulu masih bekerja bersamanya, tapi mereka tidak ada yang tau Wulan sudah menikah.


"Wulan, waktu itu ada teman kamu kesini lho, nanyain kamu," ucap Rani, salah satu teman dekatnya yang sejak dulu.


"Siapa?"


"Kalau nggak salah namanya Indah."


Wulan langsung melemparkan senyuman pada temannya itu. "Oh Indah, iya ... aku sudah bertemu dengannya, Ran."


"Mantan kamu juga kesini waktu itu nyariin kamu," tambahnya lagi.


"Biarkan saja, dia tidak penting ini," jawab Wulan dengan santai.


Setelah mengambil tas, mereka berdua melangkahkan kakinya keluar dari Restoran dan mencari angkutan umum.


"Kamu masih ngontrak di jalan Xx, Lan?" tanya Rani, menoleh kearahnya.


"Tidak, aku sudah pindah."


Tak lama ada dua motor gede berwarna merah dan hijau. Berhenti tepat didepan mereka, dua orang pria. Salah satunya adalah pacar Rani.


"Wulan, aku duluan ya? Aku sudah di jemput pacarku," ucapnya pamit.


Pria yang memakai helm itu mengangguk kearah Wulan, Wulan juga tersenyum, seiring Rani membonceng motor merah dan meninggalkannya.


Tetapi motor yang berwarna hijau itu tidak pergi, pria itu memakai jaket jeans, perlahan ia membuka helmnya. Ternyata ia adalah Ivan, teman kerja Wulan.


"Kak Ivan."


"Wulan, kamu mau pulang? Aku akan mengantarmu," ajak pria tampan itu.


"Tidak usah Kak, aku mau naik angkot saja," tolak Wulan.


"Bareng aja, lagian kita searah, kan?"


"Tidak Kak, rumahku sudah pindah. Lagian aku mau ke rumah sakit dulu."


"Siapa yang sakit? Ayah atau adikmu?"


"Adikku, Kak."

__ADS_1


Sebuah mobil angkutan umum berwarna biru berhenti disisi jalan raya, sang sopir sudah mengklakson mobilnya.


Tit ... tit ... tit.


"Aku pulang duluan ya, Kak."


"Oh yasudah, hati-hati, Lan."


"Iya." Wulan langsung masuk kedalam mobil itu, para penumpang segera menggeser tempat duduknya untuk tempat Wulan duduk.


Ia duduk tepat didekat sopir, penumpang didalam juga tidak terlalu penuh. Disampingnya ada dua orang pria dan wanita, dan didepannya ketiga pria.


Memang sejak dulu selama kerja di Restoran, setiap hari, sepulang kerja. Ia selalu naik angkutan umum. Alasannya cukup simpel, yaitu hemat ongkos.


Wulan mengambil ponsel pada tasnya, banyak panggilan tidak terjawab dari Wahyu. Namun yang membuatnya terkejut adalah isi pesan dan foto yang Wahyu kirimkan, ia memperhatikan foto tersebut.


Ini benar-benar fotoku, foto saat aku selesai didandani oleh Mamah Santi. Tapi kok ada yang menyebar poster dengan info orang hilang?! Siapa orangnya, apa jangan-jangan Mas Rio?


Wanita itu sudah bisa menduga, kalau itu kerjaan suaminya. Ia membulatkan kedua matanya ketika melihat nominal 40 juta pada gambar itu.


Keterlaluan sekali Mas Rio! Ingin mencariku dengan cara seperti ini. Kenapa dia tidak mencariku secara mandiri saja? Memangnya tidak bisa? Ah memang dia itu tidak pernah berusaha sendiri. Mentang-mentang banyak uang, bisanya menyuruh orang lain.


Wulan yang sibuk bergumam dalam hati tidak sadar, kalau ada dua pria yang duduk didepan tengah memperhatikannya. Salah satu mereka juga saling berbisik dan tidak terdengar oleh siapapun.


"Maaf, Mbak. Apa Mbak yang bernama Wulan Priyanka?" tanya pria yang memakai topi itu.


"Kok Mas tau namaku?" tanyanya binggung.


Pria bertopi tidak menjawabnya sama sekali, ia malah melemparkan senyuman menyeringai. Tapi justru membuat Wulan merasa takut.


Temannya yang duduk disebelah sedang mengetik-ngetik ponsel dan kembali memperhatikan wajah Wulan sambil tersenyum miring. Sikap keduanya makin membuat Wulan tak nyaman.


Kenapa mereka menatapku seperti itu, benar-benar tidak sopan.


Batin Wulan.


"Bang, aku turun disini saja," ucap Wulan pada sang sopir.


Sopir itu mengangguk dan memberhentikan mobilnya disisi jalan, Wulan langsung mengambil selembar uang berwarna ungu pada kantong celana, ia berikan padanya.


"Terima kasih, Mbak."


"Sama-sama, Bang."


Wulan keluar dari angkot itu membungkuk. Ia memutuskan untuk berhenti ditengah jalan karena tidak nyaman jika terus diperhatikan oleh kedua pria itu. Rasanya kedua pria itu seperti punya niat jahat. Namanya juga wanita, jadi wajar jika punya prasangka buruk terhadap pria asing yang terlihat mencurigakan.


Ia kembali mengambil ponsel pada tas miliknya untuk memesan ojek online, karena posisinya sekarang masih jauh untuk sampai ke rumah sakit.


Baru saja Wulan hendak memencet untuk membuka aplikasi pada ponselnya, tiba-tiba kedua lengannya dipegang kuat oleh seseorang yang datang dari belakang.

__ADS_1


Wulan terperajat dan membelalakkan kedua matanya. Ia menoleh pada sisi kanan dan kirinya, ternyata yang memegang lengannya adalah dua pria di angkot tadi, mereka ikut turun.


"Kalian mau apa?! Lepaskan aku!" teriak Wulan.


Kedua pria itu hanya diam saja, tidak menjawab pertanyaan Wulan. Mereka sama-sama tersenyum tiada arti.


"Kalian jangan macam-macam denganku, ya!" Wulan mulai meronta-ronta, namun tangan keduanya begitu kuat memeganginya.


"Tolong--" baru saja ia hendak meminta tolong, dengan cepat mulutnya ditutup oleh telapak tangan pria bertopi sebelah kanan.


Siapa mereka, apa jangan-jangan mereka mau berbuat jahat padaku?


Batin Wulan.


Hanya hitungan detik saja, datanglah sebuah mobil hitam berhenti tepat didepan mereka. Wulan merasa sangat takut dan panik sekarang, ia berpikir kalau ia akan di culik.


Saat seorang pria berbadan kekar itu keluar dari mobil dan hendak menghampiri Wulan, Wulan menginjak kaki kedua pria yang tengah memegang lengannya.


Dua kali hentakkan keras, bisa membuat mereka melepaskan cengkraman tangannya.


Wulan langsung berlari melawan arus kendaraan disisi jalan raya.


"Hei! Jangan lari kau!" pekik ketiga pria itu, mereka ikut mengejar Wulan dari belakang.


Wulan berlari sekuat tenaga, ia merasa sangat takut dan pikirannya sudah kemana-mana.


Siapa mereka? Apa aku akan di perkosa?


Batin Wulan.


"Jangan lari! Berhenti aku bilang!" pekiknya lagi.


Rasa panik yang berlebihan membuat Wulan tidak bisa menghentikan kecepatan kakinya. Hingga membuat mobil dari arah depan menabraknya, mobil itu sebenarnya hendak mengerem saat melihat Wulan. Tapi ia tidak bisa menghentikan mobilnya dengan sempurna, karena sudah terlanjur menabrak tubuh wanita itu.


"Aaaakkkhhhh!" jerit Wulan.


Brukkk........


Bagian depan mobil menghantam perut Wulan, wanita itu langsung terhentak dan tersungkur jatuh dengan posisi tengkurap, dahinya juga menghantam aspal.


Duggg.......


"Aaww!"


"Astaghfirullah, Wulan!" pekik pria yang keluar dari mobil hitam, mobil yang menabrak Wulan barusan. Ia adalah tersangkanya.


Ia segera menghampiri Wulan dan mengangkat wanita yang masih setengah sadar itu. Wulan melihat wajah pria tampan yang tak asing, terlihat samar-samar dalam penglihatannya.


^^^Kata: 1059^^^

__ADS_1


__ADS_2