Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 98. Aku sekarang sudah berubah


__ADS_3

"Hutang? Ayah berhutang pada Dido?" tanya Rio.


"Rio, kok kamu yang mengangkat telepon? Dimana Wulan?"


"Wulan sedang di toilet, Ayah. Eemm ... apa Ayah punya hutang pada Dido?" tanyanya lagi.


"Iya."


"Apa aku boleh tau, hutang apa itu?"


"Hutang biaya operasi Clara."


Deg~


Mata Rio membulat sempurna. "Biaya operasi? Operasi transplantasi ginjal?"


"Iya."


Kok Ayah berhutang? Bukannya aku sudah meminta Dido untuk membayarkan semuanya.


"Yasudah. Nanti Ayah telepon lagi kalau Wulan selesai dari toilet, Rio."


"Tunggu, Ayah. Jangan matikan dulu teleponnya."


"Iya, kenapa?"


"Kok Ayah berhutang pada Dido? Aku 'kan sudah membayarkan semua biaya operasi Clara, Ayah."


"Kapan kau membayarkannya? Biaya itu Dido yang bayar, dia meminjamkan uang pada Ayah."


Setelah selesai buang air kecil, Wulan keluar dari toilet dan melangkahkan kakinya menghampiri Rio dari belakang. Ia begitu kaget, saat tau Rio tengah menelepon menggunakan ponselnya.


Mas Rio teleponan sama siapa? Kok pakai ponselku?


"Aku yang membayarkan semua biaya itu, jauh sebelum Clara dioperasi, Ayah. Aku saat itu menyuruh Dido mencari Dokter untuk Clara dan sekaligus memberikannya uang. Itu karena aku takut, takut sewaktu-waktu keadaan darurat dan aku tidak tau," papar Rio.


Netra Wulan membola sempurna, ia sungguh tercengang dengan apa yang Rio ucapkan.


Jadi ... biaya operasinya sudah Mas Rio bayar? Kok Kak Dido berbohong padaku?


"Kau pasti berbohong, kau tidak mungkin melakukan itu, Rio. Ayah tau kau yang mencari Dokter, tapi kau tidak mungkin membayarkan semua biayanya."


Deg~


"Ayah tidak percaya padaku?" Rio mengerutkan kening.


"Iya, Ayah tau bagaimana kau orangnya. Dulu saja kau tidak ikhlas meminjamkan uang 20 juta pada Wulan, padahal kau sudah memp*rk*sanya!" cercah Wahyu.


Deg~


"Tapi Ayah, ini berbeda ...." Suara Rio terdengar begitu lirih dan bergetar, perkataan Wahyu sungguh menusuk hatinya, mengingatkannya pada dosanya di masa lalu.

__ADS_1


Kenapa dengan Mas Rio?


Tangan Wulan sudah terulur, ingin menyentuh punggung Rio. Tapi ia tarik kembali, rasanya tidak enak untuk bertanya sekarang. Mungkin akan lebih baik, tunggu mereka selesai mengobrol.


"Apa bedanya? Ini sama saja, karena uang itu untuk Clara. Untuk operasinya."


"Iya, memang sama. Tapi dulu dan sekarang itu berbeda, Ayah. Aku sekarang sudah berubah ...," lirih Rio dengan nada merendah.


"Kau berubah juga karena kau membunuh cucuku! Kalau kau tidak membunuhnya, kau tidak akan berubah untuk selamanya!" pekik Wahyu.


Deg~


Tut ... tut ... tut.


Sambungan telepon itu diputuskan secara sepihak oleh pria paruh baya diseberang sana. Sungguh, dada Rio terasa sangat sesak. Ia membeku ditempat dengan tangan yang bergetar. Perlahan ponsel yang menempel pada pipinya ia turunkan.


Apa sampai sekarang, Ayah masih membenciku? Maaf ... maafkan aku Ayah, maaf telah menghilangkan rasa percayamu padaku. Aku benar-benar menantu tidak tau diri.


"Mas ...," lirih Wulan dari belakang.


Rio segera mengusap-usap wajahnya dan berbalik badan. "Kau sudah selesai?"


Wulan menatap bola mata Rio berkaca-kaca. Pria itu memang tidak menangis, tapi terlihat raut wajahnya begitu sedih.


"Mas Rio kenapa? Tadi teleponan dengan siapa? Apa Ayah?" tanya Wulan pura-pura tidak tau.


Tiba-tiba Rio memeluk tubuh Wulan dan menciumi rambutnya. "Wulan, maaf ... maafkan aku Wulan ...," lirihnya.


"Maaf untuk semuanya, dosaku padamu. Dosa karena membunuh anak kita ...." Wulan mendengar isakan tangis pria itu, namun terdengar begitu lirih.


Apa Mas Rio begitu menyesal? Apa dia merasa benar-benar sedih?


"Wulan ... jawab aku! Kenapa kau diam saja?"


"Aku tidak tau, aku tidak mau membahas masalah ini, Mas. Hatiku sakit ...." Buliran air mata itu lolos membasahi pipi. Namun dengan cepat, Wulan menyekanya.


Awan tampak begitu hitam dan terdengar suara gemuruh. Tetes air dari atas pun berjatuhan secara perlahan. Rio menadah tangannya, merasakan air itu jatuh pada telapak tangan.


Rio melepaskan pelukan. "Wulan, kita kembali ke Hotel. Sepertinya akan turun hujan."


Baru saja Rio berkata seperti itu, tiba-tiba tetesan air dari langit jatuh begitu banyak. Hujan seketika menjadi deras, membasahi seluruh alam semesta.


"Ayok, Wulan!" Rio cepat-cepat menaruh ponsel Wulan pada kantong celana dan mengenggam tangan istrinya untuk mengajaknya berlari meninggalkan taman.


Rupanya Indra sudah menunggu mereka dan menyambutnya dengan pintu mobil yang sudah terbuka. Mereka berdua langsung masuk kedalam.


"Kita kemana, Pak?" tanya Indra.


"Hotel." Rio mengusap-usap wajahnya yang basah karena air hujan.


"Baik." Indra memutar balik mobilnya dan mengemudi dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


Rupanya hujan dadakan tadi mampu membasahi seluruh tubuh mereka, rambut panjang Wulan juga sampai lepek. Ia mengigil kedinginan sambil memeluk tubuhnya sendiri.


"Kau kedinginan?" tanya Rio.


Wulan mengangguk pelan. Rio mengambil remote AC dan mematikan suhunya. Kemudian, tangannya terulur pada wanita itu.


"Kemarilah, mendekat. Aku akan menghangatkanmu."


Wulan melihat sekujur tubuh Rio basah kuyup, sama seperti dirinya. Bagaimana bisa pria itu menghangatkannya?


"Kenapa bengong? Cepat sini."


"Kemana?"


Rio menepuk pahanya sendiri dengan pelan. "Duduk di pangkuanku, kita bisa berpelukan."


Kedua pipi Wulan langsung bersemu merah, ia menggelengkan kepalanya, menolak, karena merasa malu.


Tapi penolakan melalui isyarat itu tidak berarti apa-apa bagi Rio. Pria itu mengangkat tubuh Wulan dan mendudukkannya diatas kedua pahanya. Tangan Rio sudah memegangi kedua pipi istrinya yang sudah basah. "Kenapa pipimu merah begitu?" tanya Rio dengan senyuman nakal.


"Dingin, Mas."


"Dingin? Sini kukecup."


Cup~


Lagi-lagi Rio mendaratkan ciumannya pada Wulan. Terasa begitu hangat ketika kedua kulit itu bersentuhan, Rio memagut dan lidahnya menyusuri rongga mulut Wulan.


Dengan kedua bibir yang masih menempel, Rio mengangkat tubuhnya sedikit, untuk meraih hordeng dan menariknya. Indra sudah tau akan apa yang Rio perbuat, ia hanya memfokuskan dirinya untuk menyetir.


Apa Pak Rio sudah sembuh? Hebat juga dia, baru selesai dipijit langsung tempur lagi.


Kedua tangan Rio sudah menyelinap masuk kedalam dress yang Wulan kenakan, sudah menyentuh kain renda-renda disana. Tapi saat mereka mulai melakukan pemanasan, deringan ponsel Rio membuyarkan semuanya.


Rio melepaskan ciumannya dan memeluk tubuh Wulan. "Sebentar ... aku angkat telepon dulu. Kita bisa melanjutkannya di kamar."


Wanita itu tidak menjawabnya, ia diam dan pasrah. Kalaupun Rio mengajaknya kembali untuk bercinta, Wulan akan sangat senang. Itu dikarenakan ia sudah mulai terhanyut dan menginginkannya.


Rio merogoh ponselnya pada saku kiri jaket jeans miliknya. Panggilan itu ternyata dari Dido. Sebuah kebetulan sekali, ia juga akan menyerang pria berkumis tipis itu dengan beberapa pernyataan.


"Halo, selamat sore Pak. Maaf ... saya menganggu waktu Bapak," ucap Dido.


"Ada apa?" tanya Rio.


"Saya sudah menyelesaikan data-data untuk rapat kita, saat Bapak pulang nanti. Apa Bapak ada waktu untuk mengeceknya kembali?"


"Ada, kau kirimkan saja semua datanya lewat emailku."


"Baik, Pak. Yasudah ... kalau begitu saya--"


"Jangan tutup teleponnya dulu. Aku mau bicara padamu!" sergah Rio dengan emosi. Ia langsung memencet tombol speaker pada layar ponselnya. Sengaja, supaya Wulan bisa mendengarkan percakapan mereka.

__ADS_1


^^^Kata: 1073^^^


__ADS_2