Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 154. Tidak bisa hidup seperti ini


__ADS_3

"Mas Rio haus banget, ya? Sampai habis semua." Wulan memasang kembali alat itu dan membenarkan posisi tidur Rio.


"Aku sa sa--"


"Kalau masih terasa susah, jangan dipaksa, Mas," sela Wulan seraya mengelus rambut Rio, ia merasa kasihan dengan kondisi suaminya. "Aku panggilkan Dokter sebentar, ya?"


Rio segera memegangi lengan Wulan yang hendak pergi, ia menggelengkan kepalanya, seolah tidak mengizinkan Wulan untuk pergi.


Jangan pergi, aku ingin selalu di sampingmu.


Tangan Rio perlahan mengelus pipi Wulan, pipi itu langsung bersemu merah. Entah mengapa Wulan merasa makin jatuh cinta pada suaminya.


Rio tersenyum tipis.


Kasihan Mas Rio, cepat sembuh, Mas. Aku tidak tega melihat Mas Rio seperti ini.


Ceklek~


Wulan langsung menoleh ke arah pintu yang baru saja terbuka, masuklah Santi dan Reymond.


Wajah wanita paruh baya itu seketika berseri manakala melihat anak keduanya sudah sadar.


"Alhamdulilah, anak manja Mamah sudah sadar. Mamah sayang kamu, Rio." Santi menghampiri Rio dan mengecup keningnya. Mendengar kata 'manja' membuat Rio sensitif, pria tampan itu langsung memasang wajah cemberut.


"Kok sadar? Memangnya Rio pingsan?" tanya Reymond binggung.


"Iya, itu gara-gara efek obat," jawab Santi.


Rio membulatkan netranya.


Efek obat? Obat apa? Apa maksud Mamah?


"Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa yang sakit?" tanya Santi dengan nada lembut, menatap penuh kasih sayang pada anaknya.


"Kepala ...," jawabnya lirih.


"Aku panggilkan dokter sebentar ya, Mah. Supaya Mas Rio diperiksa," ucap Wulan.


"Kamu minta tolong saja sama Irwan atau Indra, biar mereka yang memanggilkan," titah Santi.


"Iya, Mah." Wulan mengangguk, ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar inap.


Selang beberapa menit, dokter berkacamata itu datang ke kamar Rio, bersama dengan seorang suster yang membawa meja troli berisi semangkuk bubur dan susu putih hangat.

__ADS_1


"Bagaimana kabarmu Rio? Akhirnya kamu sadar juga." Dokter itu berniat menyapa, namun Rio hanya mengangguk dan tersenyum padanya.


"Saya periksa dulu, ya?" Dokter berkacamata itu segera membuka kancing seragam Rio dan menempelkan stetoskop pada dada bidangnya. Ia mendengar denyut jantungnya. Jantungnya sudah stabil, namun nafasnya masih terasa tersendat-sendat.


"Bagaimana, Dok?" tanya Santi penasaran.


Dokter itu merapihkan kembali baju Rio dan melepaskan stetoskopnya pada kedua telinga, mengalungkannya di leher.


"Alhamdulilah, kondisinya jauh lebih baik dari semalam. Jantungnya sudah stabil, hanya nafasnya saja masih memerlukan oksigen," papar Dokter itu.


"Memangnya jantung anak saya bermasalah? Dia tidak punya riwayat penyakit jantung Dokter?" tanya Santi sedikit binggung, ia hanya tau Rio pingsan karena dibius, tapi tidak tau penyebab Rio tak kunjung sadarkan diri.


"Ibu ini, Ibunya Rio?"


"Iya, saya Ibunya."


"Kemarin malam saya sudah menjelaskan pada suami Ibu. Mungkin suami Ibu belum cerita. Baik, saya ceritakan kembali. Rio ini diberi obat perangs*ng dengan dosis tinggi, tidak sesuai anjurannya. Apalagi setelah itu dia dibius, sudah pasti ada efeknya lagi. Gara-gara obat itu, jantungnya tidak stabil, tapi beruntung sekarang dia sudah baik-baik saja," papar Dokter.


Mereka berempat terbelalak kala mendengar pemaparan dari dokter tersebut. Santi jadi makin membenci Mawan, sangat sangat benci.


Mawan, kau benar-benar jahat! Bisa-bisanya kau ingin menghilang nyawa anakku!' gerutu Santi.


Terlintas dalam benak Rio, memory saat dirinya sebelum jatuh pingsan. Ia pergi ke Restoran untuk menemui Rizky karena ada meeting dan setelah itu ia merasakan ada hal yang aneh. Ia pergi ke toilet. Namun habis dari toilet, ia tak ingat lagi. Karena saat dirinya dibuis, itu terjadi begitu cepat.


Siapa yang melakukan ini semua padaku? Apa jangan-jangan Papah?


Dokter itu kembali menatap wajah Rio. "Kepalamu masih sakit?" tanyanya.


Rio mengangguk pelan.


"Selain kepala, apa ada lagi yang sakit?" tanya Dokter lagi.


Rio langsung menyentuh miliknya yang terasa tegang dibalik selimut, hasr*t yang tertunda itu membuat miliknya kram.


"Apa kau ini Rio? Mesum sekali otakmu!" cibir Reymond sambil geleng-geleng kepala.


"Tidak apa-apa, Pak. Biarkan saja," jawab Dokter itu menoleh sebentar pada Reymond, lalu menatap Rio kembali. "Nanti kamu bisa melakukannya dengan istrimu, tapi tetap ingat kondisimu, ya?" tegur Dokter.


Rio langsung menarik senyum bahagia, meskipun dengan keadaan seperti ini. Rio sangat suka jika membahas masalah bercinta.


Aku boleh bercinta maksudnya, kan? Tidak buruk juga melakukan di rumah sakit.


Disisi lain Wulan hanya duduk di sofa, ia hanya menjadi pendengar yang baik.

__ADS_1


Mendengar perkataan dokter itu, Reymond langsung mencibir.


"Enak banget si Rio, lagi sakit begini masih boleh bercinta!" Reymond seakan iri, pasalnya ia tengah puasa karena istrinya baru saja melahirkan.


"Rey, sudahlah. Kau ini kenapa, sih? Kasihan adikmu, dia sedang sakit." Santi menyenggol lengan anak pertamanya.


"Iya, aku tau kok." Reymond memutar bola matanya dengan malas.


"Selain itu, apa ada lagi?" tanya dokter lagi.


Rio memegangi ventilator yang berada di mulutnya, ia merasa risih ada benda yang menghalangi wajah tampannya.


"Itu biarkan saja, tapi kalau kau merasa tidak nyaman, kau boleh melepaskannya. Tapi kalau kau merasa sesak, pakai lagi."


Santi merasa aneh dengan jawaban Rio, pasalnya ia hanya memberikan isyarat sebagai jawaban, tidak berkata apapun. "Kenapa kau bicara dengan isyarat? Kau susah bicara Rio?"


"Dadanya masih sesak dia, Bu. Tidak perlu dipaksa untuk bicara. Kalau semuanya sudah kembali normal, dia akan kembali seperti biasa." Dokter itu kembali menjawabnya.


"Oh, syukurlah." Santi menghela nafasnya dengan lega.


"Nanti Rio makan dan jangan lupa minum obatnya, kalau begitu saya permisi."


"Iya, Dok. Terima kasih."


Dokter itu mengangguk. Lantas, ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar Rio, bersama dengan suster.


Melihat dokter dan suster keluar dari kamar inap Rio, Mawan segera bangun dan menghampirinya. Ia memang sedari tadi menunggu, merasa penasaran dengan kondisi anaknya.


"Dokter ... bagaimana keadaan anak saya?" tanya Mawan.


"Rio baik-baik saja, Pak. Hanya butuh istirahat," jawab Dokter itu sambil tersenyum. Ia kembali melanjutkan langkahnya kakinya yang sempat terhenti.


Mawan menghela nafas dengan lega, ia melangkah menuju jendela yang berada di pintu kamar itu, hanya ingin sekedar melihat Rio, memastikan keadaannya yang kata dokter baik-baik saja.


Mawan tersenyum tipis saat melihat Reymond dan Santi tertawa lepas, mereka seperti sedang meledek Rio yang tengah disuapi bubur ayam oleh Wulan. Entah apa saja yang mereka bahas, Mawan tak mampu mendengarnya.


Tapi kini hatinya terasa sakit, begitu terenyuh melihat pemandangan indah itu. Ingin rasanya Mawan ikut berada disana. Tapi nyatanya tidak bisa, keempat pria kekar itu menghalangi langkah Mawan.


Meskipun tidak bisa bertemu, melihat dari kejauhan saja sudah cukup mengobati rasa penasaran Mawan.


Rio, tolong maafkan Papah. Papah menyesal, tolong jangan benci Papah. Papah sayang padamu, Rio.


Buliran air matanya tak terasa menetes, namun segera Mawan usap dengan kasar. Ia tak enak sedari tadi dilihat oleh para algojo. Mawan memutuskan untuk pergi dari rumah sakit, ia ingin menemui Indah. Mungkin dengan bertemu dengan putri kesayangannya, sedikit mengobati rasa pilu di hatinya. Mawan juga berencana untuk meminta pertolongan dari sang putri.

__ADS_1


Semoga kamu bisa membantu Papah, Sayang. Papah tidak bisa hidup seperti ini.


Jangan lupa like 💕


__ADS_2