
Andra menarik tangan Irene supaya dia bangun dan menyender di tepi ranjang. Dia kembali mengambil mangkuk dan duduk di sebelahnya.
Irene mengambil mangkuk tersebut dari tangan Andra.
"Biar saya sendiri saja. Saya bisa makan sendiri," ucap Irene.
Andra menghela nafasnya dengan berat.
"Oya, kamu sampai kapan tidak memberitahu Ibumu? Ibumu ke kantor tadi nanyain kamu, kata Anton."
Aku tidak sanggup mengatakan semuanya sama Mamah kalau aku sedang hamil, bagaimana ini? Apa aku gugurkan saja bayi di dalam rahimku?
Batin Irene.
"Irene," panggil Andra.
"Iya, Pak."
"Aku tanya tadi, kenapa kau diam saja?" Andre mengelus rambut Irene.
"Saya tidak mau cerita sama Mamah, saya takut dia marah."
Andra memegangi tangan Irene.
"Kau tenang saja, itu tidak akan terjadi. Aku yang akan bantu kamu bicara nanti," ucap Andra dengan tulus.
Sebenarnya memang dari dulu dia menyukai Irene, bahkan pertama kali ketika Irene menjadi sekretaris nya. Rasa sukanya juga berbeda dengan suka terhadap wanita lain, Andra memang orang yang suka sekali dengan **** bebas dan sering melakukannya dengan wanita bahkan lebih dari satu.
Dia juga sering menyewa gadis malam demi mengeluarkan hasratnya, tapi ketika dia bertemu dengan Irene, hasrat kepada wanita lain sudah lenyap. Dia hanya menginginkan Irene menjadi miliknya.
Dia merasa beruntung apa lagi bisa membuat Irene hamil walau caranya salah, tapi tidak ada pilihan. Bagaimana pun caranya, dia harus menjadikan Irene sebagai istrinya.
***
Indah hanya makan dua suap nasi goreng, entahlah. Selera makannya hilang seketika, terasa sangat pahit saja di mulutnya.
"Sayang mau lagi tidak? Kamu makan sedikit sekali. Padahal dari kemaren siang belum makan," ucap Santi sedikit memaksa, dia tidak mau menantunya terlalu lama di rumah sakit.
"Sudah Mah. Aku sudah kenyang," sahut Indah berbohong, menolaknya dengan cara halus.
Rio mendekat pada Indah dan memegang tangannya, "Kau mau makan sesuatu? Lagi kepengen apa? Biar aku belikan," Rio begitu perhatian padanya, dia merasa kasihan pada Indah.
"Aku ingin makan masakan Mamah Sarah."
Rio dan Santi saling memandang, karena kemauan Indah tidak mampu mereka penuhi
Ceklek....
Bunyi suara gagang pintu terbuka, Antoni datang sambil membawa tupperware berisi nasi goreng.
__ADS_1
"Opa Oni ..." Panggil Bayu seraya berdiri dia baru selesai makan di suapi oleh Vinno.
"Papah," panggil Indah.
Antoni mengendong Bayu dan menghampiri Indah. Dia meletakkan tupperware bawaannya di atas meja, tapi dia melihat tupperware berisi nasi goreng, sisa Indah makan.
"Kamu sudah sarapan sayang?" tanya Antoni seraya mengecup kening Indah.
"Sudah Pah."
Krukuk-krukuk....
Terdengar suara di dalam perut, sepertinya cacing di dalam sana masih kelaparan. Indah memegangi perutnya itu.
"Kamu masih laper?" Indah menggelengkan kepala.
Santi berdiri dan pindah tempat duduk. Dia tahu kalau Antoni ingin duduk di dekat Indah, benar saja Antoni langsung duduk di kursi kecil. Tepat bekas bokong Santi.
"Pah ... Indah, aku ke kantor Pak Mawan dulu ya," ucap Vinno seraya pamit.
"Iya Vin .... Terima kasih sudah jagain Bayu," sahut Indah sambil tersenyum.
"Tidak masalah. Cepat sembuh ya."
Sebelum berangkat dia mencium pipi lembut Bayu terlebih dahulu. "Om Inno mau kelja?"
"Iya sayang," sahut Vinno berjalan keluar.
"Papah bikinin nasi goreng buat kamu Indah. Kamu mau makan lagi, tidak?"
"Memangnya Papah bisa masak?" tanya Indah tidak yakin.
Antoni tersenyum padanya, "Bisa dong dikit-dikit. Ini resep dari Mamah Sarah, kamu mau coba tidak? Ini enak," Antoni sudah menyendokkan nasi goreng itu.
"Opa ... Bayu mau coba," Bayu sudah membuka mulutnya, bersiap menerima makanan.
"Eh jangan, Bunda dulu yang makan. Habis ini Bayu," tolak Antoni seraya mengulurkan sendoknya ke mulut Indah, Indah langsung melahapnya.
Mulut Bayu masih terbuka, Antoni segera menyuapinya juga. Indah mengunyah secara perlahan di ikuti dengan Bayu.
"Bagaimana rasanya?" tanya Antoni.
"Acin Opa," sahut Bayu berkata jujur.
Justru membuat mereka yang mendengar bergelak tawa. "Aduh asin ya ... Maafin Opa ya sayang."
"Tidak apa-apa Pah, walau asin rasanya mirip kok dengan masakan Mamah," Indah menyahutinya sambil tersenyum, tapi matanya mulai berkaca-kaca.
"Bagus deh kalau gitu. Mau lagi?" Antoni sudah mendarat kan lagi suapan kedua dan seterusnya sampai habis.
__ADS_1
Akhirnya Indah bisa kenyang juga. "Pah aku mau ke makam Mamah," Indah berkata seperti merengek.
"Tapi kamu masih di rawat sayang. Masih di infus juga," sahut Santi yang sedang duduk di sofa.
"Aku tidak apa-apa kok Mah, aku kuat juga." Indah mengenggam tangan Antoni. "Ya Pah, antar aku ke makam Mamah," pinta Indah.
Antoni melirik ke arah Santi, dia tidak berani mengatakan iya atau pun tidak. Dia takut nantinya di salahkan lagi oleh Mawan.
"Ya sudah, Mamah panggil Dokter sebentar," ucap Santi seraya keluar mencari Dokter yang menangani Indah.
Setelah di periksa oleh Dokter, ternyata kondisi Indah sudah lebih baik dan sudah boleh pulang. Mereka semua mengurus kepulangan Indah, tapi Indah hanya ingin pulang bersama Antoni dan Bayu. Dia ingin berziarah ke makam ibunya terlebih dahulu.
Tapi bukan hanya berziarah saja, Indah juga punya niat untuk membesuk Reymond di kantor polisi, dia sudah di beritahukan alamatnya dari Harun.
Indah dan Antoni mengirimkan do'a pada kuburan yang masih baru itu, masih terasa basah tanahnya, mereka menaburi bunga dan menyirami air mawar. Indah duduk berjongkok di dekat batu nissan dan mengusapnya.
"Mamah ... Aku sayang Mamah, Mamah tenang di sana ya, Indah akan mencari jalan bagaimana Indah bisa hidup bahagia."
Tak terasa air matanya menetes, Bayu berada dalam gendongan Antoni. Ada Irwan juga sedang berdiri.
Seketika Indah mengingat tentang kalimat terakhir yang Sarah ucapkan padanya, dia mengatakan dalam hati.
"Mah... Tentang masalah Mamah memintaku untuk menikah dengan Rio, aku rasa itu tidak mungkin. Aku tahu Mamah mengatakan hal itu karena Mamah tidak tahu, tapi mungkin sekarang Mamah sudah tahu. Kalau Mas Rendi masih hidup Mah."
"Dia bukan hanya ada di hatiku. Tapi masih ada di dunia.... Dia Mas Reymond, sekarang dia di penjara gara-gara menculik aku dan Bayu, aku tahu caranya salah. Tapi aku mengerti perasaan dia, dia melakukan hal itu karena mencintai kita berdua. Mamah mau anakmu ini bahagia kan? Aku bisa bahagia hanya bersama Mas Rendi yang sekarang menjadi Mas Reymond."
"Indah tidak bisa menuruti kemauan Mamah... Maafkan Indah, karena Indah juga masih istrinya Mas Rendi. Bagaimana bisa aku menikah dengan orang lain, sedangkan aku masih punya suami Mah?"
"Aku harus bagaimana Mah? Aku binggung. Papah... Papah tidak percaya padaku. Mamah Santi juga tidak suka dengan Mas Reymond.
Padahal aku sudah bertemu dengan Siska, dia salah satu penyebab Mas Rendi meninggalkan kita semua."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jempol manis kalian ❤️ Like dan komen membuat diriku makin semangat ❤️