Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
Episode 73. Perjanjian Rendi dan Rio


__ADS_3

"Oh tidak-tidak." Sahutnya dengan menggelengkan kepala dan senyuman palsu. "Melly ayok kita berangkat bareng ke kantorku." Ucapnya mengajak Melly yang sedari tadi diam.


Melly tidak bisa menolaknya, dia terpaksa ikut dengan Andra. Karena Rendi sendiri tidak ada di kantor, dan Dion tidak bisa berbuat apa-apa.


Apa tadi aku tidak salah dengar dengan apa yang pak Andra katakan? Aku tidak melihat sosok om yang menyayangi keponakannya lagi. Malah sebaliknya, pak Andra seperti sedang membenci pak Rendi.


Ah tidak Dion, kau tidak boleh berburuk sangka kepada orang lain. Itu tidak baik.


Batin Dion kemudian masuk lagi ke ruangan itu, dan tak lama ada sekretaris baru yang datang untuk mengantikan posisi Melly.


🌺🌺🌺


Indah membuka kedua matanya dan menoleh kearah seorang laki-laki yang tengah tertidur di atas sofa. Dengan wajah yang lebam di pipi kanan dan kirinya. Matanya langsung terbelalak dan terkejut, ketika sadar bahwa laki-laki itu adalah Rio.


Indah bangun dan berdiri, dia melangkah mundur agak jauh sampai punggungnya menempel di dekat jendela dan berteriak. "Tolong.... Tolong aku."


Teriakannya membuat Rio terbangun. "Indah lu kenapa?" tanyanya dan melangkah menghampiri Indah.


"Jangan mendekat!" Cegahnya dengan satu tangan berusaha menyetop langkah kaki Rio.


"Indah lu kenapa? Gue nggak akan berbuat apa-apa." Sahut Rio seraya mengerakkan tangannya.


"Aku bilang jangan mendekat!" Jeritnya, Rio memberhentikan langkah kakinya.


"Ada apa? Indah kau kenapa?" tanya Rendi yang baru keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk kimono, dia berlari kecil menghampiri Indah.


"Mas kamu ada di sini juga?" dengan refleks Indah langsung memeluk Rendi. "Mas lihat ada Rio." Tunjuk nya, "Sepertinya dia ingin menculik ku lagi. Aku takut Mas." Katanya sambil mempererat pelukan ke Rendi.


Pelukan hangat ini. Apa sebentar lagi akan hilang?


Batin Rendi, dengan debaran di jantungnya.


Rendi juga membalas pelukan itu dan mengecup rambut Indah, namun terlihat wajah Rio yang sangat masam memandanginya, "Indah." Ucapnya sambil memegang dagu Indah. "Rio tidak ingin menculik mu. Dia sudah tobat, aku sengaja mengajaknya kemari. Ada yang ingin aku bicarakan."


"Bicara? Bicara apa Mas? Apa itu perlu?" tanya Indah yang seolah tidak suka dengan kehadiran Rio.


Rendi mengajaknya kembali duduk di atas kasur.


Tiba-tiba suara bel berbunyi dari pintu, Rendi langsung membukanya, "Ini Pak sudah beres semua." Ucap Harun menyerahkan map coklat. Rendi menjawab dengan anggukkan kepala dan menutup pintu kembali.

__ADS_1


"Nih baca dan tanda tangan." Ucapnya menyerahkan kepada Rio di barengi oleh bolpoin.


"Apa ini?" tanyanya kemudian membacanya.


...Β -------------------------...


SURAT PERJANJIAN


Rendi Pratama Pihak I


Rio Pratama Pihak II


Surat ini di buat sah dan sesuai dengan apa yang kita berdua sepakati tanpa paksaan dari pihak manapun.


Saya Rendi Pratama selaku Pihak I akan berjanji menceraikan istri saya. Jika memang Indah menginginkannya, dan melepaskannya untuk menikah dengan siapapun termasuk dengan Rio Pratama Pihak II yang juga menjadi adik kandung saya.


Saya Rio Pratama selaku Pihak II akan berjanji tidak menganggu rumah tangga Rendi Pratama Pihak I yang juga menjadi kakak kandung saya. Jika memang selaku Indah menolak untuk di ajak menikah.


Keputusan ini di ambil atas jawaban dari Indah Permatasari. Dari Pihak I dan Pihak II tidak boleh memaksanya.


Demikianlah SURAT PERJANJIAN ini. Jika salah satu dari Pihak I dan Pihak II melanggarnya, Pihak yang di rugikan bisa melaporkannya serta bisa di pidanakan.


Yang bertanda tangan di bawah ini Pihak I dan Pihak II di atas materai.


"Apa perlu pakai perjanjian segala?" tanya Rio yang kembali duduk di sofa.


"Iya, itu menguntungkan buat kita berdua." Jawab Rendi


Meskipun aku tau Indah akan memilih Rio. Tapi aku tetap berharap Indah ingin bersamaku. Semoga keputusanku tidak salah.


Batin Rendi.


"Iya juga sih Kak," Rio dengan semangat memberikan tanda tangannya ke dua kertas itu begitupun dengan Rendi.


"Mas....." Panggil Indah.


"Boleh aku tahu surat apa itu? Dan apa yang sebenarnya ingin kamu bicarakan?" tanya Indah yang masih duduk di sana.


Rendi mendekat dan duduk di samping Indah. "Nanti aku beritahu pertama-tama kita ngobrol dulu." Rendi menggenggam tangan Indah dengan lembut. "Indah aku mau kamu jujur padaku, apa kamu suka sama Rio?"

__ADS_1


Deg.....


Mengapa mas Rendi tiba-tiba menanyakan perasaanku kepada Rio? Apa yang dia pikirkan?


"Indah jujur saja, aku tidak akan marah." Ucapnya dengan nada lembut.


"Aku memang suka padanya Mas." Jawab Indah.


Jleb....... Jawabannya begitu menusuk sampai Rendi melepas genggaman tangannya dan memegang dada yang terasa begitu sesak.


Kenapa rasanya sakit sekali.


Batin Rendi.


"Tapi itu dulu Mas, sebelum aku menikah denganmu. Sekarang tidak lagi." Kata Indah meneruskan.


Mata Rio langsung membulat sempurna, dia bangun dan menghampiri Indah. "Lu pasti bohong Ndah, gue yakin lu pasti masih ada rasa sama gue." Kata Rio seakan tak percaya dengan jawaban Indah.


"Tidak Rio. Itu semua tidak benar, aku sekarang tidak ada perasaan apapun ke kamu."


"Tapi setidaknya dulu lu pernah bilang ke gue. Kalau lu ingin cerai kan dengan Kak Rendi? Ini baca, ini kesempatan yang bagus buat elu." Kata Rio sambil menyerahkan satu lembar surat perjanjian di tangannya itu kemudian Indah membacanya.


"Mas apa ini?" tanya Indah kearah Rendi yang terdiam. "Bukankah dulu Mas yang kekeh tidak ingin kita bercerai dan memintaku berjanji untuk selalu di sampingmu. Tapi kenapa sekarang Mas ingin melepaskan ku? Apa..... Apa Mas sekarang sudah berubah pikiran?" tanya Indah dengan mata yang sudah becek.


"Tidak Ndah, aku tidak berubah pikiran. Aku tetap ingin mempertahankan mu. Tapi lihatlah." Katanya sambil memandang wajah adiknya, "Rio sangat mencintaimu, aku tidak mau jadi orang yang egois. Aku juga ingin melihatmu bahagia." Jawab Rendi dengan setulus hati.


"Lalu kamu pikir aku bisa bahagia dengan Rio?" tanya Indah lagi memastikan.


"Iya Ndah itu pasti. Gue bakal bahagiain lu, gue nggak bakal nyakitin lu seperti apa yang Kak Rendi lakukan." Sahut Rio meyakinkan Indah.


"Mas jawab aku!!" Kata Indah sambil menggeserkan wajah Rendi untuk menatapnya.


"Aku tidak tau, kalian yang akan menjalaninya," sahut Rendi namun tatapannya kini seakan kosong.


"Mas aku.... Aku ingin bahagia bersamamu." Sahut Indah tanpa ragu.


"Apa maksud lu Ndah?" tanya Rio.


"Mas..." Indah memegang kedua pipi Rendi dengan tangannya, "Apa sedikit saja kamu tidak ada perasaan apapun padaku?" tanya Indah dengan air mata yang sudah mengalir.

__ADS_1


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Note: Jangan lupa dukung selalu Author ya πŸ™πŸ™ lewat like, komen, vote dan gift. Terimakasih sudah membaca ❀️❀️ Love you.


__ADS_2