Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 20. POV Rizky - Mati Aja


__ADS_3

Air mata Rendi mengalir secara tiba-tiba, gue jadi merasa binggung. Apa ada hal lain yang membuatnya sedih?


"Pak Rendi, saya bawa foto Bayu anak Bapak. Ada foto istri Bapak juga." Ucap Dion seraya memberikan foto itu kearah wajah Rendi.


Rendi melihatnya dan tersenyum.


"Siapa namanya tadi?" tanya Rendi, wajah sedihnya berubah menjadi ceria. Dia menatap penuh cinta pada foto itu.


"Bayu Pak, Bayu Herma Pratama." Sahut Dion, dia terlihat begitu antusias memberikan foto itu pada bosnya.


"Ada namaku di belakangnya Dion?" tanya Rendi, nadanya begitu lemah lembut. Dia benar-benar mencintai anak dan istrinya.


"Tentu saja Pak, bukannya Bayu anak Bapak kan. Ini bisa Bapak pegang untuk pengobat rasa rindu."


"Aku nggak bisa memegangnya Dion." Sahut Rendi kembali menanggis.


"Apa yang lu katakan Ren? Ini kan cuma foto, nanti kalau lu sembuh. Gue akan ajak lu bertemu dengan anak dan istri lu." Gue mengambil foto dari tangan Dion dan memberikan padanya.


"Gue nggak bisa, tangan dan kaki gue nggak bisa di gerakkan." Ucapnya dengan sendu.


Apa maksudnya itu? Jangan bilang kalau Rendi mengalami lumpuh?! Gue langsung memegangi tangannya, tapi kenapa tangannya begitu lemas pas gue pegang. Gue juga meraba kakinya.


"Apa tangan gue lu bisa merasakannya?" Rendi menggelengkan kepalanya.


"Ada apa sebenarnya Ren, cerita sama gue?" Gue makin penasaran dengan kondisinya.


"Kata dokter tadi, gue mengalami kelumpuhan Riz." Jawab Rendi.


"APA?!" Sahut gue dan Dion secara bersamaan.


"Riz. Gue mau mati aja sekarang.... Tubuh gue sudah mati rasa, terlebih lagi wajah gue yang sudah buruk rupa. Gue nggak mau hidup seperti ini."


Gue memegangi bahunya, dan mengelus. "Apa yang lu katakan? Lu nggak boleh bilang seperti itu Ren. Lu akan sembuh, tenang saja." Gue mencoba menenangkannya. Rendi benar-benar merasa terpukul sekali.


"Tapi gue nggak mau hidup hanya menyusahkan orang lain Riz. Indah... Gue nggak mau dia tahu kondisi gue seperti ini, dia mungkin nggak akan menerima gue dengan wajah jelek dan suami lumpuh seperti gue ini Riz." Rendi lagi-lagi menanggis gue merasa tidak tega rasanya.


"Pak, Bapak jangan bicara seperti itu. Mbak Indah wanita yang baik dan mencintai Bapak. Dia tidak mungkin tidak menerima, Bapak jangan putus asa." Ucap Dion mencoba menenangkan.


"Kalaupun dia menerima ku, aku yang tidak bisa terima. Dia sekarang terlalu sempurna untukku Dion, aku tidak pantas dengannya, terlebih lagi Bayu. Aku tidak mau dia besar nanti di ejek karena punya ayah yang cacat dan buruk rupa sepertiku."


"Tapi Pak...." Gue memegang lengan Dion dan menariknya.

__ADS_1


"Rendi lu tenangkan diri dulu. Gue dan Dion akan cari jalan keluarnya, percaya sama gue ya. Lu akan kembali bersama Indah dengan wajah dan kondisi yang lebih baik." Gue seperti memberikan harapan padanya, tapi setidaknya Rendi merasa tenang.


Gue ajak Dion keluar dari ruangan Rendi dan duduk di kursi panjang, kami berdua berdiskusi. Setelah beberapa jam di pikirkan matang-matang akhirnya kita memutuskan untuk membawa Rendi terbang ke Korea, tapi hanya gue yang ikut menemani Rendi. Dion tidak gue izinkan ikut. Karena takut keluarga Rendi curiga juga.


Gue juga sempat browsing di internet, dan katanya di sanalah ahli bedah operasi plastik yang paling bagus. Semoga saja dokternya bisa merubah wajah Rendi menjadi tampan kembali.


Sebulan kemudian....


Walaupun kondisi Rendi masih lumpuh, setidaknya dia jauh lebih baik. Dia juga sudah bisa duduk dan sudah di izinkan untuk berobat ke luar negeri, gue juga sudah menentukan rumah sakit di Korea dan Dokter bedah profesional. Gue nggak mau kalau sampai muka Rendi jadi hancur berantakan lagi. Semoga saja wajah Rendi bisa tampan kembali, walau tidak tampan minimal tidak malu-maluin.


Gue berangkat dengannya ke bandara, Rendi gue pakaikan masker dan kaca mata hitam. Biar tidak ada yang mengenalinya, lagian siapa yang akan mengenalinya juga. Menurut gue tidak akan ada.


Gue juga mengajak Anna untuk ikut. Gue mendorong tubuh Rendi menggunakan kursi roda. Rendi bahkan belum cerita apa-apa tentang apa yang terjadi. Dia juga malah menjadi pendiam, dia ngomong hanya seperlunya.


Rumah sakitnya begitu besar dan alat-alatnya jauh lebih memadai, semoga ada titik terang.


Gue langsung masuk ke dalam dan mendorong tubuh Rendi menggunakan kursi roda. Gue melihat banyak artis-artis yang berdatangan juga. Mereka seperti artis idol. Gue menatap salah satu dari mereka yang benar-benar menurut gue sangat tampan, gue sampai minder.


Padahal gue juga nggak kalah tampan, tapi kulit mereka begitu putih bak kapur tulis. Mungkin di cubit sedikit saja langsung terlihat bercaknya, Gue juga lihat idol yang menurut gue sangat cantik. Dia benar-benar bening, mantap juga kalau bisa bercinta dengan artis Korea. Ah apaan gue ini, otak kotor gue tiba-tiba menjalar kemana-mana. Niat gue kan mau mengoperasi wajah Rendi, gue harus fokus dengan tujuan gue.


Gue langsung mengajak Rendi masuk ke dalam ruang operasi dan di bantu oleh perawat laki-laki, gue juga sudah mendaftarkan nya jauh sebelum datang ke Korea.


"Riz.... Lu yakin nggak wajah gue akan kembali normal, gue kok nggak yakin ya?" tanya Rendi, dia sudah berbaring di ranjang operasi. mungkin sebentar lagi operasinya akan di mulai.


Dia menatap langit-langit rumah sakit. Tak lama tiga Dokter datang menghampiri kita berdua, mereka sudah rapih mengunakan pakaian operasi wajahnya sudah tertutup rapat.


"Please, sir, wait outside. We will operate on Mr. Reymond's face soon." Ucapnya dengan bahasa Inggris.


(Silahkan Bapak tunggu di luar. Kami akan segera mengoperasi wajah Pak Reymond)


"OK Doc. I hope my friend's facial surgery goes well." Sahut gue.


(Baik dok. Semoga operasi wajah teman saya bisa berjalan dengan lancar)


"We will try to do our best for patients. You can help him with a prayer."


(Kami akan berusaha melakukan yang terbaik untuk pasien. Bapak bisa membantunya dengan do'a)


"Yes. Doc...." Gue mengelus pundak Rendi.


"Ren... Lu harus yakin, wajah lu mungkin tidak akan balik seperti semula. Tapi yang terpenting, lu bisa memperbaiki wajah lu jauh lebih enak di pandang. Selalu ingat Bayu dan Indah... Mereka menunggu lu kembali."

__ADS_1


Gue hanya bisa menguatkan dan meyakinkan Rendi, hanya ini harapan satu-satunya. Kalau sampai di titik ini wajah Rendi tidak bisa di perbaiki, entahlah apa yang harus gue perbuat.


"Iya Riz. Terima kasih.... Do'ain gue."


"Pasti Ren." Gue berjalan keluar ruangan itu dan menutup pintu, meninggalkannya bersama beberapa Dokter.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


^^^Jangan lupa tinggalkan jejak like ❤️^^^


__ADS_2