
Santi datang ke rumah sakit bersama Mawan dan Jojo, ia langsung menghampiri pintu ruangan Rio. Ingin segera masuk, tapi mendadak dicegah oleh Dido.
"Jangan masuk dulu, Bu. Masih ada Dokter didalam," cegah Dido seraya bangun.
Santi merasa dejavu, kejadiannya sama seperti tadi siang ketika datang bersama Wulan.
"Dokter memeriksa Rio lagi? Memangnya sampai sekarang dia masih muntah-muntah?" tanya Santi.
"Tidak, Bu. Hanya saja ... tadi Pak Rio jatuh pingsan lagi."
Deg......
Mata Santi dan Mawan terbelalak kaget.
"Jatuh pingsan lagi? Kok bisa?" tanya Mawan.
Santi melihat sekeliling ruangan itu, ia seperti mencari seseorang yang sekarang tidak ada.
"Wulan kemana?" tanya Santi.
"Sebenarnya tadi Pak Rio dan Nona Wulan sempat berantem, Bu ... Pak," terang Dido.
Mereka kembali membelalakkan mata.
"Berantem?! Berantem kenapa?" tanya Santi menyelidik.
"Awalnya saya tidak tau, tapi tiba-tiba Pak Rio memanggil saya untuk masuk kedalam. Dia meminta saya untuk mengantar Nona Wulan pulang. Tapi Nona Wulan menolak dan ...." Dido menceritakan setiap rincian perkataan Rio dan Wulan, jujur tanpa ada yang ditambah dan dikurangi.
Mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Dido, sungguh membuat emosi Santi memuncak. Kalau saja Rio saat ini tidak tengah pingsan, kedua pipinya sudah habis digampar oleh tangan Santi yang sudah gatal.
Rio ini benar-benar keterlaluan. Hanya masalah pakaian saja dia sampai berkata kasar dan menyakiti istrinya. Padahal aku juga membawa pakaian ganti, kenapa harus berantem segala?!
Dido bilang Wulan mengucapkan selamat tinggal?! Apa dia akan meninggalkan anakku, Rio?! Apa selama pernikahannya dengan Rio ... dia merasa begitu tertekan?!
Apa ini semua salahku?! Salahku yang memaksa Rio untuk menikahi Wulan?! Tapi ... menurutku, memang apa yang aku lakukan tidak salah.
Justru yang salah disini adalah Rio, dia tidak menghargai istrinya sama sekali. Astaga ... aku benar-benar malu sekali. Malu mempunyai anak yang tidak waras seperti Rio.
Apa aku harus memeriksa kejiwaannya juga? Sepertinya Rio ini benar-benar sudah gila. Akal sehatnya sudah tertutup dengan egonya sendiri.
Batin Santi.
Ceklek......
Dokter dan Suster itu keluar dari ruang rawat Rio.
"Dokter, bagaimana keadaan putra saya?" tanya Santi.
"Kondisinya sangat lemah, Bu. Dia benar-benar kekurangannya cairan dan tenaga," jelas Dokter.
"Apa dia sudah sadar?" tanya Mawan.
"Belum. Nanti setelah dia bangun, Ibu dan Bapak suruh dia makan dan minum obat. Karena perutnya sekarang kosong."
"Baik, Dok."
__ADS_1
"Yasudah ... kalau begitu saya permisi," ucap Dokter itu, berlalu pergi meninggalkan mereka.
Santi dan Mawan langsung masuk kedalam. Melihat Rio yang tengah berbaring sambil memejamkan mata.
Air mata Santi tiba-tiba lolos membasahi pipi, rasa kesal dan sedih pada putranya tercampur menjadi satu.
"Kita duduk dulu, Mah ...."
Mawan mengajak Santi untuk duduk di sofa, tangannya perlahan merangkul bahu dan mencium kening istrinya.
"Mah ... menurut Papah, kalau memang Meraka ingin bercerai. Kita turuti saja."
Deg.....
Mata Santi terbelalak, ia langsung mendongak kearah wajah Mawan.
"Papah ini bicara apa?! Mamah tidak mau mereka bercerai, Pah!"
"Iya ... Papah tau, tapi Mamah lihat keadaannya sekarang, lihat Rio ...." Mawan menunjuk Rio yang tengah berbaring, "Dia sakit begitu gara-gara Wulan."
"Kok gara-gara Wulan?! Sudah jelas Rio sakit dibuat sendiri!" dengkus Santi kesal.
"Tapi kalau Wulan tidak pergi ... Rio pasti baik-baik saja, Mah. Ini semua kan gara-gara wanita itu juga."
"Papah ... dia itu menantu kita! Wajar kalau Wulan marah dan pergi. Karena mulut Rio yang menyakitinya ... Mamah kalau jadi Wulan juga akan berbuat hal yang sama."
"Mamah ini, kenapa harus membela Wulan?! Yang anak kita itu Rio! Bukan Wulan!" seru Mawan tak terima.
Santi menghela nafas dengan gusar. Ia mencoba mengontrol emosi, karena Mawan saat ini ikut emosi. Dia tidak mau kalau sekarang malah dia dan Mawan yang berantem.
Gerutu Santi.
"Mending nanti setelah Rio sadar, kita tanya saja padanya. Apa mau bertahan atau ingin bercerai. Nanti Papah akan suruh Harun mengurus perceraian mereka," terang Mawan.
"Nanti Rio jadi duda dong, Pah?! Pernikahan mereka bahkan masih seumur jagung."
"Ya mau bagaimana lagi ... memang itu sudah terjadi."
Lagian memang Wulan tidak ada pantas-pantasnya dengan Rio! Rio pasti bisa cari wanita yang lebih cantik dan lebih baik dari pada si anak tukang bakso itu.
Batin Mawan.
Aku tidak mau Rio dan Wulan bercerai. Tapi bagaimana?! Wulan sepertinya benar-benar marah padanya.
Batin Santi.
Santi membuka resleting tas jinjing miliknya, mengambil ponsel untuk menelepon Wulan. Namun nomor Wulan sibuk.
Wulan sedang teleponan dengan siapa?! Kok nomornya sibuk?!
Batin Santi.
***
Sampainya Wulan dan Clara didepan rumah kontrakan, mereka langsung turun dari mobil taksi.
__ADS_1
Hari sudah menjelang Magrib, harusnya Wahyu sudah ada di kontrakan dengan gerobaknya. Tapi entah kenapa suasana kontrakan itu begitu sepi, bahkan seperti tidak ada siapa-siapa didalam.
Tidak ada gerobak dan pintu kontrakan tertutup rapat, bahkan barang-barang yang tadinya ada di luar juga tidak ada.
"Kaka, apa Ayah belum pulang?" tanya Clara seraya menoleh kearah Wulan.
"Kakak juga tidak tau, Sayang."
Tak lama ada seorang ibu-ibu datang menghampirinya, dia tetangga kontrakan Wulan.
"Kamu Wulan, kan?" tanyanya dengan tangan yang mengelus pundak Wulan. Ia merasa begitu pangling, dengan penampilan dan dandanan Wulan. Terlihat begitu cantik.
"Iya, Bu Lina. Oya ... Ayah kemana? Apa Ibu tau?"
"Ayah kamu bukannya sudah pindah?! Memangnya kamu tidak diberitahu?"
Deg......
Mata Wulan terbelalak kaget.
"Pindah?! Pindah kemana, Bu? Aku malah baru tau sekarang ...," ucapnya penasaran.
Kenapa Ayah pindah dan kenapa Ayah tidak memberitahuku?
Batin Wulan.
"Mungkin belum, soalnya dia baru tadi pagi pindahnya. Mending kamu telepon saja."
Wulan mengangguk ia segera mengambil ponselnya untuk menelepon Wahyu. Tidak menunggu waktu yang lama, dari sana sudah mengangkatnya.
"Halo Ayah! Ayah ada dimana?" tanya Wulan penasaran.
"Ayah ada di rumah Sayang, memang kenapa?"
"Rumah?! Rumah siapa? Aku sekarang ada di rumah kontrakan kita. Tapi Ayah tidak ada ...."
"Rumah baru maksud Ayah, maaf Ayah belum memberitahumu. Soalnya hari ini baru selesai membereskan barang-barang."
"Rumah baru?! Ayah membeli rumah?"
Setahuku Ayah tidak punya uang sebanyak itu, kok dia bisa membeli rumah?
Dapet uang dari mana Ayah?
Batin Wulan.
"Apa kamu mau kesini, Wulan? Nanti Ayah ceritakan."
"Iya, aku mau kesana. Ayah pindah kemana?"
"Nanti Ayah kirim pesan, Ayah kasih alamatnya. Kamu sama siapa? Apa sama Rio?"
"Tidak, aku hanya sama Clara, Yah."
"Yasudah, nanti kalian hati-hati."
__ADS_1
^^^Kata: 1020^^^