
"Dia hanya mencium Mamah. Dan menurut Mamah ... alasan dia datang ke rumah karena dia ingin bertemu si Kembar. Tadi Mamah sempat bertengkar dengannya karena dia menggendong Rafa. Dan setelah itu, dia memberikan Rafa pada Bibi kemudian menarik lengan Mamah. Membawa Mamah ke kamar tamu," terang Santi.
"Kurang aja sekali dia! Tanpa meminta izin dariku, dia sudah berani menggendong si Kembar!" geram Rio. "Tadi Rafa sempat menangis tidak? Saat dia menggendongnya?"
"Iya."
"Pantes, Rafa pasti takut sama wajah garangnya!" terka Rio penuh yakin.
*
"Mas Rio, Mamah ... alhamdulilah, akhirnya kalian sudah pulang. Bagaimana kondisi Papah?" tanya Wulan yang tengah berbaring di kasur, saat melihat Rio dan Santi masuk ke kamar.
Ia memang tidak melihat Mawan pingsan, tapi Bibi pembantu sudah memberitahunya.
Rio segera menghampiri tempat tidur bayi, melihat Rafa dan Raka tengah tertidur pulas. Segera ia mengecup kening mereka secara bergantian.
"Dua jagoan Ayah, kalian kangen sama Ayah tidak?" tanya Rio.
"Mah ...." Wulan mengangkat tubuhnya untuk duduk, perlahan ia menyentuh punggung tangan Santi yang berada di dekatnya.
"Tulang belakang Papah cedera, Wulan," jawab Santi pelan.
Wulan terbelalak. "Astaghfirullah ... kok bisa cedera? Bagaimana ceritanya, Mah?"
"Aku yang mendorongnya," seru Rio.
"Iya, Rio mendorongnya tadi," tambah Santi.
"Kok Mas Rio mendorong Papah? Memangnya kenapa?"
Rio menoleh pada Wulan dan menatapnya dengan tajam. "Memang kenapa kalau aku mendorongnya? Kau tidak terima?"
Wulan menggeleng cepat. "Bukan, aku hanya bertanya, Mas."
"Tidak penting, dia juga tidak kenapa-kenapa sekarang. Kau dan Mamah tidak perlu memikirkannya!" tegas Rio. Rio mendorong tempat tidur bayi itu keluar dari kamar utama.
"Mas Rio mau bawa si Kembar kemana?" pertanyaan Wulan langsung membuat Rio menghentikan langkahnya, namun ia tak menoleh.
"Ke kamarku dan Ayah, aku ingin bermain dengan mereka tanpa membicarakan manusia tidak penting itu!" cetusnya berlalu pergi.
***
Malam hari.
Berbeda dengan Wulan dan Clara yang tengah tertidur lelap dalam satu selimut, Santi justru tidak bisa tidur.
Ia sebenarnya sudah tidur dan terbangun lantaran mendengar Raka menangis, namun setelah bayi mungil itu berhasil ia tidurkan ke tempat tidurnya, Santi kembali berbaring di samping Clara yang berada di tengah. Mencoba menutup mata beberapa kali tapi tak kunjung tidur, pikirannya lari kemana-mana dan lebih tepatnya lari ke rumah sakit.
Santi menarik tubuhnya untuk bangun dan menuangkan air pada gelas. Setelanya, ia menenggak satu gelas itu sampai habis tak tersisa.
__ADS_1
"Mamah, kok Mamah belum tidur?" Wulan mendusin, ia melihat Santi seperti tengah melamun. Segera ia bangun dan duduk mendekatinya. "Mamah ada masalah?"
Santi menggeleng pelan. "Tidak," jawabnya berbohong. "Kenapa kamu bangun? Tidur lagi, Sayang." Santi tersenyum dan mengelus lembut lengan menantunya.
Wulan menatap intens wajah Santi, begitu banyak kecemasan pada wajah cantik yang sudah berkerut itu.
"Mamah mikirin Papah?" sebelumnya, Wulan sudah sadar sikap Santi semenjak pulang dari rumah sakit. Mertuanya itu pasti memikirkan Mawan yang berada di rumah sakit.
"Iya," lirih Santi.
"Mamah tidak telepon Papah atau Pak Jojo? Untuk tanya kondisinya sekarang?" tanya Wulan.
"Ini sudah malam dan Mamah tidak punya nomor mereka, Mamah 'kan ganti kartu sama ponsel." Alasan mengganti nomor dan ponsel lantaran Mawan terus aja menghubunginya. Santi melihat jam weker di atas nakas yang menunjukkan pukul 00.00, tepat tengah malam.
"Ya sudah. Besok Mamah jengguk Papah saja, supaya tidak terlalu mencemaskannya," usul Wulan.
Santi terdiam, memang itu keinginan hati kecilnya. Namun ... ia merasa takut jika bertemu dengan Mawan. Takut Rio sampai tau, ia pasti akan marah padanya.
***
Pagi hari di rumah sakit.
Mawan perlahan membuka matanya, rasa nyeri dan linu itu langsung menyerang pada pinggangnya dan seakan membuatnya kembali merintih kesakitan.
"Aaww!" tangan Mawan hendak menyentuh pinggangnya, namun tubuhnya terasa sulit untuk ia angkat walau hanya bergerak sedikit saja. Malahan menimbulkan rasa sakit teramat sangat. "Aaww, sakit sekali!" pekiknya.
Ceklek~
"Panggil Dokter! Pinggangku sakit sekali, Jo!" perintahnya dengan lantang sambil meringis.
"Baik, Pak."
Jojo berlari keluar untuk memanggil dokter dan tidak menunggu waktu yang lama, dokter laki-laki itu datang untuk mengecek kondisi Mawan.
Mawan sudah tengkurap dan terlihat begitu pasrah saat Dokter menyuntikkan obat pada pinggangnya.
"Kenapa pinggangku sakit sekali?" tanya Mawan.
"Bapak ini baru sadar dari kemarin?" Dokter berbalik bertanya.
"Iya."
"Pinggang Bapak mengalami cedera. Nanti siang Bapak bisa melakukan terapi untuk penyembuhan," jelas Dokter. Setelah selesai, Dokter dan Jojo membantu Mawan untuk membalik tubuhnya supaya terlentang.
"Cedera? Apa karena aku terjatuh?" Mawan seketika mengingat kejadian kemarin.
"Betul, Pak. Sekarang Bapak sarapan dan minum susu dulu. Supaya tubuh Bapak menjadi kuat," titah Dokter.
"Iya."
__ADS_1
Dokter itu pamit pergi dan tak lama seorang suster datang mendorong meja troli berisi bubur ayam dan segelas susu putih sampai di ranjang Mawan.
"Bapak mau saya suapi?" tawar Suster.
"Tidak usah! Memang aku anak kecil? Kau pergilah," usir Mawan dengan nada tinggi.
Setelah suster itu berlalu pergi, Jojo menghampiri Mawan dan duduk di kursi kecil. Ia meraih semangkuk bubur ayam itu.
"Mau saya suapi, Pak?" tawar Jojo.
"Aku ingin disuapi Santi, Jo," pinta Mawan dengan mata yang berkaca-kaca. Wajahnya terlihat begitu pucat.
"Tapi Bu Santi tidak ada di sini, Pak."
"Siapa kemarin yang membawaku ke rumah sakit? Apa hanya kau saja?" Mawan mengusap air matanya yang baru saja mengalir.
"Pak Rio dan Bu Santi."
Wajah sendu Mawan langsung berubah menjadi berseri, malah manik matanya kini berbinar-binar.
"Apa kau bohong?" meskipun rasanya sudah senang duluan, tapi Mawan takut kalau ini hanya akal-akalan Jojo saja.
"Benar, saya jujur." Dari mata Jojo, tidak tersirat kebohongan, dan memang ia jujur.
"Apa mereka sempat tau kondisiku?"
Jojo mengangguk. "Iya, mereka tau."
"Bagaimana sikap mereka?" tanyanya penasaran.
"Yang saya lihat ... Pak Rio biasa saja, Pak." Mawan langsung terenyuh mendengar ucapan dari Jojo. "Tapi kalau Bu Santi ... dia sepertinya mencemaskan Bapak." Ucapan tambahan dari Jojo membuat hatinya bersorak penuh dengan kegembiraan, Mawan menggembungkan senyum.
"Benarkah?" sekali lagi Mawan ingin memastikan dan Jojo kembali mengangguk. "Tidak sia-sia aku dipukuli dan sakit pinggang dong, Jo." Baru kali ini Mawan merasa sangat senang saat dirinya sendiri menderita. Padahal dulu, dia selalu senang melihat orang lain menderita.
"Bapak bahagia?" tanya Jojo menatap heran.
"Tentu saja. Apa lagi yang memukuliku Rio. Aku bahagia, Jo. Setidaknya ... dia sudah meluapkan rasa kesalnya padaku."
"Tapi sepertinya Pak Rio masih membenci Bapak."
"Biarkan saja, memang luka hati tidak mudah sembuh." Mawan menatap Jojo dengan tatapan kosong.
"Tumben Bapak bijak? Kok saya merasa aneh."
Tatapan kosong itu langsung menepis lantaran ucapan sang asisten.
"Cih!" Mawan berdecak. "Memang dulu aku tidak bijak? Aku 'kan bijak," ucapnya dengan penuh percaya diri. "Oya ... menurutmu, Santi akan datang menjengukku atau tidak?"
"Saya tidak tau, Pak."
__ADS_1
"Tebak saja dulu, Jo."
Jangan lupa like 💕