
"Iya, Papah benar."
"Maaf sebelumnya, Pak. Saya hanya ingin berpesan pada Pak Reymond. Kalau misalkan benar Pak Wahyu yang Bapak maksud itu adalah orang tua yang mengadopsi bayi, saya menyarankan untuk Bapak tidak memaksanya mengambil anak itu kalau dianya sendiri tidak mau. Dia sudah merawat anak itu sedari bayi sampai berumur 6 tahun, Pak ...," tegur Bu Susan.
"Kalau masalah itu, nanti saya akan rundingan padanya, Bu. Semoga saja Pak Wahyu dan Clara yang saya maksud, adalah orang yang sama," jelas Reymond.
Setelah menyelesaikan rasa penasaran mereka berdua. Kini keduanya pamit untuk pulang. Reymond juga mengirim pesan pada Dion, untuk mengirimkan donasi dari uang perusahaannya.
Sebelum sampai ke rumah, mereka membeli pesanan dari Indah terlebih dahulu.
***
Di rumah sakit.
Pagi hari, Wulan sudah dipindahkan pada kamar rawat VVIP nomor 101. Ia tengah berbaring dengan mata terpejam. Dahinya mendapatkan empat jahitan dan kini sudah berbalut kain kasa pada kepalanya. Punggung tangannya terpasang selang infusan.
Rahim Wulan sudah selesai dibersihkan, tinggal tunggu masa pemulihan. Janin yang berukuran biji kacang hijau itu juga sudah Rio kubur. Walau bagaimanapun, itu adalah calon anak pertamanya. Ia amat menyesali keteledorannya dalam menyetir mobil.
Pria tampan itu tengah duduk di kursi panjang berdua dengan Wahyu, didepan kamar rawat Wulan. Mereka diam membisu, tak berbicara sepatah katapun. Bahkan sekedar basa basi saja tidak.
Rio merasa sikap Wahyu sangat berubah padanya, itu terjadi sehabis keduanya pulang dari kantor polisi. Wahyu juga tidak memberikan syarat pada Rio dan memaafkan, atas apa yang menantunya perbuat. Entahlah, rasanya Wahyu sendiri bimbang dan terlanjur kecewa.
Rio merogoh ponsel pada saku jasnya, ia ingin menelepon Dido.
"Selamat pagi Pak Rio."
"Dido, kau kesini dan jual mobilku. Lalu tolong kau belikan mobil baru, antarkan ke rumah sakit Sejahtera," titahnya.
"Baik, Pak. Saya segera kesana. Oya, Bapak kemarin sudah bertemu Wulan?"
"Mau apa kau tanya-tanya?! Kau tidak berhak tau!" Rio mendengus kesal dan langsung mematikan sambungan teleponnya.
Ia menghela nafas dengan gusar.
Sepertinya aku memang harus mengganti mobilku, mobil itu sudah tiga kali menabrak Wulan. Aku tidak mau mencelakainya lagi. Tapi bukan sepenuhnya salah mobilku, tapi salahku. Ya ... karena mobil itu aku yang menyetir, jadi semuanya salahku.
Sedari kemarin, ia terus menyalahkan dirinya sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Wulan membuka matanya secara perlahan, ia merasa nyeri pada perut bagian bawah dan kepala. Manik matanya mengelilingi ruangan itu.
Untuk sekilas, ia mengingat kejadian kemarin dan pertemuannya dengan Rio. Tapi begitu samar dalam benaknya.
Apa kemarin aku benar-benar bertemu Mas Rio? Atau aku hanya mimpi?
Wulan menggeserkan kepalanya sedikit, sebelah kanan. Ada seorang Suster tengah mengecek selang infusan.
"Mbak Wulan sudah sadar, bagaimana keadaan Mbak sekarang?" tanya Suster dengan mengelus sekilas bahu Wulan.
"Saya kenapa sebenarnya, Sus? Dan perut saya terasa sakit." Tangan kirinya memegangi perut.
"Mbak habis tertabrak mobil dan Mbak mengalami keguguran."
Deg~
Mata Wulan membulat sempurna, ia terkesiap bukan main.
"Keguguran?! Apa maksud Suster? Memangnya aku hamil?"
"Iya, Mbak hamil. Baru empat minggu, Mbak yang sabar ya ...." Sister itu kembali mengusap-usap bahu Wulan, mencoba menenangkan wanita yang kini menatap dengan tatapan kosong. Ia begitu syok atas ucapan dari Suster tersebut.
"Tapi Mbak tenang saja, rahim Mbak baik-baik saja. Jadi Mbak bisa hamil lagi," tambahnya lagi.
Keguguran?! Aku sedang hamil?! Kenapa aku tidak menyadarinya? Tidak ada gejala apapun yang aku rasakan juga.
"Saya tidak tau, tapi dia yang menjadi wali Mbak. Namanya Rio Pratama."
Deg~
"Ri-Rio?" Wulan terlihat gugup mendengar namanya.
"Iya, benar Mbak."
Mas Rio?! Dia menabrakku dan membunuh anak kita.
Tidak, bukan anak kita. Tapi anakku, dia sendiri sepertinya tidak mau aku hamil. Iya, saat itu saja dia berbohong pada Mamah dan bilang aku sedang datang bulan.
Apa dia sengaja melakukan ini padaku? Apa dia sengaja menabrakku?
Aku tau kamu membenciku, tapi aku tak menyangka ... kamu bisa sejahat ini padaku, Mas.
Aku juga membencimu, Mas.
Tak terasa, renungan hatinya membuat air matanya mengalir deras. Wulan menangis sejadi-jadinya sambil menutupi wajahnya.
"Hiks ... hiks ... hiks."
Mata Suster itu membulat sempurna, ia kaget melihat Wulan menangis.
__ADS_1
"Mbak, apa yang sakit? Apa perlu saya panggilkan Dokter?"
Wulan menggeleng pelan.
"Mbak yang sabar ... sebentar, saya akan panggilkan Pak Rio." Tangan Suster sudah terlepas dari bahu Wulan, namun wanita itu segera memegangnya. Mencegah untuk Suster itu melangkah.
"Jangan ... jangan panggil pria yang bernama Rio! Aku tidak ingin bertemu dengannya! Aku hanya ingin bertemu Ayahku. Apa dia ada disini?!" wajah Wulan terlihat begitu panik.
"Ada, biar saya panggilkan." Wulan melepaskan genggaman tangannya, ia melihat Suster itu membuka pintu dan keluar.
Ceklek~
Suster menghampiri kedua pria yang masih duduk seperti orang asing.
"Bagaimana keadaan Wulan, Sus? Apa dia sudah sadar?" tanya Rio dengan cepat, setelah melihat kehadiran Suster.
"Iya, dia sudah sadar Pak."
Rio langsung bangun dari duduknya, ia begitu antusias. "Apa aku boleh masuk? Aku ingin menemui istriku, Sus."
"Dia tidak ingin bertemu Bapak, dia hanya ingin bertemu dengan Ayahnya, Pak." Suster itu melihat kearah Wahyu yang terdiam. "Bapak, apa Bapak adalah Ayahnya Mbak Wulan?"
"Iya, Sus." Wahyu langsung berdiri. "Saya boleh masuk?" ia menunjuk pintu kamar putrinya.
"Silahkan, Pak."
Wahyu tersenyum sekilas dan segera masuk kedalam kamar itu. Sedangkan Suster melangkahkan kakinya, berlalu pergi meninggalkan Rio yang berdiri mematung.
Asli, ia merasakan rasa sakit dari penolakan Wulan. Tapi Rio mencoba untuk memakluminya. Mungkin saat ini Wulan sangat sedih dan hancur, apalagi ia tau kalau semua itu ulah suaminya sendiri.
Wulan maafkan aku, aku sangat berdosa padamu. Tapi aku ingin bertemu denganmu, Wulan. Kenapa sampai sekarang kau tidak mau menemuiku?
Batinnya termangu, ia kembali duduk pada kursi panjang itu dan mengusap-usap wajahnya sendiri.
Ceklek~
Saat menyadari Wahyu masuk kedalam, Wulan dengan cepat menyeka air mata yang membasahi pipi. Menampilkan senyuman manis padanya, supaya ia tidak terlihat sedih.
Wahyu tau, yang Wulan lakukan seperti terpaksa. Tapi ia juga sama halnya melakukan apa yang Wulan lakukan sekarang. Tersenyum pura-pura bahagia.
"Bagaimana keadaanmu? Apa ada yang sakit?" tanya Wahyu seraya menghampiri dan duduk di kursi kecil sebelah tempat tidur.
"Aku baik-baik saja, Ayah. Oya ... bagaimana keadaan Clara? Apa dia sudah siuman?" walau dengan kondisi apapun, Wulan masih memikirkan keadaan adiknya. Ia begitu menyayangi gadis kecil itu.
"Dia baik-baik saja, tapi belum sadar."
Apa Ayah juga tau kalau aku keguguran dan penyebabnya adalah Mas Rio?
Batin Wulan.
^^^Kata: 1027^^^
__ADS_1