Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 106. Kau apakan Wulan?


__ADS_3

Wulan terkekeh melihat ekspresi wajah Rio yang begitu lucu. "Ah iya, enak Mas. Enak sekali, terima kasih Mas Rio telah membuatkan susu untukku," pujinya.


"Tuh Ayah, benarkan kataku? Aku bisa membuatnya dan Wulan bilang enak," ungkapnya dengan sombong pada sang mertua yang sempat meragukan kemampuannya.


Namun sayang, Wahyu tidak sama sekali menghiraukan ucapan Rio, ia lantas bangun dari duduknya, mengecup kening Wulan sebentar dan keluar dari kamar mereka tanpa sepatah katapun.


Rio membuang nafasnya dengan kesal saat melihat ayah mertuanya pergi, padahal ia juga ingin dipuji olehnya.


"Mas ... sini duduk, dari tadi Mas Rio berdiri terus," pinta Wulan seraya menepuk kasur sebelahnya.


Pintu kamarnya Rio kunci dan mematikan tombol lampu, hingga semuanya tampak begitu gelap gulita. Rupanya Rio ingin melancarkan aksinya sambil gelap-gelapan seperti ini.


"Lho, Mas ... kenapa di matiin? Bukannya kita kalau tidur dengan lampu yang menyala?"


Rio menyalakan senter pada ponselnya dan perlahan kaki itu melangkah, naik keatas kasur, mendekati istrinya yang masih duduk disisi ranjang. "Sekarang tidak lagi, apa lagi aku sedang menginginkannya."


"Mengingankan apa, Mas?" tanya Wulan seraya menoleh, wajah Rio hanya berjarak beberapa inci saja dengannya.


"Kenapa kau tanya Manis?" Rio perlahan membelai pipi istrinya, senter itu masih menyala dan Rio arahkan untuk menyoroti langit-langit kamar.


"Iya, memang aku tidak tau."


Cup ... cup ... cup. Kening dan kedua pipi itu langsung Rio kecup secara bergantian.


"Bercinta. Apa ada alasan lain? Hhmm?"


"Memangnya wanita hamil boleh bercinta ya, Mas?"


"Lho, bukannya kamu hamil sebelum kita bulan madu? Kita bahkan bercinta beberapa kali Manis." Jari jerami Rio perlahan melepaskan beberapa kancing piyama tidur Wulan, wanita itu hanya diam dan pasrah dengan apa yang Rio lakukan.


"Tapi, Mas. Memangnya Mas Rio tidak tanya dulu pada Dokter? Barang kali tidak boleh?"


Rio berdecak kesal, ia mengehentikan aksinya yang sudah berhasil melepaskan semua kancing. Lalu mengambil ponselnya untuk segera menelepon Dokter.


"Halo, selamat malam, Pak."


"Malam Dokter, maaf saya menganggu. Saya ingin bertanya, Dok."


"Silahkan, Pak."


"Apa saya boleh bercinta?"


"Bercinta?" Rio mendengar suara Dokter wanita itu tengah terkekeh dengan pertanyaan darinya. "Tentu boleh, bercinta dengan Mbak Wulan, kan?"


"Iyalah, Dok. Sama siapa lagi."

__ADS_1


"Boleh, Pak. Tapi tetap hati-hati ya ... ingat Mbak Wulan sedang hamil muda."


"Hati-hati itu dalam artian bagaimana, Dok?"


"Ya hati-hati, jangan terlalu kasar seperti biasanya. Intinya begitu saja, Pak."


"Oh, oke-oke. Terima kasih, Dokter."


"Sama-sama." Rio menutup sambungan telepon dan mematikan senter. Lantas menaruh ponselnya diatas nakas. Ia mendekati Wulan yang sudah berbaring dengan penglihatan samar-samar.


"Bagaimana katanya, Mas?" tanya Wulan saat Rio sudah berhasil menghimpit tubuhnya dari atas.


"Boleh, kataku juga boleh."


"Tapi kalau gelap begini--"


Cup~


Rio membungkam bibir Wulan yang terus saja protes, padahal harusnya ia pasrah saja. Lagian merasakan nikmatnya juga.


Lum mmatan demi lu mmatan, Rio lakukan pada bibir atas dan bibir bawahnya. Lidahnya menerobos masuk untuk bisa saling bertukar saliva, menyesap dan meneguknya dengan naf**.


Dengan hitungan detik saja, kedua tangan Rio sudah berhasil melepaskan benang yang menempel pada tubuh Wulan. Kedua tangannya sudah merayap dan menyentuh seluruh bagian inti yang mampu membuat tubuh Wulan meremang tak karuan.


"Apa wajah dan tubuhku terlihat?" tanya Rio saat melepas ciumannya.


"Maksudku jelas tidak? Aku ingin melepaskan pakaian. Nanti kau mual-mual lagi."


"Samar-samar, Mas."


"Tutup saja matamu kalau begitu."


"Tutup mata?"


"Iya, tutup mata sampai kita selesai bercinta. Aku tidak mau nanti saat di tengah-tengah kau malah muntah-muntah," tegur Rio.


"Oke, baiklah."


Wulan menuruti apa kata suaminya, ia perlahan menutup matanya dan seketika itupun, Rio langsung cepat-cepat melepaskan seluruh pakaiannya.


"Eemm ...." Rio membungkam bibir Wulan saat ia berhasil menerobos intinya dengan satu hentakan.


Cucuran demi cucuran mengalir pada tubuh polos Wulan, keringat mereka saling menyatu menjadi satu. Beberapa menit saja rasanya sudah terasa panas, lantas Rio mengambil remote AC didekat bantal dan menaikkan suhu.


Setelah cukup dingin, ia kembali melanjutkan aktivitasnya, sesekali Rio melihat wajah Wulan yang merasakan nikmatnya bercinta dengan mata tertutup. Ia jadi makin semangat dan terus mengguncang tubuhnya.

__ADS_1


***


Keesokan harinya.


Wulan mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, ia memindahkan tangan Rio yang berada pada perutnya. Sebelum bangun dari tempat tidur, Wulan menyempatkan untuk menoleh kearah suaminya yang tengah tertidur pulas.


Ia tak ingat kalau apa yang dilakukannya sekarang membuat dirinya mual. Wulan cepat-cepat menarik selimut untuk dililitkan pada tubuhnya yang polos. Ia menutup mulutnya, menahan apa yang akan ia keluarkan. Wulan bangun dari kasur dan menapakkan kakinya di lantai. Tapi kepalanya seakan berputar, ingin berjalan satu langkah saja rasanya berat dan lemas.


Tubuh Wulan merosot kebawah, lantas duduk bersimpuh dan mengeluarkan isi didalam perutnya, ia benar-benar sudah tidak tahan dengan perutnya yang bergejolak.


"Oek ... oek ... oek."


Cairan bening itu berceceran di lantai, kepala Wulan makin pusing, pandangan matanya begitu buram dan perutnya terasa sangat sakit.


Mendengar suara Wulan yang tengah muntah-muntah dibawah kasur, Rio langsung membuka matanya secara paksa. Ia mengangkat tubuhnya untuk bangun, turun dari tempat tidur, menghampiri istrinya yang sedang memegangi perut.


"Wulan, kau kenapa? Perutku sakit?" tanya Rio dengan wajah cemas, ia menyeka keringat yang baru saja mengalir pada dahi istrinya.


"Oek ... oek ... oek."


Lagi dan lagi Wulan memuntahkan isi dalam perutnya, lantas Rio mengangkat tubuh wanita itu dan membaringkannya kembali diatas kasur. Tapi karena melihat tubuh Rio polos, lagi-lagi Wulan terasa mual dan kembali muntah di lantai, tepat dibawah kasur.


"Oek ... oek ... oek."


Rio makin cemas melihat kondisi istrinya, ia cepat-cepat memakai pakaiannya yang ia pungut di lantai. Rio keluar dari kamar dan mengetuk-ngetuk pintu kamar Wahyu.


Tok ... tok ... tok.


"Ayah! Buka pintunya Ayah! Wulan mual-mual dan muntah, tolong aku!" pekiknya. Rupanya Rio lupa penyebab mualnya Wulan adalah dirinya sendiri.


Ceklek~


Wahyu membuka pintu dengan wajah bantalnya. Ia langsung berlari menuju kamar Wulan tanpa menghiraukan Rio yang berada didepan matanya.


Dilihatnya cairan itu berceceran di lantai, wajah Wulan juga sangat pucat dengan berbalut selimut menutupi tubuh polosnya. Wahyu menatapnya dengan tatapan nanar.


"Wulan, kamu kenapa? Sakit perutmu?" tanya Wahyu seraya berlari menghampirinya dan menyentuh kedua pipi Wulan.


"Aku tidak apa-apa Ayah, aku hanya mual sedikit."


"Mual? Apa mau di periksa? Ayah akan mengantarmu."


"Tidak usah Ayah, aku hanya mual melihat Mas Rio saja tadi." Wulan berbicara bertepatan dengan kedatangan Rio yang baru saja masuk kedalam kamarnya.


Wahyu yang ikut melihat kedatangannya, lantas segera berlari untuk menarik lengan Rio dengan kasar, mengeluarkannya dari kamar Wulan. Kerena takut kehadirannya akan membuat putrinya kembali mual.

__ADS_1


"Rio! Kau apakan Wulan? Kenapa dia bisa mual hanya karena melihatmu?" tanya Wahyu sambil melotot.


^^^Kata: 1077^^^


__ADS_2