
"Aku tidak mau Ayah."
"Kaka Lala ikut Bayu! Bayu mau ain!" Bayu mengerakkan kedua tangannya, wajah menggemaskannya seolah memohon sang tante untuk ikut.
"Tuh, kasian Dede Bayu. Kamu juga bisa main di sana, dari kemarin katanya ingin bertemu Dede Bayu dan Dede Caca, kan?" Wahyu masih berupaya untuk membujuk Clara supaya ikut, ia merasa tak enak pada Reymond yang sudah datang jauh-jauh demi mengajak putrinya pergi. Tentu ia juga merasa kasihan pada Mawan yang berada di rumah sakit.
"Hanya sebentar ... Kakak janji, kok," ungkap Reymond dengan wajah memohon.
"Ya sudah deh, tapi beneran ya, Kak?" Clara perlahan sudah meregangkan lengannya hingga berhasil melepaskan pelukan pada perut Wahyu.
"Iya, bener." Reymond mengulurkan tangannya, untuk bisa meraih bahu Clara dan pada akhirnya gadis kecil itu menurut.
Namun sebelum mereka pergi, ia menyempatkan untuk mencium punggung tangan Wahyu dan berpamitan.
*
Sampainya di rumah sakit dan setelah turun dari mobil, Reymond mengandeng tangan Clara dan Bayu, mengajaknya untuk berjalan menuju ruang rawat Mawan. Disusul oleh Susi yang tengah mengendong Caca, bayi cantik itu sudah berusia 5 bulan.
"Nanti kamu tidak perlu takut ketemu Papah, dia sekarang baik, Sayang," ucap Reymond seraya menggerakkan tangannya yang mengandeng tangan Clara. Gadis kecil itu tidak menjawabnya, ia diam saja.
Ceklek~
Reymond membuka pintu kamar inap Mawan dan terlihat Mawan tengah duduk setengah berbaring, ia sedang disuapi makan oleh Indah.
"Opa!!" panggil Bayu, bocah laki-laki itu melepaskan gandengan tangannya pada Reymond supaya ia bisa berlari menghampiri Indah yang tengah duduk di kursi kecil.
"Aduh Cucu Opa sudah besar, tambah tampan lagi." Mawan mencium kedua pipi Bayu saat Indah mendudukkan Bayu di tempat tidurnya.
"Iya, Opa. Bayu uda becal! Bayu 'kan punya ade." Bayu menoleh pada Caca yang berada di gendongan Susi.
Indah menaruh mangkuk bubur yang sudah habis di atas nakas, kemudian mengambil Caca yang kini berada dalam gendongan Reymond.
"Ini Caca katanya kangen sama Opanya," kata Indah seraya duduk kembali dan mendekatkan Caca supaya Mawan mampu mencium kedua pipinya.
"Tidak terasa Caca sudah besar." Mawan mengelus pelan rambut Caca yang tengah tersenyum padanya sambil menepuk-nepuk kedua telapak tangan. "Maafkan Opa Sayang, Opa jarang sekali menemuimu, Opa selalu sibuk dengan hidup Opa yang tidak jelas ini," keluh Mawan dengan sendu. "Apa setelah Papah menjadi duda nanti ... Papah bisa ikut tinggal bersama kamu, Indah? Bersama kamu, Reymond, Bayu dan juga Caca?" tanya Mawan dengan nada memohon, menatap wajah Indah.
Indah tidak langsung menjawab, ia menoleh pada Reymond yang tengah duduk di sofa bersama Clara. "Untuk sementara boleh ya, Mas? Kondisi Papah juga begini, Papah juga butuh hiburan supaya tidak stres karena status barunya," mohon Indah.
"Tentu boleh Sayang." Reymond mengangguk dan tersenyum.
"Reymond, apa kamu benci Papah?" tanya Mawan seraya menatap wajah menantunya dengan bola mata yang berkaca-kaca.
"Ngapain aku benci Papah, Papah 'kan tidak punya salah padaku," jawab Reymond santai.
__ADS_1
"Kesalahan Papah dimasa lalu, tolong maafkan Papah. Papah akan berusaha menjadi orang yang lebih baik lagi."
"Iya, Pah. Aku sudah memaafkan Papah kok."
"Terima kasih Reymond."
"Sama-sama."
Pandangan mata Mawan kini beralih pada Clara yang sedari tadi diam, duduk di sebelah Reymond.
"Clara, sini Sayang," panggil Mawan. Mungkin ini untuk pertama kalinya ia memanggil sebutan sayang untuk putri keduanya yang sempat tidak ia anggap.
Clara menoleh dan menggelengkan kepalanya, tanda menolak.
"Clara sini, sebentar saja." Sekarang giliran Indah yang memintanya dengan sedikit gerakan tangan.
Dengan ragu-ragu Clara berdiri dan menghampiri Indah, namun posisinya berdiri di belakang kursi yang Indah duduki.
Mawan meraih lengan Clara, sudah berhasil tersentuh namun gadis kecil itu segera menepisnya. Segera Mawan tarik kembali tangannya, tidak jadi menyentuhnya. Terlihat sekali gadis kecil itu tak mau dan malahan seperti tidak nyaman melihat Mawan lama-lama.
Mawan tersenyum tipis, ia memaklumi sifat Clara yang memang bersikap seperti itu akibat ulahnya sendiri. "Clara, maafkan Papah. Maafkan Papah selama ini yang tega tidak mengakui kamu. Kamu ... kamu adalah anak Papah, adiknya Kak Indah, Papah juga sayang padamu."
Clara diam saja, sama sekali tidak merespon apapun yang Mawan katakan.
***
Satu bulan kemudian.
Hari terus bergulir begitu saja, rasanya ini terlalu cepat untuk dilalui oleh Mawan. Sekarang dirinya dan Santi beserta anak-anaknya berada di pengadilan, melakukan sidang untuk kedua kalinya yang mungkin menjadi sidang terakhir.
Seperti sidang pertama yang dilakukan, Hakim lebih dulu mengetuk palunya tiga kali.
Tok ... tok ... tok.
Sidang kali ini begitu cepat, tidak seperti sidang pertama yang penuh perdebatan. Mawan sudah pasrah dan mencoba untuk menerima status barunya.
Perlahan ia menoleh pada Santi yang sama sekali tidak menoleh kearahnya.
"Selama satu bulan ini, apakah Anda sudah merenungkan semuanya? Tentang jalan yang akan Anda pilih?" tanya Hakim seraya menoleh kearah Santi.
"Sudah, Pak," jawabnya dengan yakin.
__ADS_1
"Bagaimana keputusan Anda?"
"Saya sudah yakin, kalau saya dan suami saya akan bercerai."
Tidak perlu ditanyakan lagi bagaimana sakitnya Mawan di sini, sungguh benar-benar sakit.
"Bagaimana dengan Anda Pak Mawan? Apakah Anda akan menerima keputusan dari Bu Santi?" sekarang giliran Mawan yang menjawab. Kalaupun tidak menerima___itu tidak akan memberikan efek apa-apa untuk sekarang.
"Saya menerima, Pak. Saya menghargai keputusannya," jawabnya lirih, ia memegangi dadanya yang terasa sakit.
"Baik, semoga jalur yang kalian tempuh adalah hal yang terbaik untuk diri kalian masing-masing. Sidang kedua dan terakhir saya tutup, saudara Hermawan dan saudari Susanti dengan ini saya menyatakan, kalian resmi bercerai," pungkas Hakim seraya mengetuk palu tiga kali, tanda akhirnya sidang.
Tok ... tok ... tok.
Setelah itu Hakim berlalu pergi meninggalkan tempat duduknya, disusul dua orang yang berada di samping kanan kirinya tadi.
Mawan langsung berderai air mata, air mata yang sempat ia tahan-tahan selama persidangan dimulai, dan akhirnya sekarang bisa pecah juga. Hati dan dadanya begitu terenyuh, menerima semua apa yang telah terjadi
Rasanya tak menyangka, bahkan dulu sempat mengira kalau pernikahannya dengan Santi adalah pernikahan terakhir. Namun takdir mengatakan hal lain, ia diharuskan untuk menjadi duda dua kali.
Melihat sang papah tengah tersedu-sedu, segera Indah berlari untuk memeluknya, mencium rambut sang papah.
"Papah yang kuat. Masih ada aku, Clara, Bayu dan Caca yang sayang sama Papah. Perpisahan bukanlah akhir dari segalanya, Papah harus ikhlas ... jadikan ini sebuah pelajaran dan hikmah untuk bisa Papah petik supaya menjadi pribadi yang lebih baik lagi." Kalimat penyemangat dan nasehat yang Indah berikan, sedikit membuat hati Mawan terasa hangat.
Sebab memang itu benar, perpisahan bukanlah akhir dari segalanya. Justru itu adalah lembaran baru seperti buku baru. Lembaran baru yang harus Mawan isi dengan hal yang lebih baik dari pada masa lal6u.
Perceraian memanglah sesuatu hal yang di benci Allah. Namun jika salah satu dari mereka sudah menyerah dan merasa tak sanggup untuk meneruskan rumah tangga, lebih baik akhiri saja.
Akhiri cukup sampai di sini.
...~TAMAT~...
Alhamdulilah, akhirnya Author bisa menyelesaikan novel ini.
Teruntuk kalian semua pembaca novel "Menikah Di Atas Perjanjian" terima kasih, terima kasih karena telah meluangkan waktunya untuk membaca cerita yang tidak seindah, tidak sebagus dan tidak sesempurna Author lain🙏🙏
Dari kisah Indah dan Rendi, berlanjut Indah dan Reymond, berlanjut Rio dan Wulan, dan yang terakhir adalah Papah Mawan dan Mamah Santi yang baru saja bercerai.
Like, Vote dan Komentar kalian adalah sesuatu penyemangat bagi Author, bahkan hanya kata "Lanjut" saja jika di ketik pada kolom komentar, itu adalah sesuatu yang luar biasa. Bisa membangkitkan semangat untuk nulis.
Kita bisa ketemu lagi di novel sebelah, dengan judul "Terjerat Cinta CEO Nakal" silahkan mampir bagi yang belum mampir.
__ADS_1
Sayang kalian banyak-banyak😘❤️