
"Kenapa menangis?" tanya Rio seraya mendekati Wulan, menyeka air mata pada kedua pipi istrinya.
"Aku kesal sama Mas Rio," lirihnya.
"Kesal kenapa? Aku salah apa?" tanyanya tanpa dosa.
"Ya sudah, Ayah tinggal sebentar ...." Wahyu mengusap bahu menantunya sekilas. "Kalau kamu mau bercinta, bercinta saja. Tapi hati-hati jangan buat Wulan sakit, ya?" tegur Wahyu.
Rio tersenyum dan mengangguki ucapan dari Wahyu, lantas pria tua itu berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Ayah sama saja, tidak ada yang mengerti. Aku belum mau melahirkan masa harus dipaksa?' batin Wulan.
Rio mengangkat tubuh Wulan untuk duduk dan perlahan ia mencium kening istrinya. "Jadi kau tidak mau bercinta denganku? Kau menolak?"
"Bukan menolak, Mas. Tapi 'kan kita sudah bercinta tadi pagi. Dan alasan Mas Rio mengajakku bercinta bukan karena Mas Rio menginginkannya, tapi karena ingin cepat-cepat aku melahirkan," terang Wulan.
"Kata siapa aku tidak mau? Aku juga mau." Rio melepaskan pelukannya dan memegangi kedua pipi istrinya. "Bercinta 'kan enak." Rio menarik turunkan alisnya, seakan menggoda Wulan.
"Kalau setelah kita bercinta tapi aku belum mau melahirkan juga bagaimana?" keluh Wulan.
"Ya tinggal bercinta lagi, apa susahnya," jawabnya santai.
"Ih! Mas Rio!" Wulan mendengus kesal dan memalingkan wajahnya, namun sikapnya itu membuat Rio bergelak tawa.
"Hahahaha ... kau ini kenapa, sih? Sensitif sekali, memangnya kau tidak kasihan padaku? Kalau nanti kau sudah melahirkan ... aku akan puasa tidak mengajakmu bercinta." Rio merayu sambil duduk didekat istrinya, ia juga mendekapnya dari belakang. Namun dekapannya itu mengarah pada dua gunung kembar istrinya, meremmasnya secara perlahan. "Ini juga, nanti aku akan memberikan pada si Kembar."
"Ya 'kan mengalah pada anak sendiri, Mas."
"Ya berbagi dong sama Ayahnya." Rio membuka satu persatu kancing dress istrinya yang berada di atas dada. Tiga kancing itu terlepas dan Rio menarik bra istrinya ke atas. Kedua telapak tangan Rio berhasil mengenggam dan memilin pucuk dua gundukan itu, hingga membuat tubuh Wulan meremang tak karuan.
"Ah ...," desah Wulan.
"Enakkan Manis? Apa kau menginginkannya?" bisik Rio seraya menciumi rambut istrinya.
Wulan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Setelah mendapatkan persetujuan, lantas Rio segera menarik dress istrinya ke atas, melucuti tubuh istrinya hingga polos tanpa benang.
"Kalau ada orang yang masuk bagaimana?" Wulan menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
"Siapa yang masuk, sih? Ayah akan menjaga di luar." Rio bangun dan melangkahkan kakinya menuju pintu, ia menarik hordeng untuk menutupi sebagian kaca pada pintu tersebut. Setelahnya, Rio kembali menghampiri Wulan sambil melucuti satu persatu pakaiannya. Ia jatuhkan di lantai.
Tubuh Rio sudah naik ke atas tempat tidur dan duduk menyandar pada sisi tempat tidur Ia mengelus rambut istrinya.
__ADS_1
"Mau pakai gaya apa?" tanya Rio.
"Terserah Mas Rio."
"Aku di atas saja, ya? Biar kau tidak capek."
"Iya."
Wulan perlahan membaringkan tubuhnya dengan posisi terlentang, segera Rio menyibak selimut istrinya. Ia membuka kedua paha istrinya dengan lebar-lebar seraya membelai inti tubuh istrinya.
"Tadi Dokter periksa apa sih? Kok melihat ke sini?" pandangan mata Rio masih memusat pada inti tubuh istrinya.
"Ya 'kan memang jalan untuk melahirkan lewat situ, Mas. Mas Rio ini aneh."
Rio tersenyum. "Oh iya, aku lupa." Ia menekan jari tengahnya ke dalam sana, menarik turunkan dengan ritmen pelan.
"Ah ...," desah Wulan.
Rio mempercepat jari tengahnya sambil memandangi inti tubuh kenikmatan itu. Ia menelan salivanya dengan kasar.
Wulan memmeras bantal dengan tubuh yang meliuk-liuk. "Mas hentikan, ayok mulai saja," pinta Wulan dengan wajah memerah, ia mulai bergairah oleh sentuhan tangan suaminya.
Rio mengangguk. Ia menjilati area itu sebentar sebelum mendorong miliknya untuk melakukan penyatuan.
"Mas ... kok begini? Katanya aku berbaring saja?" protes Wulan.
"Aku susah untuk menciummu kalau kau berbarin. Aku juga takut menekan perutmu, Manis." Rio meremmas kedua bokong istrinya dan menarik turunkan, memandu Wulan untuk memimpin. "Ah ... begini juga enak, kan?"
Wulan mengangguk samar, kedua tangannya memegangi kedua bahu suaminya.
"Ah ... ah!" Rio mempercepat pengendalian bokong Wulan.
"Mas ...," desis Wulan sambil merem melek.
"Apa Manis? Mendekatlah, aku mau menciummu." Rio sudah memonyongkan bibirnya, memberi kode untuk mengajaknya berciuman.
Wulan segera mendekatkan wajahnya, menempelkan bibirnya pada bibir Rio.
Cup~
Rio dan Wulan saling memagut bibir mereka, membelitkan lidah keduanya supaya saling bertukar saliva.
Remasan pada bokong dan gempuran dari bawah membuat Rio mendekati titik terenak dalam bercintanya. Ia menekan lebih dalam miliknya, mendorong pertumpahan larva panasnya untuk masuk ke rahim istrinya.
__ADS_1
"Aaahhh ...."
"Aaahhh ...."
Mereka saling mendessah secara bersama dan memeluk tubuh satu sama lain. Keringat dan nafas mereka beradu jadi satu.
"Cepat lahir ke dunia Sayang, Ayah menunggumu," ucap Rio sembari mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
Setelah beberapa menit, mereka saling melepaskan diri dari pelukan. Namun masih dengan posisi memangku, Rio juga belum mencabut miliknya pada milik istrinya.
"Bagaimana sekarang? Apa yang kau rasakan?" tanya Rio.
"Uh!" desis Wulan seraya memegangi perut, ia merasakan sesuatu pada perutnya.
"Kenapa kenapa? Apa yang sakit? Kau mau melahirkan?" Rio sudah cemas duluan, ia bahkan sudah menurunkan kakinya ke lantai.
"Tidak, Mas. Aku merasakan mereka menendang tadi." Wulan tersenyum dan mengelus perutnya.
Rio ikut-ikutan mengelusnya dan merasakan tendangan salah satu anaknya. Tendangan itu sangat terasa sekali, hingga membuat Rio gemas. "Mereka pasti sudah tidak sabar ini, tidak sabar mau bertemu Ayahnya yang tampan."
Rio menciumi perut buncit yang sedang dinanti-nanti segera kempes itu. "Ayok keluar dong Sayang, sampai kapan kamu di dalam terus? Kamu tidak mau digendong sama Ayah, ya?" pertanyaan terakhir Rio menghentikan aksi tendangan mereka, Rio meraba seluruh permukaan perut istrinya. Tidak merasakan apa-apa lagi.
"Lho, kemana mereka? Kok tidak menendang lagi?" tanya Rio sedih.
"Mereka sepertinya marah, Mas."
"Marah? Kok bisa? Kenapa memangnya?"
"Mas Rio terlalu memaksa mereka untuk keluar, padahal belum waktunya."
"Kata siapa? Sebentar lagi keluar kok, mereka hanya sedang membuatku penasaran saja." Rio tersenyum tipis, ia lagi-lagi merasa percaya diri dengan tebakan yang belum pasti terjadi itu.
"Uh!" lenguh Wulan, ia kembali memegangi perutnya. Ia mengangkat tubuhnya dari pangkuan Rio, lantas turun dari tempat tidur.
"Kenapa? Kenapa dengan perutmu? Mau melahirkan sekarang?" Rio ikut beranjak dari tempat tidur dan menghampiri Wulan yang tengah memakai kembali pakaiannya.
"Aku mules." Wajah Wulan seperti tengah menahan sesuatu.
Melihat hal tersebut, sungguh membuat Rio panik. Ia langsung memungut celana bahan miliknya, memakainya tanpa CD. Setelahnya, Rio berlari menghampiri Wulan yang baru saja masuk ke kamar mandi. Ia ikut masuk ke sana.
"Kenapa Mas Rio masuk ke dalam?" tanya Wulan tak terima dan berwajah kesal, ia tengah duduk di kloset.
Jangan lupa like 💕
__ADS_1