
"Eemm ... bagaimana kalau begini saja." Mawan memencet layar pada ponsel yang sedari tadi ia pegang, lalu memperlihatkan foto-foto wanita cantik dan seksi pada Rizky. Mereka semua adalah 10 top model di kantornya. Mawan tau kelemahan Rizky, yaitu seorang wanita. "Kau pilih diantara mereka, nanti setelah kau dan Rio selesai meeting, kau bisa berkencan dengannya."
"Om nyogok?" tuduh Rizky seraya mengerutkan kening.
Mawan terkekeh. "Bukan nyogok, ini imbalan terima kasih padamu, jika kau mau membantu Om."
Rizky menggeser-geserkan foto pada galeri di ponsel Mawan, nampaknya ada yang pencuri perhatian dari beberapa foto wanita didalam sana.
"Kalau sekedar berkencan aku tidak mau deh, Om." Rizky menggelengkan kepalanya, sok jual mahal.
"Kau ajak kemanapun dia, pilih saja salah satu. Mereka tidak akan menolak. Nanti aku yang bilang sekaligus membayarkan untukmu."
"Tapi mereka 'kan model, bukan wanita panggilan. Mana bisa kayak gitu? Nanti pas aku tiduri dia tidak mau," keluh Rizky tak percaya.
"Tidak akan. Mereka kerja di kantorku, mereka pasti menurut. Kau tenang saja." Mawan mengelus bahu Rizky dengan lembut, usahanya tidak mau gagal kali ini.
"Eemm ... yasudah deh, aku pilih yang ini." Rizky memperlihatkan layar ponsel Mawan pada sang pemiliknya. Lantas, kedua pria tua itu membulatkan netranya. Foto yang dipilih Rizky adalah foto Mitha.
"Kecuali yang itu, Riz. Jangan dia," sanggah Mawan.
"Lho kenapa? Katanya aku suruh pilih saja, dia cantik dan masih muda. Rasanya akan nikmat nanti, Om." Otak mesum Rizky langsung berkelana, ia sudah membayangkan yang tidak-tidak.
"Itu putriku, Rizky. Jangan kau tiduri dia," ucap Aji tiba-tiba yang membuat lamunan Rizky buyar seketika.
Hanya Rio yang boleh meniduri putriku.
"Oh, maaf-maaf. Putri Pak Aji juga seorang model juga, ya?"
"Iya, kau pilih yang lain. Jangan dia, Riz. Dia masih gadis," balas Aji lagi.
Rizky kembali menggeser layar ponsel dan ia berhenti pada wanita berambut pirang sebahu, seksi dan cantik. "Yang ini deh, bagaimana?"
"Oke." Mawan mengangguk.
"Tapi bilang juga padanya, Om yang bayar, ya? Jadi uangku aman."
"Iya, kau tenang saja. Sekarang kau harus menuruti ucapanku, ya?"
"Iya, Om."
Mawan mulai bercerita hal apa saja yang harus Rizky perbuat untuk bisa membawa Rio bertemu dengannya. Tapi ia sama sekali tidak mengatakan rencana busuknya, supaya tetap aman.
Rizky mengangguk-angguk dan sepertinya ia sudah paham. Yang terpikir dalam benak Rizky hanyalah ingin membantu, membantu menyatukan anak dan ayah yang bertengkar.
Namun tidak dipungkiri, ia juga senang dengan imbalannya yang Mawan berikan. Kapan lagi dirinya bisa bercinta dengan seorang model top di perusahaan Mawan, yang terkenal akan kecantikan dan keseksiannya. Membayangkannya saja Rizky sudah menelan ludah, apalagi jika sudah berada didepan mata? Rizky benar-benar tidak sabar.
Intruksi dari Mawan sudah selesai, sekarang giliran Rizky menghubungi Rio. Satu panggilan saja langsung diangkat oleh pria tampan di seberang sana.
__ADS_1
"Halo, Kak."
"Rio, besokkan kita ada meeting, bagaimana acara meetingnya malam ini saja?" tawar Rizky. Tentunya Mawan dan Aji ikut mendengarkan percakapan mereka berdua, karena panggilan itu Rizky speaker.
"Ih kenapa? Aku tidak mau lah," kilah Rio.
"Kenapa tidak mau? Sekarang saja, gue besok ada urusan soalnya. Lu mau, ya?"
"Yasudah, kalau begitu undur saja meetingnya, Kak. Aku tidak masalah."
"Tidak bisa, gue butuh sekarang. Proyek kita akan louncing tahun depan, mangkanya harus dibuat mulai sekarang. Kita hanya lihat gambar dekorasinya saja kok, nggak akan lama."
Rizky dan Rio tengah menjalin kerja sama membuat bangunan pusat perbelanjaan di pusar kota, tentunya itu juga menguntungkan untuk kedua belah pihak.
"Tapi aku sudah pulang ke rumah, aku malas Kak. Aku juga capek mau istirahat." Rio sepertinya enggan menerima ajakan dari Rizky.
"Kan gue bilang sebentar, lu ini tuli, ya?" Rizky juga tidak mau kalah.
"Riana saja deh yang nemenin Kakak, Kakak mau ketemu dimana?"
"Nggak bisa! Pokoknya gue mau lu yang dateng! Gue tunggu di Restoran Pesona jam 8 malam, kalau lu nggak dateng, kerjasama kita batal!" ancam Rizky seraya menutup sambungan telepon.
"Sekarang apa lagi, Om?" tanya Rizky pada Mawan.
"Kau pulang saja, mandi dan siapkan untuk meeting kalian. Dan ingat pesanku ini." Mawan memperlihatkan jari telunjuknya yang terangkat didepan wajah Rizky, mata Rizky memusat pada jari telunjuk itu. "Kau bersikaplah seperti biasa, jangan tanya-tanya masalah aku dan dia. Dan juga jangan kasih tau Reymond maupun Santi, kau mengerti?"
Mawan berdiri bersama Aji dan Rizky. Tangannya kembali mengusap-usap bahu Rizky.
"Nanti kita ketemu di Restoran," kata Mawan. Saat mereka berada di parkiran.
"Iya, yasudah aku duluan, Om." Rizky berlalu pergi menuju mobilnya dan masuk.
Mawan dan Aji juga masuk kedalam mobil.
"Selanjutnya apa lagi, Ji?" tanya Mawan.
"Sekarang giliran Mitha. Sebentar, saya telepon dia dulu ya, Pak." Aji mengambil ponsel pada saku jasnya untuk menghubungi anaknya dan tak lama panggilan itu tersambung.
"Halo, Pih."
"Mitha, ada berita bagus untukmu, Sayang," kata Aji dengan senyuman yang terukir dengan indah.
"Apa itu, Pih?"
"Rio akan menjadi milik kamu sebentar lagi."
"Apa? Serius, Pih?" suara Mitha terdengar nyaring dan penuh antusias.
__ADS_1
"Iya, tapi kamu harus pakai pengorbanan untuk mendapatkannya. Kamu mau, kan?"
"Apa itu?"
"Kamu sekarang pesan kamar Hotel yang dekat dengan Restoran kita, nanti kau tunggu kedatangan Rio nanti malam. Kau jangan buat kecewa dia, berikan apa yang nanti dia minta ya, Sayang?"
"Maksud Papih aku dan Pak Rio akan--"
"Jangan panggil Bapak lagi, panggil dia Mas Rio. Sebentar lagi dia akan menjadi suamimu," sela Aji memotong ucapan anaknya.
"Bagaimana istrinya nanti, Pih? Apa Mas Rio mau menceraikannya?"
"Jangan pikirkan istrinya, kita akan menyingkirkan dia setelah kamu dan Rio menikah."
"Tapi, aku takut Mas Rio menolakku. Dia sepertinya tidak suka denganku, Pih."
"Tidak akan, kau tenang saja. Papih dan Pak Mawan yang akan mengurusnya. Nanti malam saat di kamar Hotel, kau pakai pakaian yang seksi. Biar Rio tergoda denganmu, nanti Papih yang belikan." Sekarang Aji memberikan ide brilian pada anaknya.
"Iya, Pih. Terima kasih, aku sayang Papih."
"Papih juga sayang kamu."
Setelah panggilan telepon itu terputus, Mawan melajukan mobilnya menuju Restoran.
***
Malam hari di rumah Wahyu.
Keluarga hangat itu tengah menyantap menu makan malamnya, duduk lesehan beralaskan tikar. Ada ayam kecap, tempe goreng dan capcay.
Semenjak Rio tinggal bersama Wahyu, ia merasa menu makannya menjadi enak. Karena baik Wulan dan Wahyu, mereka selalu memikirkan menu apa yang kira-kira cocok untuk lidah Rio. Mereka tak ingin, selama Rio tinggal di rumahnya, Rio kehilangan selera makan.
"Rio, kamu mau pergi kemana? Kok tumben pakai baju rapih?" tanya Wahyu disesi makannya. Ia memperhatikan Rio yang mengenakan celana jeans panjang berwarna hitam dan kemeja biru lengan pendek. Bisanya kalau ada di rumah dan malam hari, menantunya itu paling hanya memakai kaos polos dan celana boxer. Rasanya sedikit berbeda saja dalam penglihatan Wahyu.
.
.
.
.
.
Waduh, Rio mau kemana nih? Jangan-jangan dia mau pergi ke Restoran 😢
Jangan lupa like 💕
__ADS_1