
Mendengar ucapan dari Dion, Melly langsung mengangguk dan dengan cepat dia meraih bagian badan mobil, namun celana bahan yang dia kenakan ditarik oleh salah satu orang itu. Dion mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Melly, dan untung saja berhasil.
Brekkkkk.....
Tapi tidak dengan celananya yang tertarik paksa bahkan robek. Tapi syukurlah Melly selamat masuk ke mobil dan menutupnya.
Dion langsung menancapkan gas, dan memberikan jas yang ia kenakan. "Pakai ini." Ucapnya memberikan.
Melly langsung menerimanya, dan menutup kedua paha mulus yang terlihat, "Terima kasih.... Pak Dion." Ucapnya dengan nada tersengal-sengal. "Kalau tidak ada Bapak saya tidak tahu akan jadi apa." Ucapnya mengelap keringat di dahi.
Kemeja putih yang ia kenakan bahkan basah kuyup hingga terlihat cetakan bra di dalamnya, membuat Dion menelan saliva nya, dan berusaha fokus menyetir.
"Pak. Apa Bapak punya air mineral?" tanya Melly.
"Tidak ada. Nanti saya belikan di depan."
Dion membeli air minum dingin untuk dia dan Melly di depan minimarket dan membeli beberapa roti dan cemilan. Sementara Melly sudah mengganti celananya dengan celana kolor panjang punya Dion, karena pas banget Dion tadi pulang kerja sekalian mengambil pakaian habis dia loudry.
"Nih Mell." Ucapnya menyerahkan.
"Terima kasih Pak." Jawabnya yang langsung menenggak satu botol penuh.
"Mell harusnya kamu segera punya suami, biar ada yang menjagamu." Kata Dion tiba-tiba.
Melly tersenyum kecil. "Mana ada yang mau dengan wanita seperti saya Pak." Ucapnya menurunkan pandangan.
"Maksudmu? wanita seperti kamu bagaimana? Kamu kan cantik dan pintar. Masa tidak ada pria yang suka denganmu. Apa mungkin kamunya saja yang pemilih?"
Entah mengapa perkataan mereka menyudut ke arah pribadi. Padahal selama setahun mereka bekerja di bawah Rendi, yang selalu mereka obrolkan hanya masalah kerjaan. Tidak lebih dari itu.
"Bapak pasti sudah tau, bagaimana perlakuan Pak Andra kepada saya."
"Iya saya tau dia sangat genit sama kamu, mangkanya saya saranin kamu cepat punya suami Mell."
"Dia bukan cuma genit saja, tapi dia sudah....."
__ADS_1
Melly menghentikan ucapannya, itu membuat Dion makin penasaran. "Sudah? Sudah apa Mell?" Melly tak menjawabnya.
.
.
.
.
.
Dion mendekatkan tubuhnya dan memegang kedua lengan Melly. "Apa dia juga sudah memperkosa mu Mell?" Pekiknya.
Melly duduk dalam diam, namun matanya tiba-tiba saja berair.
"MELLY JAWAB SAYA!!" Pekik Dion seraya menggoyangkan lengan Melly.
Melly mengangguk pelan kemudian menanggis, dia menutup seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Jdarrrrr..... Mata Dion langsung terbelalak.
Seluruh tubuhnya terasa lemas, dia dengan refleks menyenderkan punggungnya di kursi mobil, dia meraih botol air dan menenggaknya sampai penuh. Kemudian menjalankan lagi mobilnya, ada perasaan kesal dalam lubuk hatinya.
Melly mengelap seluruh air matanya, "Kita mau pergi kemana Pak?" tanya Melly, melihat seisi jalanan yang bukan mengarah ke arah apartemennya.
"Lapor polisi."
"Tidak usah Pak.." Ucap Melly mencegah.
"Kenapa tidak usah, laki-laki bejat seperti dia harusnya masuk ke penjara." Umpatnya.
Dion melajukan mobilnya dengan gas full sampai mereka tiba di kantor polisi. Dion membuka sabuk pengaman dan hendak keluar mobil namun lengannya di hentikan oleh Melly.
"Tunggu dulu Pak... Saya akan ceritakan kejadiannya," seru Melly mencegah.
__ADS_1
Dion menepis tangan Melly dan membuka pintu mobil. "Tidak perlu. Kau ceritakan saja nanti di dalam."
Dion sudah menurunkan kakinya keluar mobil. Dia sudah hampir bangun dari duduknya, namun Melly mendekapnya dari belakang. "Pak saya mohon... Bapak dengarkan dulu cerita saya." Ucap Melly memohon.
Dion menutup lagi pintu dan duduk. Dia mengambil ponselnya dan berkata. "Oke, coba ceritakan."
🍁POV MELLY🍁
Beberapa tahun yang lalu, dimana aku pertama kali bekerja dengan Pak Andra di kantornya. Ah aku ralat, maksudku di kantor Almarhum Ayahnya Pak Rendi.
Saat itu aku baru bekerja satu bulan sebagai sekretaris, dan malam harinya aku di telepon oleh ibuku. Dia bilang, kalau dia terus saja di datangi oleh para rentenir. Sebenarnya itu bukan salah ibuku. Tapi ayahku dalang dari semuanya, dia seorang pemabuk dan suka berjudi. Dia selalu meminjam uang pada siapapun untuk judinya.
Sampai akhirnya dia masuk penjara, tapi, imbasnya kepada ibu dan satu adik perempuanku yang masih duduk di bangku SMP. Rentenir itu terus menagih hutang, kalau tidak, salah satu dari mereka ingin menjual adik perempuanku sebagai kupu-kupu malam.
Aku binggung harus bagaimana? Hutangnya berbunga hingga mencapai 75 juta. Aku adalah orang perantauan di Jakarta, yang tidak mempunyai sanak saudara untuk di mintai bantuan. Aku juga terlahir dari keluarga tidak mampu, saudara di kampung juga tak ada yang mau membantu. Apa lagi mereka yang sudah tau ayahku yang punya kebiasaan buruk.
Sampai akhirnya aku nekat mencuri uang dari brangkas nya Pak Andra.
Beliau sedang pergi ke luar kota selama dua Minggu aku berfikir itu kesempatan emas buatku. Besoknya aku mengambil uang 75 juta, dan di dalam berangkas juga banyak uang sekitar ratusan juta lebih. Aku mengira kalau nanti aku ambil 75 juta, itu tidak akan ketahuan.
Setelah berhasil mendapatkan uang, aku langsung segera berhenti kerja. Dan pindah kossan, tapi sebulan kemudian dia malah menemui ku di kossan ku yang baru, tepat tengah malam
Tok... Tok... Tok. Bunyi suara ketukan pintu di kossan. Aku mendusin, dan mendengar ketukan pintu yang begitu keras. Tapi aku tidak berani untuk membukanya, sampai akhirnya beberapa kali orang itu mengetuk pintu lagi.
Tok... Tok... Tok. "Melly aku tau kau di dalam! Cepat buka pintunya." Pekik orang dari balik pintu, dan suaranya sudah jelas bahwa dia adalah Pak Andra.
Aku semakin cemas dan ketakutan, keringat di seluruh tubuhku seakan keluar. Apa aku benar-benar sudah ketahuan mencuri? Ah bodoh. Benar-benar sial, rupanya dia sudah tahu lewat CCTV ruangannya, kenapa aku bisa seceroboh ini
Tok... Tok... Tok. "Melly kurang ajar buka pintunya!" Pekiknya lagi sampai akhirnya.
BRAKKK.... Salah satu orang itu berhasil mendobrak pintu, dia bersama asisten dan kedua pria asing dengan badan kekarnya.
Pak Andra mendekatiku, dengan wajah penuh dengan amarah. Dan langsung mencengkeram wajahku. "Melly kau benar-benar tidak tau diri, baru jadi sekretaris ku sebulan sudah berani mencuri uang!" Umpatnya dengan mata yang sudah memerah.
Aku benar-benar ketakutan, semua tubuh serasa sudah mati rasa. "Ma-maafkan saya Pak." Ucapku, aku hanya bisa mengatakan kata maaf.
__ADS_1
"Maaf katamu. Kau harus tebus semuanya di kantor polisi!" Pekiknya, kedua orang kekar itu langsung memegang tubuhku dengan kuat.
^^^🌾Bersambung......^^^