
"Aku lagi nggak pengen." Bibirnya sambil manyun, kayaknya dia sedang tidak berselera makan.
"Lho kenapa? Ini enak tau! Apa lagi rasa bawangnya, beda banget. Lezat!" Tutur ku dengan pujian karena senang lihat istri yang pagi-pagi ikutan masak, walau hanya mengiris bawang merah saja. Tapi tidak apa, aku sangat menghargainya.
"Apaan sih Mas, kamu kayak baru pertama kali makan bawang saja, lebay!" Indah memutar bola matanya dengan malas, dia kok jadi sensian gini. Padahal kan aku tulus memujinya, apa dia masih sebal gara-gara Siska?
"Apa masakan Mamah tidak enak ya?" tanya Mamah.
Expresi Indah langsung berubah. "Ih nggak, sejak kapan Mamah masak nggak enak. Kayaknya aku lagi pengen soto ayam Mah." Wajahnya begitu manja sambil mengusap-usap perut.
"Uhuk..... Uhuk....Uhuk..." Aku tersendak karena lagi-lagi dia bersikap aneh dengan meminta jenis makanan. Mamah langsung menuang air minum untukku.
"Minum Ren...." Aku langsung meminumnya.
"Terimakasih Mah." Sahutku, "Sayang tadi kamu ngomong apa pengen soto ayam?"
Aku meyakinkan diriku kalau dia beneran hamil, tapi kok dia pagi-pagi nggak muntah-muntah? Setahu ku orang hamil kebanyakan mual-mual. Apa tidak semua orang begitu?
Indah mengangguk pelan. Aku langsung menyelesaikan makan, meski masih banyak yang tersisa di piring. Sebenarnya perutku juga masih laper. Tapi nggak apa, demi calon penerus ku, apa sih yang nggak. Hehehe.
"Ya sudah kita beli sekarang!" Aku begitu antusiasnya dan langsung berdiri.
"Beneran Mas?" aku mengangguk, Indah langsung berlari menuju anak tangga. "Aku ambil tas dulu ya..."
"Jangan lari-lari sayang... Kasihan Dede bayinya," ah mulutku sudah keceplosan, sudah beneran berharap.
"Dede bayi? Memang Indah sedang hamil Ren?" tanya Mamah tepat di sampingku.
Aku menoleh dan tersenyum. "Mamah do'akan saja ya? Rendi juga belum tahu pasti. Nanti sekalian mau periksa juga."
Mamah mengelus pundak ku. "Mamah pasti do'ain yang terbaik buat kalian. Mamah juga nggak sabar menimang cucu Ren.."
Mamah sabar saja, aku yakin benihku akan jadi dan tak akan mengecewakan Mamah.
Aku mencium punggung tangan Mamah, tak lama Indah datang. "Ayok! Sudah siap sayang?" ajakku, Indah mengangguk dengan semangat.
Kita berdua kini menaiki mobil. "Mau soto apa? Babat atau ayam?" tanyaku
__ADS_1
"Memang pagi-pagi begini ada tukang soto Mas?"
"Ya di carilah. Kalau nggak di cari mana ada." Aku mulai terkekeh, entah kenapa dia yang pengen. Tapi malah nanya begitu.
"Tapi aku pengen soto ayam yang waktu di rumah sakit itu Mas."
"Rumah sakit?" Aku mengerutkan dahi. "Kapan kita beli soto di rumah sakit?" apa akunya saja yang lupa.
"Yang waktu aku kecelakaan. Kamu kan beliin aku soto. Aku mau soto yang di situ."
Oh di situ. Aku mencoba mengingat nama rumah sakit itu, untung tidak terlalu jauh dan akhirnya sampai.
Aku memarkirkan mobilku di depan Restoran tepat di seberangnya rumah sakit.
Pelayan wanita itu menghampiri kita berdua.
"Mas aku pengennya makan berdua sama kamu." Aku juga niatnya begitu sih, pesennya dua. Kan aku masih laper sayang.
"Iya sayang. Mbak saya pesan soto ayam dua." Ucapku pada sang pelayan.
Aku menoleh kearah Indah mengisyaratkan makan di sini atau mau di bungkus. "Di bungkus Mbak." Dia menyahut.
"Oke Mas dan Mbak tunggu sebentar. Nanti saya segera kembali." Sang pelayan itu berlalu pergi.
Guna memastikan, aku harus tanya-tanya dulu ke Indah, nanti kan habis ini bisa langsung periksa di rumah sakit depan.
"Sayang kamu bulan ini sudah datang bulan belum?"
"Datang bulan?" dia seperti tengah mengingat-ingat. "Ah iya aku lupa Mas, stok pembalut ku habis. Nanti sekalian mampir beli ya?"
Itu kan bukan jawaban dari pertanyaan ku!
"Ish... Sayang aku nanya kamu bulan ini sudah datang bulan belum?" aku mengulang lagi pertanyaan, kayaknya tadi dia nggak ngerti maksud ku.
Indah terdiam dan mengingat-ingat lagi. "Mmmm kayaknya sih belum."
"Sesudah kita pertama kali tugas negara itu? Kau sudah datang bulan lagi atau nggak?" aku sudah macam mengintrogasi dia.
__ADS_1
"Iya belum."
Yes! Fixs ini mah. Sudah ada tanda-tanda aku akan jadi seorang ayah.
Tak lama pelayan itu memberikan dua cup berisi soto yang sudah di bungkus plastik, aku sudah membayarnya juga.
Aku berdiri dan berjalan keluar bersama Indah dari Restoran itu. "Sayang kita mau makan di mana ini?" tanyaku sambil memegang soto yang masih panas itu.
"Aku mau makannya di rumah sakit Mas."
Weleh-weleh permintaan macam apa itu? Tapi kan memang aku niatnya mau periksakan dia juga ke dokter kandungan. Tapi masa bawa-bawa soto juga?
"Oke." Di turuti sajalah nanti dia marah. Aku mengandeng tangannya dan menyebrang jalan, kita langsung masuk ke rumah sakit.
"Mas memang boleh numpang makan di rumah sakit?"
Sayang kamu ini kenapa sih? Tambah aneh saja. "Kamu sekalian periksa sayang ke dokter kandungan." Ya kali kerumah sakit mau numpang makan, di pikir warteg apa. Hahahaha.
Indah mengangguk, aku langsung mendaftarkan nya, "Bu saya daftar atas nama Indah Permatasari." Ucapku pada ibu-ibu yang berjaga di depan.
"Bapak silahkan masuk saja. Nanti dokter menyusul." Ibu itu sambil mempersilahkan kami masuk, karena tidak ada yang mengantri juga.
Baru saja aku dan Indah hendak membuka pintu ibu-ibu itu langsung berkata. "Maaf Pak, Bapak tidak boleh membawa makanan di dalam. Kan istrinya mau di periksa." Dia melihat tanganku yang membawa bungkusan soto.
"Mas aku pengen makan sotonya duduk di ranjang pasien." Indah berbisik di telingaku.
Aku menelan saliva ku, kalau benar dia hamil! Aku bahagia banget. Tapi kalau tidak, aku akan mengajaknya tempur sekarang juga sampai besok tidak ada ampun.
"Bu maafkan saya, istri saya lagi ngidam. Dia ingin makan soto ini." Aku menunjuk soto yang aku bawa. "Dan makannya di dalam, apa tidak boleh?"
"Maaf Pak, tidak boleh. Di sana khusus pemeriksaan." Ibu itu kekeh tidak mengizinkanku. Aku melihat wajah Indah seketika memerah, dan matanya mulai berair. Aku tak tega, jangan sampai dia menanggis di sini. Tapi sejak kapan dia jadi cengeng?
"Mmmm Bu. Kalau saya pesan kamar VVIP untuk makan soto dulu boleh tidak? Habis ini saya periksakan istri saya." Permintaanku memang aneh, mau makan soto saja sampai pesan kamar di rumah sakit. Indah-indah.
"Bu saya mohon, istri saya sedang ngidam anak pertama kita. Saya tidak tega padanya," baru kali ini aku bersikap memelas pada orang lain demi Indah.
🍂Reader jangan lupa like, author butuh banget like dari kalian. Soalnya masih butuh support banyak-banyak..... ❤️❤️❤️
__ADS_1