
Santi mengajak Wulan dan Clara untuk ke rumahnya dulu, karena ingin mengajak Indah juga.
Terlihat Indah tengah duduk bersantai sambil menyender di sofa ruang tamu, dengan Bayu yang tengah berbaring. Mereka berdua sedang menonton televisi.
"Sayang," panggil Santi seraya menghampiri.
Indah dan Bayu langsung menoleh kearah sumber suara, Bayu langsung duduk.
"Oma!"
"Mamah."
Santi mengusap rambut Indah sekilas dan duduk disampingnya.
"Sayang ... Mamah, Wulan dan Clara ingin pergi ke salon dan ke Mall. Apa kamu mau ikut?"
"Bayu ikut calan-calan, Oma!" sahut Bayu penuh antusias.
"Iya sayang kamu boleh ikut."
"Tidak Mah. Mamah, Wulan dan Clara saja. Aku malas ke Mall," tolak Indah.
"Bunda ... Bayu mau ikut Oma!" renggek Bayu seraya mengoyang-goyangkan salah satu paha Indah.
"Nanti kamu bosan sayang, disini saja sama Bunda, ya?"
"Bayu ain cama Kaka Lala api ...," jawab Bayu seraya turun dari sofa untuk menghampiri Clara.
Clara melihat kearah Wulan. "Kakak ... aku nggak ikut saja, ya? Main sama Dede Bayu disini."
"Tapi kamu jangan nakal, ya?" tegur Wulan.
"Iya, Kak," jawab Clara.
"Ayo ain diatas Kaka Lala," ajak Bayu seraya menarik tangan Clara, mengajaknya untuk naik tangga.
"Kamu serius tidak mau ikut?" tanya Santi lagi kearah Indah.
"Iya ... Mamah dan Wulan saja."
"Yasudah, kamu hati-hati di rumah. Kalau ada apa-apa telepon Mamah ya?" Santi mengusap bahu Indah.
"Mamah juga hati-hati dengan Wulan," sahut Indah seraya bangun dan menaiki anak tangga. Menyusul Bayu dan Clara.
Biarkan Mamah dan Wulan dekat, itu sangat bagus supaya dia tidak lagi canggung.
Batin Indah.
Indah melihat Bayu dan Wulan tengah bermain mobil-mobilan di lantai dekat pintu kamarnya, ia juga ikut duduk lesehan dibawah sambil menjajarkan kedua kakinya.
"Ngeng ... ngenggg ...," oceh Bayu.
Indah mengelus rambut panjang gadis cantik disebelahnya itu.
"Rambut kamu panjang, sekali. Kenapa tidak diikat saja, apa tidak panas?" tanya Indah.
"Tidak Kak, tadi pagi Kak Wulan tidak sempat mengikat rambutku."
"Sebentar ... Kakak ambil ikatan rambut dulu buat kamu."
Indah masuk kedalam kamarnya dan mencari ikatan rambut didalam laci. Kemudian balik lagi untuk duduk.
__ADS_1
Tangannya perlahan menguncir kuda rambut gadis kecil itu, Clara juga diam dan pasrah.
"Oya, bagaimana tinggal di rumah Kak Rio. Apa kamu betah disana?" tanya Indah.
"Betah Kak."
"Apa Kak Rio baik padamu dan Kak Wulan?"
"Padaku baik, Kak. Tapi tadi pagi Kak Rio seperti marah-marah pada Kakak. Aku lihat Kak Wulan kasihan ...," sahut Clara dengan wajah sendu.
Marah-marah? Apa mungkin hanya masalah kecil saja? Semoga saja begitu. Aku berharap Rio bisa melupakanku dan mencintai Wulan.
Batin Indah.
"Kata Mamah Santi ... Ayah kamu jualan bakso. Apa benar itu sayang?"
"Iya Kak."
"Apa enak rasanya?"
"Enak Kak. Bakso Ayah terenak sedunia!" seru Clara dengan semangat, Ia bangun dan menghampiri Bayu yang sudah lari-lari kesana kemari.
Indah mengusap-usap perutnya.
Sudah lama aku tidak makan bakso. Kapan itu ya? Aku jadi pengen.
Batin Indah.
Ia segera bangun dan menuju kamarnya untuk mengambil ponsel, ingin menelepon suaminya.
"Halo sayang ... ada apa?"
"Mas aku ingin bakso."
"Nggak mau, Mas. Aku ingin makan baksonya Ayahnya Clara."
"Aih! Apa maksudmu sayang? Aku juga punya bakso dua dibawah! Kenapa kamu ingin makan bakso Ayahnya Clara? Dia juga sudah tua. Jangan ... jangan lakukan itu! Aku masih perkasa dan segar!"
Apa yang dibicarakan Mas Reymond sebenarnya?
Batin Indah.
"Mas ... kamu ini ngomong apa sih? Aku serius pengen bakso. Makanan Mas!" dengkus Indah kesal.
"Iya, aku tau. Tapi kenapa tadi kamu bilang ingin makan bakso Ayahnya Clara. Memang dia penjual bakso?"
"Iyalah Mas. Otak kamu mesum terus! Kamu kira aku ini gila makan begituan?"
"Hahahaha ... maaf sayang, aku kira bakso yang mana. Tapi kali-kali bakso aku juga kamu makan deh, ya? Enak lho sayang."
"Memangnya bisa? Nanti di potong dulu terus di goreng sama Bibi? Kamu mau begitu, Mas?"
"Ih jangan sayang. Sadis banget kamu. Aku mati dong."
"Lagian kamu aneh banget."
"Yasudah di elus-elus saja nanti malam. Kalau Bayu sudah tidur, ya? Apa pengen dapat sentuhan dari kamu. Aku juga butuh belaian sayang ...." suara Reymond terdengar seperti mendesah.
Indah menghela nafas dengan gusar, lama-lama ucapan Reymond makin ngelantur kemana-mana.
"Mas ... jadi bagaimana? Apa aku boleh makan bakso atau tidak?!"
__ADS_1
"Iya, boleh. Nanti aku belikan. Tapi aku tidak tau rumahnya."
"Apa kamu sibuk hari ini? Bagaimana kalau kita sama-sama makan disana saja, aku ingin makan bareng sama kamu dan Bayu, Mas ...."
"Iya ... iya, kamu tunggu ya. Aku pulang sekarang sayang."
***
Sementara itu di kantor Rio. Ia tengah sibuk dengan laptopnya, memindahkan data-data menjadi atas namanya. Tapi untunglah Irene hari ini masuk kerja, jadi bisa membantu.
Kini mereka berdua ada di ruangan yang sama. Tapi bedanya Rio duduk di kursi putar, Irene duduk diatas sofa dengan laptopnya juga. Tangan Irene perlahan mengusap-usap pinggang, merasakan otot-ototnya yang sakit.
Rio juga melihat sikap Irene yang tak nyaman dengan duduknya itu.
"Tante Irene. Tante kenapa, apa ada yang sakit?" tanya Rio, ia masih diposisi yang sama.
Irene menoleh pada Rio, tapi tangganya masih memegangi pinggang.
"Hanya sakit sedikit."
"Kalau Tante sudah tidak sanggup bekerja, tidak masalah, Tan. Istirahat saja di rumah, aku akan cari sekretaris baru."
"Rio ... apa Om kamu masih bisa dibebaskan?"
"Tidak ... Om Andra tidak mungkin bisa bebas. Itu tidak mungkin terjadi."
"Lalu kalau dia di penjara selamanya, bagaimana nasib aku dan bayiku?" tanya Irene dengan wajah sendu dan memegangi perutnya.
"Tante tenang saja. Kalau Tante butuh biaya, aku akan berusaha membantu, walau bagaimanapun dia juga sepupuku."
Kalau si Andra di penjara selamanya, mending aku bercerai saja dengannya. Lagian aku malu punya suami seperti dia.
Batin Irene.
"Pak Reymond ... maksudku Reymond, apa kau benar-benar baru tau dia adalah Rendi?" tanya Irene.
"Iya, aku baru tau," sahut Rio.
Aku senang, ternyata dia masih hidup.
Batin Irene.
"Yasudah, aku keluar dulu. Masih banyak pekerjaan yang lain," ucap Irene seraya bangun, ia melangkah keluar dari ruangan Rio.
Tiba-tiba Rio mengingat ibunya dan Wulan, mungkin saja sekarang mereka sudah berada di Mall. Rio tadi pagi belum sempat mengatakan semua hal yang ia mau.
Tangannya meraih ponsel diatas meja untuk menelepon ibunya.
"Halo, Mah."
"Iya, kenapa?"
"Mamah sudah ada di Mall?"
"Sudah, ini Mamah berada di salonnya, sedang menyambung rambut Wulan."
"Apa Indah juga ikut?"
"Tidak. Dia tidak mau Mamah ajak tadi, kenapa memangnya?"
^^^Kata : 1034^^^
__ADS_1
Yukkk mumpung hari Senin, silakan yang mau beri dukungan lewat vote dan giftnya. Terima kasih ❤️