
Gue mengambil dompet dari saku celana dan memberikannya beberapa lembar uang. "Nih buat ongkos pulang."
"Terima kasih Riz, ya sudah aku pulang. Semoga temen kamu selamat." Sahut Anna dengan senyum manis, dia berjalan keluar rumah sakit.
Beberapa menit berlalu. Seorang perawat keluar dari ruang UGD dan menghampiri gue.
"Maaf Pak, Apa Bapak wali dari pasien di dalam?"
"Iya Sus, saya Rizky."
"Tolong isi Pak, pasien atas nama siapa. Beliau akan di operasi. Tapi pihak Dokter ingin mengoperasi bagian dadanya, baru setelah itu wajah." Tutur perawat wanita seraya memberikan surat izin operasi dan bolpoin.
"Memang teman saya tidak ada identitasnya Sus? Dompetnya ada tidak?" tanya gue.
"Kami tidak menemukan apapun Pak." Sahutnya.
Entah bagaimana yang ada di otak gue, gue tiba-tiba saja menulis nama 'Reymond Alexander' sebagai nama pasien itu, tanpa minta izin dari Rendi, terlintas saja dari pikiran gue kalau Rendi akan berubah wajah. Mungkin tidak akan ada yang mengenalinya, termasuk istri dan kedua orang tuanya.
Beberapa jam berlalu, beberapa perawat sibuk membawa kantung darah. Sepertinya Rendi juga banyak kehilangan darah.
Pagi sudah menjelang, tapi Rendi masih di UGD. Gue harus pergi ke kantor. Tapi nanti Rendi sama siapa? Ah Dion.
Gue merasa ada lampu terang. Gue langsung menelepon Dion untuk datang ke rumah sakit, tapi gue juga udah pesen sama dia supaya tidak memberitahukan pada siapapun.
30 menit kemudian Dion datang.
"Pak Rizky, bagaimana kondisi Pak Rendi?" tanya Dion dengan wajah cemas.
"Dia masih di dalam Dion. Dia sekarang benar-benar lagi kritis. Tapi lu jangan beritahu ke siapapun. Termasuk keluarga dan istrinya." Tutur gue memberitahu.
"Tapi kenapa Pak?"
"Sudah turuti saja keinginan bos mu." Gue mengambil black card di dalam dompet dan memberikan pada Dion.
"Pakai ini Dion, takutnya ada biaya tambahan. Gue mau berangkat ke kantor."
"Tapi Pak."
"Hei... Sejak kapan lu bawel?" tanya gue mulai memanas.
"Maaf Pak. Baik saya akan menurutinya," sahutnya membungkuk. Gue menghela nafas panjang dan meninggalkan Dion di rumah sakit.
S
K
I
__ADS_1
P
Gue kira operasi Rendi dan kesembuhan Rendi hanya memakan waktu beberapa bulan saja, tapi nyatanya tidak. Operasi di bagian dadanya memang hanya dua hari.
Tapi setelah itu Rendi mengalami koma yang begitu lama, tidak terhitung berapa bulan. Jadi selama koma, Dokter memutuskan untuk mengoperasi wajahnya.
Gue masih menunggunya di luar ruang operasi di temani oleh Dion. Tapi kenapa perasaan gue tiba-tiba tidak enak, gue takut terjadi sesuatu pada Rendi.
Gue menarik nafas dan menghembuskan lagi. "Pak, Bapak mau minum? Saya akan belikan." Tanya Dion di samping gue.
Gue mengangguk. "Iya deh belikan sana ke kantin. Kopi saja Dion." Perintah gue padanya.
"Kopi apa Pak?"
"Hitam."
Dion mengangguk dan bangun, dia pergi meninggalkan gue menuju kantin, gue sesekali melirik ke ruang operasi yang masih tertutup rapat itu.
Hampir seharian gue tunggu dan akhirnya Dokter itu keluar, dia memakai pakaian operasi berwarna biru langit dan membuka maskernya.
"Apa Anda wali dari Pak Reymond?" Tanya Dokter, gue langsung bangun dan menghampirinya.
"Iya saya, Rizky. Wali dari Reymond Alexander." Sahut gue dengan mantap.
"Bapak bisa ikut saya ke ruangan?"
"Duduk Pak." Gue mengangguk dan duduk di kursi depan mejanya, lagi-lagi gue merasa tak tenang. Apa terjadi sesuatu pada Rendi?
"Pak... Maafkan saya sebelumnya, bukan saya tidak mampu untuk memperbaiki wajah Pak Reymond. Namun saat ini kondisi kulitnya tidak begitu baik, ya memang itu bisa di lakukan. Tapi area wajah Pak Reymond mengalami bla bla bla...... Sehingga bla bla bla........."
Dokter itu menjelaskan dengan bahasa medisnya, hampir semuanya tak tertangkap dalam otak gue. Apa maksud dari penjelasannya itu.
"Jadi intinya bagaimana Dok? Apa Reymond wajahnya akan kembali seperti dulu?" Tanya gue menyela ucapannya, terdengar tidak sopan tapi gue sudah terlanjur pusing mendengarkan ocehannya, kenapa tidak bilang intinya saja.
"Itu tidak mungkin bisa, Pak. Malah yang ingin saya katakan adalah....... Operasinya gagal."
Apa katanya?
Brakkk.......
Dengan refleks gue mengebrak meja, gue terlanjur emosi. Dokter itu terperajat dan membelalakkan matanya.
"Apa maksud Dokter? Bagaimana bisa gagal? Dokter bukannya sudah ahli? Saya membayar habis-habisan untuk operasi teman saya lho Dok!"
Gue berteriak padanya. Kenapa hasilnya seperti ini? Kenapa bisa gagal?
"Saya sudah sampaikan tadi, kalau itu bukan karena saya tidak mampu Pak. Tapi kondisi wajah......."
__ADS_1
"Halaahhhh.... Bilang saja Dokter tidak becus!" Gue menyerbu omongannya itu. "Saya ingin membawa teman saya pergi dari rumah sakit ini. Segera urus semuanya! Saya akan membawanya ke luar negeri." Tutur gue seraya berdiri.
"Saya akan urus, tapi tunggu pasien sadar Pak, nanti bisa berbahaya dengan kondisi." Sahut Dokter itu.
Persetan dengan semuanya, gue benar-benar kecewa bercampur emosi. Gue keluar dan membanting pintu ruangan itu, bagaimana kalau Rendi sadar dan tahu wajahnya? Dia akan sangat kecewa, gue benar-benar temen nggak berguna Ren.....
Beberapa minggu kemudian....
Ini hari dimana Rendi melepaskan lilitan dari perban yang menutupi seluruh wajahnya pasca operasi, sebenarnya gue nggak sanggup melihat wajahnya. Tapi gue juga penasaran, bagaimana bentuk wajah yang di bilang Dokter itu gagal?
Gue dan Dion berdiri berdampingan, Dokter tidak becus itu perlahan mengunting kain kasa yang menutup wajah Rendi, Rendi masih tertidur panjang. Kalau dia langsung bangun dan kaget melihat wajahnya, itu lebih mengejutkan lagi.
Kedua tangan gue mulai basah, gue dan Dion sesekali melirik. Perlahan namun pasti dan semuanya terbuka dengan jelas.
"Astaghfirullah."
Kata itu yang terucap pertama dari mulut gue dan Dion secara bersamaan. Gue mengusap-usap dada dan geleng-geleng kepala, masih merasa tak menyangka dengan apa yang gue lihat di depan mata.
Kedua bola mata gue seakan ikut keluar, wajah Rendi begitu buruk rupa. Memang tidak seseram pada saat kecelakaan waktu itu, tapi tetap saja terlihat jelek. Mulut gue tak bisa lepas dari nyengir kuda karena ngeri melihatnya.
Bentuk kulit wajahnya begitu tak rata, seperti bopeng habis terkena jerawat batu. Tapi jauh lebih besar, warna kulitnya seakan bersemu kuning busuk, sudah macam mayat yang sudah lama kita diamkan. Gue tidak bisa menjelaskan lebih detailnya, intinya dia sudah buruk rupa. Tidak enak di pandang, malah membuat mata gue sakit.
Mata, hidung, mulut dan telinga. Semuanya masih seperti sama, tapi bentuk wajahnya kenapa bisa seaneh ini. Dada gue terasa begitu sesak, emosi gue tiba-tiba naik.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
^^^Jangan lupa tinggalkan jejak like ❤️^^^