Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 72. Dia anak saya


__ADS_3

"Kau tidak ke kantor Reymond? Mau kemana kalian?" tanya Mawan yang sudah berada dibelakang Indah. Bahkan mereka disana baru sadar kehadirannya, ketika pria paruh baya itu bertanya.


Ada Papah segala lagi, menyebalkan.


"Aku mampir sebentar menjenguk Wulan, Pah," sahut Reymond beralasan.


Mawan melirik kearah Antoni yang sibuk menciumi pipi cucunya. "Kau juga Antoni, bukannya kerja, kenapa ada di rumah sakit? Kau jadi Dokter disini sekarang?" tanyanya sinis.


"Papah ini apa-apaan sih! Jangan bicara begitu pada Papah Antoni!" bela Indah.


"Saya hanya ikut menemani Reymond, Pak," sahut Antoni santai.


Mawan kini menatap tajam kearah Wahyu, ia sangat tak menyukai pria yang sekarang berdiri tepat dihadapannya itu.


"Kau tidak perlu menyalahkan Rio anakku, dia tidak sepenuhnya salah. Pikirkan ... kalau saja anakmu itu tidak pergi meninggalkan Rio ... Rio tidak akan berbuat nekat!" serunya dengan tegas.


Wahyu menelan salivanya dengan kasar, ia tidak berencana untuk menjawab apa yang Mawan lontarkan barusan.


"Papah, katanya Papah ada meeting. Nanti telat lho, Pah ...," kata Indah sengaja, supaya Mawan pergi. Lagian ia juga merasa kasihan pada Wahyu.


"Iya, Papah akan pergi sekarang." Mawan mencium kening Indah sekilas dan mulai maju satu langkah. Lalu menoleh kembali pada Wahyu yang terdiam. "Lebih baik Wulan dan Rio bercerai! Kedua anakmu itu pembawa sial dalam keluargaku!"


Deg~


"Astaga Papah! Apa yang Papah katakan?!" lebih baik Indah langsung bertindak, ia segera menarik lengan Ayahnya menuju mobilnya disisi jalan raya. Membuka pintunya untuk Mawan masuk kedalam. "Papah lebih baik ke kantor, jangan marah-marah dan memaki Pak Wahyu, Pah. Kasihan dia ...."


"Habis Papah kesal padanya, Sayang!" Mawan sudah duduk didalam mobil.


"Kesal? Kesal kenapa, Pah? Memang Pak Wahyu salah apa sama Papah? Dia orang yang baik, kok."


"Kesal karena dia jadi besan Papah. Papah malu," Mawan mendengus.


Indah menghela nafas dan mencium rambut Ayahnya. "Papah tidak boleh bicara seperti itu! Sudah ... lebih baik Papah ke kantor sekarang."


"Iya, Sayang." Indah menutup pintu mobil ayahnya dan melambaikan tangan, seiring mobil itu melaju.


Ia berjalan menuju halaman depan rumah sakit, tapi hanya ada Reymond yang tengah berdiri.


Rupanya Wahyu dan Antoni sudah pergi ke Restoran sambil menggendong Bayu.


"Mas ... Papah dan Bayu kemana?" tanya Indah.


"Mereka ke Restoran depan, kamu kesini mau jengguk Clara atau Wulan?"


"Aku mau lihat keadaan Clara dulu, Mas."

__ADS_1


"Aku antar kedalam," ajaknya seraya merangkul bahu Indah, mereka melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah sakit.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Setelah berhasil mengantarkan Indah masuk kedalam kamar inap Clara, Reymond langsung pergi menuju Restoran depan rumah sakit.


"Bayu." Reymond langsung menghampiri meja mereka dan mengangkat tubuh Bayu supaya duduk dalam pangkuannya.


Diatas meja sudah ada dua cangkir kopi hitam dan susu putih. Ada pancake rasa strawberry juga, kebetulan Bayu sedang disuapi oleh Kakeknya.


"Kamu mau pesan kopi dulu?" tanya Antoni.


"Iya, Pah."


Setelah memesan kopi dan tak lama kopi itu berada diatas meja, barulah mereka memulai obrolan.


"Pak Wahyu, dulu waktu kita bertemu ... itu berapa tahun yang lalu, Pak? Saya lupa," kata Antoni.


"Oh itu, sekitar enam tahun yang lalu, Pak."


Deg~


Antoni dan Reymond saling memandang sekilas, lalu kembali melihat kearah Wahyu yang tengah menyeruput kopi.


"Waktu saya dan Indah makan bakso, Bapak cerita kalau istri dan anak Bapak meninggal, lalu Clara ... eemmm." Antoni menghentikan ucapannya sebentar, ia merasa tak enak tatkala menatap wajah Wahyu yang mendadak jadi sendu. Mungkin momennya belum tepat, tapi Reymond dan dirinya sangat penasaran.


"Clara kenapa, Pak?" tanya Wahyu kearah Antoni.

__ADS_1


"Maaf sebelumnya, Pak. Mungkin pertanyaan saya begitu lancang. Tapi saya sangat penasaran dengan Clara, apa dia anak ...."


"Dia anak saya, Pak!" sergah Wahyu. Ia seperti mengerti ucapan Antoni yang menyudutkan kearah mana.


"Tapi Pak Wahyu bilang istri dan anak Bapak saat itu meninggal, lalu Clara itu ... apa dia bukan anak kandung Bapak?" tanya Reymond.


Spontan wajah sedih itu berubah menjadi emosi, ia sepertinya mulai tersinggung.


"Clara anak saya, anak kandung saya."


"Tapi kenapa Clara tidak mirip dengan Bapak dan Wulan. Dia juga tidak mirip dengan istri Bapak?" lanjut Antoni.


"Pak Antoni dan Pak Reymond kenapa jadi bertanya-tanya tentang Clara?"


Sepertinya akan susah, bagaimana kalau aku jujur saja? Ya ... mungkin dia akan mengerti.


Batin Reymond.


"Pak Wahyu, saya sedang mencari adiknya Indah, Pak. Sekitar enam tahun yang lalu ... ada seorang wanita yang menitipkan bayi yang baru berusia satu Minggu, di panti asuhan Kasih Bunda. Apa disaat itu juga ... Bapak mengadopsi salah satu bayi itu dan dia adalah Clara?" tebak Reymond.


"Tidak, Pak Reymond ini bicara apa? Clara itu anak saya. Ngapain saya mengadopsi bayi," bantah Wahyu.


"Katanya istri Bapak meninggal enam tahun yang lalu. Bagaimana bisa Bapak bilang Clara anak Bapak? Memangnya Bapak punya dua istri?" tanya Antoni.


"Istri saya hanya satu, tapi intinya Clara adalah anak saya, Pak. Anak kandung saya!" tegasnya sambil memegangi dada, namun ekspresi wajahnya terlihat begitu panik. Reymond dan Antoni jadi curiga kalau dia berbohong.


"Apa obrolannya hanya itu?" Wahyu melihat kearah Reymond dan Antoni secara bergantian, mata kedua pria itu seperti tengah menyelidik padanya. "Kalau hanya itu ... saya permisi saja, saya mau ke kamar Clara, untuk memastikan keadaannya." Ia sudah mengangkat bokongnya, namun tangan Antoni terulur dan memegangi lengannya, mencegah Wahyu yang akan beranjak pergi.


"Pak Wahyu ... tolong, saya minta tolong Bapak untuk jujur sejujurnya. Saya kasihan pada Indah, dia terus bertanya tentang adiknya. Dia sedang hamil dan kondisi kehamilannya begitu rentan, Pak," ucap Antoni dengan nada lembut dan terkesan memohon.


"Saya malah tidak mengerti maksud Pak Antoni dan Pak Reymond, bagaimana bisa Bapak bilang kalau Clara adiknya Nona Indah?" kini beralih Wahyu yang bertanya.


"Saya mengatakan hal itu karena diberitahu oleh pihak panti, Bu Susan yang bilang kalau bayi itu namanya Clara dan yang mengadopsinya bernama Wahyu," jelas Reymond.


"Tapi nama Wahyu dan Clara bukan hanya saya dan Clara, Pak. Lagian Clara itu umurnya lima tahun, bukan enam tahun," elaknya.


"Bapak pasti berbohong. Saya yakin sekali kalau Clara dan Wahyu itu adalah orang yang sama. Dan Bapak mengkorupsi umur Clara," tambah Reymond lagi.


"Pak, saya tau Bapak sangat menyayangi Clara. Tapi saya hanya ingin memastikannya, apa benar Clara adalah adik kandung Indah atau bukan," ujar Antoni.


Wahyu mengerenyitkan kening. "Tadi Bapak menebak Clara adalah adiknya Nona Indah, tapi sekarang Bapak bilang ingin memastikannya dulu. Saya semakin tidak mengerti, Pak."


"Karena anak itu adalah hasil perselingkuhan Papahnya Indah! Saya juga aslinya belum yakin, mangkanya saya memastikannya dulu, benar atau tidak anak itu adalah adiknya Indah, karena selingkuhan Papahnya Indah adalah seorang jal*ng dan dia sudah meninggal!" jelas Reymond dengan lantang. Nafasnya sudah terengah-engah karena mulai kesal mendengar jawaban Wahyu, ia begitu yakin ... kalau Wahyu berbohong dan terus mengelak.


^^^Kata: 1085^^^

__ADS_1


__ADS_2