Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
97. Sebaik Dion


__ADS_3

"Pak... Saya minta maaf jangan penjarakan saya." Kataku dengan memohon di susul air mata yang sudah mengalir, jika benar aku di penjara. Hidup keluargaku makin berantakan, dan bagaimana nasib adikku nanti?


"Saya mohon Pak.... Saya akan bayar semuanya, saya janji. Tapi Bapak... Jangan penjarakan saya." Aku lagi-lagi memohon dengan memelas, tapi entah kenapa wajahnya kini berubah menjadi senyum yang menyeringai. Senyum yang begitu menyeramkan.


"Bawa dia." Perintah Pak Andra kepada kedua orang yang sejak tadi memegangi aku.


Mereka kini menyeret paksa diriku keluar kossan dan membawaku pergi menaiki mobil. Tapi di jalan aku tidak sadarkan diri, sampai akhirnya aku terbangun karena ada sesuatu yang mengganjal di area sensitif ku, kali ini benar-benar sangat perih dan terasa sakit.


"Aaawww..." Aku menjerit kesakitan dan membelalakkan mata lalu melihat wajah Pak Andra yang begitu dekat, dengan nafas yang terengah-engah, dia dan aku tidak memakai sehelai benangpun. Ini sudah pasti aku sedang di perkosa!


"Apa yang..... Bapak lakukan? Lepaskan saya!" Teriakku. Aku ingin sekali mendorong tubuhnya, tapi tubuhku begitu lemas, tanganku di pegang erat oleh tangannya dan di himpit, aku benar-benar tak berdaya.


Dia memainkan permainan yang begitu menjijikkan dan sangat brutal. Sampai akhirnya aku menanggis karena menahan sakitnya, tapi dia tidak mempedulikan ku sama sekali.


Sampai beberapa menit kemudian kini nafas Pak Andra sudah tidak beraturan dan dia mengerang. "Aarrrrggghh...." Dia menelungkupkan tubuhnya di atasku.


"Malam ini hutangmu lunas, dan besok kau bisa kembali bekerja menjadi sekretaris ku." Bisik nya di telingaku.


Aku hanya bisa menelan saliva dengan kasar, dan mengigit bibirku dengan keras sampai mengeluarkan darah.


Pak Andra bangun dan mengeluarkan benda yang tertanam dari milikku, miliknya di bungkus oleh plastik, ah bukan maksudku kond*m. Begitu penuh, dia melilitkan kemudian membuang benihnya ke tempat sampah.


"Jangan berani-berani kabur ataupun lapor polisi." Ucapnya yang kini sudah berdiri di hadapanku, tapi aku masih meringgis kesakitan. "Dan jangan pernah bilang pada siapapun, kalau kau bilang. Aku akan memenjarakan mu dengan kasus pencurian!" Pekiknya mengancam.


Pikiranku sudah benar-benar kacau balau. Awan hitam seakan terbayang di sekeliling mataku. Saat ini aku benar-benar sudah ternodai demi uang 75 juta, begitu bodoh dan sial.

__ADS_1


Aku menyesal bertemu dengannya sebagai atasanku, ingin rasanya aku berhenti kerja tapi lagi-lagi dia mengancam ku.


🍁🍁🍁


Melly menceritakan semuanya dengan air mata yang sudah deras, sambil sesenggukan. Rasanya Dion benar-benar tidak tega padanya, dia langsung memeluk erat tubuh Melly.


"Nasibmu begitu malang Mell, si bejat itu harus benar-benar di masukkan penjara." Lirih Dion seraya membelai rambut.


Melly melepaskan pelukannya dan mengambil tissu untuk mengelap seluruh air mata yang ada di pipi. "Tidak usah Pak, lagian kejadian itu sudah lama. Kalau pun saya melaporkannya dan dia masuk penjara. Saya juga ikut terseret, karena dia juga pasti menuntut saya."


"Dia berapa kali melecehkan mu?" tanya Dion.


"Ha-hanya sekali Pak." Ucapnya, namun entah itu jujur atau tidak.


Dion sendiri tidak percaya karena Rendi bilang kalau pamannya selalu menggoda Melly di luar urusan kantor. Pria seperti Andra mana mungkin kalau tidak mengajaknya untuk bercinta? Diakan juga seorang penjahat kelamin.


"Saya tidak tau Pak," Melly menurunkan pandangannya, "Mungkin nanti kalau tabungan saya sudah lumayan cukup, saya ingin pergi dari Jakarta, ah tapi saya tidak tahu. Saya nyaman bekerja sebagai sekretaris Pak Rendi, juga karena masalah gajih dan bonusnya yang dia berikan atas kerja keras saya. Lagi-lagi masalah uang, saya benar-benar perempuan gila uang." Kata Melly sambil tersenyum pilu.


Dion menghela nafasnya dengan kasar. "Ya sudah lebih baik kita menikah Mell." Ucapnya tiba-tiba.


Melly membulat sempurna. "Bapak jangan bercanda seperti itu, saya tidak suka." Ucap Melly memalingkan wajah.


Dion perlahan memegang punggung tangan Melly, "Saya serius Mell, semenjak saya bekerja sama Pak Rendi dan mengenalmu. Saya suka padamu." Ucapnya, wah seperti pernyataan cinta saja.


"Apa Bapak sakit?" tanya Melly memegang dahi Dion. "Saya bukanlah wanita yang baik, bahkan wanita kotor. Saya bekas dari Pak Andra." Seru Melly yang binggung dengan apa yang Dion ucapkan.

__ADS_1


Masa sih ada pria lajang, bahkan masih perjaka, dia juga tampan dan tangan kanannya CEO. Mau menikah dengan wanita yang sudah tau benar-benar mempunyai masa lalu yang suram.


"Itu tidak masalah Mell," ucapnya dengan santai.


"Tapi saya tidak bisa Pak, pasti Bapak akan kecewa bersama saya. Dan tidak akan mengalami malam pertama yang nikmat seperti pasangan suami-istri pada umumnya," kata Melly.


Dion tersenyum kecil. "Apa maksudmu? Nikmat atau tidak kan saya belum tau. Saya sendiri belum pernah merasakannya, sudahlah Mell. Lagian itu tidak penting, pernikahan bukan hanya untuk malam pertama saja. Tapi untuk seumur hidup." Ucap Dion, mata hati Melly seakan takjub dan meleleh dengan apa yang ia katakan.


Dia kini merasa tak habis pikir, kok masih ada pria yang sebaik Dion. Tidak memandang wanita dari perawan atau tidaknya, justru dia menerima apa adanya.


"Bapak yakin?" Dion mengangguk dan tersenyum. "Ah tapi keluarga Bapak pasti tidak akan menerima saya." Ucap Melly murung.


Dion perlahan mengenggam tangan Melly, "Tidak Mell, keluarga saya akan setuju apapun keputusan saya. Lagian kan yang akan menjalaninya kita bukan mereka." Sahut Dion meyakinkan. Ah kata-katanya kini seperti kata mutiara yang begitu indah.


"Kalau begitu saya mau Pak, saya siap menikah dengan Bapak malam ini juga." Ucap Melly dengan semangat 45.


Dion malah tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha. Saya mengajak nikah nggak malam ini juga kali Mell, kan kita harus persiapkan dulu dan buat acara." Ucapnya.


"Tidak usah pakai acara juga nggak apa Pak. Yang sederhana saja, asalkan sah. Tapi saya tidak mau kalau nikah sirih." Ucap Melly menawar.


Dion mulai terkekeh lagi. "Kamu ini, ngapain saya ngajak nikah sirih. Kita akan nikah secara agama dan negara, kau tidak usah khawatir modalnya sudah cukup." Kata Dion.


Dengan refleks Melly memeluk tubuh Dion. "Terima kasih Pak, saya tidak menyangka masih ada orang sebaik Bapak."


"Kamu tidak perlu banyak bilang terima kasih. Kalau sekali lagi nanti saya akan dapet piring." Sahutnya bercanda.

__ADS_1


Melly melepaskan pelukannya, "Ah maafkan saya Pak saya lan....."


^^^🌾Yuk beri dukungan 🌾^^^


__ADS_2