
"Lancang sudah memeluk Bapak."
"Nggak masalah Mell." Ucap Dion merasa senang. "Kalau gitu saya antar kamu pulang ke apartemen mu ya?" tanya Dion.
Melly mengangguk pelan.
Aku tetap akan memenjarakan Pak Andra, nanti aku pikirkan caranya, dan tentu aman buat Melly.
Batin Dion seraya mengendarai mobil.
"Nanti besok kamu kemasi barang-barang mu ya Mell, kau akan segera pindah apartemen." Ujar Dion sambil menyetir.
"Lho Pak, kan kita belum menikah. Masa ingin tinggal bersama?" tanya Melly.
Dion terkekeh. "Siapa yang mengajakmu tinggal bareng, kamu sementara tinggal di samping apartemen saya. Ada yang kosong, lagian itu gedung apartemen milik Pak Rendi. Jadi, jauh lebih aman buatmu. Dan kita bisa pulang bareng juga." Ucapnya tersenyum.
"Terima kasih Pak."
"Ah sudahlah. Kamu kebanyakan terima kasih, saya bosen dengarnya,"
☘️☘️☘️
Seminggu kemudian.
Pagi-pagi di mana Indah, Rendi, dan ibu Sarah tengah sarapan nasi goreng. Dion datang menghampiri mereka bertiga.
"Selamat pagi, Pak Rendi, Mbak Indah dan Ibu Sarah." Sapa Dion sedikit membungkuk.
"Pagi." Sahut Indah dan ibunya.
"Ada apa?" tanya Rendi sambil mengelap tissu ke mulutnya.
"Orang yang Bapak minta sudah ada, Bapak tinggal pilih salah satunya," tutur Dion.
Rendi berdiri. "Memang ada berapa?" tanyanya, "Sayang....." Ucap Rendi sambil memegang tangan Indah.
"Iya Mas?" tanyanya.
Rendi mengajak Indah keluar. Tepatnya di depan halaman rumahnya, untuk melihat 3 kandidat bodyguard yang tengah berdiri dengan memakai kemeja pendek berwarna hitam dan celana jeans, pakaian mereka sengaja Rendi suruh supaya tidak begitu mencurigakan sebagai bodyguard, Rendi memandangi mereka dan berjalan mendekati satu persatu, karena mereka berdiri menyamping, Rendi juga sambil bergumam.
Yang sisi kanan, badannya kekar. Tinggi, kulitnya hitam pekat, wajahnya begitu seram. Ya mungkin bagus untuk pertahanan Indah, tapi Rendi takut Indah merasa ketakutan padanya.
Yang tengah, badannya juga kekar. Nyaris sempurna. Tampan, putih dan tinggi. Kulit mulus bagaikan pantat bayi, di lihat dari usianya, seperti seusia Rio. Tapi Rendi takut malah Indah atau bodyguard itu saling menyukai.
__ADS_1
Yang sisi kiri, badan kekar, berkulit sawo matang. Tinggi, namun wajahnya jelek, benar-benar jelek. Sampai tak enak di pandang.
Benar-benar pilihan yang sangat sulit menurut Rendi, dia pun binggung, dia memutuskan untuk minta pendapat Indah. Karena memang salah satu dari mereka yang akan menjaga Indah, tentunya sebagai sopirnya juga.
"Sayang..." Rendi berjalan menghampiri Indah lagi. "Menurut kamu dari kanan dan kiri, kamu pilih yang mana?" tanya Rendi.
Sudah jelas sekali di sini kalau Rendi tidak mau Indah memilih yang di tengah.
"Maaf Pak." Kata Dion. "Yang di tengah kenapa? Kok Mbak Indah tidak di suruh pilih dia juga?" tanya Dion.
"Sstttt.... Kau diam," decak Rendi. "Aku hanya tanya pendapat istriku," ujar Rendi menatap wajah Indah.
"Pilih? Memang mereka siapa Mas?" tanya Indah sambil memandangi ketiga pria kekar ity, Rendi sendiri tidak memberitahunya kalau dia akan memperkerjakan bodyguard untuk dirinya.
"Mereka sopir kamu." Sahut Rendi, dia terpaksa berbohong karena takut Indah merasa tidak nyaman.
Setidaknya orang suruhan Rendi bisa menjaga Indah untuk tetap aman, tentunya dari tangan nakal Andra.
Indah mengangguk, "Ya terserah kamu saja Mas, yang mana saja boleh." Ucapnya santai.
Indah malah bilang terserah, itu bukanlah sebuah jawaban. Setelah di pikirkan cukup matang, Rendi memutuskan untuk memilih bodyguard sebelah kanan dan yang dua tereliminasi.
Rendi, Indah dan bodyguard barunya berangkat sekalian mengantar Indah ke kampus.
"Sayang.... Kalau kamu bertemu dengan Om Andra tanpa ada aku, kamu hati-hati ya sayang." Tutur Rendi.
"Hati-hati? Memangnya dia orang jahat Mas?" tanya Indah yang sedang menyender di pundak Rendi.
"Bukan sih... Ya aku tidak mau kau dekat dengannya, dia....." Rendi menghentikan ucapannya, "Pokoknya hati-hati saja, semua yang di omongin juga jangan terlalu di percaya. Kamu kan istriku, kamu harus percaya sama aku, iya kan?" tanya Rendi.
"Iya Mas...."
Cup.... Cup.... Rendi mencium pipi kanan dan kiri, ah namun rasanya Rendi merasa tak puas.
Dia melepaskan jas dan menutup wajah Indah dengan wajahnya pun ikut masuk di dalam jas, "Mas kau mau apa?" tanya Indah dengan wajah yang saling mendekat dan memandangi
Tanpa menjawab Rendi langsung menciumnya, mengajaknya bercumbu di dalam mobil. Tapi kali ini tenang, bukan Dion yang jadi obat nyamuk. Tapi bodyguard barunya, semoga saja dia tidak merasa iri. Lagian juga sudah tertutupi oleh jas yang Rendi pegangin.
Rendi melepas ciuman dan berbisik pada Indah. "Sayang kita tempur yuk." Pintanya.
"Mas... Aku kan mau kuliah, lagian ini masih pagi."
Rendi membuka jas yang menutupi kepala mereka dan memakainya, wajahnya sangat cemberut.
__ADS_1
"Mas..." Indah menowel pipi Rendi dengan lembut, "Kau marah?"
Rendi menggelengkan kepalanya, tapi bibirnya masih saja monyong. "Kau bohong kan. Nanti malam saja ya...." Ujarnya merayu, "Aku janji Mas...."
Senyum di bibir Rendi langsung tergambar jelas. "Benar ya? Tapi kau yang harus main di atas." Pintanya memegang dagu.
"Di atas?" Indah mengerutkan dahi. "Di atas bagaimana?"
"Tenang, nanti aku yang akan mengajarimu sayang....."
Cup...... Rendi mencium pipinya kembali.
"Tapi nggak aneh-aneh kan Mas?"
"Nggak aneh sayang. Tapi enak....." Sahutnya gemes sambil mencubit hidung istrinya.
☘️☘️☘️
Di kantor Andra.
Andra berjalan masuk menemui sekretaris barunya, siapa lagi kalau bukan Irene. Perlahan jarinya mengelus lembut punggung tangan Irene.
"Ahh...." Sontak nya kaget, karena Irene sendiri sedari tadi fokus menyusun data-data di layar laptopnya "Maaf Pak. A-ada apa?" tanyanya gagap.
Andra duduk di meja, di samping laptop. "Tidak, aku hanya sedang memperhatikan cara kerja sekretarisku, siapa kamu namanya, Irene kan?" tanyanya menebak.
"Iya betul Pak." Sahutnya mengangguk.
"Kenapa kau di pindahkan oleh Rendi?" tanya Andra.
"Saya juga tidak tahu Pak, soalnya mendadak sekali." Sahutnya menurunkan pandangan.
Andra membelai rambut Irene dengan sentuhan nakalnya, "Ya sudah tidak apa, lebih baik kau bekerja denganku. Rendi, ah pria itu sangat kasar." Andra mendekatkan wajahnya ke wajah Irene, Irene sempat menelan saliva nya dengan kasar, tiba-tiba rasa takutnya bermunculan.
"Tidak seperti diriku yang berjiwa lembut." Lirihnya.
Hidung Andra menciumi rambut Irene dengan nafsunya, Irene mencoba menghindar dan memalingkan wajah.
"Pak maaf, sa-saya masih banyak kerjaan." Tolak Irene dengan bulu kuduk yang merinding. Dia seperti berdekatan dengan mahluk halus.
Andra membalikkan lagi wajah Irene untuk bisa memandanginya, "Rambutmu harum sekali dan kamu juga sangat cantik, apa kau sudah punya pacar?"
...🌾Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen dan favorit kan ya.......🌾...
__ADS_1