Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 21. Mandi


__ADS_3

Nafas Rio sudah naik turun, seluruh wajahnya bahkan sudah memerah. Bisa dipastikan dia sangat emosi saat ini.


"Lalu menurutmu tadi itu siapa, hah? Jelas-jelas aku Tuan rumah disini! Siapa lagi yang berani masuk kedalam, kalau bukan aku!" pekiknya dengan lantang.


Masa aku harus bilang kalau tadi, aku mengira dia adalah Kak Dodi. Nanti dia akan berfikir apa? Sedangkan tadi pagi, aku mengatakan, kalau aku tidak mengenal pria itu.


Batin Wulan.


"Apa selain tuli, kau sekarang bisu Wulan?! Jawab aku cepat!" desak Rio.


Deg......


Bibir itu langsung bergetar dengan hebat. "Aku mengira tadi ... Pak Dido, Mas."


Deg.....


Mata Rio terbelalak kaget.


"Apa kau bilang?! Dido?"


Wanita yang masih di lantai itu mengangguk pelan, kini Rio mendudukkan bokongnya diatas kasur.


"Apa kau berbohong padaku, Wulan?"


"Tidak, Mas. Kau bersumpah ... aku tidak mungkin berani membentakmu lagi, yang kemarin saja aku menyesal," lirihnya sambil menunduk.


"Lalu kenapa kau membentaknya? Apa dia kurang ajar padamu?"


Deg......


"Tidak, Mas."


"Lalu apa? Kenapa kau membentaknya? Apa dia seharian ini mengganggumu?"


Deg......


Dia bertanya apa sedang menginterogasiku? Aku binggung, masa aku jawab jujur. Bagaimana ini.


Batin Wulan.


Ia terdiam sedari tadi, namun raut wajahnya terlihat begitu kebingungan sekarang. Rio sendiri memperhatikan tingkahnya itu, merasa ada yang aneh.


Kenapa dia? Apa alasannya bersikap kasar pada Dido. Apa salah asistenku?


Batin Rio.


"Wulan ....," panggil Rio lagi.


"Iya, Mas."


Rio menghela nafas secara perlahan, emosinya sudah mulai mereda. Namun sekarang dia merasa penasaran.


"Apa kau memang mengenal Dido?"


Deg......


"Bukannya tadi pagi aku sudah bilang, kalau aku tidak mengenalnya, Mas."

__ADS_1


Dia pasti berbohong, kenapa sih dia.


Batin Rio.


"Mas ... lebih baik masalah ini tidak usah di bahas, lagian tidak penting juga," ucap Wulan lagi.


"Tidak. Aku harus tau dulu apa alasanmu, Kenapa kau tidak jujur padaku?! Apa memang kalian ada hubungan?"


Deg......


"Bukannya tadi pagi Mas Rio bilang, mau aku mengenalnya atau tidak, itu tidak penting, kan?" Wulan perlahan mengangkat tubuhnya untuk berdiri.


"Sekarang tidak perlu dibahas lagi, Mas. Tadi hanya ada masalah kecil saja, tidak penting. Apa Mas Rio mau mandi?" tanya Wulan dengan nada selembut mungkin.


Benar juga, mau dia mengenalnya atau tidak. Itu bukan urusanku!


Tapi ... kenapa aku merasa Wulan seolah-olah membenci Dido? Ah sudahlah. Ngapain aku mikir kesitu.


Batin Rio terdiam.


"Mas, Mas Rio ingin mandi sekarang atau nanti? Kalau nanti, apa boleh aku dulu yang izin mau mandi?"


"Aku mau mandi sekarang."


Wulan mengangguk dan kini kakinya melangkah menghampiri Rio, dia perlahan melucuti semua pakaian suaminya hingga tubuhnya putih polos.


"Oya, tadi seharian kamu dan Clara kemana saja? Kenapa pulang sore?" nada suara Rio terdengar biasa saja.


Wanita itu menarik senyum.


Apa dia sudah tidak marah lagi padaku? Syukurlah aku selamat.


Batin Wulan.


"Apa hari ini Clara tidak sekolah?"


"Sekolah, Mas. Tadi siang aku dan Clara pulang dulu ke rumah. Setelah sekolah, Clara meminta untuk main ke rumah Indah, dia ingin bertemu dengan Bayu."


Ternyata Clara dan Bayu sudah sangat dekat, aku saja tidak bisa sedekat itu dengan Bayu. Apa akunya saja yang jarang mengajaknya main?


Batin Rio.


"Aku akan siapkan air untuk Mas Rio mandi." Wanita itu berjalan melangkah menuju kamar mandi.


Selang beberapa detik kini Rio menyusul menuju kamar mandi dengan tubuh polosnya, Wulan masih sibuk mengisi air pada bathtub.


Sebelum airnya terisi penuh, Rio sudah memasukkan tubuhnya didalam sana dan menyenderkan punggung.


Wulan berjalan menuju pintu kamar mandi, hendak keluar. Tapi tiba-tiba Rio memanggil.


"Jangan keluar, bantu aku membersihkan diri."


Langkah itu terhenti sejenak dan berbalik badan.


Bukannya biasa mandi sendiri? Kenapa musti di bantuin? Mataku sudah cukup panas sedari tadi melihat tubuh polosnya.


Batin Wulan.

__ADS_1


Tak ingin membantah, kini Wulan berjalan menghampiri Rio seraya membungkuk.


"Aku membantu kamu apa, Mas?"


"Semuanya! Masa kau tidak tau bagaimana aktivitas orang mandi!" dengkusnya kesal.


"Oh, iya. Maaf Mas, aku akan membersihkan dulu rambutmu," ucap Wulan seraya memegang selang dan mengarahkan pada rambut Rio supaya basah.


"Hati-hati, jangan sampai kau membuat mataku perih!"


"Iya, Mas."


Tangan Wulan meraih botol shampoo, perlahan ia membukanya dan meletakkan pada telapak tangan.


Tangannya mengusap-usap lembut rambut kepala Rio dan terciptalah sebuah busa. Pria itu memejamkan matanya.


Enak juga mandi ada yang mandiin gini, aku bisa mandi sambil tidur dan bangun-bangun sudah bersih. Ada untungnya juga aku punya istri, apa besok-besok aku minta Wulan membantuku saja untuk mandi, ya? Ah benar juga, lagian dia tidak ada kerjaan ini.


Batin Rio.


Rambutnya kini sudah bersih, Wulan langsung mengambil spons mandi dan menuangkan sabun cair diatasnya. Setelah membuatnya berbusa kini ia mengusap pada dada bidang Rio.


Namun tidak bisa dipungkiri, sejak tadi jantungnya tidak pernah berhenti untuk berdebar.


Kenapa dia bisa bersikap sesantai ini? Tidak malu sama sekali di depanku.


Batin Wulan.


Lama-lama betis dan kedua pahanya terasa begitu pegal, karena sedari tadi ia duduk berjongkok. Apa lagi bokongnya masih terasa sakit akibat jatuh tadi. Dengan terpaksa Wulan duduk lesehan di lantai kamar mandi, biarkan saja rok dress basah.


Hampir 30 menit ia mambantu Rio hingga akhirnya selesai mandi, kini dia sudah keluar dari kamar mandi dengan Rio yang mengenakan lilitan handuk diatas perut.


Wanita itu berjalan menuju lemari dan membukanya, tapi mata Rio membulat sempurna kala melihat hampir seluruh dress yang Wulan kenakan basah, dia juga melihat sudah ada tetesan air yang turun dari roknya berjatuhan diatas lantai.


"Wulan!" pekik Rio.


Tangannya hendak mengambil pakaian, namun tiba-tiba berhenti dan menoleh kearah suaminya.


"Iya, Mas."


"Kau mandi saja dulu, pakaianmu sudah basah begitu! Nanti masuk angin," titah Rio.


Tangan Wulan sudah mulai masuk kedalam lemari.


"Tapi aku belum mengambil pakaian Mas Rio, sebentar aku am ...."


"Wulan! Berhenti membantah! Aku bilang kamu mandi ya, mandi!" pekiknya dengan lantang.


Deg.....


Wanita itu langsung terperajat. "Iya, Mas. Aku ... aku mandi sekarang."


Wulan segera membuka pintu lemari di sebelahnya yang berisi semua pakaian miliknya, apa saja yang dia ambil. Yang penting satu set.


Baru satu kaki melangkah, lantainya terasa begitu licin. Hingga membuat tubuhnya oleng dan hampir saja terjatuh. Tapi baru hampir, dia tidak jadi terjatuh ke lantai karena dengan cepat Rio menopang tubuhnya.


Sedikit lagi kepala belakangnya hampir mengenai lantai.

__ADS_1


"Kau ini bodoh sekali! Apa-apa tidak pernah becuh!" celetuk Rio.


^^^Kata: 1016^^^


__ADS_2