
Namun tiba-tiba saja sang bayi itu menangis, seakan tak nyaman dari gendongan Rio. "Oe ... oe ... oe."
Rio memang belum handal dan terasa sangat kaku, mungkin itulah sebabnya. Tapi ia berusaha menimang-nimangnya, menenangkan sang bayi. "Sst ... tampan tenanglah."
"Oe ... oe ... oe." Bayi itu masih saja terus menangis, tapi bayi yang berada di box begitu anteng.
"Tenang dulu Sayang." Rio menarik nafasnya dan perlahan ia buang, ia mendekatkan bibirnya pada telinga kiri sang anak seraya mengumandangkan adzan.
Suara adzan Rio memang tidak merdu, tapi mampu menghipnotis bayinya hingga ia berhenti menangis. Tapi sayangnya setelah adzan itu terhenti, ia kembali menangis.
Rio cepat-cepat menaruhnya kembali ke dalam box, dan ajaibnya ia berhenti menangis.
Rio beralih pada bayi yang satunya, ia melakukan hal yang sama, menciumi seluruh wajah bayi mungil itu.
Cup ... cup ... cup.
"Anak Ayah dua-duanya tampan dan lucu, mirip dengan Ayah."
Ketika mengatakan hal itu, bayi dalam gendongannya langsung terbangun dari tidurnya seraya menangis.
"Oe ... oe ... oe."
Rio segera mendekatkan bibirnya pada telinga kiri sang bayi, untuk kembali mengumandangkan adzan.
Ternyata mereka berdua sama, saat mendengar suara adzan berhenti menangis. Tapi setelah selesai, mereka kembali menangis.
"Oe ... oe ... oe."
"Sstt ... sstt ... sayang kamu kenapa? Kok seperti tidak nyaman digendong Ayah? Ayahmu ini tampan sekali. Lihatlah pakaian Ayah, bagus, kan?" Rio seperti memamerkan pakaian yang ia pakai pada kedua putranya, seperti mereka mengerti saja. Padahal aslinya tidak, malahan bayi yang sekarang Rio gendong tak berhenti menangis.
"Oe ... oe ... oe."
"Bapak apakan anak Bapak?" tanya Suster yang tiba-tiba saja sudah berada di samping Rio. Rio sampai terperangah mengetahui kehadirannya, untung saja tidak sampai menjatuhkan bayinya.
Rio menoleh, ternyata bukan hanya suster yang datang, melainkan Wahyu. Tanpa permisi, Wahyu mengambil alih anak Rio yang berada di gendongannya. Bayi itu langsung berhenti menangis dalam sekejap, saat digendong oleh Wahyu.
"Aduh lucunya cucu Kakek, imut banget kamu, Sayang," ucap Wahyu seraya mencium pipi gembul cucunya.
Rio merasa tak ikhlas, ia segera mengambil bayinya dari tangan Wahyu dan kembali membuat bayi mungil itu menangis.
__ADS_1
"Oe ... oe ... oe."
"Rio! Ayah belum puas menggendongnya, kenapa kau tiba-tiba mengambilnya?" Wahyu mencoba mengambil alih bayi itu lagi, namun Rio beringsut ke belakang. Menghindarinya.
Pandangan mata Wahyu teralihkan pada kembaran si bayi yang tengah tertidur di dalam box, ia memasukkan tangannya ke dalam sana untuk bisa mengambilnya, namun dengan cepat dicegah oleh Rio.
"Jangan pegang! Dia sedang tidur kasihan!" ucap Rio melarang, ia memegangi lengan Wahyu.
"Oe ... oe ... oe."
Mendengar bayi itu terus saja menangis dalam gendongan Rio, Suster langsung mengambil alih dan meletakkannya ke dalam box.
"Apa yang Suster lakukan? Aku sedang menggedong anakku!" ungkap Rio tak terima.
"Dia tidak nyaman, Pak. Biarkan berbaring saja. Coba Bapak lihat dia sekarang." Suster mengedikkan kepalanya pada dua mahluk mungil itu. "Mereka berdua sudah anteng tidak ada yang menangis."
"Kau tidak handal dalam mengendong bayi Rio, mangkanya mereka tidak nyaman," cibir Wahyu.
Rio menoleh pada Wahyu, menatapnya dengan tatapan tidak suka. "Enak saja, kata siapa? Aku sudah belajar kok lewat internet, cara mengendong bayi," bantahnya.
"Kenapa belajar lewat internet? Ayah 'kan bisa mengajarimu."
"Tidak ah, nanti Ayah mengejekku." Rio mencebik bibirnya.
"Dipindahkan kemana, Sus?" tanya Rio.
"Kamar inap, Pak."
"Apa kamar yang kemarin itu?"
"Bukan, kamar khusus ibu dan anak. Nanti Bapak bisa menemuinya lagi." Suster itu sudah mengajak Rio dan Wahyu keluar dari ruangan itu. Dan mereka berdua menurut.
"Istri saya bagaimana keadaannya, Sus? Dia baik-baik saja, kan?"
"Soal istri Bapak, nanti Dokter yang menjelaskan. Kalian pergi dulu, ya?" pinta Suster.
Rio dan Wahyu mengangguki permintaan Suster, lantas mereka berdua melangkahkan kakinya menuju ruang bersalin, ingin menemui Wulan dan dokternya.
"Kak Rio, mana Dede bayinya?" tanya Clara saat melihat Rio dan Wahyu duduk di sebelahnya di kursi panjang, ia sedari tadi duduk menunggu bersama Santi.
__ADS_1
"Kamu mau melihatnya?" tanya Rio.
"Iya."
"Nanti ya, kalau sudah dipindahkan."
"Dia laki-laki atau perempuan, Kak?" Clara sendiri tidak tau jika keponakannya kembar.
"Dia dua laki-laki, mereka kembar." jawab Rio sambil tersenyum.
"Kembar?" Clara terdiam sejenak, mulai mencerna arti kata itu.
"Kembar itu mirip Sayang, dan mereka lahirnya barengan," tambah Rio.
"Wah!" manik mata Clara berbinar. "Pasti lucu ya, Kak. Clara jadi tidak sabar ingin melihatnya. Dia mirip siapa? Apa mirip denganku?" Clara menunjuk wajahnya sendiri.
Rio terkekeh. "Tidaklah, dia mirip sama Kakak, Kakak 'kan Ayahnya," jawab Rio penuh percaya dirinya.
"Menurut Ayah, dia ada mirip-miripnya dengan Papahmu Rio," tambah Wahyu.
Deg!
Santi dan Rio langsung terbelalak.
"Papah ... Papah siapa? Aku tidak punya Papah." Selama beberapa bulan berlalu, Rio seakan menghapus nama Mawan pada hidupnya, bahkan ia sudah lama tidak bertemu dengannya. Bukan Mawan yang tidak berusaha untuk menemui Rio, tapi Rio yang menghindarinya. Rio juga sampai memutuskan semua kontrak kerjasamanya dengan Mawan. Bukan dendam, hanya saja Rio sudah cukup merasakan sakit hati selama ini dan tidak mau berurusan lagi dengan mantan papah sambungnya itu.
"Pak Mawan, masa kau lupa sama Papahmu sendiri?" tanya Wahyu yang tidak tau apa-apa.
"Dia bukan Papahku, Ayah!" nada suara Rio mulai meninggi, sudah dipastikan ia merasa tersinggung jika ada orang yang membahas pria paruh baya itu padanya. "Dan apa yang Ayah katakan barusan? Kedua anakku mirip dengannya?" Rio mengerutkan kening tanda tak percaya.
"Pria tua itu sama sekali tidak ada hubungannya denganku, dan darahku saja tidak ada darahnya!" tegas Rio. "Bagaimana bisa Ayah mengatakan kedua anakku mirip dengannya?" serang Rio kesal.
"Mereka tidak mirip dengan pria tua itu! Tapi hanya mirip denganku!" merasa emosi, Rio lebih memilih pergi meninggalkan mereka yang berada di sana. Ia masuk ke kamar inap.
"Pak Wahyu, memangnya itu benar? Apa hanya menurut Bapak saja?" tanya Santi saat Rio benar-benar sudah menghilang. Ia jadi sangat penasaran ingin segera melihat kedua cucunya.
"Itu hanya menurut saya kok, Bu. Mungkin memang mata saya yang bermasalah. Maklum, saya 'kan sudah tua. Kalau pendapatan Rio memang tidak mirip, itu tidak masalah. Maaf kalau saya salah bicara." Wahyu merasa tak enak hati pada Rio dan Santi, terlebih lagi pada Rio. Lantaran ucapannya, pria yang tengah berbunga-bunga itu langsung pergi membawa sejuta kekesalan di dada. Padahal, Wahyu hanya mengungkapkan pendapatnya saja.
"Tidak apa-apa, Pak. Sebaiknya jangan pernah mengatakan nama Mawan di depan Rio, dia memang sensitif kalau mendengar nama itu," papar Santi menjelaskan.
__ADS_1
"Iya, Bu." Wahyu mengangguk paham.
Jangan lupa like 💕