
Ibu itu saling bertatapan pada suster di sampingnya, semoga ada rasa iba di hatinya.
"Yasudah Pak. Boleh, mari saya antar." Bagus deh anakku nanti nggak jadi ileran.
Suster itu mengantar kami ke kamar VVIP nomor 101 tersebut dan membukakan pintu. "Silahkan Pak, kalau sudah selesai Bapak langsung masuk ke ruang kandungan saja."
"Terimakasih Sus." Indah tiba-tiba saja menyahut, dia sudah tersenyum lebar. Kayaknya dia benar-benar seneng.
Indah langsung mendudukkan bokongnya di atas kasur itu, aku duduk di kursi kecil di sampingnya sambil membuka tutup cup soto.
Dia langsung melahapnya, "Mas air minumnya nggak ada?" Haduh kenapa aku lupa. Nanti dia haus bagaimana? Lagian kok tumben nggak ada air minum di dalam.
"Tunggu sebentar sayang aku belikan air minum."
Aku langsung lari kocar-kacir menuju kantin membeli dua botol air mineral dan langsung masuk lagi ke ruangan itu, aku merasa punya kekuatan lari yang super cepat mengalahkan Naruto. Walau nafasku tersengal-sengal.
Aku membuka tutup botol untuk dirinya minum. "Bagaimana? Sotonya enak nggak."
"Enak."
"Sekarang kamu pengen apa lagi?" Aku mendudukkan bokongku di sampingnya, "Apa kita tempur dulu di sini?" perlahan bibirku sudah mulai ku dekatkan pada bibirnya.
Tapi dia langsung menutupi bibirku pakai tangannya, "Nggak mau Mas... Aku pengen tiduran di sini." Dia menepuk kasur. Kalau tiduran di situ sama saja nanti aku kepengen, mana sepi lagi. Tidak Rendi jangan sekarang! Aku harus periksakan dulu Indah. Junior sayang kau tahan dulu ya.
"Jangan sayang... Kita ke ruang kandungan saja, kamu bisa tiduran di sana." Aku memegangi tangannya, dia juga menurut. Kita berjalan menuju 'Ruang Kandungan'
"Tiduran di sini sayang." Aku membantunya untuk berbaring.
Ceklek....
"Selamat pagi Pak, Bu." Sapa Dokter yang baru datang dengan suster.
Eh tunggu dulu kok dokternya pria? Aku melihat monitor USG dan alat yang seperti stick berbentuk transduser di samping tempat tidur. Nanti perut Indah akan di buka dan di gosok-gosok pakai alat itu kan? Oh tidak! Aku tak rela.
"Pagi Dok." Indah menyahut.
"Saya periksa dulu tekanan darahnya ya?" Dokter itu langsung mencoba memasang tensimeter ke lengan Indah, namun aku mencegahnya.
"Tunggu Dok... Dokter? Dokter kandungannya?
__ADS_1
"Iya Pak."
"Memang di sini tidak ada Dokter kandungan wanita? Saya ingin Dokter wanita saja yang memeriksa istri saya." Aku terlalu posesif nggak sih.
"Memang kenapa Mas? Kan sama-sama Dokter." Indah menyahut.
"Maaf Pak, tiga Dokter wanita sedang menangani ibu yang melahirkan." Ucap Suster di samping dokter.
"Bukannya ini rumah sakit besar! Memang tidak ada Dokter kandungan wanita yang lain?" tanyaku dengan nada sedikit meninggi.
Indah memegang lenganku. "Mas sudah, nggak usah emosi. Memang kalau Dokter pria kenapa? Kan kamu juga menemaniku di sini." Aku tau Indah mencoba menenangkan ku. Tapi tetap saja. Nanti dokter itu akan melihat perutmu, mana puser mu seksi kayak Kareena Kapoor. Nanti kalau dia nafsu bagaimana sayang?
Aku menatap wajah Dokter itu dengan tatapan nyalang. "Ya sudah tidak masalah Pak, saya akan telepon Dokter kandungan shift malam. Sembari menunggu, istri Bapak perbanyak minum air putih dulu ya."
Ah syukurlah. Sesak di dadaku hilang karena lega mendengar ucapnya, rupanya dokter pria ini juga mengerti sikapku.
Aku mengangguk dan menuangkan air minum yang berada di meja untuk Indah. Dokter itu kemudian menelepon.
☘️☘️☘️
Andra pergi bersama Anton asistennya, dia menaiki mobil menuju kantor PT Herma Skincare. Perusahaan Hermawan, dia ingin mengajukkan permohonan kerjasama. Ini kali pertama dia menginjakkan kaki di perusahaan tersebut.
Melly hanya melihat sekilas dan berjalan lagi, sepertinya dia bersikap pura-pura tidak melihat.
Andra berlari kecil mengejarnya, "Mell tunggu....." Ucapnya menghentikan langkah kaki Melly.
Melly menoleh. "Kamu ngapain ada di sini?" tanya Andra.
Padahal kan yang harusnya tanya Melly, jelas-jelas dia yang pertama kali ke kantornya Hermawan.
"Saya di suruh Pak Rendi Pak." Sahut Melly membungkuk.
"Oya Mell, bilang pada Rendi aku......." Belum sempat menyelesaikan ucapannya, mata Andra tertuju pada undangan berwarna merah dengan pita yang Melly taruh di atas berkas yang ia bawa di tangannya, "Undangan siapa ini?" tanya Andra dan langsung mengambil dari tangan Melly.
Dia membukanya, mata Andra langsung membulat. "Kamu mau nikah Mell." Seru Andra dengan nada sedikit tinggi.
Melly mengangguk pelan.
"Cih... Kau menikah dengan Dion, asisten Rendi? Kau tidak salah?" wajahnya terlihat sangat mengejek.
__ADS_1
"Iya memang kenapa Pak? Apa itu masalah?" tanya Melly yang juga terlihat sebal padanya.
"Kamu tidak bisa dapat seorang bos? Kenapa mau menikah dengan seorang Asisten." Andra terkekeh.
Masih syukur ada yang mau menerimaku.
Melly mengambil paksa undangan dari tangan Andra, "Memang kenapa kalau Pak Dion seorang asisten? Dia pria yang baik dan juga tampan. Nggak ada urusannya juga dengan Bapak." Tutur Melly seraya memalingkan wajah, Melly berlari kecil meninggalkan Andra.
"Mell tunggu...." Pekik Andra. Tapi Melly tidak menghiraukannya.
"Pokoknya kau tidak boleh menikah! Apa lagi dengan Dion." Pekik Andra.
"Hei Pak jangan teriak-teriak. Ini kantor bukan pasar!" Cicit salah satu satpam yang datang memarahi Andra.
Andra hanya melihatnya dengan keki dan berjalan masuk kekantor tapi satpam itu menghentikannya, "Bapak ada perlu apa?"
"Jaga bicaramu! Kau tidak lihat aku seorang CEO. Aku ingin bertemu Pak Hermawan, aku adalah Omnya Rendi." Andra berlagak dengan sombongnya seraya berkacak pinggang.
"Oh maaf Pak, silahkan masuk." Satpam itu langsung membungkuk dengan sopan.
Andra berjalan menghampiri resepsionis. "Apa Pak Hermawan ada di ruangannya?" tanya Andra pada salah satu wanita itu.
"Pak Hermawan sedang meeting Pak. Bapak siapa ya? Apa Bapak sudah membuat janji?"
"Aku Andra Pratama, Omnya Rendi. Bilang saja padanya, aku ingin bertemu." Tutur Andra.
"Baik Pak silahkan Bapak tunggu dan duduk dulu." Ucap Wanita itu yang menunjuk sofa tunggu.
Andra dan Anton duduk sambil menyilang kaki. Sembari menunggu dia juga melihat beberapa wanita seksi yang lewat. Mereka adalah beberapa model produk kecantikan dari perusahaan.
Pemandangan yang begitu menggiurkan untuk mata Andra, dia tersenyum dengan so gantengnya kepada para gadis-gadis, biasalah tebar-tebar pesona. Dan tak lupa sesekali mengedipkan salah satu matanya, benar-benar sangat genit, nggak ada obat. Mata keranjangnya sudah level akut.
"Anton..." Bisiknya ke sang asisten. "Aku baru tahu kalau di kantor papah tirinya Rendi banyak gadis-gadis cantik. Kenapa kau tidak memberitahu ku sejak dulu?"
"Maaf Pak, tapi kan sejak dulu Bapak tidak berminat untuk bekerjasama dengan beliau." Lirihnya.
Memang benar, padahal aslinya Andra tidak suka sekali dengan Hermawan. Apa lagi dia sosok pengganti dari Almarhum kakaknya.
Jangan lupa tinggalkan jejak ❤️❤️......
__ADS_1