Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 119. Pernyataan ~Kantor Polisi~


__ADS_3

Mereka semua mengangguk dan ikut menemani Reymond ke kantor polisi. Dua mobil beriringan itu sudah keluar dari pintu gerbang rumah Mawan.


Santi menghampiri para tamu undangannya, "Maaf semuanya ... menurut saya acara pernikahan Rio dan Wulan sudah selesai. Kalian bisa pulang ke rumah masing-masing. Maafkan atas semua yang telah terjadi hari ini ... bukan maksud membuat malu keluarga saya sendiri, tapi ini semua terjadi begitu saja dan diluar kendali. Saya ucapkan terima kasih ... karena kalian semua sudah bersedia datang ke acara pernikahan Rio," ucap Santi, ia seperti tengah memberikan pengumuman pada para tamu undangan.


Mereka semua berpamitan dan pulang silih berganti seraya mengendarai mobilnya untuk keluar dari pintu gerbang rumah Mawan.


Santi dan Rio menghampiri Wulan, Clara dan Wahyu.


"Pak Wahyu, Wulan. Maafkan atas kejadian tadi, mungkin itu membuat kalian tidak nyaman. Tapi bisa aku pastikan ... masalah ini tidak akan berpengaruh untuk pernikahan Rio dan Wulan," ucap Santi.


"Iya Bu, tidak masalah. Sebaiknya aku dan Clara pulang saja. Saya hanya titip Wulan disini, kalau dia punya salah atau apapun. Silahkan Ibu dan Rio marahi, tapi jangan terlalu keras padanya," ucap Wahyu.


"Bapak tenang saja. Baik aku, Rio ataupun semuanya. Kita akan bersikap baik pada Wulan, mulai sekarang Wulan juga menjadi anggota keluargaku," sahut Santi.


"Ayah, kalau Ayah ingin pulang. Biar Rio yang mengantar, tapi ... biarkan Clara tinggal bersamaku dengan Wulan," pinta Rio.


"Jangan, nanti dia merepotkan," tolak Wahyu seraya mengelus rambut Clara disampingnya.


Clara mendongak pada wajah Wahyu. "Ayah, aku ingin tinggal sama Kakak."


"Biarkan saja Pak. Tidak masalah jika Clara ingin tinggal bersama Wulan, nanti kedua putri Bapak akan mengunjungi Bapak," balas Santi.


"Maaf Bu, Rio ... bukan saya tidak mengizinkan, tapi kondisi Clara kurang baik. Dia tidak seperti anak-anak pada umumnya, saya takut nanti bisa merepotkan," keluh Wahyu.


"Tidak Ayah ... Clara tidak merepotkan, aku menyayanginya. Clara juga sepertinya tidak ingin jauh dengan Wulan. Biarkan nanti dia tinggal bersama kita," sahut Rio sambil tersenyum menatap Clara.


"Yasudah. Ayah juga senang kalau kamu bisa menerima Clara, tapi sepertinya tidak hari ini. Kerena Clara belum meminum obatnya, dia pulang saja dulu dengan Ayah."


"Biar aku yang antar. Nanti sekalian aku bawa baju Wulan, baju Clara beserta obatnya," jawab Rio.


Aku tidak menyangka Pak Rio berkata seperti itu, tapi aku senang. Pak Rio menerima Clara. Padahal aku sempat ingin meminta izin ... memintanya supaya bisa tinggal denganku.


Batin Wulan.

__ADS_1


Santi melihat kearah Irene dan Riana yang sedari tadi berdiri dan diam tanpa kata, mereka juga seperti tidak dianggap.


"Riana, Irene apa kalian malam ini mau menginap disini?" tanya Santi menawarkan, walau bagaimanapun merek adalah anggota keluarganya.


Riana perlahan berjalan menghampiri Santi dan memeluk tubuhnya. "Bude ... atas nama Papah aku minta maaf pada kalian semua."


Riana menoleh kearah Indah. "Kak Indah, maafkan Papah ... mungkin kata maaf saja tidak cukup, tapi aku juga malu. Kenapa Papah bisa sejahat ini pada Kakak dan Kak Rendi," keluh Riana dengan wajah sendu.


Indah menghampirinya dan mengelus punggung Riana.


"Iya, aku sudah maafkan. Tapi ... kamu harus terima jika Papahmu di penjara, Om Andra harus bertanggung jawab atas perbuatannya."


"Iya Kak. Aku tau itu." Riana melepaskan pelukan. "Aku pulang saja dengan Mamah Irene, Bude. Kapan-kapan aku kesini."


Santi mencium kening Riana. "Yasudah. Biar sekalian Rio antar saja."


Riana mengangguk. Kini Rio, Wahyu, Irene dan Riana sudah masuk kedalam mobil. Mereka juga keluar dari pintu gerbang rumah Mawan.


Sedangkan Santi, Indah, Bayu, Wulan, dan Clara. Mereka masuk lagi kedalam rumah.


Sementara itu di kantor polisi, Reymond dan yang lain langsung masuk kedalam 'Ruang Keluhan' terlihat ada dua polisi tengah duduk sambil membaca dokumen, namun mereka tiba-tiba kaget karena beberapa orang itu datang secara serempak.


Salah satu polisi itu bangun seraya mengulurkan tangan, tepat pada Mawan.


"Selamat siang, apa ada yang bisa saya bantu?"


Mawan membalas uluran tangan itu. "Selamat siang juga, Pak. Ada hal yang ingin kami semua bicarakan."


"Baik, silahkan duduk."


Mawan dan Reymond langsung duduk bersebelahan didepan Pak polisi. Hersa sudah menaruh satu kardus berisi barang-barang bukti keatas meja itu.


Perlahan ia membukanya, dan mengambil dokumen untuk diberikan oleh Mawan.

__ADS_1


"Pertama-tama perkenalkan nama saya Hermawan, sekitar 3 tahun yang lalu saya pernah melaporkan atas hilangnya anak saya bernama Rendi Pratama," tutur Mawan seraya menyodorkan dokumen itu, ada foto Rendi selembar juga disana.


Polisi itu membuka dan memperhatikan. "Iya benar, Pak. Lalu kenapa? Bukannya pencarian sudah ditutup karena Pak Rendi hilang dan tidak berhasil ditemukan?"


"Ini ... Ini Rendi Pratama, anak saya. Dia sudah ketemu, Pak," sahut Mawan seraya memegang tangan Reymond.


Polisi itu menatap wajah Reymond. "Ini bukannya Pak Reymond? Dia orang yang Bapak penjarakan waktu itu." Sekarang pandangannya kearah Rizky yang tengah berdiri disamping Reymond.


"Nah ... Orang ini juga, mereka berdua Bapak yang menjebloskannya. Tapi ... Sekarang Bapak bilang dia Rendi?" tunjuk Pak Polisi.


Wajah Pak Polisi terlihat begitu binggung, karena ini adalah kantor polisi dan polis yang sama. Pada saat melaporkan Rendi menghilang dan memasukkan Reymond dan Rizky ke penjara.


"Rendi saat itu ternyata tidak hilang. Dia dijebak dan berencana akan dibunuh, Pak." Mawan menunjuk kearah Anton dan Andra yang sedang berdiri dibelakang. Mereka masih di pegangi oleh anak buah Reymond.


"Mereka berdua tersangkanya!"


"Tapi saya tidak mengerti, jelas-jelas ... Pak Reymond dan Pak Rendi ini berbeda?"


Pak Polisi mengangkat satu lembar foto Rendi dan mengarahkan pada wajah tampan Reymond, seperti tengah membandingkan dan mencari letak persamaannya.


"Kalau masalah itu biar saya yang ceritakan, Pak," sahut Rizky.


Rizky langsung menceritakan tentang kejadian malam itu, saat dia menemukannya disebuah gubuk lalu membawa ke rumah sakit. Menceritakan secara detail tentang operasi plastiknya dari A-Z, ia juga mengambil beberapa berkas didalam kardus, semuanya berisi tentang riwayat Rendi sakit dan hasil tes DNA antara Reymond dan Bayu.


Polisi itu hanya mendengar dan mengangguk-ngangguk. Tapi tangannya ikut menuliskan laporan dan keterangan dari Rizky pada laptop didepannya dan polisi yang satunya sibuk mengecek berkas-berkas yang Rizky berikan.


"Jadi ... Reymond Alexander adalah Rendi Pratama, mereka orang yang sama?" tanya polisi itu lagi, memastikan.


"Iya, Saya Reymond Alexander alias Rendi Pratama," jawab Reymond.


"Baik. Jadi kejahatan apa saja yang Bapak dibelakang itu lakukan?" tanya Pak Polisi seraya melihat kearah Andra dan Anton.


"Saya akan putar rekamannya, Pak. Semuanya bisa Bapak dengarkan," ucap Harun.

__ADS_1


Ia segera meletakkan laptop miliknya diatas meja, dan memutar isi rekaman. Dari mulai pernyataan Anton saat di Restoran, pernyataan Siska sebelum meninggal dan yang terakhir adalah pernyataan Anton mengenai Andra.


^^^Kata: 1044^^^


__ADS_2