Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 12. Rasa sayangku


__ADS_3

Malam hari, tepatnya pukul 9 malam. Rio baru saja sampai ke rumah. Reymond benar-benar menyuruhnya lembur.


Kini ia masuk kedalam rumahnya, dengan langkah kaki pelan. Punggung, tengkuk dan bahu sudah terasa kaku. Dia benar-benar merasa letih.


Terlihat Wulan tengah duduk menunggunya di sofa ruang tamu, tapi pandangannya seperti kosong. Ia nampak sedang melamun.


Rio menghentikan langkah tepat didepannya. "Wulan!"


Suara lantang itu mampu menepis lamunan Wulan, ia segera berdiri dan membereskan dress.


"Mas, kamu sudah pulang?"


"Kau 'kan sudah lihat aku didepan matamu! Kenapa harus bertanya?! Cepat bantu aku membersihkan diri!" perintah Rio seraya menaiki anak tangga.


Ceklek.......


Sampainya di kamar, Rio langsung merebahkan dirinya diatas kasur, Wulan juga sudah masuk kedalam.


"Apa mau mandi sekarang, Mas?"


"Iyalah! Pakai nanya lagi ... tapi lepaskan dulu sepatuku cepat!"


Wulan membungkuk dan melepaskan sepatu pantofel berwarna hitam beserta kaos kaki. Wulan segera menaruhnya pada rak didekat pintu.


"Aku tidak mau berendam! Langsung lepaskan saja pakaianku!"


Wulan mengangguk. "Iya, Mas."


Ia mendekati suaminya yang sudah duduk. Perlahan tangannya membuka dasi, jas dan membuka kancing kemeja dari atas sampai bawah.


Rio memperhatikan rambut Wulan yang begitu dekat pada lengannya, perlahan tangannya meraih beberapa helai rambut itu.


"Apa ini rambut sambungan?" tanya Rio dengan mata yang melihat pada rambut.


"Iya, Mas."


Bagus juga, seperti asli.


Batin Rio.


Kini Wulan kembali membungkuk untuk membuka gesper, celana bahan dan yang terakhir adalah CD.


Wulan langsung memejamkan matanya.


Apa aku harus sering melihat penampakan seperti ini? Aku heran kenapa Mas Rio tidak malu padaku.


Batin Wulan.


"Habis ini kau siapkan baju tidurku dan susu hangat," ujar Rio.


"Iya, Mas."


Rio langsung berdiri dan berjalan menuju kamar mandi, setelah memilihkan baju tidur untuk Rio. Wulan keluar dari kamarnya. Namun baru saja selangkah ingin turun, dia mendengar suara rintihan tangis.


Mata Wulan terbelalak, suara itu berasal dari kamarnya Clara. Ia berlari dan membuka kamar yang tidak dikunci itu.


Terlihat gadis kecil itu tengah duduk sambil menangis.


"Clara ... kamu kenapa sayang?" tanya Wulan seraya memeluk.


"Hiks ... hiks ... hiks. Kakak aku mimpi itu lagi. Aku takut, Kak," lirihnya sambil menangis.

__ADS_1


Wulan menciumi pucuk rambut Clara. "Tenang sayang ... ada Kakak disini, Kakak tidak akan kemana-mana ...."


Tangan Wulan perlahan menyeka air mata. "Kamu mau susu? Kakak akan buatkan."


"Tidak, Kak. Aku kenyang ... aku mau bobo lagi."


Wulan perlahan membantunya untuk berbaring dan mengecup keningnya.


"Sebelum tidur ... baca do'a dulu. Kakak mau ke dapur, setelah selesai nanti Kakak temenin kamu tidur."


Clara hanya tersenyum dan memejamkan mata. Tangan Wulan menarik selimut untuk menutupi tubuh gadis kecil itu. Kakinya melangkah untuk keluar.


Aku heran, kenapa dia terus mimpi buruk dan mimpinya seperti di ulang-ulang. Apa mungkin karena Clara kebanyakan minum obat? Oya ... aku baru ingat besok ada jadwal Clara cuci darah, tabunganku tidak cukup. Apa aku minta saja pada Mas Rio? Tapi ... apa dia akan memberikan padaku? Coba saja dulu, lagian dia sudah menjadi suamiku. Masa tidak memberikan uang untuk istrinya sendiri.


Batin Wulan.


Wulan perlahan mengetuk pintu Rio, salah satu tangannya sudah memegang segelas susu hangat.


Tok ... tok ... tok.


"Masuk!" pekik Rio dari dalam.


Ceklek.......


Terlihat Rio duduk disisi ranjang, dengan selimut menutupi diatas perut. Namun ia seperti belum memakai pakaian, karena baju tidurnya saja masih rapih diatas kasur. Seperti belum disentuh sama sekali.


"Ini susunya, Mas ...."


Wulan langsung memberikan pada Rio. Pria itu langsung mengambil dan menenggaknya sampai habis.


"Ini, taruh diatas meja," pinta Rio memberikan gelas kosong pada istrinya.


Wulan langsung menaruhnya diatas meja.


"Tentang apa? Tapi kau pijat dulu bahuku!" Rio sudah menggeserkan bokongnya maju kedepan. Supaya Wulan dapat duduk dibelakangnya.


Kedua telapak tangan itu menyentuh bahu dan meremasnya secara perlahan.


Pijatannya enak juga, ternyata punya istri ada gunanya.


Batin Rio sambil memejamkan mata.


"Apa aku boleh bicara sekarang, Mas?" tanya Wulan dari belakang.


"Ya."


"Kita 'kan sudah menikah ... apa aku boleh meminta uang padamu?" tanya Wulan ragu-ragu.


Mata Rio langsung terbuka dengan paksa, kepalanya menoleh sedikit.


"Apa maksudmu? Kau kira aku ini orang yang pelit! Kalau kau butuh uang tinggal bilang saja!"


Alhamdulilah.


Batin Wulan.


"Iya ... aku butuh uang buat cuci darah Clara, Mas."


Aku sampai lupa mencari Dokter untuk Clara. Besok aku akan suruh Dido, deh.


Batin Rio.

__ADS_1


"Oke, nanti aku transfer. Aku juga akan memberikan uang nafkah untukmu ... tapi ada syaratnya."


Syarat? Apa dia akan mengajakku bercinta lagi?


Batin Wulan.


"Apa syaratnya? Apa berat?"


"Tidak. Tapi selesaikan dulu pijatannya, sekarang pindah pada tengkuk!"


"Iya, Mas."


Telapak tangan Wulan langsung menyentuh tengkuk putih Rio, sesekali dia memperhatikan tubuh polos suaminya, tapi itu membuat jantungnya berdebar.


"Oya ... tadi asisten baruku datang kesini, tidak?"


"Iya, Mas ... terima kasih kamu sudah membayar Guru untuk Clara sekolah di rumah."


Rio mengangguk pelan. "Kenapa kau dan Clara tidak mirip?"


Deg......


Wulan mengerenyitkan dahi. "Maksud Mas Rio apa?"


"Aku tanya kenapa kamu dam Clara tidak mirip?! Apa Clara bukan Adik kandungmu?" tuduh Rio.


Deg.....


Tangan Wulan menghentikan pijatannya.


"Dia Adik kandungku, Mas! Kenapa Mas Rio tiba-tiba mengatakan itu padaku?" wajahnya langsung terlihat begitu kesal.


Rio berbalik badan dan menatap wajahnya. "Lalu kenapa kalian tidak mirip? Semenjak aku bertemu denganmu dan Clara. Itu pertanyaan yang selalu ada dalam otakku sampai sekarang."


Wulan menurunkan pandangan. "Aku juga tidak tau! Tapi intinya Clara itu Adikku! Adik kandungku!" pekiknya sambil memegangi dada.


"Kalau memang dia Adik kandungmu yasudah! Kau tidak perlu marah-marah padaku!" Rio menjadi ikut-ikutan kesal.


"Maaf ... maafkan aku, Mas ... aku hanya ...."


"KELUAR!!!" usir Rio seraya menunjuk pintu.


Tubuh wanita itu langsung bergetar hebat mendengar bentakan keras pada telinganya.


Wulan segera turun dari kasur Rio. "Mas ... maafkan aku, bukan maksudku ...."


"Kau ini tuli atau apa?! Aku bilang keluar ya, keluar bod*h!!"


Deg.......


Ia mengangguk dan langsung berjalan cepat keluar dari kamar Rio.


Bukan cuma kamu yang mengatakan itu, Mas. Hampir semua orang. Aku begitu kesal mendengarnya, aku sayang sekali sama Clara. Walau kita memang tidak mirip, tapi Clara itu Adikku.


Batin Wulan.


Sepeninggal Wulan keluar, Rio langsung berbaring dan memejamkan mata.


Kenapa semakin hari aku melihat wajah Clara, aku merasa dia jauh lebih mirip dari Indah daripada Wulan. Hidungnya ... bibirnya ... mata cantiknya. Apa mungkin perasaanku saja? Apa karena sampai detik ini aku belum bisa melupakan Indah. Jadi ... apa yang aku lihat akan terlihat seperti Indah?! Tapi kenapa rasa sayangku pada Clara sama seperti pada Indah?


Batin Rio.

__ADS_1


^^^Kata: 1036^^^


__ADS_2