
Reymond dan yang lain langsung menatap kearah dua wanita itu, ternyata dia adalah Indah dan Melly.
"Sayang ... kok kamu kesini?" tanya Reymond seraya bangun dan menghampiri istrinya, langkah kaki Indah berjalan mendekati bangku panjang yang tengah mereka duduki.
"Bu Susan, kenapa sampai sekarang Ibu tidak memberikan informasi itu pada suamiku?" tanya Indah dengan tatapan serius.
Shelly yang melihat kedatangan Indah langsung berlari dan memeluk tubuhnya.
"Saya sudah bilang beberapa kali, Mbak. Saya tidak bisa," tolak Susan.
"Kalau aku harus memohon ... aku akan memohon pada Ibu ...." Indah hendak mendekati Susan dan membungkuk, namun segera dihalangi oleh Reymond.
"Sayang. Kamu tidak boleh melakukan itu!"
Indah langsung memeluk tubuh Reymond dan menangis. "Tapi Mas, aku ingin bertemu dengan adikku. Kenapa Bu Susan tega sekali tidak memberikannya pada kita."
Melihat Indah menangis, Reymond benar-benar tidak tega dan makin kesal pada Susan yang masih bersih keras tak mau memberikan informasi itu padanya.
"Sayang, sebaiknya kita akhiri saja semua. Mungkin saja omongan Papah dan Mamah ada benarnya, anak itu bukanlah adikmu. Siska pasti berbohong," ucap Reymond mencoba menenangkan, ia mengelus lembut rambut istrinya dan mencium kening.
"Setidaknya kita lakukan tesnya dulu, Mas. Aku sangat penasaran. Apa Mas tidak sayang padaku? Aku sudah beberapa malam tidak bisa tidur karena terus memikirkannya," lirihnya.
"Aku sayang padamu, tapi aku tidak bisa apa-apa, Sayang. Bu Susan tetap tidak ingin memberikannya ...."
Bu Susan hanya diam saja, ia bahkan tidak melihat kearah Indah dan Reymond yang tengah memeluk satu sama lain.
Tubuh Indah terasa begitu lunglai, Reymond sampai menopangnya karena takut jatuh. Kedua mata Reymond membulat sempurna, melihat istrinya tiba-tiba tak sadarkan diri. Pingsan dalam pelukannya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Reymond seraya menggoyangkan kedua pipi istrinya, wajah Indah terlihat memucat.
Harun bangun dan membantu Reymond untuk bisa mengangkat tubuh istrinya, ia juga sempat melihat betis Indah mengalir darah segar.
"Nona Indah berdarah, Pak ...," ucap Harun.
"Astaghfirullah, Sayang!" seru Reymond beristighfar, wajahnya terlihat begitu panik.
Tapi sebelum Reymond dan Harun keluar dari ruangan itu, Reymond berbalik badan dan menatap tajam wajah Susan. Kebetulan Susan juga menatap kearahnya.
"Aku tidak tau ini sebuah ancaman atau tidak! Tapi yang jelas ... kalau ada apa-apa dengan istri dan anak dalam kandungannya, Ibu yang akan bertanggung jawab! Aku sendiri yang seret Ibu masuk kedalam penjara!" seru Reymond mengancam. Ia langsung berlari meninggalkan ruangan itu bersama Harun.
Sementara Bu Susan, ia begitu termangu dengan ancaman Reymond. Sejujurnya ia tidak tega pada Indah, tapi ia juga tidak bisa melanggar peraturan yang ditetapkan oleh kedua belah pihak. Karena itu sudah menjadi tugasnya.
"Sekarang bagaimana? Apa Ibu masih ingin membawa saudara Dion masuk penjara?" tanya Pak Polisi.
"Kalau benar Pak Dion akan mengembalikan semua berkas itu, saya tidak akan memenjarakannya, Pak," sahut Susan.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sampainya di rumah sakit, Reymond segera membawa Indah masuk kedalam ruang UGD. Sudah ada Dokter juga didalam sana.
"Dokter, tolong istri saya dan bayinya. Dia pingsan dan mengalami pendarahan!" ungkap Reymond dengan wajah pilu.
"Baik, Pak. Bapak tunggu di luar. Saya akan periksa pasien."
Reymond mengangguk, ia melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan itu dan menghampiri Harun yang tengah duduk di kursi panjang.
"Halo, Mah."
"Iya, Rey ...."
"Indah masuk rumah sakit, Mah."
"Apa?!" pekik Santi dengan lantang. "Kok bisa masuk rumah sakit? Kenapa dia, Rey?"
"Mamah kesini saja dulu, nanti aku beritahu semuanya."
"Yasudah, kamu yang tenang disana. Indah dan anakmu pasti baik-baik saja. Mamah dan Papah segera kesana," ucap Santi.
"Iya, Mah."
Setelah menutup sambungan telepon, Reymond ikut duduk disebelah Harun. Ia termenung dan terus berdo'a dalam hati.
Ya Allah, semoga Indah dan anakku baik-baik saja. Aku akan berusaha untuk mencari adiknya, bagaimanapun caranya.
Batin Reymond.
"Yang sabar ya, Pak. Saya yakin ... Nona Indah dan anak Bapak akan baik-baik saja. Dia wanita yang kuat Pak," ucap Harun memberikan semangat.
__ADS_1
"Iya, terima kasih." Reymond bangun dari duduknya, ia merasa ingin buang air kecil. "Harun, kau jaga dulu disini. Aku mau cari toilet."
"Baik, Pak."
Reymond melangkah kakinya dengan meneladah papan nama pada tiap ruangan, mencari tulisan toilet dan musholla.
Setelah ketemu, ia langsung masuk untuk membuang air kecil dan mencuci muka. Supaya wajahnya terlihat begitu segar.
Saat keluar dari toilet, ia berpasangan dengan seorang wanita yang baru saja keluar dari mushola. Mereka saling melayangkan pandangan.
"Wulan, kau ada disini?" ternyata wanita itu adalah Wulan, kebetulan Clara dan Indah dibawa pada rumah sakit yang sama.
Wulan sebetulnya menatap kaget, namun ia mencoba bersikap biasa saja.
"Kak Reymond, Kakak kok ada disini juga? Siapa yang sakit, Kak?" ia malah berbalik tanya.
"Indah ada di UGD, dia pingsan dan pendarahan."
Mata Wulan membelalak. "Apa?! Pingsan? Lalu bagaimana keadaannya sekarang, Kak?"
"Aku belum tau, masih di periksa oleh Dokter. Oya ... ngomong-ngomong kenapa kau ada di rumah sakit juga? Siapa yang sakit? Clara?" terka Reymond.
Mereka mengobrol sambil berjalan meninggalkan toilet. Sampai akhirnya Wulan menghentikan langkah kakinya didepan ruang yang bertuliskan Ruang Operasi.
"Iya, Kak. Clara sedang di operasi didalam." Ia menoleh sekilas pada ruangan itu dan kembali melihat kearah Reymond.
"Operasi?! Memang kondisinya separah itu?"
"Iya, Kak."
"Oya, kamu sudah-"
Ceklek~
Ucapan Reymond terhenti tatkala melihat seorang Suster dengan memakai pakaian medis keluar dari ruangan itu. Ia menghampiri mereka berdua.
"Suster, bagaimana operasinya?" tanya Wulan risau.
"Operasinya sedang berjalan. Tapi Nona Clara kehilangan banyak darah, Mbak. Di rumah sakit ini hanya ada satu kantong darah, kita butuh satu kantong lagi." Penjelasan dari Suster itu membuat Wulan menjadi kelu sejenak.
"Memang Suster tidak bisa cari di rumah sakit lain? Mungkin saja ada golongan darah yang sama dengan adik saya, Sus,"usul Wulan.
"Tidak ada, Mbak. Kami sudah mengkonfirmasi pada semua rumah sakit, namun saat ini golongan darah B sedang kosong," jelasnya lagi.
"Lalu sekarang bagaimana, Sus? Saya ingin operasi adik saya berjalan dengan lancar."
"Kita perlu pendonor darah, Mbak. Saya akan mencarikannya. Tapi Mbak juga ikut membantu mencarikannya, karena lebih cepat akan lebih baik." Setelah memberikan pemaparan, Suster masuk kembali pada ruangan itu.
Reymond merasa heran melihat tingkah Wulan yang seperti orang kebingungan. Kenapa tidak langsung dia atau Ayahnya saja yang mendonorkan? Bukankah mereka adalah satu keluarga? Tapi ia juga tak melihat batang hidung Wahyu disana.
__ADS_1
"Dimana Ayahmu? Kenapa tidak Pak Wahyu saja yang mendonorkannya?" tanya Reymond.
^^^Kata: 1027^^^